Kesaksian Adi

INT. RUANG KELAS – PAGI
Ruang kelas tidak begitu hening, seorang ibu guru berpakaian safari duduk di bangkunya.
Di barisan murid, duduk dua puluh orang murid, laki-laki dan perempuan. Masing-masing memegang buku tulis.

IBU GURU
Baiklah anak-anak, kali ini Ibu akan meminta kalian membacakan karangan yang kalian buat. Ibu Absen ya. Adi Wiguna.

Seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun dengan ragu maju kedepan sambil memegangi buku tulisnya. Setelah sampai didepan ia berdiri menghadap kearah teman-temannya, langsung membuka bukunya dan mulai membaca.

ADI
Nama saya Adi. Adi Wiguna. Usia saya delapan tahun. Saya adalah anak kedua dari bersaudara.

CUT TO:
INT. RUANG KELUARGA – PAGI
Sebuah foto keluarga berukuran besar terpampang disalah satu dinding rumah.
Kamera mengarah pada foto Adi yang berdiri dekat seorang pria berjas, Adi memakai kemeja tangan pendek warna putih.

ADI (V.O)
Kakak laki-laki saya, Raka, berusia tiga belas tahun, dan sekarang sedang duduk di kelas dua SMP.

Kamera mengarah pada foto seorang anak laki-laki beranjak remaja yang tidak diperlihatkan wajahnya, ia mengenakan kemeja kotak-kotak biru abu.

ADI (V.O)
Ayah saya bekerja sebagai manajer, atau semacamnya, di salah satu perusahaan swasta.

Kamera mengarah pada foto seorang pria yang tidak diperlihatkan wajahnya, ia mengenakan setelan jas lengkap.

ADI (V.O)
Ibu saya adalah ibu rumah tangga biasa.

Kamera mengarah pada foto seorang perempuan yang duduk anggun mengenakan kebaya warna putih. Wajahnya diperlihatkan.

ADI (V.O)
Aktivitas keluarga kami seringkali di awali dengan keributan dan pertengkaran. Ayah selalu tak pernah puas dengan pekerjaan ibu. Ada saja yang dicelanya.

CUT TO:
INT. RUANG MAKAN – PAGI
Keluarga Adi berkumpul di meja makan bundar, sarapan. Menunya nasi kuning komplit dengan lauk pauk. Semua keluarga duduk, kecuali ibu yang berdiri di samping ayah.
Penampilan ibu layaknya pembantu, kaos oblong longgar, celana pendek longgar, rambutnya yang panjang berminyak diikat ketat kebelakang. Wajah Ibu tak seanggun difoto, melainkan kuyu dan layu.
Ayah menyuapkan nasi kuning, namun kemudian diludahkan ke arah kaki Ibu.

AYAH
Puih! Nasi apaan nih? Asin banget!

Bahasa tubuh anggota keluarga menegang.

AYAH
Kamu mau bikin aku darah tinggi? Iya!

Ibu menggeleng lemah hampir tak kentara.

AYAH
Ditanya malah diam, jawab! Iya kamu mau buat aku darah tinggi dan cepet mati?!

IBU
Ti… tidak.

AYAH
Bagus! Pinter kamu ya, mau mencelakakan suami sendiri, dasar BEEP*

CATATAN: bunyi BEEP selalu muncul setiap kali Ayah mengucapkan kata-kata yang tidak pantas didengar anak-anak, semisal umpatan, kata-kata kasar, atau menyebut nama binatang pada Ibu.

IBU
Ti… tidak.

AYAH
Lihat anak-anak, kelakuan ibu kalian ini, perempuan tidak tahu terimakasih ini, sudah dikasih uang, enak-enakan di rumah, masih saja berniat mencelakakan Ayah. Panggil dia BEEP.

Adi menatap Ibu dengan wajah sedih dan bingung, kakak Adi juga memperlihatkan bahasa tubuh yang sama. Ibu menunduk lemah.

