Drama Kamboja

Ini adalah cerita tentang kesaksian seorang penghuni penjara.

Narapidana.

Pendosa.

Wanita.

Aku datang kesana untuk meyaksikan sebuah pertunjukan. Sama seperti yang orang-orang lakukan, sebagai penonton yang baik aku berusaha untuk tetap tenang saat lampu dipadamkan. Menatap kearah panggung ketika tirai merah yang menghalang naik perlahan. Dan tidak bertepuk tangan sebelum si artis selesai memainkan peran.

Musik pembuka dimainkan, terompet tunggal, bunyinya serak terhambat harmon mute seolah ingin memperjelas drama penuh kemarahan dalam ketidakberdayaan. Spot light merah  menyorot kearah panggung yang gulita, hanya menerangi sebagian, sisanya dibiarkan tetap suram.

♀♀♀

Dalam sel tahanan berteralis besi penuh karat, kau berdiri, sendiri, disana, sebagai artis satu-satunya. Dalam balutan kebaya merah dan kain batik coklat, kau serupa bayang-bayang diantara cahaya lampu yang temaram. Kau terdiam, menundukan kepala seperti berdoa untuk mempersiapkan cerita. Aku dan penonton lain ikut terdiam, kami juga berdoa agar cerita yang disajikan dapat memberi kepuasan. Kami menginginkan hiburan yang sedikit kejam. Sebuah drama yang berakhir tragis. Penuh darah dan banjir air mata. Kami tak lagi menyukai kisah biasa dengan akhir bahagia.

Penampilanmu sangat meyakinkan karena kau terlihat menyedihkan, matamu cekung kedalam, wajahmu pucat seperti mayat yang belum dikuburkan, dan bibirmu selalu terkatup berkerut kerut, padahal kau wanita muda, usia saja masih awal duapuluhan. Namun aku menyukainya, kau bisa menghayati peran yang harus dimainkan.

Suara terompet yang mengalun semakin lama terdengar semakin samar kemudian hilang. Kau mulai mendongakan kepala menatap lurus sambil tersenyum tipis hampir manis.

“Nama saya Kamboja.”

Kau sebutkan siapa dirimu dengan ekspresi malu-malu. Kau menyebutkan nama sebagai perkenalan agar aku dan yang lain tidak bingung tentang siapa dirimu sebenarnya. Nama memang diperlukan agar kita bisa mengingat identitas, bisa membedakan antara satu dengan yang lainnya, bahkan bisa menilai sifat dan tabiat.

Tawa penonton membahana. Tapi aku tidak.

“Mana ada orang tua yang memberi nama anaknya Kamboja.” Bisik salah satu penonton yang duduk disampingku pada pasangannya.

“Apa salahnya?” Jawabku. Dalam hati.

Kamboja juga nama bunga, kebanyakan wanita memang dinamai dengan nama bunga seperti halnya, mawar, melati, atau dahlia, bukan? Bunga adalah lambang seorang wanita, indah, wangi, namun butuh perawatan dan perhatian karena rapuh dan mudah mati. Setidaknya itulah yang kudengar dari orang-orang.

Namun nasib baik tampaknya tidak dimiliki bunga kamboja, tak ada yang mau memperhatikan atau merawatnya karena kamboja bunga kuburan yang walau harumnya bisa menandingi mawar atau warna putihnya bisa seindah melati tetap saja kamboja milik para siluman, lambang kepalsuan, seperti halnya tipu daya setan. Mungkin itu yang ada dalam benak orang disebelahku. Mungkin.

Tapi apalah arti sebuah nama, begitu kau meniru seorang pujangga besar yang kata-katanya dipakai dan diberlakukan diseluruh penjuru dunia. “Namaku Kamboja, Melati, Madonna, atau Luna Maya, aku tetaplah aku.” Begitu pengakuanmu.

Di atas panggung kau kembali berkisah tentang masa lalu. Kau adalah seorang pembantu rumah tangga yang datang jauh-jauh dari desa dengan harapan bisa memperbaiki kehidupan. Dengan mimik naif kau bercerita, bahwa siapa tahu bisa bertemu pemuda kaya yang diam-diam jatuh hati kemudian mendekati dengan cara pura-pura benci lalu mengajak menikah dan hidup bahagia selama-lamanya seperti tertulis pada akhir cerita telenovela yang telah dialih bahasa.

“Apa itu salah?” kau bertanya pada pemirsa dibawah.

Tak ada yang menjawab.

