FOTO

EXT. GEDUNG TAK RAMPUNG – SIANG

Seorang wanita muda, mahasiswi tingkat awal, terlihat cerdas. Maya. Duapuluh tahun.

Maya sibuk mengarahkan kamera fotografi berlensa panjang dari berbagai sudut luar gedung yang pembangunannya tidak diselesaikan. Dipundaknya tersampir tas untuk peralatan fotografi.

Maya melangkah tanpa merasa takut kedalam gedung yang gelap dan suram.

CUT TO:

INT. GEDUNG LANTAI DASAR – SIANG

Maya memotret kusen, dinding berlumut, aneka grafiti yang dibuat sembarang memakai cat semprot, arang, pecahan batubata, kapur tulis.

Maya memotret tumpukan kayu yang bertumpuk tak terpakai.

CUT TO:

INT. TANGGA GEDUNG – SIANG

Maya berjalan menyusuri tangga tembok, sesekali memotret landscape lantai satu, kemudian berjalan menuju lantai dua.

CUT TO:

INT. GEDUNG – LANTAI DUA – SIANG

Maya kembali memotret dinding, kusen, ruang-ruang suram, tumpukan pasir, batubata, dan kantong-kantong semen yang sudah lapuk.

Maya memotret pemandangan diluar melalui lubang-lubang jendela tak berkaca.

Maya memotret langit-langit gedung.

Maya memotret pemandangan dibawah gedung.

CUT TO:

INT. TANGGA GEDUNG KELANTAI TIGA – SIANG

Maya berjalan hati-hati menuju kelantai atas.

CUT TO:

INT. GEDUNG – LANTAI TIGA – SIANG

Maya memotret kawat-kawat beton yang belum sempat terselesaikan pengerjaannya, lantai tak berubin dan bopeng-bopeng, tumbuhan paku-pakuan yang tumbuh subur dengan lumut diantara dinding batubata yang belum diplester.

Maya kembali memotret pemandangan bawah gedung dari lubang jendela tak berkaca.

FADE OUT

FADE IN

INT. KAMAR MERAH – MALAM

Maya memproses foto hasil jepretannya, beberapa foto tergantung dijepit oleh jepitan kayu. Maya menggantung fotonya yang terakhir dicuci.

Maya memindai satu persatu foto-fotonya. Pandangan Maya tertuju pada beberapa foto.

Pertama, foto salah satu ruangan dilantai dasar. Dalam keramangan ruangan ada sebentuk guratan meliuk dibalik kusen. Guratan berwarna putih halus, hampir transparan, mirip kesalahan potret.

Kedua, foto tangga tembok, dibawah tangga juga ada guratan berbentuk serupa dengan yang pertama.

Ketiga, foto dilantai dua, guratan meliuk itu berada ditengah ruangan.

Keempat, masih dilantai dua, guratan meliuk itu ada dekat jendela.

Kelima, foto dilantai tiga, guratan itu terlihat diluar jendela seolah melayang diluar.

Maya mencabut foto-foto yang gagal itu, memperhatikan dengan seksama sebentar, kemudian menjejerkan foto itu dalam satu baris, dipisah dengan lainnya.

CUT TO:

INT. GEDUNG LANTAI SATU – SIANG – LAIN HARI

Maya kembali memotret ulang isi gedung di semua titik yang telah diambil sebelumnya.

Sedesir angin lembut berhembus, seolah meniup rambut Maya, yang berdiri diambang pintu menatap pemandangan luar, dari belakang.

Maya menoleh kebelakang, matanya tertuju pada ruang-ruang tak terpakai.

Maya berjingkat dari tempatnya, berjalan pada salah satu ruang.

CUT TO:

INT. RUANG DILANTAI SATU – SIANG

Maya mengamati ruangan yang suram kurang cahaya. Tak ada yang menarik diruangan itu. Maya keluar.

CUT TO:

INT. RUANG LANTAI SATU – SIANG

Maya memasuki ruangan lain.

CUT TO:

INT. RUANG LAIN – SIANG

Tumpukan kaleng bekas, gelas-gelas plastik bekas yang sudah usang, ceceran kain-kain dari bahan kaos yang luar biasa kotor, baju-baju bekas, belel, kotor mirip lap.

