Lelaki Yang Menangis Di Kamar Mandi

UNTUK DIPERHATIKAN: Cerpen ini adalah karya Indrian Yang Koto dengan judul sama, Lelaki Yang Menangis Di Kamar Mandi, yang dimuat di Suara Karya pada 12 Juli 2008

Ia paling benci menunggu. Ia sudah terbangun pagi-pagi sekali dan sungguh mati kantuknya lenyap begitu saja. Padahal semalam ia hampir tak bisa tidur. Menunggu, ah betapa waktu bergerak lamban rasanya. Jam seperti ikut mengejeknya, bergerak pelan sekali.

Ia meminta Rima datang pagi ini, jam sepuluh pagi. Tak ada yang luar biasa dengan angka itu. Pada jam-jam tersebut tentu tidak terlalu subuh seseorang bertamu. Beberapa pekerjaan kecil tentu sudah bisa diselesaikan oleh mereka: mandi, beres-beres kamar, belanja, dan semacamnya, sebelum seluruh waktu setelahnya akan mereka habiskan berdua.

Pagi ini, beberapa jam sebelum waktu yang mereka tentukan -Rima akan datang ke kamarnya, bercakap-cakap sejenak sebelum kemudian keluar- ia sudah duduk di depan komputer. Ia sudah tak bisa melakukan apa pun. Membuka-buka file dan tak berselera menuliskan apa pun. Ia putar winamp yang semalam lagu-lagunya dipilih Rima sebelum gadis itu pulang.

Ia keluar kamar, mengambil segelas air putih dan membawanya kembali ke kamar. Wana masih tertidur dengan pasrah di ruang depan, Jusuf belum bangun, Ridwan dan kawan-kawan yang lain belum datang dari kampung sejak lebaran kemarin. Rumah kontrakan itu masih sepi, padahal subuh sudah dari tadi berlalu. Biasanya, dia pun di jam-jam seperti ini masih juga terlelap seperti yang lain. tapi pagi ini, sebuah janji telah membuatnya tak bisa tidur. Tak bisa melakukan apa pun. Sungguh, ia merasa begitu konyol. Jatuh cinta dan berubah kekanakan.

Sambil tiduran ia mendengarkan beberapa lagu yang diputar pelan; beberapa komposisi Jazz yang tidak ia tahu milik siapa. Sial, semua bergerak makin lamban. Jam sepuluh yang hanya berjarak 15 menit dari sekarang terasa begitu panjang. Sejak tadi pagi dia terbangun, tapi tak juga sempat melakukan apa pun. Bahkan belum ke kamar mandi sekedar gosok gigi. Pelan, matanya mulai terasa berat.

Antara bangun dan jaga, ia merasakan tiupan kecil di telinganya. Ia merasa ada tangan yang sedang mengusap pipinya. Ketika ia membuka mata, ia melihat Rima duduk di sampingnya sambil tersenyum.

“Oh, aku ketiduran.” Katanya mengusap mata, membenahi posisi tubuh dan pakaiannya yang berantakan. “Sudah lama, Sayang?”

Rima tersenyum. Menggeleng pelan.

“Masih ngantuk?” Tanya Rima lembut, “tidur jam berapa semalam?”

“Aku harus jujur? Nyaris gak bisa tidur. Kau dan janji kita siang ini membuatku insomnia.” Katanya sambil ketawa. Rima mencibir dengan kerlingan mata yang terlihat lucu.

Mereka terlibat percakapan ringan dan sederhana.

“Mandi sana, bauk.” Bisik Rima sambil medorong kecil ketika ia hendak mencium pipi gadis itu.

Ia terbahak. Sebuah lagu mengalir dari winamp: Bagaimana bila aku bukanlah perawan seperti yang kau ingin (1)

“Satu pertanyaan untukmu,” Katanya dengan mimik wajah serius. Rima tertawa melihat mimiknya yang sok serius. “Seberapa pentingkah arti keperawanan menurutmu kasihku?”

