MARINI (screenplay)


Meski HARI IBU masih sekitar Sembilan hari lagi, namun untuk berjaga-jaga, karena satu hal dan lain sebagainya, di khawatirkan pada tanggal tersebut saya tidak bisa terkoneksi dengan dunia maya, maka saya muat naskah untuk menyambut HARI IBU tahun ini sekarang saja.

FADE IN

EXT. JALAN – MALAM

Sorot lampu merkuri menerangi sebuah jalan yang cukup besar namun terasa lengang. Tak terlihat ada orang yang berjalan, sementara kendaraan hanya sesekali melintas dengan kecepatan sedang atau kencang.

Seorang pria, usia awal tiga puluh, dengan rona kekanakan pada raut wajahnya yang tegas, muncul. Ia mengenakan kemeja biru muda, bag pack hitam dari bahan parasit tersampir di bahu kiri, ia juga mengenakan topi yang membenamkan hampir separuh wajahnya. DEDI. 32 tahun.

Dedi berdiri di trotoar, bahasa tubuhnya menandakan ia sedang menunggu, ia menggenggam telepon selular keluaran lama, menatap layarnya seperti sedang membaca pesan yang sudah lama diterima.

CUT TO:

INT. MOBIL – MALAM

POV pengemudi: Dapat terlihat setelan yang Dedi kenakan termasuk rapi. Kemejannya dimasukan ke dalam celana berbahan kain hitam. Ia juga mengenakan sepatu dari bahan suede murah tanpa tali.

Pengemudi, yang tidak diperlihatkan, makin mendekat. Terlihat Dedi menoleh, memicingkan mata saat dirinya tersorot lampu depan mobil. Ia memasukan telepon seluler ke saku kanan celanannya.

CUT TO:

EXT. JALAN – MALAM

Mobil yang dimaksud mendekat perlahan, kemudian berhenti tepat di depan Dedi. Kacanya jendelanya yang gelap diturunkan. Tampak seorang perempuan muda, sedikit mungil, berwajah agak bulat dengan mata yang juga bulat namun sedikit runcing seperti kucing, terkesan manis, ramah dan biasa. Rambutnya berponi rata menutupi dahi, sementara bagian belakangnya digulung, tergelung, dibungkus jaring hitam tipis ditambah sebuah asesoris berupa pita hitam. Ia mengenakan kardigan abu tua yang tidak sepenuhnya terkancingkan, sehingga setelan seragam warna khaki dengan aksen pelengkap serupa dasi warna senada ditambah rompi bergaya feminin warna merah tua terlihat. Make up sederhana belum terhapus sepenuhnya. MARINI. 29 tahun.

MARINI

(overly friendly)

Pak Dedi?

DEDI

(ramah yang kikuk)

Ya.

MARINI

(tetap overly friendly)

Maaf mengganggu malam-malam, saya tidak tahu kapan lagi waktu yang tepat untuk kita melakukan pertemuan.

DEDI

Tidak apa-apa.

Untuk sesaat keduanya saling pandang seperti kehabisan bahan pembicaraan.

MARINI

Apa tidak sebaiknya kita bicara sambil jalan?

Dedi sedikit mengangkat bahu.

DEDI

Ya.

Dedi berjalan ke belakang mobil menuju sisi kiri depan, sementara Marini terlihat membuka kuncinya dari dalam. Dedi masuk.

Mobil dinyalakan, Marini dengan sigap menjalankannya kembali.

CUT TO:

INT. MOBIL – MALAM

Marini memegang setir, sementara Dedi duduk ringkih di sebelahnya.

MARINI

(bernada mencairkan suasana)

Sekali maaf lho Pak Dedi,  saya jadi merepotkan. Saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saat siang. Anda tahu sendiri… karyawati rendahan.

DEDI

(mencoba lebih santai meski tetap terasa kikuk)

Biasa saja. Anda kerja di mana?

MARINI

Daerah Jakarta Barat, di swalayan. Kasir.

Dedi tersenyum kecil basa-basi ingin tak ingin. Kemudian memperhatikan interior mobil yang bergaya maskulin, namun berantakan.

DEDI

(tetap bernada basa-basi)

Ini mobil anda?

MARINI

Ini? Oh, bukan, punya teman, saya meminjamnya, untuk malam ini saja. Saya tidak mungkin bisa sampai cepat menuju tempat anda kalau menggunakan kendaraan umum, biasa, Jakarta, macet lah, ngetém lah.

Marini sedikit membelalakan mata.

DEDI

(nada bercanda dengan ekspersi ringkih)

Kalau begitu saya yang merepotkan anda.

Marini tertawa renyah.

MARINI

Pak Dedi bisa saja. Ngomong-ngomong, apa yang anda kerjakan di kawasan ini?