Lalu kau duduk bersimpuh disalah satu sudut panggung, lampu-lampu mengikutimu, meninggalkan titik yang tadi kau tempati dalam kegelapan seperti masa lalu yang harus dilupakan. Matamu menerawang menapaki kenangan kemasa silam.

“Ternyata tidak mudah hidup dikota besar itu ya?”

Kau mengingat dan mulai menceritakan awal mula saat pertama kali menginjakan kaki di tanah harapan. Kau dibawa temanmu yang bekerja sebagai pencari pembantu rumah tangga. Kau bahagia sekali saat ditawari dan langsung setuju diajak pergi.

“Kamu jangan mengharap bisa kerja lebih dari ini. Sudah untung kamu jadi pembantu, coba lihat yang lain, ada yang jadi pelacur, pemulung, bahkan gelandangan.” Kau mengulang apa yang diucapkan temanmu itu.

Kau juga sangat tahu, gadis tidak berpendidikan sepertimu jangankan jadi sekretaris diperusahaan besar, jadi karyawan pabrik saja rasanya tidak terbayangkan. Karena kau tidak pernah kenal dengan aksara. Kau hanya bisa mengenal dan menjumlahkan angka, itu juga hanya yang tertera dilembaran uang semata.

Sebulan lamanya kau hidup ditempat penyaluran tenaga kerja rumah tangga, kau diajari bagaimana caranya mengoperasikan mesin cuci, memandikan bayi, berbicara ditelepon, dan masih banyak lagi. Kau belajar dengan cepat, anganmu masih berpikir naif, masih terpengaruh oleh bualan opera sabun yang mulai diproduksi khas negeri sendiri. Kau masih mengkhayalkan kalau nanti bekerja, tuanmu yang kaya raya punya anak pemuda yang jatuh dan mencinta.

Kau berpindah lagi kesudut lain, berdiri, senyum-senyum sendiri. “Saya sangat senang saat nyonya bos mengatakan saya akan bekerja, dia bilang kalau calon majikan saya adalah pasangan muda dan belum punya anak.”

Sehari kemudian kau dijemput mereka, dua orang muda, pria dan wanita, tampan dan cantik, terlihat kaya. Kau ikut dengan mereka, ke rumah mewah yang pagarnya saja setinggi atap.

Awalnya kau mengira akan sangat senang tinggal disana. Kau menjalankan tugas seperti biasa. mencuci piring gelas pakaian, menyetrika, melap perabotan yang ada. Kau tak menyadari ada mata lain yang mengawasi. Diam-diam mata itu mencuri pandang kedadamu saat menghidangkan makanan diatas meja, atau kearah rokmu yang tersingkap kala membersihkan lantai.

“Berani sumpah! Saya benar-benar tidak tahu majikan laki-laki itu saya suka memperhatikan saya.” Kau berkata lugu dengan nada malu sedikit bangga. Tawa kembali membahana, kali ini aku ikut serta. “Sampai…” Kau menunduk lagi, seperti sedang konsentrasi, “…malam itu.”

Seperti biasa kau menunggu Nyonyamu pulang bekerja. Kau ketiduran didepan televisi dan terjaga karena ada yang menggerayam dikaki…

tangan majikan laki-laki!

“Matanya… matanya…” Kau berjalan kesana-kemari sambil memegangi pipi, matamu melotot kearah penonton seperti minta pertolongan.

Kau melihat mata majikanmu seperti srigala kelaparan.

“Jangan Tuan! Jangan!!” Kau memperagakan gerakan orang ketakutan. “Jangan!!!” Kau menjerit histeris. Penonton bertepuk tangan.

Kau tak berdaya saat tamparannya mengena dipipi. Pakaianmu dilucuti. Kau ditelanjangi di depan televisi yang menayangkan sinetron religi.

Kau menangis dalam diam saat tangannya meremas payudaramu yang membuncah. Kau marah dalam kebisuan ketika penisnya merobek selaput daramu yang belum terjamah.

“Dia memperkosa saya…” Ucapmu sambil menangis sedu-sedan. Lalu tiba-tiba diam.

Suara terompet terdengar lagi, lebih miris dari sebelumnya, alunan kemarahan yang tak tak bisa diutarakan. Cahaya lampu yang menyorotimu semakin suram. Kau bergumam, “Seorang manusia tergoda indahnya bunga kamboja…”

Kau menangis saat melihat setitik noda menggenang dilantai putih rumah mewah. Bukan noda. Itu darah! Kau bukan lagi perawan suci.

“…ia memetik dan menodainya dengan noktah darah, tak sadar mengundang kedatangan para setan.”

