Interview With Han Gagas

Han Gagas, salah satu penulis produktif yang karyanya sering kita baca di berbagai media cetak, pada beberapa waktu lalu merilis sebuah novel berjudul Tembang Tolak Bala. Mistik, takhayul, fakta, realita yang tumbuh, berkembang, dan beredar dalam dunia reog bercampur dalam sebuah kisah yang mengajak pembaca untuk menjelajah dari satu jaman ke jaman lain dengan jalinan cerita yang seolah acak, namun justru runut dan saling terkait. Dalam buku ini ia juga merangkum berbagai peristiwa,  sejak  keruntuhan Majapahit hingga lengsernya Soeharto dari jabatan sebagai presiden R.I, begitu pula dengan seluk beluk reog yang mungkin masih asing bagi sebagian orang, dikemas secara menarik dan lugas. Berikut adalah obrolan ringan Crimson Strawberry dengan Han Gagas via e-mail.

Kita mulai dari pertanyaan paling standar, Kenapa Han Gagas tertarik dengan sastra?

Saya termasuk orang yang suka melamun, melamun apa saja, bahkan yang paling jorok, cabul, aneh, kejam sekalipun. Saya kemudian berpikir alangkah sia-sianya jika lamunan itu terbuang semua menjadi sekedar lamunan saja. Jadi sebagian yang masih dalam kerangka kepatutan, saya tulis. Banyak sekali lamunan-lamunan tapi saya ini juga pelupa, dan terkadang pemalas, jadi sebagian lamunan itu lenyap begitu saja.
Sesungguhnya saya ini juga ingin membuat film, karena sejujurnya pula, saya selalu takjub melihat film-film yang indah, menghanyutkan, menyentuh, menegangkan termasuk juga klip musik. Rasa-rasanya tanpa film, musik, dan sastra hidup ini terasa sepi. Tapi untuk membuat film biayanya mahal sedangkan saya tak punya uang lagipula juga tak ada pengetahuan plus pengalaman jadi cuma sebatas keinginan. Dan, akhirnya dengan menulis sastra setidaknya tertanam juga bayangan-bayangan filmis dalam cerita.
Sastra saya sukai karena seringpula saya menemukan hal-hal baru dan berbeda dibanding buku-buku lain. Melalui novel Susanna Tamaro Pergilah kemana Hati Membawamu misalkan, saya menemukan perbedaan antara kebahagiaan dan kegembiraan. Melalui novel Seno Gumira Ajidarma Khalatida, misalkan saya menemukan narasi mengagumkan tentang seorang tokoh yang gila. Melalui novel Lelaki Tua dan Laut karya Hemingway misalkan saya menemukan ketangguhan seorang nelayan tua ditengah badai lautan dan ancaman hiu yang ganas –ketangguhan manusia walaupun pada akhirnya mengalami kekalahan- di novel-novelnya Pramoedya Ananta Toer  misalkan juga menemukan tokoh yang dikalahkan kekuasaan tapi prinsip dan kemanusiaanya tak terenggut, dan lain-lain. Jadi dengan membaca sastra, pengetahuan saya bertambah secara mengasyikkan dan saya menemukan banyak kisah yang penting saya ketahui.

Dari sekian banyak hal yang bisa diangkat, mengapa memilih sejarah dan dunia Reog sebagai tema utama?

Saya suka dengan sejarah walaupun tentu tak semahir Kuntowijoyo, yang selain sastrawan juga sejarawan. Sekedar suka baca saja terutama yang menjadi kontroversi atau menjadi sejarah buram bangsa kita seperti peristiwa 1965. Karena membaca hal-hal demikian membentuk semacam pengetahuan di kepala, dan ketika menulis akhirnya ngocor juga pengetahuan itu.
Reog sebagai tema karena dekat dengan kehidupan saya. Sejak kecil sudah sering melihat reog yang kadang beriring-iringan di jalan depan rumah. Sekaligus saya ingin menyumbangkan sesuatu buat masyarakat saya, kota saya, daerah saya. Semoga dengan buku sederhana ini bisa diterima oleh mereka.
Menurut saya, perlu sebuah buku yang cukup lengkap menceritakan sebuah kota, tentang sejarah kotanya, legenda-legenda di dalamnya, mitos, cerita rakyat, watak dan perilaku masyarakatnya, politik, kebudayaan, kesenian, dan lain lain. Menurut saya, kalau penulis-penulis lain mengangkat hal serupa mengenai kotanya masing-masing akan bertambah kayalah khasanah sastra kita dan semangat ini tampaknya pernah dilakukan Gus tf Sakai dalam novelnya Tambo atau Ratih Kumala dalam novelnya Batavia.