AYAH
Kenapa kalian diam? Takut sama dia? Tak perlu takut, kalau dia apa-apakan kalian ayah yang akan menghajarnya! Sekarang cepat panggil dia BEEP.

ADI DAN KAKAK
(ragu-ragu)
BEEP.

AYAH
Bagus! Itu panggilan yang tepat untuk wanita seperti dia. Sekarang kita berangkat, jangan habiskan makanan buatannya, nanti kalian bisa mati muda.

Ayah berdiri, Ibu masih bergeming ditempatnya, menahan tangis. Ayah beranjak dari kursi, diikuti Adi dan Raka tanpa berpamitan. Ibu menangis tersedu dalam ke-diam-an-nya.

FADE OUT
FADE IN

INT. KELAS – PAGI
Adi masih berdiri didepan kelas, membaca dari buku tulisnya.

ADI
Bukan hanya perkataannya saja yang menyakiti ibu, tak jarang Ayah juga melakukan kekerasan terhadap ibu.

CUT TO:
INT. RUANG KELUARGA – MALAM
Ibu melipat tumpukan baju disofa, Adi duduk menghadap televisi. Ayah datang dengan bahasa tubuh tak sabar, ditangannya ada beberapa lembar kertas kering yang koyak tercuci.

IBU
(pelan)
Adi, sayang, cepat masuk kamar, kunci dari dalam, jangan dengarkan apa yang kami bicarakan.

Abi menatap Ibu dengan ragu, namun ia pergi juga.

AYAH
(nada mengintimidasi)
Kamu yang melakukan ini?

Ibu langsung menunduk, alih-alih salah tingkah ia melipat baju dengan cepat.

AYAH (contd)
Kamu tuli ya? BEEP, kamu yang mencucikan pakaianku kan?

Ibu mengangguk lemah dan takut.

AYAH
Kamu tahu apa ini?

Ibu menggeleng.

AYAH
Kalau ditanya jawab, jangan geleng dan manggut-manggut kayak BEEP.

IBU
i… iya.

AYAH
Iya apa?

IBU
Iya, saya jawab.

AYAH
Aku tanya kamu sekali lagi, kamu kan yang mencuci pakaian?

IBU
Iya.

AYAH
Apa sebelumnya kamu periksa terlebih dahulu? Siapa tahu ada apa-apa dalam pakaian yang akan dicuci.

IBU
Saya lupa, maaf.

Bahasa tubuh Ayah menandakan jengkel.

AYAH
Kamu tahu ini apa?

Tangan ayah menunjuk-nunjuk kertas koyak.

IBU
Tidak.

AYAH
Dasar perempuan BEEP! Ini surat-surat penting!

Ibu menunduk.

AYAH (contd)
Makanya kalau bekerja itu yang betul, jangan asal-asalan! Harus ikhlas! Kamu, mencuci baju saja tidak becus! Apa sih yang bisa kamu lakukan dengan benar? sepertinya tidak ada ya? Coba lihat ini!

Ayah mengambil salah satu pakaian yang sedang dilipat oleh Ibu.

AYAH (contd)
Kenapa tidak langsung kamu setrika biar sekalian rapi?

IBU
(pelan dan takut)
Iya, nanti saya setrika, saya lipat dulu biar tidak berantakan.

AYAH
Nanti? Sibuk apa kamu sekarang?

Ibu diam.

AYAH
Heh! Sibuk apa kamu sekarang?

Ibu tetap diam.

AYAH
Kamu ini ahli ya membuat kesal orang?!

Ayah melemparkan satu baju kewajah ibu.
Ibu diam. Ayah mondar-mandir tak sabar, tubuhnya naik turun seperti sedang mengatur nafas agar lebih sabar.

AYAH
Kamu pikir kamu sudah menjadi istri yang baik hanya dengan modal diam seperti itu?

Ayah menyurungkan kepala Ibu dengan ujung jari telunjuk.