Pipi Rima memerah. “Menurutmu?”

Ia mendesah ringan. “Selalu kamu memberikan pertanyaan balik untukku. Hmm, baiklah kujawab terlebih dahulu. Tergantung. Nilainya bagiku amat tergantung situasi. Nah sekarang giliranmu.”

“Menurutmu?” Rima bertanya lagi. Ia gemas melihat mata bening dan kekanak-kanakan.

“Kamu selalu tak mau jawab.” Balas lelaki itu.

Rima menunduk. Laki-laki itu tak jadi berdiri. Rima memeluknya dari belakang. Sunyi beberapa saat.

“Min, kamu marah nggak kalau aku bicara serius.”

Ia tersenyum sambil menggeleng.

“Ngomong saja.”

Rima diam.

Ia membalikkan tubuhnya, memandang perempuan yang baru menjadi kekasihnya beberapa minggu ini. “Ngomong saja.”

Diam.

“Hei, ada apa? Kita sudah janji tidak ada rahasia-rahasiaan bukan?”

Rima membenamkan kepalanya di kasur, lelaki itu mengecup rambut gadis itu.

“Soal tadi.” Ucap Rima serak.

“Yang mana?”

Diam. Ia sedikit berdegup.

“Mandi?” katanya mencoba bercanda.

“Yang tadi.”

Degup jantungnya makin keras. “Perawan? Ada apa?”

“Aku gak tahu ngomongnya gimana.”

“Jangan serius-serius begitu, ah.” Ia memeluk Rima dengan cepat. Tetapi secepat kilat Rima mengibaskan tangannya.

Ia terhenti sejenak, menatap Rima dengan seksama. Ada sesuatu yang serius, pikirnya. Keseriusan yang bermula dari omongan basa-basi.

“Aku tidak bisa mendiamkan ini lama-lama, Min. aku harus mengatakan sebelum kita terlanjur jauh. Mungkin sekarang waktunya. Tetapi aku benci mengatakan ini.”

Rima mulai terisak.

“Ma, kalau memang belum bisa dibicarakan, tak usah dipaksa. Nanti akan ada waktu yang tepat. Ini masih terlalu pagi untuk membicarakan hal-hal yang membuatmu sedih.”

“Tidak, Min. aku harus bicara sekarang. Terserah kau akan bersikap seperti apa.”

“Oke, oke. Aku akan mendengarkan. Tapi sebelumnya aku minta maaf kalau kata-kataku telah membuatmu tersinggung.”

“Aku harus mengatakan ini. Aku tidak mau, suatu waktu kau menyesali ini, atau tahu dari orang lain. Aku sudah tidak perawan.” Bibir itu bergetar ketika mengatakan itu. “Ya, aku sudah tidak perawan..”

“Apa?”

“Kaget?”

“T-tidak. Aku”

“Aku paham. Aku paham, Min. tentu kau tidak percaya ini semua. Berapa lama kita kenal? Empat bulan belakangan ini saja kan? Berapa lama aku jadi pacarmu? Belum dua bulan. Kita kenal sejak kita sama-sama KKN di desa yang sama. Selebihnya, betapa kau alpa masalaluku dan aku nyaris tak paham masa lalumu. Seberapa banyak kita bicara masa lalu? Nyaris tak ada. Kita lebih banyak bicara masa depan. Igauan-igauan tentang rumah, anak dan segala hal yang belum pasti. Kini, aku harus mengatakan ini padamu, sebelum kita terlalu banyak memupuk mimpi yang lain.”

“Ma, dengarkan aku, Ma…”

“Biarkan aku menyelesaikan ceritaku, selagi aku bisa. Aku melakukannya dengan pacarku di SMA. Di SMA, kau tahu. Beberapa tahun lalu. Aku tidak tahu menyalahkan dia yang terus-terusan memaksaku atau menyesali aku yang bodoh. Ia selalu meminta keperawananku sebagai bukti cinta. Dan aku, ketika itu begitu mencintainya,”

Amin meraih kepala Rima, menyusupkan dalam pelukannya. “Sudahlah, sudahlah Rima. Aku paham. Aku mengerti.”