Di buku anda, ada beberapa versi cerita rakyat mengenai awal mula Reog. Dalam perkembangannya adakah cerita lain atau versi lain seputar lahirnya kesenian ini? Jika tidak, manakah yang lebih dominan beredar di masyarakat?

Saya mengusahakan dalam novel ini selengkap mungkin menangkap semua legenda/cerita rakyat yang saya ketahui baik dari sumber lisan maupun tulisan. Maksud saya dengan itu, orang yang ingin mengetahui dunia gemblak, warok, dan reog cukup membaca novel ini, tapi tentunya, saya tak membatasi keingintahuan untuk membaca buku-buku lain yang bertema serupa. Dengan jalan menulis versi selengkap mungkin, saya pikir cukup memenuhi harapan itu.
Yang paling dominan di masyarakat tentu legenda pertarungan Singobarong ketika melamar putri Kediri yang dicegat di tapal batas kota. Karena saya melihat, masyarakat Ponorogo masih banyak yang mempercayai legenda atau mitos di dalam kehidupan mereka. Lagipula toh selama ini keghaiban juga terkadang muncul dalam kenyataan bagi orang-orang tertentu. Jadi saya rasa itu wajar saja. Inilah realisme magis ala kita.

Di beberapa bagian, anda menceritakan dengan detail mengenai dua tokoh di dua masa yang berbeda yakni Ki Ageng Mirah dan Tejowulan. Sebagai orang yang tidak begitu mengenal seluk beluk reog, saya ingin tahu, apakah dua tokoh itu benar-benar nyata? Karakter fiksi yang diselipkan dalam kejadian nyata? Karakter nyata yang difiksikan? Atau bagaimana?

Ki Ageng Mirah tokoh nyata dalam sejarah Babad Ponorogo, saya coba menarasikan semampu saya, walaupun tak banyak atau kurang mendalam. Ia pendamping utama Batoro Katong –putra Brawijaya V Raja Majapahit terakhir- untuk mendirikan Prana Raga menjelang keruntuhan Majapahit juga sekaligus penggerak Islamisasi pertama di daerah Ponorogo.
Tejowulan adalah tokoh fiktif tapi warok pemasang susuk kekebalan yang ada di kenyataan, saya bayangkan sebagai tokoh Tejowulan.

Hal serupa juga saya tanyakan mengenai latar tempat dimana Ageng Mirah dan Tejowulan hidup.

Sebagian besar adalah latar imajinasi yang seakan tak sepenuhnya sadar saya narasikan. Kecuali latar rumah pemasangan susuk kekebalan itu ada di kenyataan. Ketika saya SMA sering terjadi perkelahian, suatu saat saya diajak seorang teman untuk memasang susuk kekuatan di tempat seorang warok. Susuk itu akhirnya terpasang di tubuh saya hingga beberapa tahun kemudian saya mendatangi paranormal lain untuk merontokkan susuk itu –juga melanggar pantangan, nah kisah nyata itulah minus perontokan susuk yang mengilhami cerita Susuk Kekebalan.

Beralih ke masalah gemblak. Meski dalam tulisan anda disebutkan bahwa hal itu sudah tidak terdengar lagi, tapi, apakah, setahu anda, hal seperti itu masih dipertahankan oleh beberapa pihak sampai sekarang? Bagaimana tanggapan masyarakat sekitar mengenai hal ini dulu sampai praktik ini ditinggalkan? Apakah merupakan hal tabu atau sudah lumrah bagi mereka (masyarakat), mengingat hal seperti ini biasanya merupakan hal terlarang dan sensitif bagi sebagian pihak.

