SAAT HUJAN TURUN PETANG

Kau!

Benar. Kau. Pria tambun berlemak banyak dengan kepala nyaris botak, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan. Di tempatmu sekarang, di bawah kanopi kedai kopi, pelataran kompleks swalayan, kau asyik memperhatikan mereka. Anak-anak yang berlarian, mengejar setiap orang yang keluar dari berbagai toko yang berjajar, menawarkan jasa antaran pelindung tubuh dari guyuran hujan.

Matamu memindai, memperhatikan tubuh-tubuh kuyup, pakaian mereka yang basah melekat di badan. Kulit wajah dan tubuh mereka yang mengkilat terkena tetesan hujan. Fantasimu melayang, berandai-andai mereka berkeliaran seperti itu sambil telanjang. Anganmu mereka-reka, kau ada diantara mereka, dapat menyentuh dan mengelus, memilah dan memilih satu diantara sekian, atau barangkali kau garap semua bergiliran seperti yang kau lihat dalam situs-situs porno pengeksploitasi bocah-bocah ingusan.

Kau tersenyum sendiri, mengingat betapa kau menyukai saat melihat tubuh mereka gemetaran tanpa pakaian. Raut polos mereka saat ketakutan. Teriakan mereka saat kesakitan. Air mata mereka saat dihinakan. Tenaga mereka yang digunakan untuk melakukan perlawanan, meski pun sia-sia saja sebab kau yang akan memenangkan. Kau bahagia.

Kadang mereka kau sekap berhari-hari, menjadi budak. Benar. Peran yang paling sering kau mainkan, budak dan majikan. Kau perlakukan mereka sesukamu, tak ubahnya boneka tanpa bernyawa. Kau gembira.

Mereka, anak-anak miskin yang mudah kau rayu dengan sedikit pendekatan, sedikit kebaikan, sedikit kesenangan, sedikit perhatian, dan sedikit uang. Mereka pun percaya. Menjadikan kau sebagai pelarian, tak sadar masuk jebakan. Anak-anak lelaki yang bahkan belum tumbuh kumis dan bulu kaki bisa kau mandikan tanpa mereka risih sama sekali. Kau pun bisa mulai melancarkan aksi. Menyentuh tubuh. Membelai wajah. Mengusap badan.

Kadang ada beberapa yang memberontak. Berteriak. Tangan dan kaki meronta sekuat tenaga. Kau tak suka. Sentuhan berubah pukulan. Belaian berganti tamparan. Usapan mengeras menjadi cengkraman, menjadi cekikan.

Tapi kemudian kau berubah suka saat mereka telentang tak berdaya, kehabisan tenaga. Kau senang, tersenyum penuh nafsu. Mengeluarkan rayuan gombal menjijikan.

Ayo sayang… ayo manis… anak pintar… anak baik…

Kau memposisikan bocah-bocah sedemikan rupa, mencoba berbagai gaya. Merasa berkuasa. Tangan-tangan gemukmu meremas kedua pipi mereka, membuatnya terbuka. Selangkangmu dihadapkan tepat di muka, memasukan sesuatu kedalamnya. Kau tergelak saat melihat mata mereka membelalak seolah tersedak dengan ‘benda’ mu yang terus bergerak-gerak. Maju mundur, seirama dengan desahan, senada dengan lenguhan. Kau meregang, mengerang, saat sesuatu memenuhi mulut mereka, cairan kental yang membuat mual. Kau puas. Tubuh kecil si bocah kau hempas. Sasaran selanjutnya, lubang pembuangan.

Ancaman dilancarkan.

Buka mulutmu pada orang lain, dan kau akan tahu akibatnya!

Kau berkata sambil menggariskan telunjuk di leher. Mereka menunduk, tak mengangguk. Tapi itu cukup bagimu sebagai jawaban bahwa mereka tak akan melakukan apa yang kau larang.

Namun selalu saja ada yang membangkang. Menolak dengan kasar. Kadang balik mengancam akan melaporkan apa yang kau lakukan. Kau benci mereka yang dirasa bisa menjadi bahaya. Bocah-bocah seperti itu harus enyah. Harus disingkirkan. Harus dilenyapkan.

Dulu, sewaktu kau muda, hal tersebut gampang dilakukan. Hanya dengan cekikan dan kau bisa melenyapkan si biang onar. Mata mereka melotot menatapmu dalam kepanikan, ketakutan, kebencian, ketidakberdayaan, tapi kau tak peduli, tak mengasihani sama sekali. Tangan mereka menggapai-gapai tak jelas, mungkin mencari pegangan yang nyatanya tak ada selain udara. Kaki-kaki mereka menendang kesana kemari, berekelojot hebat sebelum akhirnya lunglai, lemas, tak bergerak seiring nyawa yang melayang.

Kemudian, jasad mereka kau kuburkan malam-malam di tegalan bersemak banyak atau pinggiran hutan. Cukup gali lubang. Lempar. Timbun kembali dengan tanah. Ratakan. Samarkan dengan daun-daun mati yang berserak atau tancapkan beberapa rumput liar yang tak membutuhkan waktu lama untuk tumbuh menjalar kemana-mana. Kau pun bisa pulang, melenggang tenang.