IBU
Maafkan saya.

AYAH
Bosan! Bosan!! Kamu tahu, hari ini saja sudah tak terhitung berapa kali kamu minta maaf, begitu juga kemarin, kemarinnya lagi, kemarinnya lagi, dan lagi dan lagi. Kalau bisa terlihat, mungkin kata-kata maaf itu bisa menenggelamkan kamu. Maaf itu bukan sekedar diucapkan, tapi sesudahnya jangan kamu ulangi kesalahan yang sama, kamu ini lama-lama tambah mirip BEEP saja ya? Kamu manusia kan? Bukan BEEP kan?

IBU
Iya. Bukan.

AYAH
Awas kalau kamu tidak mengerti!

Ayah duduk merebah di sofa menyalakan televisi dengan volume keras, Ibu melanjutkan melipat pakaian, air mata bercucuran dalam diam.

FADE OUT
FADE IN

INT. KELAS – PAGI
Anak-anak terdiam. Adi membalik halaman buku tulis, melanjutkan membaca.

ADI
Sudah sangat sering saya mendengar cacian dari ayah untuk ibu, tapi malam itu, saya bukan hanya mendengar tapi juga melihatnya —

Jeda.
Tatapan Adi memindai seluruh ruang kelas.

ADI (contd)
Penganiayaan.

CUT TO:
INT. RUANG KELUARGA – MALAM
Ibu bersimpuh, di depannya sebuah cangkir pecah dengan ceceran kopi dimana-mana. Ibu memunguti pecahan beling, di depannya ayah berdiri tegak berkacak pinggang.

AYAH
Perempuan BEEP, BEEP, BEEP, BEEP. Sudah kuduga, kamu memang mau mencelakakanku bukan?! Punya niat apa kamu padaku sampai-sampai menyuguhkan kopi pahit, hah? Mau buat aku sakit jantung?

IBU
Gulanya habis.

AYAH
Kenapa tidak kamu beli? Kurang uangnya? Sekarang kan masih tanggal muda! Kamu kemanakan uang gaji? Dipake foya-foya? Dipake buat menelepon orang lagi? Siapa yang menyuruh durhaka pada suami sampai berniat mencelakakan? Pasti lelaki lain kan? Siapa dia?

Ibu diam, air mata berjatuhan.

AYAH
Tak usah pura-pura nangis segala, air mata palsu, diammu itu juga palsu, jago akting kamu ya? Kamu pikir dengan menunjukan wajah memelas seperti itu aku akan kasihan padamu?

Ibu terus memungut pecahan beling.

AYAH
Kamu itu harusnya sadar diri, berkaca. Kamu pikir kamu cantik sampai-sampai berniat khianat dengan lelaki lain? Kamu itu lebih mirip BEEP daripada manusia. Siapa dia? Biar aku beritahu siapa sebenarnya kamu. Wanita BEEP, tidak bisa apa-apa, serampangan.

Ibu mulai terisak.

IBU
Saya tidak berkhianat, saya berani sumpah.

AYAH
Sumpah sumpah.. sumpah sampah?! Cerita apa saja kamu pada lelaki itu? Pasti yang jelek-jelek tentangku!

Ibu berusaha menenangkan diri, namun masih tetap diam.

AYAH
Istri macam apa yang bercerita macam-macam tentang suaminya sendiri? Istri durhaka namanya.

IBU
Betul, saya tidak berselingkuh, jangankan melakukan hal sekotor itu. Mas kan tahu sendiri saya sudah tak pernah bisa keluar rumah lagi sekarang, bagaimana bisa mungkin saya melakukannya?

AYAH
Oh, jadi kalau ada kesempatan kamu akan melakukannya?! Untung saja aku tak membiarkanmu berkeliaran, karena kalau sampai aku membiarkanmu, kamu akan curi-curi kesempatan bukan?! Aku bisa membacamu dengan mudah! Kamu itu terlalu mudah. Istri durhaka kamu! Kamu lihat apa yang didapat istri durhaka?

