LARA SATI

ilustrasi

Kini
Tol… tol… tol… Sati menotol krim alas bedak keseluruh wajah, lalu mengusap dan merataknnya perlahan.
Walau usianya sudah diawal tigapuluhan, namun dia juga ingin tetap terlihat cantik, tidak kalah jika harus disandingkan dengan para wanita yang berusia jauh lebih muda darinya. Tuntutan di jaman sekarang, banyak wanita, termasuk dirinya, tak lagi bisa menentukan identitas tentang kecantikan. Semua dinilai dari kacamata pria. Apa boleh buat, akhirnya sebagian perempuan mempunyai paradigma sama tentang kecantikan.
Tapi bukan itu tujuannya, yang paling utama dari semua adalah Sati berupaya bisa sembunyi dari kenyataan hidup yang harus teralami dibalik segala peralatan penunjang kamuflase ini.

Dulu
Tol… tol… tol… jari-jari lentik penata rias menotol krim alas bedak keseluruh wajah Sati, lalu mengusap dan meratakannya perlahan.
“Kami, orang tua, hanya ingin yang terbaik bagi anaknya.” Ibu menenangkan hati Sati dari belakang dengan nada sedikit bangga karena dalam hati Ibu justru merasa tahu sekali apa yang terbaik bagi anaknya. “Calon suami kamu itu anak yang baik, hangat, religius, terpelajar, mapan, tampan. Apa lagi yang kurang? Tidak ada, kan? Manusia memang tak ada yang sempurna, tapi bukankah kita berusaha mencari yang mendekatinya? Dan hal itu ada pada calon suami yang kami pilihkan untukmu. Iya kan?”
“Iya Bu.” Jawab Sati tanpa membantah.

Kini

Pluk… pluk… pluk… Sati menepukan kanebo bedak kepipi, lalu menggesut dan meratakan perlahan.
Topeng yang dikenakan harus terlihat sangat natural. Jangan sampai kurang atau kelebihan. Bagaimanapun juga tak semua pihak bisa menerima kenyataan pahit bagi seseorang sebagai sesuatu yang pahit pula. Sati tahu kalau sampai mengungkapkan, dia sendiri yang akan disalahkan atas segala yang terjadi padanya sekarang.
Setidaknya itulah yang sering dia perkirakan.

Dulu
Pluk… pluk… pluk… kanebo milik penata rias, menepuk-nepuk halus pipi Sati, lalu menggesut dan meratakannya perlahan.
“Mana ada orang tua yang tidak memikirkan masa depan anaknya?” Ibu berkata seolah memberikan nasehat bijak, “Hanya kami yang seperti itu. Coba kamu lihat hidup anak tetangga kita yang dibiarkan menikah dengan pilihannya sendiri, baru dua tahun sudah bercerai, meninggalkan anak lagi. Karena apa? Karena orang tuanya tidak berpikir jauh kedepan seperti kami ini. mereka tidak melihat bibit, bebet, bobot orang yang akan hidup bersama anak mereka.”
“Iya Bu.” Lagi-lagi jawaban itu yang terlontar dari Sati.

Kini
Sret… sret… sret…. Sati menyapukan perona pipi berulang kali dan hati-hati.
Ada warna-warna yang harus tersamarkan dibalik warna-warna lain yang dipulaskan. Warna-warna polesan ini yang akan membuatnya dipuji meski dia tak menginginkannya sama sekali. Namun tak ada pilihan, warna asli yang lebam justru akan membuatnya dicaci maki walau dia tak keberatan. Tapi ada hal lain yang harus dipikirkannya, nama baik orang-orang.

Dulu
Sret… sret… sret… kuas perona pipi milik penata rias memulas, menghadirkan kesan segar diwajah Sati.
“Ibu berani menjamin, tak ada orang tua yang memperhatikan anaknya sejauh kami.” Ibu memberi garansi terhadap opini sendiri, “Bukannya Ibu tidak senang dengan pria pilihan kamu. Memang dia terlihat baik, tapi apa baik saja cukup untuk modal menikah? Tidak kan?”
Sati tak menjawab.
“Lagipula,” Ibu meneruskan, “Orang yang terlihat baik belum tentu baik. Dijaman sekarang penampilan tidak bisa dijadikan jaminan. Tapi calon suami kamu itu beda, kami sudah tahu bagaimana sifatnya, wong orang tua dia dan orang tuamu ini sudah kenal lama, jadi kami sudah mengetahui bagaimana sifat anak masing-masing. Percaya sama Ibu, kamu tidak akan menyesal menikah dengannya.”
“Iya Bu.” Jawab Sati seolah tegar.

