NAMA : BIDADARI

Entah bagaimana caranya tiba-tiba saja dia berada di sana, di jalanan remang pinggiran kota, berlari bersama banyak perempuan berpakaian minim dengan sepatu hak tinggi yang berlarian tak tentu arah. Dia yang tak tahu menahu ikut saja berlari, terbawa suasana yang ada, sementara disekitarnya para pria berseragam ikut menghambur, mengejar, menangkap, menyergap, dan menyeret perempuan-perempuan yang menjerit histeris dan berontak hebat. Dia, dengan pakaian yang sangat tidak cocok untuk adu lari tentu saja dengan mudah terjaring, diseret seperti kambing menuju truk bertutup terpal tebal.

Dalam kendaraan, pemandangannya lebih menyeramkan. Kumpulan perempuan yang semula cantik, berpupur putih, bergincu merah, berperona mata dan pipi warna-warni berubah mengerikan. Semua luntur, bercampur dengan keringat dan air mata. Beberapa bahkan terlihat mengenaskan sebab nekat bersembunyi dengan menceburkan diri ke dalam got, gorong-gorong atau kali bersampah banyak. Bau mereka begitu menyengat, antara campuran keringat, deodoran murahan, lumpur, dan sampah yang tak terurai. Para bidadari jalanan telah menunjukan wujud mereka sesungguhnya: hantu gentayangan.

Selama perjalanan semua diam, hanya saling tatap, saling mengirim isyarat saat melihat dia. Di mata mereka, penampilannya begitu… luar biasa – jika tidak mau dikatakan aneh. Dia, perempuan yang dimaksud, tampil dengan kostum khas tokoh wayang perempuan. Semua lengkap, mulai dari mahkota, giwang, kalung, gelang tangan dan kaki, cincin. Semua tampak asli, berkilauan, dan mahal. Begitu juga dengan kemben, kain, dan selendang bernuansa merah, semua begitu indah berbahan sutra pilihan dengan jalinan benang emas yang benar-benar emas.

Namun, berbanding terbalik dengan apa yang dipakainya. Tampilan dia sangat sangat menyalahi kesepakatan banyak orang tentang definisi cantik. Perawakannya tidaklah indah semampai layaknya putri-putri kerajaan atau peserta kontes ratu-ratuan, melainkan lebih tinggi dan lebih besar dibanding perempuan kebanyakan, ototnya pun bertonjolan dengan urat-urat besar. Kulitnya tidaklah langsat, tetapi gelap dan berbulu kasar. Rambutnya yang panjang tidaklah ikal mayang atau lurus halus seperti gadis iklan shampo, melainkan kaku berantakan dan berwarna kusam. Lehernya tak jenjang, melainkan kokoh, sama besar dengan ukuran kepala, sehingga sangat ganjil disana teruntai kalung-kalung bertahta batu permata berukiran super rumit.

Masalah wajah? Ah, jangan ditanya. Tak ada yang namanya mata indah bulat dengan retina biru, hijau, atau coklat muda. Tak ada yang namanya bulu mata yang melentik cantik. Tak ada yang namanya hidung bangir dengan lubang kecil terimpit tulang-tulang pipi yang naik. Tak ada yang namanya bibir merah merekah padat. Tak ada yang namanya dagu indah.

Wajahnya terbingkai rahang kotak yang tegas keras. Matanya bulat besar dengan kelopak tebal. Bulu matanya lurus dan panjang tak beraturan. Hidungnya besar dengan kedua lubang mengembang. Begitu pula bibirnya, tebal berwarna kehitaman memperlengkap gigi tonggos, kuning, besar tak beraturan – dan jika sedikit diteliti masing-masing gigi taring atas dan bawah lebih panjang dan runcing. Singkat kata, di mata perempuan yang hadir di sana, dia adalah penggambaran Sarpakenaka yang mencuri dan mengenakan secara paksa properti milik Dewi Sinta. Bahkan mungkin mereka akan mengira itu adalah jelmaan Rahwana jika tak melihat sepasang payudara yang besar terjejal dalam kembennya yang ketat.

Dalam percakapan isyarat mata itu pula hampir semua bernafas lega. Betapa mereka yang selama ini merasa merana sebab tak semenawan para selebritas layar kaca bisa menyaksikan di depan mata ada seseorang yang lebih nggak dari mereka.

Di kantor dinas sosial, para perempuan ditanya dan didata, sampai akhirnya tiba giliran dia.

Seorang petugas berperawakan besar dengan perut berbentuk setengah lingkaran sempurna duduk tegak di meja tugas, menghadap layar komputer yang berpendar.

“Nama?” tanya petugas tanpa melirik sama sekali.