Ibu diam lagi.

AYAH
Kamu kan sering nonton televisi, pekerjaanmu sehari-hari tuh! Lihat sinetron-sinetron religi, istri durhaka itu sengsara dunia akhirat. Membusuk wajah mereka, sama seperti kelakuannya, busuk! Kamu mau seperti itu, hah?!

IBU
(lirih)
Saya memang sudah sengsara sekarang.

AYAH
Apa? Tolong ulangi lagi?!

Ibu tersentak. Kemudian diam bersimpuh, membolak-balik pecahan cangkir.

AYAH (contd)
Kamu sudah merasa sengsara sekarang? Iya? Begitu? Kalau kamu merasa seperti itu harusnya kamu mawas diri, lihat apa yang salah dalam dirimu. Kalau kamu beres mengerjakan pekerjaan rumah, beres mengurus anak-anak, tidak menyeleweng dengan pria lain, hidupmu juga akan tentram. Jangan cari-cari masalah dengan suami, jangan durhaka terhadap suami.

Ibu bangkit.

AYAH (contd)
Eh! Mau kemana kamu?

IBU
Saya mau membuang ini dan membuatkan kopi baru.

AYAH
Kamu ini BEEP ya?! Bibirku masih basah, kamu tidak dengar apa yang aku katakan barusan?!

IBU
Dengar.

AYAH
Apa aku bilang?

IBU
Jangan durhaka terhadap suami.

AYAH
Terus apa yang kamu lakukan barusan?

IBU
Saya tidak tahu, saya tidak mengerti apa yang salah.

AYAH
Jelas ini! jelas! Wanita BEEP kamu! Siapa suruh kamu meninggalkanku dengan tidak sopan seperti itu?

IBU
Maaf, pikiran saya sedang kacau.

AYAH (contd)
BEEP kamu ya? Susah sekali dibuat mengerti? Otakmu itu terbuat dari apa sampai hal semudah ini saja tidak bisa paham? Dari BEEP? Itu bentuk ketidakpatuhan! Belum disuruh pergi sudah ngeloyor. Dasar BEEP!

Ibu berdiri menghadap ayah, tertunduk dalam.

AYAH
(Ayah menjewer ibu dengan kasar)
Pakai ini kalau mendengar nasihat suami!

AYAH (contd)
(Ayah menyepak lutut ibu)
Jangan pakai ini!

Ibu terhuyung dan kembali duduk bersimpuh didepan kaki Ayah.

IBU
(lirih)
Ampun Mas, ampun.

AYAH
Ini juga nih kata-kata andalan kamu selain maaf. Ampun.

Ayah mencibir dengan menirukan cara bicara ibu.

AYAH (contd)
(mencibir)
Maaf Mas, maaf. Ampun Mas, ampun.

Suara ayah kembali seperti semula. Jarinya menunjuk-nunjuk kesal.

AYAH (contd)
Munafik kamu! Durhaka! BEEP! BEEP! BEEP! BEEP!

Ibu tersedu dalam diam.

AYAH (contd)
Karena kamu tidak tahu diri, makanya aku beritahu! Itulah kamu, perempuan BEEP! BEEP! BEEP! BEEP! Kamu dengar?!

Ayah menjewer lagi kuping ibu dan menariknya. Ibu meringis memegangi kuping.

AYAH (contd)
Kamu dengar?!

IBU
Iya Mas, saya dengar.

Ayah menghempaskan ibu sampai tersungkur.

AYAH
Jangan bohong kamu! Kamu itu biasanya ahli dalam kebohongan seperti ini!

IBU
Saya tidak bohong Mas. Saya mendengar dan mengerti apa yang Mas katakan.

AYAH
Awas kalau sampai bohong lagi, aku potong saja kuping kamu! Percuma punya telinga kalau tidak dipakai mendengar!