“Aku terlalu bodoh, Min. menyerahkan semua kepadanya. Aku tak tahu, hidup begitu panjang, aku akan bertemu banyak orang, mereka dan dirimu. Aku terlalu bodoh. Aku kira hidupku akan selesai dengannya saja.” Rima meratap lebih keras.

“Ceritalah, kalau kamu mau cerita.”

“Aku tidak tahu bagaimana menceritakannya. Aku terlalu goblok. Aku bodoh.” Rima menyusupkan kepalanya lebih dalam ke dada Amin. “Aku merasa tak akan bisa melepaskan diri darinya. Aku berkali-kali mencoba lari darinya, berkali-kali dia menemukanku.

Setiap pertengkaran selalu meninggalkan bekas ditubuhku. Dia terlalu kasar dan menekanku. Entah kenapa aku selalu gagal melawan bujukannya.”

Diam sesaat. Tiba-tiba saja, kamar itu rasanya penuh sesak oleh haru-biru.

“Orang tuaku kemudian melarang kami berhubungan. Dan aku masih anak SMA yang tolol. Merasa hidup kami seperti cerita-cerita picisan. Hubungan yang tak direstui. Kami melakukannya agar kami bisa menikah dan diterima keluarga. Kau bayangkan, goblok sekali bukan? Tetapi aku baru menyadari, setelah aku mulai kuliah, mengenal lebih luas dunia, aku merasa dunia tak berhenti di sini saja. Tapi aku tak semudah itu lepas darinya. Kau tentu tahu bagaimana usahaku menghindarinya. Sampai saat ini pun, rasanya bayangannya ada di mana-mana. Menguntitku. Aku takut. Aku takut sekali. Aku ingin menghapus seluruh bayangnya. Menghapus dia dari hidupku.”

Rasanya tak ada yang lebih mendamaikan selain pelukan dan usapan halus pada ujung-ujung rambut.

“Kamu boleh meninggalkanku sekarang kalau kamu menyesali masalaluku.” Tangisnya pedih.

“Kalau aku mencari orang yang sempurna justru aku tidak akan memiliki siapa-siapa. Karena aku akan meninggalkanmu untuk mengejar yang lain lalu meninggalkannya untuk yang lain pula.”(2)

Jeda sesaat.

“Bolehkah aku menghapus bekas bibirnya di bibirmu dengan bibirku?” (3)

“Kau tak menyesal?”

“Segala yang sudah lewat adalah kenangan. Ia menjadi peristiwa masa lalu. Dan denganmu aku inginkan untuk masa depan.”

Rima memejamkan mata. Sebuah ciuman lembut mendarat di bibirnya. Inilah ciuman yang paling nikmat yang pernah dia rasakan.

“Kuharap tak ada yang perlu kita sesali suatu waktu nanti dan tak ada yang perlu kita tutup-tutupi.”

Rima memeluk kekasihnya dengan erat. Erat sekali.

“Aku mandi dulu, setelah itu aku ingin mengajakmu makan dan jalan-jalan seharian. Jangan katakan mama tengah menunggumu di rumah.”

Rima tergelak dan mengangguk. “Aku akan menunggumu dan mengikuti ke mana pun kamu mau.” Katanya sambil melepaskan pelukan. Dipandangi tubuh lelaki itu sampai keluar dari kamar dengan keharuan yang tak tertahankan.

Laki-laki itu masuk ke kamar mandi. Di putarnya kran air besar-besar lalu menangis sejadi-jadinya, di sana.***
Poetika, November 2006-Februari 2008

 

Catatan:

1. Sekali Cinta tetap Cinta, lagu yang dinyanyikan Helena.

2. Adaptasi dari sebuah dialog dalam film Jomblo.

3. Adaptasi dari judul cerpen Hamsad Rangkuti, “Maukah Kau Menghapus

Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu”.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s