Maya memotret tiap-tiap barang tanpa menyentuh atau memindahkannya.

Maya memotret keseluruhan ruangan dari berbagai sudut.

CUT TO:

INT. RUANG MERAH – MALAM

Maya mengangkat selembar foto dari cairan pencuci diwadah plastik. Kening Maya mengernyit, difotonya yang baru juga ditemukan guratan berwarna putih seperti kesalahan cetak, bedanya guratan itu tidak lagi berbentuk liukan, hanya menggurat saja seolah menghalangi lensa kamera.

Kadang garis putih itu tegak vertikal, kadang horizontal, kadang diagonal dengan kemiringan sembarang. Bentuknya tak lebih dari ukuran jari tangan.

Dibeberapa gambar ukuran itu membesar seperti jari tangan yang diletakan dilensa kamera.

Digambar lain malah ada sebuah bulatan bersisi abstrak dengan pecahan cahaya seperti telapak tangan.

Maya tertegun menatap foto-foto yang berjejer didepannya.

CUT TO:

INT. KEDAI KOPI – PETANG

Maya duduk disudut dekat jendela, sesekali menyeruput kopinya. Ia tengah mengamati foto-foto bergaris putih itu. Dimejanya juga bertumpuk foto-foto serupa.

Maya mengamati dengan seksama satu persatu.

P.O.V MAYA: Foto pertama memperlihatkan ceceran barang-barang yang Maya foto disalah satu ruangan, terlihat kaleng-kaleng, gelas-gelas plastik, dan aneka kain rombeng dan pakaian tak layak pakai.

Foto kedua menampilkan gambar yang sama, diambil dari sudut berlawanan. Barang-barang masih pada tempatnya.

Ekspresi Maya berubah drastis menjadi terkejut.

P.O.V MAYA: Difoto dua tampak ceceran darah kering menciprati lantai tembok bopeng.

Maya melemparkan foto kemeja dengan ekspresi ngeri. Lantas ia meneguk sisa kopinya sampai tandas.

FADE OUT

FADE IN

INT. KAMAR – MALAM

Kamar Maya begitu terang benderang. Disalah satu meja terbaca aneka buku tentang teknik fotografi.

Maya tengah menempelkan puluhan foto disalah satu dinding kamarnya.

Foto yang diambil pertama kali disebelah kiri. Foto yang diambil untuk kedua kali disebelah kanan.

Dinding kamar Maya kini dipenuhi foto-foto.

Maya mengamati satu persatu dari dekat, jari-jarinya menelusur garis putih.

Maya berpindah dari satu foto ke foto lain. Terus dan terus dilakukannya berulang kali.

Maya menghempaskan diri, merebah diatas ranjang, ekspresinya tampak frustasi.

Maya meregangkan tangan dengan jari-jari tertaut mulai dari atas kepala, perlahan lahan diangkat kearah langit-langit kamar. Kemudian melemaskan otot jari dengan gerakan membuka tutup telapak tangan mirip meremas-remas.

Gerakan Maya terhenti seketika, jari-jarinya yang terbuka seolah membeku diudara.

Maya memainkan jarinya, empat jari dilipat, satu jari telunjuk menunjuk tegak, diagonal, vertikal, horizontal.

Maya bangkit seketika bergegas menuju dinding yang ditempeli foto. Jari-jarinya menelusur foto satu persatu kemudian mengambil beberapa.

(Difoto yang diambil untuk kedua kalinya.)

Difoto dinding bergrafiti sembarang tampak cahaya putih tipis hampir transparan itu dalam posisi tegak vertikal dari bawah sampai ketengah.

Maya menempelkan jari telunjuknya dengan telapak menghadap kemuka, menyandingkannya diatas foto, dekat garis itu.

Ekspresi wajah Maya berubah, antara terkejut, senang karena berhasil memecahkan sebuah teka-teki, dan sedikit ngeri.

Maya melihat lagi sebuah foto bergambar lingkaran bersisi abstrak dengan pecahan cahaya.

P.O.V MAYA: Maya menempelkan telunjuk, ternyata tidak pas. Berganti jari tengah juga tidak pas. Berganti jari manis juga tidak pas. Berganti kelingking juga tidak pas. Berganti jempol juga tidak pas. Kelima jari Maya menutup foto, Maya menggeser telapak tangan yang telungkup, menyandingkan dengan gambar, tidak mirip. Perlahan-lahan telapak tangan Maya membalik.