Saya sudah tak begitu mendengar dunia pergemblakan karena sejak meninggalkan Ponorogo –semenjak lulus SMA berarti sudah lebih dari 15 tahun- biasanya hanya sekali mudik dalam setahun ketika lebaran. Yang saya dengar warok sesepuh tinggal sedikit sekitar tujuh orang, dan belakangan seorang diantaranya yang paling disegani bernama Mbah Wo Kucing –saya pernah berkunjung ke rumahnya dan beliau pernah masuk di liputan Kompas- saya dengar dari seorang teman juga sudah  meninggal. Warok yang melakukan penggemblakan mungkin masih ada tapi tentu tinggal sangat sedikit dan biasanya mereka adalah warok di level menengah dalam tata “kewarokan”.

Ilustrasi Asli Cover Novel

Menurut anda, apakah praktik peng-gemblak-an ini bisa juga dikategorikan sebagai penyimpangan pedofilia? Karena menurut kisah ini, sang warok hanya berhubungan dengan gemblak berusia di bawah tujuh belas tahun. Adakah perubahan pada diri gemblak-gemblak yang sudah di ‘pensiunkan’? karena dalam kasus konvensional, korban pedofili biasanya mengulangi hal serupa setelah dewasa sehingga terjadi semacam lingkaran setan yang susah diputus.

Ini pertanyaan menarik, tapi saya kurang memiliki pengetahuan yang berhubungan dengan aspek-aspek psikologis. Tampaknya dari sedikit pengetahuan saya, warok yang menggemblak lebih menyalurkan aspek kasih sayang yang mungkin “karena tanpa sadar atau gairah yang terlalu menghanyutkan” juga menyalurkan libidonya.
Gemblak sesudah dipensiunkan biasanya kerjaanya pasif dan berdiam diri, tapi itu tentu tergantung pribadi masing-masing, dan seharusnya lingkungan dimana ia berada ikut membantunya beradaptasi kembali di tengah masyarakat. Kemudian kalau ia melakukan hal serupa –praktek sodomi- pada anak lain, saya tidak tahu.

Berapa lama anda membuat Tembang Tolak Bala, dari awal sampai menjadi sebuah buku?

Ide awal di tahun 2007. Saya coret-coret seperti sket cerita hampir setengah tahun, tapi sekedar coret-coret saja karena masih bingung alurnya. Lalu sekitar pertengahan 2008 serius saya garap sekitar 3 bulan. Kemudian menjelang akhir tahun 2008 selesai dengan pengubahan dan penambahan yang tak banyak. Maret 2009 disetujui penerbit LkiS Jogja untuk diterbitkan, dua tahun kemudian tahun 2011 bulan Mei baru bisa terbit. Jadi dari disetujui penerbit hingga diterbitkan tepatnya dua tahun dua bulan, sungguh lama kan?

Bagaimana proses kreatif dan eksplorasi dalam membuat karya sastra berlatar sejarah, seni, dan antropologi seperti Tembang Tolak Bala?

Awalnya saya memiliki beberapa cerita pendek yang temanya bersangkut paut dengan dunia reog, warok, dan gemblak. Saya coba telusuri kira-kira bisa disambung alurnya tidak, saya pikir bisa. Kemudian saya merasa kalau cuma segitu alangkah pendeknya cerita maka saya perlu bahan tambahan untuk memanjangkannya melalui riset sederhana. Saya mulai mencari bacaan, beberapa saya temukan tanpa sengaja, yang akhirnya setelah merasa cukup, kemudian saya olah menjadi novel.
Mengenai alur saya juga pernah kesulitan tapi kemudian bisa terjawab setelah membaca novel Tambo karya Gus tf Sakai di model alur kilas balik. Alur saya terinspirasi juga dari alur Gus tf Sakai di novel itu.
Beberapa pengalaman pribadi juga saya masukkan ke dalam novel seperti saya sering bermain di sungai dan hampir terhanyut. Hilangnya seorang anak yang tenggelam di sungai dan sering membuat saya penasaran dimanakah dia selanjutnya? Kenyataan bahwa hampir saja saya “tergemblak”, kenyataan saat memasang susuk kekuatan, kenyataan saya pernah dekat dengan seorang perempuan keturunan etnis tionghoa, juga sering menonton reog obyogan, kucingan, dan pengalaman lain mewarnai cerita dan tentu pula saya tambahi dengan imajinasi-imajinasi yang menurut saya perlu dan membuat cerita lebih menarik. Jadi, intinya, saya mengolah kenyataan, imajinasi, dan bacaan, mengaduknya hingga menjadi novel ini.