DEDI

Saya memberi pelajaran gratis untuk anak-anak jalanan.

MARINI

Benarkah?

DEDI

(tersenyum merendah)

Saya kasihan sama mereka.

MARINI

(terkesan tulus)

Anda baik sekali.

Dedi tersenyum, gesturnya mulai terlihat lebih rileks, ia membuka topi dengan tangan kiri, kemudian membetulkan rambut pendeknya dengan tangan kanan sehingga lengan kemejanya sedikit tertarik dan gelang dari jalinan benang warna biru khas anak-anak terlihat oleh Marini yang melirik disaat bersamaan.

MARINI

Punya anak anda?

DEDI

Maaf?

MARINI

(kembali fokus ke depan)

Gelang itu, yang anda pakai.

DEDI

Oh, ini.

Dedi menarik lengan kemejanya sehingga gelangnya kembali tersembunyi.

DEDI

(contd)

Bukan. Ini, pemberian salah satu murid. Saya sendiri sudah lupa siapa.

Ekspresi Dedi kembali kikuk, bahkan cenderung kurang merasa nyaman.

MARINI

(tersenyum, menatap sekilas dengan tatapan minta maaf)

Oh.

DEDI

(formal)

Apa yang ingin anda bicarakan sebenarnya?

MARINI

Bima. Beberapa hari belakangan dia selalu marah-marah kalau saya suruh sekolah.

DEDI

Benarkah?

MARINI

Ya. Padahal dia baru tujuh tahun.

Marini menggeleng seperti tak percaya.

MARINI

(contd)

Kalau saya berlaku sedikit keras, dia menangis. Kalau saya bersikap terlalu lembut, dia malah makin enggan pergi sekolah.

DEDI

Apa dia mengatakan sesuatu? Alasannya.

MARINI

Itu juga masalahnya, setiap kali saya tanya kenapa, dia hanya menjawab ‘malas’ saja. Karenanya, Pak Dedi, sebagai wali kelas, apa anda tahu apa yang terjadi dengan Bima di sekolah?

DEDI

Maksud anda?

MARINI

Apa dia pernah berkelahi. Atau diganggu kakak kelasnya, atau siapa begitu?

DEDI

(seperti mengingat sejenak)

Setahu saya tidak. Bima bukan anak yang bandel meski bukan anak terlalu pendiam. Dalam kelas sikapnya juga biasa, wajar, tidak murung, tidak menarik diri. Biasa saja.

MARINI

Kalau boleh saya minta tolong.

(menekankan)

Kalau boleh. Bisakah anda bicara dengannya empat mata? Mungkin jika pada sesama pria dia bisa lebih terbuka. Saya khawatir kalau masalah ini dibiarkan akan berimbas kurang baik bagi perkembangannya nanti.

DEDI

(jeda)

Tentu.

Senyum cerah menghias wajah Marini.

MARINI

Terimakasih sebelumnya Pak Dedi, bantuan anda berarti sekali bagi kami.

Dedi tersenyum kikuk menghadapi sikap Marini yang manis namun tidak terkesan genit atau merayu. Dedi membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu, namun tiba-tiba Marini menginjak rem, sehingga Dedi hampir terjerembab ke depan.

CUT TO:

EXT. JALAN – MALAM

Mobil yang dikendarai Marini dan Dedi berhenti saat lampu merah menyala.

CUT TO:

INT. MOBIL – MALAM – CONTINUOUS

Marini tampak sedikit kaget.

MARINI

Anda tidak apa-apa, Pak Dedi?

Dedi menggeleng, kembali membetulkan rambutnya dengan bahasa tubuh serba salah.

MARINI

Sebentar.

Marini berbalik, mengambil sesuatu dari jok belakang. Sementara Dedi memalingkan wajah, menatap pemandangan luar dari kaca jendela di sampingnya, tampak kembali sedikit bosan dan kurang nyaman.

Terdengar bunyi gemerisik plastik.

DEDI

Jika sudah tidak ada yang harus dibahas saya turun di sini saja.

MARINI

(tetap membelakangi)

Apa? Tunggu sebentar.

Marini kembali duduk ke posisi semula sambil memegang sebuah dus kecil.

MARINI

Saya lupa, tadi membelikan ini buat teman perjalanan kita.

Dedi tak menjawab, romannya terlihat sungkan.

MARINI

(contd)

Kenapa? Anda tidak suka?

DEDI

Bukan begitu.

MARINI

Atau anda mau yang lain? Tadi saya juga beli beberapa camilan buat Bima.

Marini hampir kembali kebelakang.

DEDI

(mencegah + bernada basa-basi)

Tidak usah, ini juga sudah cukup.

Marini membukakan kardus dan menyodorkannya pada Dedi.

MARINI

Silakan dicoba, Pak.