Maya mengangkat foto sampai sejajar wajah, dibelakang foto telapak tangannya yang terbuka disandingkan.

Mata Maya menatap tak percaya, tak salah lagi, gambar itu adalah gambar telapak tangan.

Maya duduk lemas diatas ranjang, foto-foto masih dalam genggamannya, wajahnya terlihat lelah. Ia mengulangi kembali gerakan tangannya difoto satu persatu. Sampai pada foto terakhir.

P.O.V MAYA: Foto menggambarkan pintu gedung yang diambil dari dalam. Cahaya putih halus transparan itu ada disudut bawah, tidak memanjang melainkan membulat mirip buku jari paling atas. Jari telunjuk Maya perlahan menyentuhnya.

Sebuah kilatan cahaya menyilaukan mirip lampu blitz kamera.

CUT TO:

INT. GEDUNG – MALAM

Maya yang masih berpakaian sama dengan dikamar kini berdiri dalam gedung yang tampilannya tampak lebih baik, tak terlalu kotor dibanding sewaktu dipotret Maya.

Terdengar suara berkelontang dari dalam satu ruangan, Maya berjalan pelan mendekati datangnya suara. Ruangan yang sama dimana Maya menemukan aneka benda.

Langkah Maya terhenti diambang pintu. Didalam ruangan tampak seorang perempuan berjongkok. Penampilannya seperti orang gila jalanan, rambut gimbal tak terurus, kulit hitam dan busik, ia hanya memakai kaos berukuran besar berwarna merah pudar dan compang-camping. Perempuan itu berjongkok menghadap Maya.

Note: meski perempuan ini hanya memakai kaos saja dan tampak tidak memakai apa-apalagi selain itu, namun bagian genitalnya tidak pernah diperlihatkan – atau kelihatan.

Ia tengah memegang cangkir plastik bekas air mineral, didalamya teraduk nasi dan air bercampur sisa-sisa makanan lain, melarut menjijikan, namun dengan roman biasa saja dan pandangan linglung datar khas orang kurang waras perempuan ini melahap makanannya langsung memakai tangan.

Maya menatap perempuan itu, namun tidak menghampiri atau meninggalkannya, ia hanya berdiri diam ditempatnya.

Perempuan gila telah selesai makan, makanan yang masih tersisa digelas plastik dibiarkan begitu saja.

Perempuan gila beranjak dari tempatnya, keluar. Maya memberikan ruang kepada perempuan gila untuk melewatinya.

Perempuan gila berjalan terseok, kadang memungut sesuatu dari lantai dan melemparkannya kesembarang arah. Perempuan gila terus berjalan menuju pintu keluar, dibelakangnya Maya mengikuti.

CUT TO:

EXT. GEDUNG – SIANG

Hari diluar gedung tiba-tiba berubah siang, Maya dan wanita gila masih mengenakan pakaian yang sama. Perempuan gila berjalan sambil sesekali tersenyum sinting, lalu diam, lalu tersenyum lagi, diam lagi. Dibelakang, Maya masih mengikuti.

Perempuan gila berjalan kearah sisi gedung, dibelakangnya Maya berjalan.

CUT TO:

EXT. SISI LAIN GEDUNG – SIANG

Tampak delapan orang buruh bangunan tengah bekerja, sebagian mencampur material, sebagian lagi mengangkut bahan yang telah tercampur, sebagian sibuk menembok.

Perempuan gila memperhatikan sambil menggaruk-garuk kepala, kemudian ia berjalan mendekati para buruh.

Seorang buruh menyikut temannya, temannya menoleh. Si buruh menunjuk perempuan gila yang berdiri memperhatikan mereka dengan tatapan sinting.

Para buruh menghentikan pekerjaan mereka sejenak, namun masih diposisinya masing-masing. Seorang pekerja mengibas-ngibaskan tangan, mengusir perempuan gila.

Perempuan gila bergeming, malah tersenyum sinting sambil menunjuk-nunjuk buruh yang mengusirnya. Maya diam ditempatnya, beberapa langkah dibelakang perempuan gila.