Seiring jaman yang berubah, membuang jenazah bukan lagi urusan mudah, apalagi di tempat seperti ibu kota, di mana tak ada lagi hutan, tegalan, tanah lapang, dan sungai-sungai juga telah mendangkal. Tapi kejahatan selalu menemukan cara untuk menyesuaikan dengan keadaan. Kau mengetahui dari televisi.

Mutilasi.

Kau ikut bertransformasi. Mulai berurusan dengan pisau dan senjata tajam lainnya. Memisah. Membelah. Mencacah. Membagi tubuh menjadi bagian-bagian tak utuh. Kau menikmati. Rasa tak senangmu pada korban terbayarakan. Jejak mereka dapat kau hilangkan. Kalau pun ditemukan identitas mereka akan sulit sekali dikenali. Dan kau bisa tenang kembali. Seperti petang ini.

Benar!

Aku tahu, kau baru saja melempar sebuah kresek hitam berisi kepala seorang bocah ke sebuah sungai besar. Dalam keadaan hujan seperti sekarang, banyak orang membuang sampah ke sungai, menghanyutkannya, tak peduli akan bermuara dimana selama tak terlihat oleh mata dan teronggok depan rumah. Kau pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Potongan itu akan bersatu dengan sampah lainnya, atau tenggelam, atau dimakan ikan-ikan purba yang bersembunyi dalam gelap endap lumpur dasar sungai. Atau barangkali juga akan jadi santapan buaya yang merahasiakan keberadaan mereka di sesak ibu kota.

Hujan turun makin makin lebat, bocah-bocah terlihat makin semangat. Semakin lama hujan turun semakin besar pula kemungkinan pulang membawa uang. Kecuali bagi yang satu itu.

Matamu tertuju pada seorang anak lelaki dengan payung merah di tangan. Usianya kau perkirakan baru enam tahun. Ia tampak berbeda dari yang lainnya. Tubuhnya putih nyaris pucat seperti pualam. Matanya polos dan jernih. Rambutnya hitam pekat dengan poni rata melekat di dahi, basah oleh hujan.

Ia hanya berdiri, menatap lugu kesana kemari, ke arah orang-orang yang keluar dari pertokoan, namun ia tak berlari mendatangi. Bahkan payungnya yang bergagang panjang tak dibuka, dipegangi saja depan dada.

Janggal?

Pikiranmu berhipotesa sederhana. Tak pantas anak seperti dia hadir disana, di jalanan yang hujan. Dari penggambaran yang kau lihat, dia seharusnya berada dalam rumah bergaya kolonial Eropa, berpakaian bersih; celana pantalon pendek – kemeja putih tangan pendek – rompi wol hasil rajutan tangan – kaos kaki tinggi – sepatu hitam mengkilat, rambutnya tersisir rapi ke sebelah kiri, duduk depan piano memainkan musik klasik dengan notasi padat dan rapat, atau menikmati roti dengan selai kacang dan segelas cokelat panas sambil duduk dekat perapian ditemani saudara saudari seumur dan anjing keluarga yang meringkuk dekat kursi goyang ayahnya yang sedang membaca buku tebal sementara ibunya menyulam kain berpola bunga. Tetapi kenyataanya tidak. Ia berdiri disana. Menatapmu.

Benar. Kau baru sadar ia tengah memandangmu, seperti memberi isyarat, menawarkan jasa tanpa kata-kata.

Kau belum menjawab, masih mengira-ngira mengapa dia bisa sampai berada disana? Mungkinkah keluarga Eropa-nya jatuh miskin? Atau barangkali ia anak buangan yang diasuh keluarga tak punya kemudian dimanfaatkan untuk ikut mencari nafkah? Atau barangkali dia anak TKW yang di hamili majikan di luar negeri, lantas ibunya dipulangkan paksa dalam keadaan setengah gila, sehingga dia dirawat oleh kakek neneknya yang makin renta dan tak lagi bisa memberinya penghidupan?

Ia mendekat. Kau tercekat. Entah karena hasrat

atau rasa lain.

Ia menyodorkan payung merahnya yang belum terbuka. Tanganmu terlulur, menerima.

Kau lihat ia tersenyum, dikulum, barangkali bahagia konsumen pertama tak menolak. Kau tersenyum dengan maksud yang sudah bisa ku tebak. Tentu, anak seperti ia bisa jadi variasi lain pemuas syahwatmu, bukan?

Tapi ada sesuatu yang kau tak tahu.

Benar, bahwa anak itu sekarang harusnya berada dalam rumah yang bergaya kolonial Eropa.

Benar, bahwa anak itu sekarang harusnya berpakaian bersih serta hangat dengan rambut tersisir rapi ke sebelah kiri.

Benar, bahwa anak itu sekarang harusnya sedang memainkan musik klasik dengan notasi padat dan rapat dari piano.

Benar, bahwa anak itu sekarang harusnya tengah duduk manis depan perapian bersama anjing yang meringkuk dekat kursi goyang sang ayah.

Tapi petang ini aku harus membawanya keluar, mengantar, mengawasi saat memberinya pelajaran pertama bagaimana cara mendapatkan makanan utama kami semua.

Darah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s