Dedi mengambil sepotong kue berhias krim dan potongan ceri di atasnya dengan kikuk.

MARINI

(contd)

Enak lho.

Dedi tersenyum ringkih kemudian menggigit sedikit.

MARINI

Anda juga harus mencoba ceri-nya, mmmhhmmm…

Marini mengacungkan jempolnya.

Dedi tersenyum makin ringkih, namun ia menurut, memakan ceri, lebih karena merasa sungkan dan kurang enak hati pada tawaran Marini.

MARINI

Kalau Pak Dedi suka, bawa saja semua.

DEDI

Terimakasih Bu, tapi tidak usah.

MARINI

Saya antar anda sampai perempatan depan, bagaimana?

Dedi hanya menjawab dengan senyum kikuknya.

CUT TO:

EXT. JALAN – MALAM

Mobil yang dikendarai Marini dan Dedi tampak berjalan lebih pelan dari yang terlihat sebelumnya.

CUT TO:

INT. MOBIL – MALAM – CONTINUOUS

Marini menyalakan radio, terdengar Charlie Parker memainkan “Moose the Mooche”, sebagai backsound, mengiringi seorang penyiar pria bersuara berat, datar dan muram.

DJ (V.O)

Selamat malam anda dengan mobile phone nol-delapan-satu-satu-tujuh-enam-tiga-sembilan-empat-dua-sekian sekian, anda bingkiskan lagu ini untuk keluarga dan rekan-rekan. Sebuah penampilan dari Billie Holiday dalam “God Bless The Child”.

Terdengar Billie Holiday menyanyi.

Dedi’s POV: Pemandangan di depan perlahan memburam, lagu yang diputar terdengar memberat.

CUT TO:

POV depan mobil: Dedi mengerjap mata, berulang kali, seperti orang mengusir kantuk.

MARINI

(bergantian, antara fokus ke jalan dan menoleh pada Dedi)

Pak Dedi, anda tidak apa-apa?

CUT TO:

INT. MOBIL – MALAM – CONTINUOUS

Dedi’s POV: Marini dan suara-suara yang terdengar memburam dan memberat. Semakin buram semakin berat. Semua menggelap.

BLACK FRAME

TITLE APPEARS:

MARINI

TITLE FADES OUT

STAY ON BLACK

Terdengar napas seorang pria, sesekali terdengar pula lenguhan berat seperti seseorang yang baru sadar.

Dedi’s POV: Pemandangan kembali muncul, masih tetap memburam, namun segalanya tampak berbeda. Yang terlihat kini semacam ruangan gelap dengan pencahayaan lampu pijar kecil yang menerangi sosok yang tengah duduk di atas meja logam.

Marini duduk tumpang kaki, masih mengenakan sepatu kerja dan juga stoking hitam tanpa pengikat yang menutupi sampai setengah paha. Dia kini hanya mengenakan pakaian dalam berbentuk terusan dari bahan katun putih dengan bagian ujung bawah dihiasi renda. Bagian atasnya berlapis dengan bra coklat yang dikenakan di dalam. Rambutnya masih tergelung, namun beberapa terlihat keluar dan sedikit berantakan. Di samping Marini terhampar kain hitam.

MARINI

(datar)

Harusnya aku tidak perlu telanjang seperti sekarang karena kau tak akan tertarik pada perempuan dewasa sepertiku, bukan? Apa boleh buat,  mereka hanya memberikan dua seragam pada masing-masing karyawan, dan yang hari ini kupakai adalah model terbaru.

DEDI

(dalam keremangan, nada panik)

Dimana ini?

Marini turun dari meja, berdiri, alih-alih seksi atau seronok, penampilan Marini terlihat dingin dan menyeramkan dalam ketenangan dan kedataran sikapnya. Seluruh lengan dan bagian tubuh lain yang dapat terlihat berhias berbagai macam tatto.

CUT TO:

INT. KAMAR – MALAM

Marini berjalan, mendekat ke arah Dedi dikeremangan, kemudian menarik sesuatu didepannya.

Lampu pijar dengan tali penghidup yang menjuntai menyala, lebih terang, mampu menerangi keduanya dan sebagian ruangan yang mirip rumah jagal hewan. Berbagai hook besar karatan menggantung tak terurus. Begitu pula pipa-pipa logam, berkarat seperti sudah tidak lagi terpakai.

Dedi berdiri, terikat tali (yang biasa digunakan oleh pecinta alam untuk mendaki) dalam teknik bondage. Kedua tangan dan kakinya terentang pada tiang besi yang terpancang kuat. Ia kini hampir telanjang, hanya mengenakan boxer kekecilan yang lebih mirip celana pendek anak-anak. Ia juga mengenakan kalung dari tali coklat dengan beberapa bandul bentuk dadu bertabur huruf  bergaya kekanakan, terbaca nama ADRIAN.