Buruh lain tersenyum geli. Buruh yang tadi mengibas-ngibaskan tangan mengambil sebuah kerikil kecil kemudian mengacung-acungkannya seolah akan melempar perempuan gila. Maya berpindah posisi kearah samping, menghindari jika terkena lemparan.

Perempuan gila bergeming ditempatnya, menatap para buruh dengan tatapan kosong, sesekali ia menyeringai.

Buruh melemparkan kerikil, sengaja tidak dikenakan. Kerikil terlempar jauh kebelakang perempuan gila.

Dengan gerakan seperti kucing yang dilempar makanan, perempuan gila berbalik, berlari menuju jatuhnya kerikil.

Perempuan gila memungut kerikil, posisinya menungging membelakangi parah buruh yang memperhatikan sambil tertawa-tawa.*

*Note: Dalam posisi ini memungkinkan para buruh melihat “bagian belakang” perempuan gila

Perempuan gila kembali berdiri, memperhatikan kerikil yang dipungutnya, Maya masih diam ditempat. Perempuan gila terlihat kesal kemudian ia melemparkan kerikil dan berjalan menjauhi para buruh.

Para buruh kembali tertawa dan melanjutkan pekerjaan.

Maya mengikuti perempuan gila, ia sempat menoleh kebelakang, ke arah para buruh yang kembali bekerja. Beberapa diantara mereka membetulkan posisi celana bagian selangkang.

Maya memasuki pintu gedung.

CUT TO:

INT. LANTAI DUA – MALAM

Maya celingukan, hari berganti malam, dan tiba-tiba kini ia berada di gedung lantai dua dengan cahaya temaram.

Wanita muda duduk di lantai sambil menggaruk-garuk kepala dengan kasar. Terdengar sesuatu tertendang di lantai satu. Maya beranjak menuju tangga.

CUT TO:

INT. TANGGA – MALAM

Setengah tangga sudah Maya turuni, tampak tiga orang dari buruh yang tadi bekerja sedang memeriksa ruang-ruang, masing-masing dari mereka membawa sebotol minuman keras, seperti mencari sesuatu namun tidak menemukannya.

Mereka kemudian berjalan ketangga, Maya menyingkir, berjalan satu langkah lebih dulu dari tiga orang buruh itu.

CUT TO:

INT. LANTAI DUA – MALAM

Maya yang tiba lebih dulu merapat kedinding saat ketiga buruh melewatinya. Ketiga buruh memandang perempuan gila yang masih duduk sambil menggaruk-garuk kepala, kadang mulutnya komat-kamit dan menunjuk-nunjuk kesembarang arah.

Tiga buruh itu saling tatap satu sama lain dengan pandangan aneh, buruh satu mengisyaratkan kepada kedua temannya untuk mendekati wanita gila. Kedua temannya menurut.

Buruh #2 dan #3 berjongkok disisi kiri dan kanan perempuan gila yang kemudian menoleh pada keduanya sambil tersenyum sinting.

Buruh #2 menyodorkan botol minuman keras, perempuan gila menerima dan meminumnya, namun dengan segera pula menyemburkannya.

Tiba-tiba buruh #2 dan #3 menyergap perempuan gila. Maya diam ditempatnya, terkesima.

PEREMPUAN GILA

(menjerit-jerit liar)

Arrrgggghhhhh…

Perempuan gila meronta-ronta, namun tenaga kedua buruh bukan tandingannya, ia dibaringkan secara paksa, kedua tangannya dipegangi oleh buruh #2 dan #3.

Kaki perempuan gila meronta-ronta dan menendang-nendang ke udara, namun dengan sigap kedua buruh menangkap kaki perempuan gila, mengangkat dan menekannya, sehingga perempuan gila kini dalam posisi telentang mengangkang.

Buruh #1 berjalan mendekat, berjongkok tepat dihadapan perempuan gila, kemudian mengucurkan air dari botol minuman keras tepat dibagian genitalnya. Perempuan gila terus menjerit tanpa kata-kata.

Maya yang berdiri merapat kedinding tepat dibelakang buruh satu masih menatap terkesima ketika tangan buruh satu seperti sedang mempermainkan alat genital perempuan gila yang meronta dan menjerit-jerit pedih.