Kau diancam akan dibunuhnya kalau menceritakan pada majikan perempuan.

“Saya hanya diam, bukan diam yang mengiyakan, tapi diam karena  memendam dendam.”

Dikemudian hari kau bekerja seperti biasa, namun kali ini kau sengaja memperlihatkan belahan dadamu saat menghidangkan sarapan, sengaja menyibakan rokmu kala mengepel lantai. Kau menyiapkan jebakan agar dia tertarik untuk menggagahimu kembali.

“Malam itu saya sengaja tidak mengunci kamar, bahkan sedikit dibukakan.” Kau kembali bercerita dengan  tenang, namun matamu terlihat nyalang. “Menunggu hingga tengah malam. Ternyata ia datang.”

Kau pura-pura tidur, tangan itu kembali menggerayam. Kau terbangun seketika, seperti déjà vu rasanya. Kau berakting gemetaran saat si majikan menanggalkan semua pakaian.

“Malam itu saya bukan perawan yang diperkosa, saya pelacur yang sengaja bercinta!” Kau berkata penuh kemarahan.

Kali ini ia membiarkanmu mengaduh, mempersilakanmu merintih. Kau pun melakukannya.

Majikan laki-laki tak tahu kalau kau juga membiarkan pintu depan tidak terkunci. Kau tahu jadwal majikan perempuan datang, kau telah menyetel bom waktunya.

Perkiraanmu benar, majikan perempuan tiba di jam biasanya pulang. Dia begitu marah karena kau membiarkan pintu tidak terkunci, dia mendatangi kamar untuk memarahi. Kau merintih sekerasnya, tak jelas antara suka atau luka, namun yang jelas majikan laki-laki sangat menyukainya.

“Kalau saja anda melihat bagaimana wajah si istri saat mengetahui suaminya tengah menunggangi saya seperti kuda.” Kau tertawa keras-keras.

Majikan perempuan tertegun diambang pintu, sementara majikan laki-laki tak tahu bagaimana harus berlaku. Ia juga tidak sadar kau telah menyiapkan pisau dibawah bantal. Saat ia memungut baju, kau menghantamkan pisau berulang-ulang. Kau tak tahu berapa jumlahnya, yang kau ingat hanya darah segar mengucur keluar setiap kali mencabut pisau dari badannya.

Kau mendengar majikan perempuan menjerit.

“Kamu setan! Kamu setan!”

Kau juga menjerit-jerit diatas panggung, menirukan. Cahaya lampu yang merah, menyala-nyala seperti amarah, mengikuti saat kau berlari kesana kemari.

“Hutang darah harus dibayar darah!” Itu yang kau katakan pada majikan perempuan sebelum akhirnya kau juga melakukan hal yang sama padanya.

“Setan merasuki saya saat itu, membantu untuk membalaskan dendam karena saya bunga kesayangan mereka yang diambil, dirusak, dan diinjak-injak.”

Lampu panggung kembali meredup Kau duduk bersimpuh saat pintu penjara terbuka, “Saya hanya menegakan keadilan untuk diri sendiri yang saya sadari tidak akan pernah bisa saya dapatkan sebab saya manusia tak punya. Salahkah jika saya melakukannya?” Kau bertanya kembali pada penonton. Lampu dimatikan. Semua berubah menjadi gelap. Ada kesunyian sesaat.

♀♀♀

“…Maka dengan ini kami nyatakan terdakwa saudari Kemboja terbukti bersalah karena telah melakukan pembunuhan berencana terhadap Tuan Bagdja dan Nyonya Asih dengan vonis hukuman mati.” Palu diketok hakim tiga kali.

Aku kembali berada diruang pengadilan, sebagai wartawan baru yang bertugas melakukan peliputan untuk acara kriminal besok pagi.

Suasana di pengadilan hening, namun dibawah panggung semua penonton bersorak, terhibur oleh penampilan sang bintang. Kamboja kembali berdiri diatas panggung bermandi cahaya terang dan kilatan lampu blitz yang mengarah padanya, tertawa lebar, membungkukan badan kemudian melambaikan tangan, tetap diiringi tepukan. Lalu menghilang saat tirai merah diturunkan.

Sementara Kemboja di ruang pengadilan berjalan lesu, menangis, dihujani celaan saat digiring petugas keamanan kembali kepenjara, menantikan masa eksekusi tiba. Bermandi kilatan lampu blitz yang sama.

Iklan

2 pemikiran pada “Drama Kamboja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s