Kota

klik disini untuk melihat ukuran sebenarnya

Sebuah kota. Pernah cantik, pernah unik, pernah eksotik, tak sempat menjadi antik. Kota telah menua, namun tak lantas jadi bijaksana, malah terlena buaian dan bualan dari kawan-kawan di seberang sana.

‘Ayo percantik, dengan operasi plastik!’

Dan kota yang tak lagi perawan termakan rayuan untuk menyamakan diri dengan kota-kota lain yang telah lebih dulu melakukan. Lupa akan citra semula. Paris Van Java. Eropa di tengah Jawa. Pembenaran diajukan. Tak ada yang salah dengan persaingan, bukan? Semua syah. Semua harus dibuat menarik, bercahaya indah, mengkilat, mengkilap, menyilau supaya yang lain jadi terpukau. Kota tak ingin tampak tua, tak mau tampak renta. Kota harus terlihat selalu muda, senantiasa mempesona. Kota telah gelap mata. Buta.

Kota juga membutakan para pengisi. Mencuci otak supaya mengikuti, menepis kata hati. Lupakan pohon dan bunga sungguhan, mereka berwarna suram. Menyusahkan! Boleh lah tampil sesekali. Setahun sekali. Sebagai penghias kendaraan yang kelak berbaris rapi, memanjang kebelakang sepanjang jalan. Para panitia dan pembuat naik diatasnya, tersenyum sumringah, melambaikan tangan, memberi hormat kepada para pejabat, para pengambil keputusan, pemilik tampuk kekuasaan yang bertahta dari hasil pemilihan. Para lelaki beristerikan perempuan bersasak besar lagi tinggi tak ingin kalah dari jabatan suami.

Tak jauh dari pusat keindahan, jalan yang ada dan tersedia mempunyai fungsi ganda; sebagai sarana lalu lintas, ranjau bagi para pelintas, tempat peternakan, juga lokasi perniagaan.

Saat hujan datang, lubang dijalan-jalan akan tergenang, mengubang, menjadi empang dadakan. Jika nekat, bisa dijadikan kolam ikan. Lele atau belut, itu yang sering orang-orang sarankan. Entah beneran atau sindiran.

Jika cuaca cerah maka jalan berganti menjadi pasar. Benar, PASAR! Kios, kaki lima, dan gerobak berdesak sesak. Menempati setiap lahan tanpa tata letak jelas. Semua ada semua hadir semua lengkap. Seorang pedagang daging ayam lengkap dengan segala jeroan menggelar dagangan di depan pedagang makanan instan, berhadapan dengan penjual aneka buah jeruk duku pisang manggis mangga semangka pepaya, bertetangga dengan penjual jengkol dan petai. Di sisi lain, hadir penjual tempe tahu di sebelah abang penjual kupat tahu yang juga bersisian dengan penjual bubur ayam, mie ayam, goreng ayam dan soto ayam. Sementara pedagang kembang setaman berbagi tempat dengan pedagang bunga plastik yang tak kalah cantik dari sainggannya. Berwarna lebih cerah. Meriah. Murah. Mudah dipindah. Tahan lama. Tak lekang usia. Tak perlu dipupuk. Tak ada daun yang gugur menumpuk. Gampang dibentuk. Bisa diluruskan atau dibengkokan sesuka hati. Tak kenal mati. Tanaman buatan abadi.

Harum dan bau berseteru sekaligus bersekutu memabukan penciuman. Bunga, ikan, daging, buah, sayur, telur yang pecah, sisa rempah-rempah, kuah, darah hewan terjagal, air kelapa, air cucian, air comberan, asap sate, asap pembakaran sampah, tanah becek nan basah, tanah bercampur sampah. Sampah organik dan plastik. Ah, lagi-lagi plastik.

Saat tak mempunyai nilai guna, plastik  terbuang ke tempat sampah, berbaur dengan aneka sampah, di angkut ke tempat akhir. Tapi tak berakhir. Di sana mereka bercampur dengan limbah lainnya, sesama plastik  aneka bentuk dan rupa: botol gelas piring mangkuk sendok garpu sikat meja kursi lemari, logam beling kaca, batu batere, sayuran, buah-buahan, sisa makanan, bangkai hewan. Menggunung.  Seperti  gunung-gunung. Bisa didaki. Menjadi sumber rejeki. Pernah meledak. Tidak memuntahkan lahar dan batu api, hanya sampah-sampah saja, menimbun manusia. Merenggut nyawa. Menjadi bahan berita, menjadi pembahasan pemerhati lingkungan, menjadi ajang untuk saling tunjuk, tuding, tuduh.

Namun kota telah menulikan pendengaran. Membalas protes dengan kata-kata manis. Membuai rakyat dengan berbagai perayaan, merayu dengan nyanyian, menyajikan pertunjukan, menawarakan impian manis yang sebenarnya pahit meracuni karena dibuat dari bahan-bahan sintetis. Buat slogan, “SEMUA DEMI PEMERATAAN. SEMUA DEMI PEMBANGUNAN.”

Slogan itu sedikit benar. Benar! Tebangi pohon, ratakan hutan dengan tanah, runtuhkan gunung lalu buat gunung-gunung baru berbahan kayu, batu, beton dan semen. Lebih nyaman, lebih dingin, lebih berwarna, mampu menampung banyak manusia. Untuk berbelanja. Jangan lupa, kita adalah penguasa dunia yang dilimpahi pengetahuan untuk mengolah dan memanfaatkan alam.

Sebuah penyesatan?

Kini, tak ada lagi yang alami, semua gara-gara operasi plastik ala kota!

ps: bagi pemilik blog/situs yang sudah mengunggah foto Bandung tempo dulu, maaf saya lupa alamatnya.

Iklan

4 pemikiran pada “Kota

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s