“Bidadari, Pak.” Jawab dia dengan suara berat, sember, dan pecah.

Petugas menghentikan gerakan mengetik gaya ‘sebelas jari’.

“Saya serius! Nama kamu siapa?”

“Bidadari, Pak.”

Dengan tampang kesal petugas mengetikan apa yang disebutkan oleh dia.

“Umur?”

“Tidak tahu, Pak?”

“Masa tidak tahu.”

“Saya tercipta langsung dewasa, Pak.”

“Jangan main-main kamu. Saya serius!”

“Saya juga serius, Pak. Kami, para bidadari, diciptakan dewa langsung dewasa.”

Petugas menggebrak meja dengan kepalan tangan. Ia kemudian melambai pada petugas lain yang lebih muda, setelah ia selesai mendata salah seorang perempuan yang tertangkap. Petugas muda segera menghampiri.

“Tolong urus yang ini.”

“Siap.”

Petugas muda mengambil alih tempat.

“Selamat malam.” Sapa petugas muda agak ramah.

“Selamat malam, Pak.”

“Habis dari mana? Pulang main ludruk?”

“Tidak, Pak.”

Petugas muda siap mengetik, dengan gaya ‘delapan jari acak abjad’.

“Nama?”

“Bidadari, Pak.” Jawab dia tetap dengan ekspresi dan nada suara sama seperti sebelumnya.

“Ah, masa?”

“Betul, Pak, nama saya Bidadari.”

“Kok tidak cantik?”

“Dulu saya cantik, Pak.”

“Terus kenapa sekarang kamu jadi…” petugas memindai, “seperti ini. Kamu dikutuk?”

Dia terperanjat. Membelalak. sehingga, sepintas bola matanya seperti akan terlepas. “Bagaimana bapak bisa tahu? Jangan-jangan situ penghuni Kayangan juga ya?”

Petugas muda terkekeh, melanjutkan mengetik gaya delapan jari.

“Usia?”

“Tidak tahu, Pak.”

“Kok bisa tidak tahu? Kamu kan bidadari, pasti segala tahu.”

“Kami, para bidadari, tercipta langsung dewasa, Pak.”

“Punya kartu pengenal? KTP? SIM? Surat nikah?”

Bidadari menggeleng pasti.

“Hmmm..” petugas diam sesaat, memandang Bidadari lebih seksama.  “Bagaimana kalau tiga puluh delapan tahun, setuju?”

“Terserah Bapak saja.”

“Alamat?”

“Kayangan, Pak.”

“Lho? Saya kira Kayangan itu cuma ada dalam dongeng. Daerah mana tuh?”

“Di atas langit ke tujuh, Pak.”

“Kawasan mana langit ke tujuh itu?”

“Di atas langit ini, di atasnya lagi, di atasnya lagi, Pak.”

Petugas muda nyengir ingin tak ingin.

“Terus, bagaimana kamu bisa sampai ke jalanan? Berkumpul dengan para PSK yang kena razia itu. Terbang?”

“Saya dilempar langsung dari Kayangan, Pak.”

“Hah! Dilempar? Kenapa kamu tidak mati?”

“Saya kan dikutuk untuk menjalani hidup di dunia ini, Pak. Kalau begitu dilempar saya langsung mati, saya kembali lagi ke Kayangan dong ah.”

“Berarti Kayangan itu tempat orang mati ya? Kalau saya mati nanti saya ke Kayangan nggak?”

“Tentu tidak, Bapak kan manusia.”

“Oh. Kenapa kamu dikutuk? Kesalahan apa yang kamu perbuat?”

“Saya menolak untuk dijadikan hadiah.”

“Maksudnya? Saya tidak mengerti.”

“Dewa Tertinggi, raja kami, hendak mengirimkan saya sebagai imbalan pada seorang pria yang dianggap telah berbuat kebaikan dan dinilai berjasa oleh para dewa.”

“Oh, siapa pria beruntung itu?”

“Seorang raja yang bijaksana.”

“Kenapa kamu menolaknya? Apa dia tidak tampan? Tidak wibawa? Tidak kaya? Atau bagaimana?”

“Justru sebaliknya. Raja ini sangat tampan, kaya raya, wibawa, dicintai rakyatnya.”

“Lha, kalau begitu terus apa masalahnya?”

“Banyak. Pertama saya tidak tertarik pada raja bijak itu, dia sama sekali bukan selera saya. Kedua, saya tidak mau menjadi perebut suami dari istri syah tanpa seijinnya. Dan, ketiga, tentu saja keikhlasan saya sendiri untuk rela jadi madu. Lagi pula saya sering bingung apa kaitannya antara berbuat baik dengan hadiah perempuan.”

