Kisah Klasik Untuk Masa Depan

Selembar foto lama warna sephia yang tak lagi sephia terbuka di atas meja. Banyak manusia, pria dan wanita. Tampak muda. Teramat muda. Berseragam SMA. Kau tersenyum melihatnya sambil mengira-ngira, di usia seperti mereka pastilah beberapa baru mengenal cinta, atau mungkin ada yang mengaku sudah ahlinya.

Kau meneliti satu demi satu, beberapa ekspresi begitu lucu. Pose anak lelaki yang duduk paling depan, ke empat dari kanan, mengingatkanmu pada aneka gaya dalam majalah remaja tempo dulu. Begitu pun dengan model topang dagu teman di sebelahnya.

Matamu terus menelusur, berhenti pada seorang anak lelaki yang berdiri di belakang, tersenyum paling lebar, memamerkan giginya yang besar, di antara kawan-kawan yang tersenyum datar agak hambar. Yang ini mengingatkanmu pada Chesire, karakter kucing yang bisa bicara dalam kisah petualangan Alice di Negeri Ajaib. Mengapa ia tampak begitu ceria?

Kau membalik gambar. Tertulis berbagai nama, tigapuluhdelapan jumlah seluruhnya, tulisan tangan dengan tinta hitam yang meluntur, berubah kecoklatan. Nama-nama yang sudah jarang ada di masamu. Wahyu dan Wahyu. Caca. Indra. Citra. Fietta. Vika. Tika. Eka. Resa. Volla. Irfan. Dadang. Krisna. Marlina. Rina. Rani. Evi. Adhi. Cahyadi. Derry. Rety. Lussy. Niki. Yodi. Panji. Dani. Andi. Arif. Mu’min. Erik. Karin. Ratih. Niluh. Agus. Nurlatifah. Nenden. Nama Nanang dengan awalan Pak ditulis memakai huruf kapital semua. Mungkin bapak berbaju hitam yang duduk di tengah. Wali siswa siswi. Selebihnya kau enggan menerka siapa bernama siapa. Untuk apa? Kau juga tak kenal orang-orang yang hadir di sana.

Apa mereka punya cita-cita? Kau bertanya dalam hati, pada diri sendiri. Tentulah ada, harus ada, manusia macam apa yang tak punya cita-cita. Jawabmu seketika. Barangkali setelah berpisah dari sekolah, masing-masing orang berpencar, berjalan sendiri-sendiri, mengejar cita-cita dan obsesi, melalui universitas atau sekolah tinggi.

Mungkin tidak semua. Mungkin ada yang menikah begitu lulus sekolah. Mungkin ada yang langsung bekerja, menjadi tulang punggung keluarga. Mungkin…

Khayalmu meloncat, mereka-reka, jadi apa mereka saat menginjak usia dewasa. Mungkinkah kenyataan tak sesuai harapan? Mungkinkah profesi tak sesuai latar ilmu pendidikan? Mungkin ada yang jadi karyawan perusahaan, pegawai pemerintahan, akuntan, konsultan keuangan, model iklan, pekerja kantoran, editor koran harian, sipir lembaga pemasyarakatan, pengelola bisnis on line, seniman penyair penyanyi pelukis penulis pemusik, pemilik butik, buruh pabrik, staf pengajar, petinggi bank, pekerja tambang, wartawan perang, pemburu gosip, pembaca berita, sutradara, tentara, pengacara, jaksa, ibu rumah tangga, wiraswasta, kepala personalia, sekretaris, manajer, fotografer, copy writer, peramu kopi, pramusaji, koki, juragan toko kue dan roti, petani, polisi, politisi, pakar telekomunikasi, pemimpin redaksi.

Barangkali diantara mereka ada yang menjalani kehidupan dengan tenang, mengalir wajar dan normal, sesuai norma yang diberlakukan. Barangkali ada juga yang bergejolak melabrak menabrak memberontak terhadap norma, aturan yang ada dan kesepakatan bersama, demi berbagai macam alasan. Frustasi. Eksistensi. Jati diri. Berhubungan dengan banyak pria. Berhubungan dengan banyak wanita. Mencicipi bagaimana rasanya narkoba. Akrab dengan gemerlap dunia malam.

Bagaimana proses mereka menjadi dewasa? Apakah dari membaca buku, majalah, koran, jurnal, catatan harian? Apakah belajar dari orang sekitar? Apakah mengalami sendiri dan tersadarkan oleh sentuhan Tangan Tuhan yang dia sendiri tak paham?

Dikemudian hari, barangkali lagi, sebagian dari mereka merancang kehidupan ke depan dengan melegalkan hubungan dalam institusi bernama pernikahan. Menjadi suami. Menjadi istri. Bersama membangun konstruksi rumah tangga, sebuah keluarga berencana. Mengikuti fase beranak-bermenantu-berbesan-bercucu.

Sebagian lagi memilih menunda, tak ingin terburu-buru atau diburu-buru. Tetap melajang sampai usia sekian. Menjadi bahan obrolan, celaan ringan, sekaligus memancing iri karena orang-orang ini masih bisa bebas, entah bebas yang terbatas atau bebas yang bablas, dalam memilih berbagai hal dengan sedikit beban. Sementara mereka, yang bekomitmen, harus selalu pulang, terikat, beberapa merasa terjerat citra dan status sebagai suami-istri-ayah-ibu baikbaik yang setia pada keluarga.

Selingkuh dimulai. Dari hati berlanjut ke body. Kebohongan dan sandiwara menjadi kegiatan utama sehari-hari. Sampai kemudian pasangan mengetahui. Ada yang menyelesaikan dan terselesaikan tanpa syarat dan ketentuan. Ada yang memaafkan, tapi tak melupakan. Ada yang berakhir di pengadilan. Bercerai. Menjadi duda. Menjadi janda. Kembali sendiri. Kau menggeleng keras, berharap hal tersebut tak pernah terjadi pada orang-orang ini.

***

Suara statis memberi tahu waktu sudah pukul sebelas lebih empat puluh tujuh menit dua puluh dua detik. Lampu-lampu tanpa kabel yang melayang dalam ruangan mulai meredup. Kau memasukan gambar ke dalam saku baju, berniat membawa pulang, memberi figura pada gambar tua.

Kelak, pada masa yang akan datang, setelah lebih dari satu abad foto ini dibuat, seseorang akan menemukannya tergeletak di meja perpustakaan sebagai satu-satunya benda manual dalam era digital. Siapa yang meninggalkan, alasan apa sampai foto tersebut ditinggalkan, orang itu tak tahu. Sama tak tahunya dengan apakah para remaja dalam foto  masih ada di dunia. Mungkin sebagian besar sudah tiada, karena faktor usia atau yang lainnya, orang itu tak peduli. Dia hanya seseorang yang senang berteka-teki dan butuh inspirasi untuk cerita yang sedang dibuatnya.

***

Untuk apa sebuah gambar dibuat? Untuk apa sebuah foto dimuat? Membeku waktu? Mengabadikan satu kejadian? Atau sebagai pengingat bagi yang bersangkutan bahwa ia pernah mengalami, pernah hadir, pernah ada, pernah muda?

30 Juni 2010

01:25:44

*Diambil dari judul lagu yang dinyanyikan Sheila On 7.

Iklan

5 pemikiran pada “Kisah Klasik Untuk Masa Depan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s