MARINI

(tenang)

Rumah jagal.

Dedi berusaha berontak, menghentak-hentakan tubuhnya, namun sia-sia, ikatan yang dibuat Marlini erat dan kuat.

DEDI

(panik, takut)

Apa mau anda?

PANDANGAN mendekat pada Marini dan Dedi yang berdiri berhadapan.

MARINI

(sangat datar)

Membunuhmu.

Dedi makin panik, tubuhnya terus menghentak, sampai otonya tertarik.

MARINI

(contd)

Tenang saja, kau tidak akan mati cepat. Karena aku akan membuat sedikit perhitungan agar kau tahu berhadapan dengan siapa sekarang.

Marini berbalik, melangkah menjauh. Di belakangnya Dedi masih berusaha berontak dengan raut panik luar biasa.

Marini melepas sepatu dan stoking, meletakannya dengan rapi. Kemudian berjalan kebelakang meja menyibakan kain hitam seperti seorang pelayan membukakan hidangan untuk tamu. Tampak jajaran aneka pisau, berkilau, dingin, tajam dan berbahaya.

MARINI

(manis, namun kali ini auranya berubah seram, bukan lagi keramahan yang tulus)

Maaf, Pak Dedi, hanya ini koleksi yang saya punya. Mau anda atau saya yang pilihkan?

DEDI

(gemetar, panik)

Apa salah saya?

PANDANGAN mengikuti tangan Marini yang menelusur kemudian mengambil salah satu pisau panjang dan ramping.

Marini berjalan mendatangi Dedi, pisau yang dia bawa ditunjukan pada Dedi yang meronta.

MARINI

(datar dan tenang)

Apa salahmu?

Ujung pisau ditodongkan, menempel, tepat dibawah dagu Dedi yang mulai berkeringat, menahan nafas dan mengarahkan pandangnya yang ter-teror ke arah pisau.

MARINI

(contd – tetap datar dan tenang)

Kau masih bertanya apa salahmu?

Marini mulai tertawa, seperti teringat sesuatu yang menggelikan.

MARINI

Apa kau tahu, kau mengingatkanku pada siapa?

PANDANGAN JARAK DEKAT mengikuti gerak pisau Marini yang menelusur, turun menuju tenggorokan, kerongkongan, kemudian dengan tiba-tiba menyabetkan pisau ke dada kanan Dedi.

DEDI

(berteriak, melolong sakit dan pedih)

Aaaaaaaarrgggghhhhhhhhhhhh!

Mulut Dedi terbuka, suaranya hilang sesaat kemudian merintih lebih keras. Sabetan Marini menghasilkan luka gores cukup dalam, dan sedikit menganga, darah segar mengucur.

Marini menatap datar.

MARINI

Ayahku..

Marini tetap datar, seperti tak mendengar teriakan Dedi, juga seperti melihat sesuatu yang biasa.

MARINI

(contd)

Pecundang bodoh yang kerjanya hanya berjudi. Tak pernah menang, tapi juga tak pernah jera untuk terus melakukannya.

DEDI

(diantara rintihan dan mulai marah)

Apa urusanku dengan ayahmu?

MARINI

(datar)

Tidak ada, kau hanya mengingatkanku padanya.

Marini meremas kedua rahang Dedi dengan tangan kiri. Tiba-tiba Dedi meludahi wajah Marini. Marini tetap datar dan dingin.

MARINI

(contd – tetap datar seperti tak terjadi apa-apa)

Tapi dia punya luka gores di pipi kiri, seperti ini.

Marini menggoreskan badan pisau perlahan dan sedikit menekan ke pipi kiri, mulai dari dekat sisi atas dekat hidung sampai mendekati rahang bawah. Dan kembali, sayatannya menghasilkan luka gores cukup dalam dan terbuka dengan darah yang mengucur

DEDI

(kembali berteriak – lebih panjang, mirip lolongan)

Aaaaaaaarrgggghhhhhhhhhhhh!

Marini mundur satu langkah, melap ludah Dedi dengan punggung tangan kiri. Matanya menatap wajah Dedi seperti seseorang yang tengah mengamati karya seni yang dibuatnya.

MARINI

Untuk menuruti nafsunya, ayahku yang tolol itu berhutang pada bandar. Tapi seperti kubilang, ia selalu kalah dan terus kalah.

Marini kembali mendekati Dedi

MARINI

(contd)

Padahal hidup kami sudah melarat. Semua yang kami punya habis dia pakai di meja judi. Sampai satu hari hutangnya sudah terlampau banyak, dan si bandar sialan menuntut pembayaran.

Dedi terkekeh lucu tak lucu, antara putus asa, melecehkan, dan ingin memancing emosi. Tapi Marini tetap tak peduli, tetap datar, tetap dingin.