Kini
Set… set… set… Sati memoleskan pemerah bibir keseluruh bagian tanpa melewati batas yang telah digarisi.
Senyuman akan terlihat lebih menarik apabila bibir memiliki bentuk dan warna menawan. Jangan ada yang tahu kehidupan sesungguhnya telah tertawan.
Ada warna merah lain dibibir yang diakrabi selain lipstik, warna yang hampir sama dari sumber dan bahan berbeda. Kadang termuntahkan ke lantai atau tertelan ke tenggorokan, membuatnya tersedak dan seakan tercekik dari dalam, menyumbat aliran udara dengan rasa anyir tak tertahankan.

Dulu
Set… set… set… pemerah bibir sewarna darah segar milik penata rias memoles bibir Sati yang telah terbingkai garis-garis tipis.
“Bersama suamimu, nanti, Ibu sangat yakin kamu akan merasakan kebahagiaan sesungguhnya. Setahu Ibu, dan juga kedua orang tuanya, calon suamimu itu hanya baru berpacaran dua kali. Mereka putus karena wanitanya yang meninggalkan. Wanita-wanita bodoh! Meninggalkan pria nyaris sempurna sepertinya. Tapi Ibu bersyukur karena dengan begitu kamu yang akan mendampinginya, menjadi nyonya yang memakai namanya. Hanya kamu, satu, Sati.” Ibu menerangkan angan semanis gula aromanis yang tampak indah menggumpal serupa kumpulan awan warna merah muda, namun tak sadar bahan pemanis tersebut berbahaya sebab terbuat dari bahan sintetsis.
“Iya Bu.”

Kini
Sit… sit… sit… Sati menyisir helaian rambut dari pangkal menuju ujung. Entah berapa banyak rambut yang dipaksa tercabut dari akar sebelum waktunya. Entah berapa kali pula rambut itu berganti warna sesaat. Bukan berasal dari produk yang diiklankan, tapi dari dalam kepala yang dibenturkan. Dan semua harus diterimanya sebagai konsekuensi dari sebuah ikatan institusional bernama pernikahan.

Dulu

Sit… sit… sit… sisir penata rias bergerak merapikan tatanan rambut yang telah disanggul bertahtakan tiga tangkai kembang goyang.
Ibu yang dari tadi duduk dibelakang menghampiri dan menggenggam tangan. “Apapun yang terjadi, jangan sampai kalian berpisah. Bahagiakan suamimu bagaimanapun caranya, puaskan dirinya! Kalau ia sampai berpaling, kamu juga yang punya andil kenapa dia sampai bertindak seperti itu. Itu salahmu! Dan ingat, kamu juga membawa nama kami, nama keluargamu, dibelakang. Jangan sampai kelakuanmu memalukan kami yang telah mendidikmu. Camkan itu!”
“Iya Bu.” Jawab Sati tanpa tahu apakah yang dikatakan Ibu merupakan, wejangan, peringatan, atau ancaman.

Kini
Selesai berdandan, Sati beranjak dari kamar menuju ruang tamu dimana Ibu sudah duduk menunggu.
Dua wanita beda generasi berdiri berhadapan.
“Saya mohon pamit Bu.” Ungkap Sati tak lupa mencium tangan.
Ibu merengkuh penuh kebanggaan, “Ibu sangat senang melihat keadaan kamu sekarang. Kamu terlihat bahagia, cantik dan tidak kekurangan. Beruntung benar kamu mendapat suami seperti pilihan kami. Sampaikan salam Ibu untuk suamimu, mudah-mudahan tahun depan ia bisa datang dan kita merayakan kemenangan dan kebahagiaan ini bersama-sama.”
Sati tersenyum samar menyertai jawaban singkat seperti biasa, “Iya Bu.”

Sati melangkah meninggalkan rumah orang tua, sehari setelah Idul Fitri. Kembali kehadapan suami. Kembali harus berhadapan dengan segala kekerasan yang selalu diterima tanpa perlawanan. Betapa Ibu dan ayahnya tak tahu kalau pria yang dielu-elukan sebagai pria sempurna tak lebih dari seorang penyiksa yang gemar menganiaya. Cubit, tampar, tendang, jambak, pukul, banting, seret, caci maki, adalah hal yang harus diakrabi. Bahkan dia merasa terperkosa oleh suaminya sendiri hampir setiap hari.
Dari balik jendela sesosok tubuh wanita memperhatikan. Ibu menatap kepergian Sati, raut wajahnya berubah kuyu, matanya berkaca-kaca.
“Maafkan Ibu, Sati, anakku.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s