Jujur saja, sewaktu pertama kali membaca novel ini, saya langsung teringat kisah Alice in Wonderland (dalam dimensi berbeda tentunya). Apakah Han Gagas juga membaca cerita-cerita serupa (dongeng impor) sehingga menjadi inspirasi bagi terlahirnya sebuah karya, terutama untuk Tembang Tolak Bala ini?

Tidak. Saya belum membaca buku yang anda maksud. Kapan-kapan nanti saya cari, jadi penasaran. Novel luar yang saya baca adalah novel-novel yang sering diperbincangkan teman-teman yang membuat saya juga penasaran seperti karya John Steinbeck, Yasunari Kawabata, Camilo Jose Cela, Ernest Hemingway, Susanna Tamaro, Knut Hamsun, Alejo Carpentier, dan lain-lain.

Sebelumnya anda membuat cerpen berjudul Susuk Kekebalan yang dimuat di salah satu media cetak, hal itu kemudian ditemukan kembali dalam novel anda dengan perubahan di sana-sini. Apakah anda menjadikan cerpen tersebut sebagai prelude bagi para pembaca sebelum menghadirkan versi penuh dunia Reog di Tembang Tolak Bala? Atau anda memasukan karena faktor ‘kebetulan’ saja, sebab beberapa bagian dalam cerpen ini cocok dengan konten novel anda?

Saya memodifikasi cerpen itu ke dalam novel juga cerpen lain karena sesuai dengan tema penulisan novel yang mau saya angkat. Setidaknya ada 3 cerpen yang sebelumnya saya tulis yang isinya berkaitan erat satu sama lain. Pertama, berjudul Susuk Kekebalan yang dimuat Republika, kedua berjudul Gemblak yang dimuat buletin Littera terbitan Taman Budaya Jawa Tengah, ketiga cerpen berjudul Warok. Juga ada sketsa cerita/cerpen yang belum jadi yang saya masukkan dalam novel itu tentunya dengan pengubahan tertentu. Jadi, isi beberapa cerpen itu memang cocok untuk konten novel.

Banyak penulis memasukan fakta sejarah dalam karya fiksi mereka, baik yang sama dengan sejarah seperti yang diajarkan di sekolah atau pun sisi lain yang tidak diketahui oleh banyak orang, sehingga memberi perspektif baru bagi pembaca. Bahkan penulis besar seperti Pramoedya Ananta Toer ber-statement bahwa sastra adalah pencatat sejarah sesungguhnya karena bebas dari intervensi penguasa, hal serupa juga pernah diungkapkan Seno Gumira Ajidarma. Bagaimana dengan anda? (berkaitan dengan novel Tembang Tolak Bala yang juga berlatar sejarah)