MARINI

(contd)

Para penagih mendatangi rumah kami, mencari sesuatu yang bisa diambil, dan ayahku, pria penakut terkutuk itu, menawarkanku sebagai bayaran.

DEDI

(diantara kekeh dan menahan sakit dengan nada melecehkan)

Kenapa tidak sekalian saja dia berikan ibumu.

Tatapan Marini mengeras, pisau yang baru dia gunakan dilempar sembarang.

Marini berbalik, menuju meja, mengambil pisau yang sama panjang namun lebih lebar dari sebelumnya. Pisau ini lebih mirip pisau dapur dengan satu sisi mirip mata gergaji. Pisau disabetkan penuh marah ke arah perut Dedi, diagonal dari sudut kiri atas ke kanan bawah. Dan lagi, menghasilkan luka gores menganga berlumur darah.

DEDI

Aaaaaaaarrgggghhhhhhhhhhhh! Perempuan jalang!

MARINI

(menegas meski tetap dingin)

Ya. Usiaku baru empat belas tahun saat itu, saat aku dijual, dijadikan jalang. Ibuku hadir di sana, tak bisa berbuat banyak. Satu-satunya senjata yang dia punya hanyalah kata-kata. Itu pula yang dia gunakan setiap kali bertengkar dengan ayahku, dia tidak akan berhenti bersumpah serapah sampai wajahnya babak belur dihajar pria bajingan itu. Sewaktu aku diseret ke luar rumah, ibuku berteriak, menarik, menjambak, dan memuntahkan setiap kutukan yang dia tahu pada para preman suruhan bandar.

Sorot mata Marini menggelap.

MARINI

(contd)

Tapi kami tidak hidup dalam dunia dongeng. Pemandangan terakhir yang kulihat saat aku dimasukan paksa ke dalam mobil adalah ibuku ditampar sampai limbung oleh ayahku.

Marini menodongkan ujung pisau tepat di atas dada kiri Dedi.

MARINI

(contd – kembali dingin dan datar)

Ibuku. Dia telah membela sekuat yang dia bisa. Jadi jangan pernah menghinanya.

Ujung pisau Marini menyayat perlahan dari dada sampai setengah perut, membentuk goresan baru. Dedi berontak, tubuhnya menghentak-hentak ke arah belakang, berkelojotan, namun tertahan oleh ikatan. Air mata sakit membasahi wajahnya bercampur keringat

DEDI

Aaaaaaaarrgggghhhhhhhhhhhh! Lepaskan aku! Aku tak ada kaitannya dengan keluarga menyedihkanmu, Iblis!

MARINI

(menegas)

Aku dibawa ke tempat pelacuran, usaha sampingan si bandar. Di sana, aku di pertontonkan pada banyak pria tua, untuk di lelang, sebab aku masih perawan. Pakaianku di renggut paksa, persis cerita Drupadi, istri lima pandawa, yang dilecehkan Dussasana untuk ditelanjangi di arena perjudian, karena Yudistira, yang mempertaruhkannya kalah telak.

(kembali datar)

Sayang, aku bukan dewi suci yang dilindungi para dewa.

Dedi tertawa, antara melecehkan, putus asa, marah, sakit.

DEDI

(sambil tertawa)

Tentu saja, sebab kau setan betina.

Tatapan Marini tajam dan mengeras.

MARINI

(sangat serius)

Apa kau bilang? Aku setan?

Marini menyabetkan pisau ke arah lengan lengan kanan Dedi yang merentang. Diikuti teriakan Dedi yang makin hebat dan keras.

MARINI

(contd – geram)

Aku adalah korban dari pria sepertimu.

Marini menatap wajah Dedi sesaat, lalu tiba-tiba tertawa, berderai, mula-mula pelan lalu mengeras sampai hampir terbahak.

MARINI

Kau tidak seperti mereka. Kau…

Tawa Marini terhenti, dia lalu mencondongkan wajahnya pada Dedi

MARINI

(contd)

Bukan lelaki.

Marini kembali mengiriskan pisau pada paha kanan Dedi.

DEDI

Hhhhhooooooaaaaaaa!

MARINI

Bertahun-tahun aku jadi ladang uang, dilacurkan oleh si bandar, sampai hutang ayahku dianggap lunas. Hingga satu hari aku mengandung, entah dari benih siapa. Aku meminta berhenti, apa yang telah kuhasilkan jauh melebihi hutang ayahku, tapi dia menolak mengabulkan. Kami bertengkar, sampai dia memukulku. Pukulan yang akan membuatnya menyesal telah dilahirkan.

Marini membuang pisau kedua, berbalik ke arah meja, mengambil pisau tua, mirip pisau tentara, dengan dua sisi sama tajam. Marini menatap dan menimang pisau, lalu mengelus masing-masing sisi.