Ayah menekan kuping ibu yang tadi dijewer dengan telapak kakinya.
Ibu yang terbaring miring dengan telinga masih terinjak, melotot.
Diseberangnya, dari dalam kamar Adi, Adi juga terbaring dengan posisi menyamping seperti Ibu, menghadapnya, memandang Ibu dengan air mata bercucuran.

IBU
Masuk Adi, kamu tidak boleh lihat ini. Masuk sayang.

Ayah berjingkat dari tempatnya menuju kamar Adi. Adi bangun tidak siap dengan apa yang akan Ayah lakukan.

AYAH
Kamu lihat?! Itu yang pantas bagi perempuan tidak berguna seperti dia.

Adi tengadah, memandang Ayah dengan air mata bercucuran. Tiba-tiba dari dalam kamar Raka menghambur keluar, menyurung pinggang Ayah sampai mundur beberapa langkah.

KAKAK
Ayah jahat! Ayah jahat!

Ayah yang mundur kini maju, gerakan tubuh keduanya terlihat sampai dada, tangan Ayah mengayun, menampar. Raka terhuyung.

AYAH
Mau mengikuti jejak ibumu ya? Ikut-ikutan durhaka sama orang tua?!

IBU
Masuk Raka!

Tangan Ayah sudah terangkat ke arah Raka, namun Ibu dengan segera memeluk Raka dan menjadikan punggungnya sebagai tameng. Dengan kasar Ayah menarik tubuh Ibu untuk menjauh, namun Ibu tetap menghalangi Ayah.

AYAH
Minggir kamu, BEEP!

IBU
(berbisik)
Masuk Raka, bawa adikmu. Dan jangan buka pintu! Biar ibu yang menyelesaikan ini dengan ayahmu.

Raka yang berlinangan air mata segera berlari menyambar Adi yang melotot diam, terkesima, air mata terus bercucuran. Raka dan Adi masuk ke kamar dan menutupnya dari dalam.
Ayah berjalan kearah kamar, namun ibu menghalangi.

IBU
Jangan Mas. Jangan lakukan ini sama anak-anak. Kalau Mas mau marah, marahi saja saya, tapi jangan pada anak-anak, mereka tidak tahu apa-apa. Kasihan mereka Mas. Saya yang salah, saya yang bodoh.

AYAH
Ini nih hasil didikanmu. Ini!! Anak-anak ikut-ikutan melawan! Durhaka semua anggota keluarga ini! durhaka! Istri durhaka sama suami. Anak melawan orang tua! Hancur dunia!

CUT TO:
INT. KAMAR – MALAM
Raka dan Adi duduk di balik pintu. Raka menutup kuping Adi erat-erat ketika terdengar bunyi pukulan dan tamparan diiringi rintihan Ibu.

IBU
Ampun Mas.. Ampun.

AYAH
Dasar perempuan BEEP! Wanita BEEP! BEEP! BEEP! BEEP! BEEEEPPPPP! (bunyi BEEP panjang)

Adi memejam mata erat-erat.

FADE TO BLACK.
FADE IN

INT. RUANG KELAS – PAGI
Semua anak diam menatap Adi yang mengerjapkan mata balas menatap anak-anak lain dengan tatapan kosong.

Jeda.

IBU GURU
Bisa mulai membacakan karangannya sekarang, Adi?

Adi mengangguk pelan.

ADI
Iya Bu.

Adi membuka buku kemudian mulai membaca

ADI
Nama saya Adi. Adi Wiguna. Saya anak kedua dari dua bersaudara. Kakak saya, Raka, berusia tiga belas tahun, dan sekarang duduk di kelas dua SMP. Ayah saya bekerja sebagai manajer, atau sejenisnya, disalah satu perusahaan swasta. Ibu saya adalah ibu rumah tangga biasa.

Jeda.

ADI (contd)
Kami merupakan keluarga kecil yang bahagia.

FADE TO BLACK.

TAMAT

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s