Ya saya pikir sejarah yang tertuliskan mengalami banyak benturan baik dari kekuasaan maupun perbedaan kacamata analisisnya. Saya kurang memahami bagaimana penulisan sejarah yang baik berdasarkan kaidah-kaidah ilmu tertentu, saya hanya mengerti bahwa lebih baik saya menuliskan novel bernuansa sejarah dengan jalan memasukkan seluruhnya versi-versi yang ada, termasuk juga “sejarah” lisan ke dalam novel tanpa menghakimi mana yang lebih bisa dipercaya dan mana yang tidak, dan selanjutnya membiarkan pembaca menilai sendiri.
Pernah ketika saya diwawancarai sebuah media massa, dia mengajukan pertanyaan: “Novel Tembang Tolak Bala ini, anda sendiri menyebutnya sebagai novel apa?”
Saya jawab: Novel Budaya. Bukan novel sejarah. Karena saya mengerjakannya dalam semangat pelacakan “kebudayaan lokal” bukan data-data sejarah. Nah, ini menjadi kekurangan menurut Halim HD -seorang networker kebudayaan- yang pernah menjadi pembahas bedah novel saya di Solo karena memang pelacakan data-data sejarah terutama terkait peristiwa-peristiwa nasional –bukan sejarah warok, reog, dan gemblak- kurang memadai. Dalam novel ini peristiwa-peristiwa sejarah/politik nasional saya jadikan tanda titik-titik waktu sebagai pemberitahuan pada pembaca sampai dimana cerita itu bergerak. Karena fokus tema saya adalah warok, reog, dan gemblak maka peristiwa-peristiwa itu saya jadikan “bumbu cerita” sehingga mungkin tampak hanya sebagai tempelan bagi sebagian pembaca.

Ada penulis yang membutuhkan suasana/atmosfer khusus untuk menghasilkan sebuah karya seperti harus menyepi, mendengarkan musik tertentu, dan lain sebagainya. Tapi ada juga yang melakukannya dengan cara biasa saja. Anda termasuk yang mana? Alasannya?

Saya suka menulis ketika hati sedang on dalam kondisi yang enak bagi saya, yang penting saya merasa nyaman dan tak terganggu. Jadi tak harus pakai musik atau suasana khusus. Jika tidak on tapi ada waktu luang kadang saya hanya membaca, main-main, atau juga coret-coret cerita. Beberapa penulis yang sempat singgah di rumah saya, merasa asyik menulis di pagi hari karena rumah dan lingkungan sekitar saya sangat sepi. Memang beberapa penulis kadang menginap di rumah saya dan betul juga tampaknya pagi hingga siang itu kepala masih fresh jadi terasa enak buat menulis.

Ilustrasi ala CrimsonStrawberry

Dalam satu dekade terakhir banyak sekali karya-karya penulis lokal yang membanjiri dunia per-buku-an di Indonesia, sebagian diantaranya dari kalangan muda. Menurut anda apa yang menyebabkan hal ini? Karena apresiasi masyarakat yang makin meningkat kah? Atau karena generasi muda jaman sekarang mulai menjadikan menulis sebagai kebutuhan dan aktualisasi diri seperti halnya bermusik? Atau bagaimana?

Mungkin karena generasi muda sekarang menjadikan menulis sebagai kebutuhan dan aktualisasi diri. Menulis saya kira juga mulai dilirik karena berbagai informasi yang tersiarkan ke publik melalui karya novel yang difilmkan. Mengarang saya kira juga kegiatan yang menarik bagi sebagian orang dan popularitas juga mengiming-imingi mereka. Dan, tampaknya -juga ditambah- makin banyak penerbit-penerbit alternatif yang cukup berani walau terasa seperti ngawur keberaniannya dalam menerbitkan novel, termasuk juga penerbit indie. Tapi itu sah-sah saja.

Banyak penulis pemula mengirimkan karyanya, baik ke media atau pun penerbit, namun ditolak. Dikemudian hari mereka kembali mengirimkan karya yang bukan lagi ekspresi argumentasi, ide atau pun idealisme penulis bersangkutan, tapi lebih pada mengikuti selera dari penerbit atau pun redaktur. Haruskah seperti itu? Apa tips yang dapat Han Gagas berikan?