Buruh #1 – yang terlihat dari belakang, tampak tengah membuka resleting celananya kemudian merapatkan badannya kearah perempuan gila yang mengangkang.

PEREMPUAN GILA

(menjerit)

Arrrrrggggghhhhhhhh…

Maya yang ketakutan berlari menuruni tangga, jeritan perempuan gila masih terdengar, begitu pilu.

CUT TO:

INT. TANGGA – MALAM

Maya berhenti ditengah tangga, berjongkok, menutup mata rapat-rapat, menutup kuping erat-erat dengan kedua tangan, menggeleng-geleng, kedua kakinya menghentak-hentak.

Jeritan perempuan gila masih terus bergema. Maya kebingungan antara harus diam atau naik. Setelah beberapa lama tiba-tiba dia berdiri dan berlari, kembali keatas.

CUT TO:

INT. LANTAI DUA – MALAM

Maya tiba dilantai dua, tak ada siapa-siapa kecuali serakan botol. Suara perempuan gila terus bergema, kali ini datangnya dari lantai tiga.

Maya menatap tangga menuju lantai tiga, ia berlari kesana.

CUT TO:

INT. LANTAI TIGA – MALAM

Maya terengah mengatur nafas, melotot. Tampak perempuan gila diseret, tangannya ditarik paksa oleh ketiga pria itu. Kaki perempuan meronta-ronta, namun ia tak kuat melawan tiga tenaga pria.

Sampai diambang jendela perempuan gila diberdirikan kemudian tanpa basabasi ia didorong oleh ketiganya.

Terdengar suara benda jatuh. Hening.

MAYA

(menjerit kaget)

Arrrrggggghhhhh…!

CUT TO:

INT. KAMAR MAYA – MALAM

Suasana kamar masih terang benderang.

MAYA

(menjerit)

Arrrrrggggghhhhhhhh!

Maya membuka mata, wajahnya mengkilap berkeringat, nafasnya masih terengah, foto-foto yang tadi digenggam berserakan disekitarnya.

FADE OUT

FADE IN

INT. KEDAI KOPI – SIANG

Maya duduk menghadap notebook.

Dilayar notebook terbaca artikel kecil tentang kasus pembunuhan disertai pemerkosaan yang dilakukan oleh buruh bangunan terhadap seorang perempuan gila. Para tersangka sudah ditangkap oleh pihak kepolisian dua hari setelah kejadian.

Maya mengambil tumpukan foto disamping notebook kemudian memilah-milah dan memeriksa kembali.

FLASH BACK:

INT. GEDUNG LANTAI SATU – SIANG

Maya ketika pertama kali datang kedalam gedung tengah memotret, bedanya kini ada perempuan gila berdiri dibeberapa tempat dimana foto Maya terdapat garis putih meliuk.

Maya ketika kedua kali datang kedalam gedung tengah memotret, bedanya kini perempuan gila itu berdiri dekat Maya, menempelkan jarinya kelensa kamera. Bahkan sekali waktu telapak tangan perempuan gila terbuka, terulur, seperti hendak mengambil kamera.

CUT TO:

INT. KEDAI KOPI – SIANG

Maya merapikan foto-foto, menutup notebook dan memasukan semuanya kedalam tas.

CUT TO:

EXT. GEDUNG – PETANG

Cuaca mendung berawan, hampir hujan, Maya menatap kejendela lantai tiga, kamera tergenggam ditangannya, kemudian dengan langkah pasti ia melangkah menuju dalam gedung.

CUT TO:

INT. GEDUNG LANTAI TIGA – PETANG

Maya kembali memotret.

KAMERA P.O.V: ruang-ruang, anak tangga demi anak tangga, Maya yang sedang memotret pemandangan luar dari ambang jendela dimana perempuan gila dijatuhkan.

Sedesir anging lembut bertiup, Maya sedikit bergidik, memegangi tengkuknya kemudian menoleh kebelakang.

Maya melotot, mulutnya terbuka tanpa suara saat dihadapannya berdiri sepasang kaki berkulit hitam dan busik berlumur darah merah basah dari sosok perempuan yang hanya mengenakan kaos berukuran besar warna merah pudar.

FADE TO BLACK.

MAYA (v.o)

(menjerit)

Arrrgggghhhhh…!

TAMAT

Iklan

2 pemikiran pada “FOTO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s