MARINI

(datar dan sangat dingin)

Pada malam kedua, kurayu dia sambil minta maaf, lalu kubisikan tentang gaya yang membuat para pelanggan ketagihan. Dia tahu itu, lalu memintaku memainkannya, peran budak dan majikan. Kuikat dia terlentang, di atas ranjang, persis seperti kau sekarang.

Marini berjalan ke belakang Dedi.

MARINI

Kau tahu apa yang terjadi?

Marini menempelkan tubuhnya seperti vampir yang memangsa korban dari belakang, kemudian menjambak rambut Dedi, menengadahkan kepalanya, lalu meletakan sisi pisau tepat di leher Dedi yang berkilat oleh keringat dan darah, gemetar, menelan ludah, campuran antara tegang, takut, dan ter-teror.

MARINI

(contd – dingin)

Ku gorok dia dengan pisau ini, lalu kutancancapkan tepat di jantungnya saat dia sekarat seperti ayam tersembelih.

Nafas Dedi memburu sekaligus tertahan.

MARINI

Setelah kutandai dadanya, seperti ini.

Marini mundur selangkah, lalu dengan tenang menyayat punggung Dedi, membentuk sayatan diagonal panjang cukup dalam berbentuk silang.

Dedi meronta, berontak, kedua tangan dan kakinya menghentak.

DEDI

Hhhhiiiiiyyyyyyaaaaaaaaaaa…aaaa..aaa…aaa…

Napas Dedi kemudian tersendat, ekspresi wajahnya yang mulai pucat melunglai seperti mau pingsan.

Marini kembali ke depan, menempuk-nempuk keras wajah Dedi yang sebagian berdarah.

MARINI

(membentak seperti komandan)

Heh! Bangun!

Kesadaran Dedi seperti terkumpul kembali.

Marini kembali duduk tumpang kaki di atas meja, meletakan pisau tentaranya, lalu membetulkan tatanan rambut yang berantakan, helaian yang keluar diselipkan di belakang telinga oleh tangan berlumur darah, sehingga sebagian rambutnya juga berlumur darah.

MARINI

(sambil membetulkan rambut)

Kau benar-benar mirip ayahku.

DEDI

Iblis!

(kemudian suaranya mengeras campuran antara tangis karena marah dan sakit)

Lepaskan aku, dan kita lihat siapa yang mati lebih dulu!

Marini tersenyum merendahkan.

MARINI

Kau tahu apa yang terjadi dengan ayahku?

Marini mengambil satu benda lain, sebuah gagang pisau berbentuk silinder dengan tombol di salah satu sisinya.

MARINI

(contd)

Setelah menyingkirkan si bandar, kusuruh beberapa orang untuk menghajar ayahku. Tentu saja aku ikut untuk memastikan. Dia disergap di sebuah gang sepi. Sama sepertimu, dia mengaduh dan bertanya apa salahnya.

Marini turun, berjalan perlahan mendekati Dedi.

MARINI

(nada merengek seperti anak kecil dengan suara nyinyir)

Apa salahku? Apa salahku?

Marini menatap sangat tajam, dingin, dan pahit.

MARINI

(nadanya berubah menjadi sangat dingin)

Saat kuperlihatkan wajahku dia berhenti bertanya, hanya menatap kosong, mungkin menyadari kesalahannya.

Marini mendekatkan gagang pisau ke arah tengah dahi diantara dua mata Dedi.

MARINI

(contd)

Ku tempelkan benda ini dikerongkongannya, lalu..

Marini menekan tombol pada gagang pisau. Dan ‘klik’, sebuah pisau pendek, tebal, runcing, dan tajam, melesat dari celah gagang, berhenti kira-kira satu senti diwajah Dedi yang mematung.

MARINI

(contd – tetap datar dan biasa)

Kulakukan hal serupa pada kedua matanya.

DEDI

Pembunuh! Psikopat murahan!

MARINI

(tenang, biasa, tanpa emosi dan roman tanpa dosa)

Aku hanya memberi pelajaran, itu saja. Toh setelahnya aku jadi perempuan baik-baik, yang mencoba punya kehidupan normal seperti orang kebanyakan. Kau lihat sendiri kan, aku sekarang seorang kasir di swalayan.

Marini menatap Dedi, tatapannya dalam, gelap, dingin.

MARINI

(contd)

Demi anakku.

Dengan gerakan cepat Marini menusukan pisau pendek ke bahu kanan Dedi yang melolong panjang.

DEDI

(menangis ala pria dewasa)

Aaaarrrrggggghhhhhhh!!

MARINI

(menggeram)

Demi anakku yang telah kau sentuh dengan tangan kotormu!

Marini mencabut pisau. Dari lubang bekas tusukan darah mengalir.

