Pagi di Pantai

Dari semula pantai ini memang tidak begitu ramai, bukan pusat perniagaan hasil laut yang padat akan penjual, pembeli, dan wisatawan. Semua kegiatan transaksi berjalan seperlunya untuk sekedar pemenuhan kebutuhan hari itu saja. Memang, ada juga orang-orang yang menampung ikan dan hasil tangkapan laut lainnya dalam jumlah besar, tapi biasanya mereka hanya melayani penjualan ke kota atau pun mengirimkan pada restoran-restoran sea food langganan.
Dan sekarang pasar yang tidak seberapa itu menghilang dalam sekejap. Cuaca yang tak bersahabat dan harga bahan bakar untuk melaut yang melambung berbanding terbalik dengan hasil tangkapan dan harga jual yang terus menurun, membuat para nelayan memilih pergi, meninggalkan pekerjaan yang telah turun temurun diwariskan nenek moyang, meninggalkan keluarga, meninggalkan tempat tinggal. Sebagian besar pergi ke kota, menjadi kaum urban, mengadu nasib dengan sekian ratus orang lain dari tempat lain. Berebut posisi sebagai buruh lepas proyek bangunan dan jalan maupun sebagai kuli panggul di pelabuhan, pasar atau terminal.
Pagi hari, di pantai yang kini sepi dan sunyi, langit masih sedikit gelap, matahari belum menampakan diri, ombak kecil menyapu hamparan pasir yang sebagian berkilau basah. Dia, perempuan usia awal tiga puluhan, berjalan perlahan. Dari tampilannya pastilah dia penduduk asli pesisir pantai; kulit legam, rambut hitam bersemu warna tembaga diikat rapi tepat ditengkuk menggunakan sapu tangan. Dasternya bermotif bunga warna cerah yang sudah luntur dan lusuh, jaket rajut berbahan wol model jaman dulu khas barang bekas. Di masing-masing saku, tampak menggelayut seperti mengantongi benda berat. Dia juga tak mengenakan alas kaki.
Langkahnya terhenti, dia memandang laut dengan tatapan jernih, menarik nafas sejenak, kemudian berjalan lagi sambil mengelus halus perutnya yang membuncit.

Hari ini kita akan berjalan-jalan cukup jauh anakku. Sangat jauh barangkali. Ibu akan mengajakmu melihat lebih banyak dari sebelumnya.

Dia memungut sebuah cangkang siput laut yang terdampar di depannya, menimang, mengusap, kemudian diletakan depan perut seolah ada mata di sana.
Kamu lihat ini, anakku? Sebuah cangkang siput laut. Indah bukan? Lebih indah dari yang pernah kuperlihatkan padamu sebelumnnya. Rumah siput ini baru saja ditinggalkan pemiliknya.

Dia kembali menerawang, memandang laut, lalu memasukan cangkang siput laut ke dalam saku jaket rajut.
Mungkin siput itu kembali ke laut, mencari cangkang baru. Kamu tahu, anakku, pemandangan di dalam sana begitu indah. Ibu pernah ke sana, satu kali, sewaktu remaja, diajak menyelam oleh para wartawan televisi yang sedang melakukan ekspedisi untuk acara mereka. Ibu sendiri tidak tahu apakah kemudian Ibu masuk tivi atau tidak karena penduduk di tempat kita jarang ada yang memilikinya. Kalau pun punya belum tentu siaran televisi wartawan itu dapat diterima. Tapi tak apa, bagi Ibu hal yang paling berharga bukanlah masuk tivi, tapi bisa melihat pemandangan bawah laut dari dekat.

Dia berjalan pelan mendekati ombak terlandai.
Walau Ibumu ini tinggal di pesisir pantai, tapi jujur saja belum pernah sekali pun melihat ke dalam laut kecuali saat yang satu itu. Ibu begitu terperangah melihat terumbu karang berwarnawarna, ikan hias aneka rupa, cahaya matahari yang berpendar gelap dan terang diantara karang-karang di bawah sana sungguh sangat indah. Sampai sekarang Ibu belum bisa menemukan kata lain selain… indah.

Air laut mulai menyentuh, pelan dan halus terasa oleh jari-jari kakinya.
Waktu itu pula Ibu bertemu pertama kali dengan ayahmu. Berbeda dengan kebanyakan penduduk pria di sini, ia tidak memilih bekerja menjadi nelayan, ia lebih tertarik menjadi pengemudi kendaraan besar, truk barang-barang. Ayahmu yang mengantar hasil laut untuk dikirim ke kota dan ayahmu juga yang mengantar rombongan wartawan televisi itu ke sini, ke tempat kita.

Air laut menenggelamkan setengah betisnya. Dia terus berjalan, tetap perlahan-lahan, menuju tengah.

Ayahmu yang tampan, yang sering dibicarakan para gadis di sini, ternyata memilih Ibu. Jatuh cinta pada pandangan pertama, begitu katanya. Entah dari mana ia mendapat kata-kata itu, mungkin dari tayangan drama televisi di kota.

Dia berhenti sejenak, menoleh ke belakang, memastikan tak ada siapa-siapa, kemudian merapikan jaket rajutnya.

Kami pun menikah, dipestakan secara sederhana, hanya dihadiri keluarga dan beberapa orang tetangga.

Dia kembali berjalan.

Setelah menikah, ayahmu lebih giat bekerja, dia tipikal orang yang bertanggung jawab untuk keluarga. Tak jarang ia meninggalkan Ibu berhari-hari, bahkan pernah lebih dari dua minggu ia tak pulang.