“Waduh, repot juga ya?”

“Iya, makanya saya protes pada Dewa Tertinggi, raja kami.”

“Ck..ck..ck..” petugas muda menggeleng dramatis. “Di Kayangan ada demokrasi juga?”

“Sebenarnya tidak Pak.  Kami, para perempuan di Kayangan, bernasib tak jauh beda dengan perempuan yang hidup di dunia fana. Para dewa di Kayangan sangat patriarki dan sering sewenang-wenang mempergunakan kekuatan dan kesaktiannya terhadap bidadari bahkan kepada para dewi.”

Bidadari mencondongkan tubuhnya yang tegap besar ke arah petugas muda yang segera merespon dengan pasang tampang waspada.

“Saya punya rahasia, tapi jangan bilang-bilang ya!” ucap Bidadari setengah berbisik.

“Apa itu?” tanya petugas muda dengan nada suara yang sama.

Bidadari menoleh kesana kemari seolah takut ada yang mendengar. “Saking patriarkinya, Dewa Tertinggi tega mengutuk istrinya sendiri yang enggan melayani nafsunya untuk bercinta di atas awan, menjadi seekor kecoak buruk rupa yang apabila mati dia akan hidup lagi sampai dunia berakhir.”

Petugas muda melotot sambil mengerutkan dahi ala pemain sinetron. “Seram sekali.”

Tiba-tiba intonasi Bidadari naik. “Sama istri sendiri dia begitu, apalagi pada kami, bidadari biasa. Dewa Tertinggi dengan mudahnya mengirim paksa kami pada mereka, para lelaki itu, seolah kami hanya barang dagangan, tanpa sekali pun minta persetujuan kami terlebih dahulu. Beberapa bidadari mengalami nasib malang, mereka harus menjadi istri manusia kera, istri raksasa buruk rupa, bahkan seorang ksatria mendapat hadiah seratus bidadari, padahal ia sudah beristri sama banyaknya. Dan jujur saja, semua bidadari sebenarnya tak mau dihadiahkan pada si ksatria. Pih! Baik apanya pria serakah seperti itu?! Dikiranya dia mampu menafkahi istri-istrinya, termasuk para bidadari yang kalau sudah hidup di dunia juga butuh makan, berpakaian dan berhubungan badan. Kalau dia memang berbudi luhur seperti yang dikira dewa tentu dia akan memikirkan masak-masak bagaimana nasib istri dan bidadari yang akan dan telah dipersuntingnya.”

“Wow..wow.. tenang, Bu.”

“Makanya, ketika saya diperintahkan untuk menjadi madu sang raja bijaksana, saya langsung menolak. Mentah-mentah malah.”

“Oh ya?”

“Dan terjadilah huru-hara di Kayangan, Dewa Tertinggi murka, katanya saya bidadari tak tahu diri. Padahal apa yang saya lakukan kan hanya menyuarakan hati nurani. Kami, para penghuni Kayangan, seharusnya punya hak yang sama dalam bersuara. Iya kan, Pak? Saya tidak salah kan, Pak.”

“Iya, eh tidak, eh maksudnya saya setuju dengan anda.”

Bidadari menghela nafas panjang. “Tapi setiap pilihan punya konsekuensi sendiri-sendiri, inilah yang saya terima ketika saya mengemukakan pendapat pribadi sebagai perempuan, dikutuk ke dunia fana, menjadi manusia biasa.”

Petugas muda manggut-manggut seolah mengerti dan ikut prihatin atas nasib Bidadari, dan segera ia berbasa-basi, “Cerita yang luar biasa. Anda sungguh wanita pemberani.”

Bidadari menatap lekat petugas muda. “Bapak tidak percaya dengan cerita saya ya?”

“Percaya. Sangat percaya.”

Bidadari membuka mulut, namun sebelum bersuara, selembar kertas keluar dari mesin printer dan petugas muda segera memeriksa, sekilas.

“Baiklah, wawancara kita sudah selesai, saya telah mencatat data-data anda. Sekarang anda boleh keluar dan bisa menunggu di bangku sana sebentar.” Petugas muda menunjuk sebuah bangku panjang di luar ruangan yang dapat terpantau dari kaca jendela kantor.

Tanpa berkata-kata bidadari berjalan keluar ruangan, tampak kagok dengan pakaian yang dikenakan kemudian duduk sendiri di bangku seberang. Plingak-plinguk. Terlihat merasa asing dan bingung dengan sekitar.

Pria muda mengangkat pesawat telepon, memijat sejumlah angka, menunggu.

“Halo.” Sapa suara dari seberang.

“Halo, rumah sakit jiwa? Bisa kirimkan petugas ke kantor kami sekarang?”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s