Marini yang tetap datar dan biasa, mengarahkan pisau ke leher,  menuju kalung tali yang dikenakan Dedi.

MARINI

Sejak dilahirkan, walau tak tahu dia berayah siapa, tak pernah sekali pun aku berani menyakitinya, bahkan untuk sekedar mencubit. Kuperlakukan dia dengan penuh kasih. Tapi kau…

Marini menorehkan luka cukup dalam di bagian bawah tulang dekat leher Dedi.

MARINI

(contd – menggeram dingin)

Berani sekali menghinakannya.

Dedi menggigil, namun ia masih sepenuhnya sadar.

Marini mengamati kalung yang dipakai Dedi.

MARINI

Benda-benda yang kau pakai.

Bagian pipih pisau digunakan Marini untuk menarik talinya.

MARINI

Kau mengambilnya dari mereka.

Marini memutuskan tali kalung dengan sekali sabetan pisau, matanya menatap wajah Dedi.

MARINI

(contd – dingin, dengan nada mirip seorang analis)

Bukan sekedar ‘kenang-kenangan’ yang kau rampas dari korban yang telah kau lecehkan…

PANDANGAN mengikui ujung pisau Marini yang menelusur tubuh Dedi yang berdarah-darah dan berkeringat. Perlahan turun ke paha.

Tatapan Marini mengikuti telusur pisaunya, kemudian berpindah kembali pada wajah Dedi.

MARINI

(contd – masih dengan ekspresi dan nada yang sama seperti sebelumnya)

Tapi juga untuk membuatmu terangsang dan merasa berkuasa atas mereka.

Marini tersenyum, tetap menatap Dedi, namun tangannya menusukan seperempat pisau ke paha kiri atas Dedi yang melolong. Kemudian, tanpa disangka, lagi-lagi Dedi meludahi wajah Marini dekat area mata. Kali ini ludahnya merah, bercampur darah.

Marini memejam mata sebentar, lalu membuka kembali sambil memutar pisaunya ke arah kanan seperti seseorang memutar kunci pintu, tatapannya tetap dingin meski senyumnya berubah menjadi seringai.

Dedi berkelojot hebat sambil berteriak-teriak.

DEDI

Aaaaaahhhhrrrhhhhh…. Hhhh…hrrrrraaaaaaaaa!! Aku tidak melakukan apa-apa padanya, jalang!

Marini mencabut pisau dan melemparkanya sembarang ke belakang. Darah segar mengucur deras dari paha Dedi dari luka yang merekah.

MARINI

(galak)

Kau pikir aku tidak tahu? Dia dan beberapa anak yang kau cabuli mengatakan pengakuan yang sama. Hasil  visum tiga dokter yang kudatangi juga menyatakan hasil serupa. Ada luka akibat benda tumpul di anusnya.

Marini berjalan menuju meja, mengambil satu pisau dari dua yang tersisa. Sebuah pisau kecil pendek pengupas apel yang terasah sangat tajam.

Marini kembali mendatangi Dedi sambil menghapus ludah di wajah dengan tangannya yang berdarah sehingga area mata Marini tampak seperti celak yang luntur.

MARINI

Anakku, kuberi nama Bima dengan harapan agar ia bisa melindungi diri sendiri dan orang-orang yang dikasihi. Tapi siapa sangka ia justru jadi Drupadi. Kau renggut dan lecehkan harga dirinya sebagai seorang lelaki demi hasrat bejatmu. Namun bedanya dia punya aku, ibu yang tidak hanya akan melawan dengan kata-kata, tapi juga siap menumpah darah siapa pun yang berani mengganggunya. Dan kau, sang Dussasanna, kau harus membayar atas semua perlakuanmu terhadap anakku.

Dedi gemetar, ada ketakutan dalam ekspresi wajahnya.

MARINI

Berapa kali kau mecabuli dan memperkosa anakku?

Marini menusuk dan mencabut pisau dengan gerakan cepat ke tangan Dedi.

MARINI

Satu kali?

Dedi meringis pedih, tak menjawab.

Marini berjalan kebelakang Dedi, kembali menusuk dan mencabut cepat pisau dengan gerakan cepat ke arah pinggang kiri Dedi.

MARINI

Dua kali?

Marini menusuk dan mencabut dengan gerakan cepat pisau ke arah pinggan kanan Dedi.

MARINI

Tiga kali?

Marini menusuk dan mencabut pisau dengan gerakan cepat ke arah punggung kanan atas Dedi.

MARINI

(sedikit meninggi)

Empat kali?

Marini menusuk dan mencabut pisau dengan gerakan cept ke arah punggung tengah Dedi yang tersilang luka.

MARINI

(sedikit lebih tinggi dari sebelumnya)

Lima kali?

Marini berjalan kembali ke depan Dedi, menyodetkan pisau ke perut Dedi, membentuk luka horizontal.