Sah-sah saja bila ada orang melakukan itu. Kalau saya akan menulis apa yang bisa saya tulis, saya tulis sebaik-baiknya, setelah jadi baru memikirkan mau dikirim kemana. Ada sekitar 15 penerbit sastra/novel jadi peluangnya cukup besar untuk menerbitkan sebuah karya. Jadi menulis adalah kegiatan bebas, saya pikir saya akan menjalaninya dengan sebebas mungkin tak peduli penerbit/media massa mau menerbitkan atau tidak. Nasib karya berbeda-beda dan saya berharap kebaikan dan keberuntunganlah yang akan menyertainya.
Tips: Menulislah yang banyak, membacalah yang banyak, menulislah sebaik-baiknya yang anda mampu, dan yakini karya anda layak dipublikasikan.

Siapa penulis favorit anda? Adakah yang kemudian memberikan pengaruh dalam proses penulisan dan gaya penulisan anda?

Banyak tapi ada 3 penulis Indonesia yang ingin saya sebut, mereka juga tonggak penting Sastra Indonesia yaitu: Pramoedya Ananta Toer, Kuntowijoyo, dan Ahmad Tohari. Pramoedya Ananta Toer yang paling terkemuka di negara ini karena karyanya selain banyak juga gemilang sehingga sangat pantas meraih nobel sastra dunia –berkali-kali menjadi kandidat.  Jadi, mereka bertiga sedikit banyak pasti memengaruhi saya. Karya Pramoedya yang pertama kali saya baca adalah novel Perburuan, membuat saya jadi ketagihan, lalu saya lanjutkan membaca tetralogi Bumi Manusia, Gadis Pantai, Larasati. Karya Kuntowijoyo yang pertama saya baca adalah Khotbah di Atas Bukit, Mantra Penjinak Ular, Wasripin & Satinah, saya sedang menunggu novel Pasar-nya dari seorang teman yang ingin saya baca. Karya Ahmad Tohari yang saya baca adalah Jantera Bianglala, Bekisar Merah, lalu Ronggeng Dukuh Paruk. Mereka berikut karya-karyanya adalah tonggak penting di sastra kita jadi dengan demikian sangat perlu saya baca, dan harusnya penulis kita juga perlu membaca karya-karya mereka.

Selepas merilis Tembang Tolak Bala, apa proyek anda selanjutnya?

Novel kedua saya sudah jadi: Jalan Kematian Suro, sekarang sedang di tangan penerbit. Dibanding novel Tembang Tolak Bala, novel kedua ini lebih simpel, lebih sederhana, namun dengan kedalaman yang lebih. Sentuhan emosi juga tertampilkan lebih kuat dibanding novel pertama, itu menurut saya. Semoga novel ini lebih baik nasibnya dibanding sebelumnya.
Sekarang saya mengerjakan novel ketiga yang sangat menguras aspek psikologi, sambil sesekali menulis cerpen. Semoga saja kelumpuhan menulis yang mendera saya kemarin-kemarin segera pulih sehingga bisa menuntaskan novel “berat” ini.

Menurut seorang Han Gagas, sekarang ini menjadi seorang penulis (sastra atau non-sastra) di Indonesia dapatkah dijadikan sebagai profesi utama?

Sulit, tapi ada juga yang bisa tapi tak banyak. Mengetahui selera pasar menjadi rumusnya, selain ketekunan dan kerja keras. Tapi harapannya: ada juga karya idealis kita yang sungguh-sungguh kita torehkan buat pembaca. Intinya sangat penting kita menulis dalam semangat mengejar capaian kualitas literer yang mengagumkan.

Pertanyaan terakhir, Buku apa yang sedang baca anda sekarang?

Novel Seniman Kaligrafi Terakhir karya Yasmine Ghata, terbitan Fayard Paris /Serambi, 2008, baru sampai halaman 16.

————————————————-
Catatan Han Gagas: Mohon maaf jika ada penulisan ejaan yang kurang sesuai terutama pada judul dan nama penulis karena dalam penggarapan wawancara ini semata-mata berdasarkan ingatan saja, tanpa saya cek lagi dengan memburunya di buku-buku.

Hal lengkap mengenai Han Gagas dan segala kegiatannya dapat di temukan di akun facebook-nya

Iklan

4 pemikiran pada “Interview With Han Gagas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s