PIECES OF A DREAM*

Pada sebuah dini hari, dalam keadaan setengah sadar, kudengar bunyi terompet. Halus dan mulus. Samar dan jauh. Seperti desah bisik yang merembes keluar dari sumbatan.

Aku berada di depan sebuah layar lebar yang memutar gambar hitam putih. Kontras sekaligus buram. Suram. Bayang hitam lebih dominan. Putih terang (kadang remang) hanya fokus pada objek yang di inginkan. Penggambaran yang mengingatkanku pada aktris-aktris cantik dengan ekspresi datar sekaligus sensual, tatapan mereka begitu lugu sayu merayu menyimpan misteri dan hasrat jahat. Gaun-gaun terusan pas di badan. Perhiasan. Minuman. Pistol. Para aktor berwajah serius. Berjas hitam. Berdasi hitam. Bertopi fedora hitam dengan bayangan tepi menutupi setengah wajah. Bayang-bayang memanjang. Rokok. Asap. Senapan.

Satu adegan hadir di layar:

INT. BAR – MALAM

Seorang pria kulit hitam, tua dan tambun, berdiri seorang diri diatas podium, meniup terompet. Memainkan jazz.

Dibarisan pengunjung, tampak seorang pria, belum terlalu tua, namun tak bisa dibilang muda, duduk di kursi tinggi, membelakangi meja bar yang memanjang. Penampilannya sangat rapi, rambutnya basah mengkilat tersisir kebelakang. Ia asyik menikmati permainan si musisi.

Seorang pria lain datang. Tubuhnya gemuk. Bahkan jasnya sampai tidak muat dikancingkan. Pria gemuk duduk disamping pria setengah muda, menghadap meja. Saat bicara keduanya tidak pernah bertatap muka.

PRIA SETENGAH MUDA

Sudah aku siapkan. Ditempat biasa.

PRIA GEMUK

Apa yang sekarang bagus?

PRIA SETENGAH MUDA

Sangat. Aku jamin kau menyukainya.

Pria gemuk mengambil sebuah kunci disebelah gelas minuman pria setengah muda. Ia kemudian mengeluarkan selembar kertas, terlipat dua, sebagian terbaca; nama sebuah bank, sederet angka dan secoret tanda tangan. Segelas minuman disodorkan seorang pelayan. Pria gemuk meneguk, seteguk, lalu berbalik dan bergegas meninggalkan pria setengah muda tanpa berkata-kata.

INTER CUT:

EXT. TROTOAR – MALAM

Pria gemuk keluar dari bar. Suara terompet mengalun lebih samar, namun masih tetap terdengar. Ia menaikan kerah mantelnya sampai penuh. Menggosok-gosokan tangan, meniupkan udara hangat. Segulung uap halus putih keluar dari mulutnya.

INT. MOBIL – MALAM

Dari belakang setir sesosok pria lain memperhatikan. Saat pria gemuk mulai berjalan, ia pun turun. Mengikuti.

EXT. TROTOAR – MALAM

Pria penguntit berjalan beberapa langkah mengendap-ngendap dibelakang pria gemuk, menyelinap diantara bayang-bayang.

Pria gemuk berhenti di sebuah motel. Namanya berhias lampu kecil kelap-kelip. Bangunan itu terkesan sepi, tak satu pun lampu yang menyala dari dalam.

Pria gemuk berjalan, menaiki undakan tangga dan masuk.

CUT TO:

INT. KAMAR – MALAM

Pria gemuk masuk, menyalakan lampu ruangan.

Kamar itu nyaris kosong, hanya ada satu ranjang beranka besi ukuran kecil dan sebuah lemari kayu tua. Pria gemuk melepas topi, mantel, jas, dan dasi.

Di atas ranjang seorang bocah lelaki, berkulit hitam, berambut kriting kecil-kecil, terbaring merinkuk, tertekuk. Kedua tangannya diikat kebelakang menyambung sampai kakinya yang juga terikat rapat oleh tali serat kuat panjang. Mulutnya disumpal kemudian dibekapkan sehingga ia tak bisa bersuara.

Sambil berjalan mendekat, pria gemuk melepas ikat pinggang, merentang dan meregangkannya dengan kedua tangan.

Adegan yang kemudian kusaksikan sangatlah tak pantas. Aku tak ingin melihatnya, namun mataku tak bisa beralih atau dipejamkan.

Keduanya bercinta. Bukan! Bukan bercinta! Pria gemuk itu memperkosa setelah sebelumnya ia mencambuki si bocah yang meringis, menangis, mengerang tak kencang, tertahan sumpalan, setiap kali ikat pinggang memecut kulitnya.

