A Nameless Monster


Ceritakan padaku dongeng tentang kesepian, pintanya padamu. Maka kau pun mulai bercerita, sebuah kisah lama, tentang monster tanpa nama.

Pada jaman dahulu, di suatu tempat nun jauh entah di mana, hiduplah satu monster tanpa nama.

Si monster sangat menginginkan nama. Begitu menginginkan hingga nyaris gila.

Ia pun memutuskan keluar dari hutan, melakukan perjalanan, demi menemukan sebuah nama.

Namun dunia di depannya terlalu luas untuk dijelajahi sendiri.

Si monster lantas membelah diri, kemudian masing-masing bagian melanjutkan perjalanan, guna mencapai tujuan awal.

Satu pergi ke timur, lainnya pergi ke barat.

Monster yang pergi ke timur menemukan sebuah desa. Di perbatasannya ia bertemu dengan seorang lelaki pandai besi.

“Tuan pandai besi, tolong, berikan namamu.”

“Tidak bisa.” Jawab lelaki pandai besi. “Kau tak dapat memberikan namamu begitu saja.”

“Jika kau bersedia memberikan namamu, aku akan merasuk dan memberikan kekuatan.” Tawar monster tanpa nama.

“Benarkah?” Tanya pandai besi. “Jika memang demikian, aku bersedia memberikan namaku.”

Monster tanpa nama pun meraga. Ia kini menjadi Otto sang pandai besi.

Otto berubah menjadi manusia terkuat di desa, semua orang kagum pada kekuatan barunya yang tiba-tiba. Orang tua dan anak-anak selalu mengerubungi kemana ia pergi. Dimana pun berada, Otto bisa melakukan segalanya, bahkan mengangkat dan melempar pohon besar di alun-alun desa.

Ia bertambah kuat setiap harinya, hingga suatu waktu Otto berkata, “Lihat aku. Lihat padaku. Lihat, betapa besar monster yang tumbuh dalam diriku.”

Sebentuk kepala hijau dan seram menyeruak, merobek kepala Otto dari dalam.

Krauk krauk.. Nyam nyam.. Glek

Monster yang lapar memakan Otto dari dalam hingga luar. Semua orang terkejut dan lari ketakutan.

Si monster kembali sendiri dengan identitasnya semula, sebagai monster tanpa nama.

Kejadian berulang ketika ia merasuk ke dalam tubuh Hans sang pembuat sepatu.

Krauk krauk.. nyam nyam.. Glek

Ia kembali menjadi monster tanpa nama.

Juga saat merasuki Thomas sang pemburu.

Krauk krauk.. Nyam nyam.. Glek

Ia, sekali lagi, kembali menjadi monster tanpa nama.

Si monster beranjak menuju istana, terus mencari sebuah nama.

Dalam kastil, ada seorang bocah lelaki kecil, pangeran kerajaan, yang sedang sakit parah.

“Berikan namamu, maka aku akan memberikan kekuatan.”

“Jika kau dapat menyembuhkan penyakit ini dan memberiku kekuatan, akan kuberikan namaku padamu.”

Begitu si monster merasuk pada tubuhnya, sang bocah pulih dengan segera.

Raja dan seisi istana sangat bahagia, semua berpesta merayakan kembalinya sang pewaris tahta. “Pangeran telah sehat. Pangeran telah sehat.”

Si monster senang tinggal di istana, ia juga menyukai nama sang bocah.

Belakangan, pangeran berubah menjadi pemurung. Rasa lapar terus menggergotinya dari dalam, namun ia menahan sekuat tenaga.

Dari waktu ke waktu perutnya terus berbunyi, minta diisi, tapi ia mencoba tak mempedulikan, tetap bertahan. Terus menahan.

Sepanjang siang sepanjang malam.

Namun sekuat apapun ia menahan akhirnya ia tak tahan.

Pangeran berlari keluar kamar, berteriak lantang dihadapan banyak orang, “Lihat aku. Lihat padaku. Lihat, betapa besar monster yang tumbuh dalam diriku.”

Pangeran yang lapar segera memangsa dan memakan raja, juga semua pelayan yang ada.

Krauk krauk.. Nyam nyam.. Glek

Ia melahap semua hingga tak seorang pun tersisa.

Pangeran keluar dari istana, memilih pergi.

Ia terus berjalan sepanjang hari. Hari demi hari. Berhari-hari.

Suatu malam, pangeran bertemu monster yang pergi ke arah barat.

Pangeran berkata, “Aku sekarang mempunyai nama. Sangat indah malah.”

Monster yang pergi ke barat menjawab, “Aku tidak butuh nama. Aku tetap bahagia walau tanpa nama. Yang perlu kita lakukan hanya menerima kenyataan bahwa kita adalah monster tanpa nama.”

Pangeran tersenyum, dengan segera ia menyergap dan menyantap monster yang melakukan perjalanan ke barat.

Krauk krauk.. Nyam nyam.. Glek

Si monster akhirnya mempunyai nama, namun semua yang akan memanggilnya dengan nama tersebut sekarang telah tiada.

Siapa nama monster itu? Tanyanya.

Kau diam sesaat, masih teringat, di lembar akhir buku cerita yang dulu sering kau baca terpampang gambar seorang anak lelaki, berdiri seorang diri berteman bulan, berlatar gelap malam. Begitu sepi begitu sunyi.

Hei, ayo katakan, siapa namanya?

Kau tersenyum, perlahan kau keluarkan sesuatu yang sedari tadi kau sembunyikan di balik baju. Sebuah pisau panjang ukuran sepertiga pedang. Berkilau dingin. Terasah tajam. Siapa menumpah darah.

Jangan bercanda kamu. Letakan pisaunya, itu senjata berbahaya.

Siapa bilang aku sedang bercanda. Jawabmu dengan tenang sambil mendekat padanya yang beringsut takut.

Mau apa kamu? Ia terlihat panik.

Tenang saja. Jawabmu. Segalanya akan berjalan cepat, aku sedang tak ingin lama-lama bermain malam ini.

Kau lihat wajahnya memucat, berkeringat, lehernya menegang seperti tercekat. Walau nampak terkesima, namun ia masih bisa bicara. Aku tahu. Aku tahu sekarang siapa nama monster itu.

Kau tersenyum. Terus tersenyum.

***

Johan,

adalah nama yang sangat indah.

** Monster Tanpa Nama adalah dongeng dengan judul asli OBLUDA – KIERA NEMA SVE JMENO, saya menggubahnya dari versi serial manga MONSTER karya Urasawa Naoki, tanpa terlebih dulu mendapat persetujuan dari pihak-pihak terkait yang berkepentingan.

*** Bagian awal saya tiru dari metode Seno Gumira Ajidarma dari berbagai cerpennya seperti Bunyi Hujan Diatas Genting.

Iklan

5 pemikiran pada “A Nameless Monster

  1. Aku juga baca serial Monster sejak SMA (sekarang semester akhir kuliah jurusan sastra)
    I just wondering… ‘Nameless Monster’ banyak di post ke blog-blog pribadi. Tp aku baru lihat yang disadur ke dalam satu cerita pendek baru yg… seakan-akan tokoh di dalam cerita itu saksi pembunuhan salah satu korban ‘Johan’ XD

    Seriously, aku pengen banget diskusi sama kamu. Do you have YM? May I message you sometime? :3

    1. maaf RiRi, komentarnya baru dimuat sekarang, sayanya jarang buka blog heheheheheh…. yup Monster bagi saya adalah salah satu komik yang berpengaruh dalam proses kreatif penulisan. jika ada cerita lain yang RiRi nilai cukup bagus boleh di sharing kok….. salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s