MARINI

(kembali datar)

Enam kali? Tujuh kali? Delapan kali.

Marini menatap dingin pada Dedi.

MARINI

(contd)

Semua tak ada bedanya bagiku. Kau harus tetap mati.

Wajah Dedi makin pucat akibat kehilangan banyak darah, sorot matanya makin meredup, namun ia masih sadar.

Marini menarik celana boxer yang dikenakan Dedi dan memotongnya sehingga Dedi telanjang bulat.

NOTE: meski telanjang, tapi tidak pernah diperlihatkan dengan vulgar dan frontal bagian-bagian vitalnya.

Marini melempar pisau dan boxer, kemudian berjalan menuju meja, mengambil pisau terakhir. Sebuah pisau jagal yang terasah sangat tajam.

Marini berjalan kembali menuju Dedi.

MARINI

(dingin)

Saat kau diperkosa,  jejak si pelaku akan selalu ada dan terbawa. Membayang seperti bayang-bayang yang tak kan pernah hilang. Luka di tubuhmu mungkin bisa hilang, tapi duka dalam diri tak kan mungkin bisa tersembuhkan, terus menggerogoti seperti infeksi.

Marini menengadahkan wajah Dedi yang berlumur darah, mata Dedi seperti orang teler.

MARINI

(contd)

Harusnya kau berbahagia, derita yang harus ditanggung hanya beberapa menit saja, sementara anakku harus menjalaninya seumur hidup.

Tangan kiri Marini menghempaskan wajah Dedi, tangannya lalu berpindah, terlihat seperti meremas alat vital Dedi, melihatnya dengan seksama dalam ekspersi datar.

MARINI

Dan benda kecil menyedihkanmu ini adalah sumber dari segala kekacauan yang terjadi.

Marini kembali menatap dan mengacungkan pisau jagal ke wajah Dedi yang meringis, menggeleng lemah, dan penuh ketakutan.

MARINI

(sangat datar)

Ucapkan selamat tinggal padanya, Pak Dedi.

Tangan kiri Marini terlihat seperti menarik alat vital Dedi, kemudian dengan gerakan menggesek dia memotong penis dan zakar Dedi, pelan, menekan dan di lama-lamakan, namun wajahnya tetap datar tanpa emosi sama sekali.

Tubuh Dedi bergetar hebat. Kepalanyanya menengadah sambil menggeleng, bergoyang gemetar,  matanya membelalak, bola matanya seperti ditarik ke atas, sementara mulutnya menganga seperti orang kehabisan udara.

PANDANGAN diambil di antara kaki Dedi yang terbuka, sedikit di bawah bokong, tampak darah mengucur deras membasahi lantai.

MARINI

(contd – sambil memotong – tetap datar)

Hutang darah bayar darah! Anakku meneteskan darah saat kau memaksa memasukan alat kelaminmu pada liang anusnya. Dan sekarang terimalah pembalasan dariku.

Dedi’s POV: segalanya kembali memburam dan melambat, suara gemuruh seperti kumpulan udara berdengung. Pandangan seperti ditarik menghadap Wajah Marini yang sangat kabur bercelak darah. Terdengar Marini berbicaranya namun suaranya berubah lambat, menggeram, dan berat seperti suara pria dalam kaset rusak.

MARINI

Pergilah ke neraka.

Dedi’s POV: perlahan-lahan segalanya memburam kemudian menggelap.

FADE TO BLACK

—————————————————–

** Naskah ini sebelumnya telah dikirim ke beberapa Rumah Produksi pada pertengahan tahun. Namun karena lebih dari tiga bulan dari Rumah Produksi yang terakhir saya kirim tidak ada tanggapan, ya sudah saya muat di blog pribadi saya saja heheheheh…

** Pemuatan ilustrasi ditujukan sebagai pelengkap penunjang naskah, untuk kepentingan kreatifitas semata, dan bukan untuk tujuan komersil.

** Ilustrasi dibuat jauh setelah naskah selesai, jadi kalau tidak begitu sinkron dengan deskripsi tokoh di naskah, maklumi saja.

** Foto Lola Amaria diambil tanpa ijin terlebih dahulu dari profil picture akun twitternya di  http://a3.twimg.com/profile_images/628255003/7825_153803952491_758227491_2629613_902507_n.jpg pada tanggal 10 Desember 2010 (mudah-mudahan belum diganti  dan beliau tidak keberatan ya heheheheh…)

** Film terbaru Lola Amaria yang berjudul MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK telah beredar beberapa bulan lalu.

** Naskah untuk menyambut hari ibu tahun 2009 telah saya muat beberapa waktu lampau dengan judul KESAKSIAN ADI, silakah di jelajah. Juga pernah dimuat di blog saya terdahulu www.beingck.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s