Pakaian si bocah, yang kemungkinan anak seorang gelandangan, atau budak belian, atau anak pelayan rendahan, direnggut paksa. Mata anak itu mengiba, tapi yang tertangkap oleh pria gemuk justru sebaliknya.

Kudengar jazz yang sama. Terus mengalun. Iramannya melambat. Ada sakit. Ada sedih. Ada perih.

Gambar selanjutnya:

INT. LOBI MOTEL – MALAM

Seorang pria putih tua duduk di balik meja resepsionis. Tubuhnya kurus, sebagian kulitnya bergelambir seperti sapi. Kulit wajahnya turun dan berminyak banyak, kepalanya nyaris botak. Ia hanya mengenakan kaos singlet putih kusam sehingga bulu-bulu keperakan yang tumbuh tak teratur sepanjang lengan, dada, dan punggung yang berbercak hitam, menambah kesan kumuh dan lusuh. Satu-satunya yang mencolok dari pria ini adalah sorot matanya yang licik dan selalu waspada. Ia asyik merokok sambil mendengarkan jazz dari radio.

Langkah-langkah sepatu terdengar diantara not-not jazz. Pria penguntit itu diperlihatkan dari belakang. Mengenakan setelan dan topi hitam. Mantelnya berwarna kelabu.

Langkahnya semakin dekat. Pria tua mendongak ke arah datangnya sosok tamu tak di undang dengan tatapan khasnya. Tangannya merogoh senapan panjang yang selalu tersimpan di laci meja. Tapi sebelum ia sempat mengambil tindakan, bahkan sebelum sempat bertanya, pria penguntit terlebih dahulu mengeluarkan pistol dari balik mantelnya dan tanpa basa-basi menembak pria tua tepat di dada.

Pria tua terjengkang ke belakang. Kaos singletnya bolong, berasap sesaat, sebelum darah hitam merembes pada serat-seratnya.

Pria penguntit yang wajahnya tidak diperlihatkan berjalan menaiki tangga, menuju lantai dua.

CUT TO:

INT. KAMAR – MALAM

Pria gemuk masih dalam posisi menunggang, keduanya telanjang. Irama jazz berubah seketika. Masih tetap lambat, namun ada galau, ada ketegangan yang mengintai.

Pintu di dobrak, pria penguntit berdiri diambangnya. Pria gemuk terhenyak, sebelum ia sadar sepenuhnya, dengan sigap pria penguntit mengarahkan pistolnya.

Satu tembakan mengenai perut pria gemuk. Darah mengucur dari lubang kecil yang mengepul. Bocah lelaki hitam tak dapat berkata.

Pria gemuk masih bisa bergerak, seperti hendak mengumpat, namun tak ada suara yang terdengar selain geraman berat.

Pistol di tangan pria penguntit kembali memuntahkan peluru, kali ini mengenai pinggang sebelah kanan. Pria gemuk ambruk di tempat tidur.

Bocah lelaki memungut robekan pakaian, menutupi sebagian badan, terkesima menghadapi dua hal mengerikan sekaligus dalam waktu hampir bersamaan.

Pria penguntit mendekat.

Bunyi terompet memekik nyaring dan panjang.

P.O.V PRIA GEMUK: Keadaan sekitar berubah suram dan mengabur. Pria penguntit menodongkan pistol tepat di dahi. Moncongnya yang pendek masih menyisakan asap tipis menyeramkan. Wajah pria itu buram tertutup bayangan topi fedora, hanya matanya yang terlihat. Dingin. Tajam. Penuh amarah.

PRIA GEMUK

(merintih)

Ampun. Aku mohon, jangan.

Pelatuk ditarik, satu letusan terakhir terdengar sebelum akhirnya pria gemuk tewas berlumur darah di atas ranjang.

Terompet kembali mengalun pelan, seperti membius orang-orang agar tetap terbuai alam impian.

Jazz dan pria penguntit telah berkomplot dalam aksi pembunuhan.

***

Matamu terbuka lemah. Pria penguntit dalam mimpi bukanlah aktor yang biasa kau lihat dalam film-film barat. Kau bisa mengingat dengan jelas siapa pemilik mata itu. Namun pikiranmu yang lelah tak bisa berkompromi. Kau terpejam kembali. Ingatanmu samar-samar menjadi samar sebelum akhirnya menyatu dan teraduk dalam kabut. Terdengar jazz lain dimainkan, sangat tenang dan lembut. Kau kembali bermimpi, tentang hujan yang membasah di pagi hari.

*Di ambil dari salah satu judul lagu Incognito dalam Album Positivity.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s