Di sisi lain, ombak yang melandai menghapus satu persatu jejak kaki yang dia tinggalkan sepanjang bibir pantai.

Setahun berlalu, lahirlah kakak laki-lakimu. Ayahmu makin keras membanting tulang, Ibu juga membantu dengan menjual ikan asin dan bekerja sebagai buruh di pabrik garam.

Langkahnya terhenti, dia membungkuk, mengambil kerang dari dasar pantai.

Ah, lihat, kerang mungil yang indah. Kita kembalikan ke laut saja ya.

Kemudian, dia lemparkan kerang temuannya sejauh yang dia bisa.

Hidup itu tak mudah anakku, apalagi untuk orang tua miskin seperti kami. Sewaktu kakak keduamu lahir, pemerintahan baru saja berganti. Sebelumnya, banyak orang-orang datang ke sini, mengobral kata-kata, menggelar pesta rakyat dengan penyanyi-penyanyi cantik. Namun janji tinggalah janji, pemimpin yang kami pilih dan kemudian menang lupa bahwa kami, kita, adalah rakyatnya juga. Kita menjadi orang-orang yang kembali hilang dari daftar. Kita tetap hidup miskin di sini. Tak tak ada yang namanya perbaikan. Tak ada yang namanya pembangunan. Kita, di sini, hanya dianggap tak lebih sebagai angka-angka semata, penentu menang atau tidaknya mereka dalam pemilihan.

Dia sudah terendam seperempat paha.

Hubungan Ibu dan ayahmu juga tak lagi seindah seperti di awal. Pernikahan kami berubah menjadi semacam ritual pelayanan. Ibu tahu, itu adalah jalan hidup para wanita di sini, seorang istri dan ibu sejati adalah yang menyerahkan diri pada suami sepenuh hati. Sementara ayahmu, ternyata sama seperti suami lainnya, merasa berhak menentukan apa saja.

Selaput bening tampak berkilau, menggenang, di pelupuk matanya.

Sering Ibu memergoki ayahmu pulang dengan baju berbau minyak wangi perempuan, bahkan saat kami bersebadan di tubuh ayahmu banyak tanda… ah sebaiknya kau tidak perlu tahu anakku, kau belum cukup umur untuk itu, kamu bahkan belum lahir ke dunia ini.

Dia sudah terendam sampai tiga perempat paha. Matanya memerah, namun selaput itu belum juga pecah.

Di sini, di tempat ini, para wanita tak punya hak untuk bersuara. Bahkan untuk sekedar bertanya. Sewaktu kau belum ada, anakku, Ibu seringkali bertanya pada ayahmu. “Habis darimana Mas, kok bajumu harum perempuan?” Bukan jawaban baik-baik yang Ibu terima, anakku. Bukan. Ayahmu yang dulu begitu perhatian dan sangat santun dalam berkata-kata sudah berubah, dia selalu berbicara dengan nada tinggi, membentak, berteriak, bahkan tak jarang ia melempar benda-benda disekitarnya. Dan…

Selaput di pelupuk matanya makin menumpuk. Dia membiarkannya berjatuhan, meleleh perlahan melewati pipi.

Tak jarang pula ia menyakiti Ibu, wanita yang dulu dicintainya saat pertama kali memandang. Katanya Ibu tidak lagi semenarik dulu, badan Ibu kini bau, legam, gemuk, penuh guratan sisa melahirkan yang tak bisa hilang. Beda sekali dengan para perempuan kota yang walau sudah berumur namun tetap bisa menjaga kecantikan badan. Semua yang keluar dari mulut ayahmu sungguh merendahkan dan menyakiti hati Ibu. Namun Ibu tetap bertahan karena itulah kodrat wanita di sini, melayani suami lahir batin apapun yang terjadi.

Arus dalam menghantam pelan, dia mundur beberapa langkah dan hampir kehilangan keseimbangan. Namun dia berusaha tetap tegak dan kembali maju perlahan.

Waktu berlalu dengan cepat. Setelah itu ayahmu jatuh sakit, mungkin TBC, dia tak lagi bisa bekerja sebagai sopir truk yang mengharuskannya melakukan perjalanan malam. Sejak saat itu Ibu yang menjadi tulang punggung keluarga. Tapi apalah arti seorang penjual ikan asin dan buruh di pabrik garam, upah yang Ibu terima hanya cukup untuk makan sehari-hari, tak bisa membawa ayahmu ke rumah sakit untuk diobati, belum lagi biaya kakakmu yang harus mulai masuk sekolah. Tapi Ibu tidak putus asa, wanita bisa menanggung derita jauh berkali-kali lipat dibandingkan laki-laki anakku, wanita bukan makhluk lemah, wanita adalah manusia kuat, keras dalam kehalusannya, kuat dibalik kelemahannya.

Dia kini sudah terendam setengah perut.

Kemudian kamu ada, hadir dalam perut Ibu. Untunglah ada bidan baru di sini, dia begitu baik mau memeriksa Ibu tanpa dibayar, dia juga yang mengurus surat-surat untuk berobat ayahmu mulai dari puskesmas sampai rumah sakit di kota. Setelah diperiksa sana-sini ternyata ayahmu tertular HIV, entah darimana ia bisa mendapatkannya, mungkin dari wanita-wanita lain yang dikencaninya. Di saat yang sama Ibu disarankan untuk diperiksa juga, siapa tahu ibu tertular dari ayahmu. Semula Ibu tak mau, takut mengetahui kebenaran bahwa Ibu juga terkena virus yang sama, seperti yang dijelaskan Ibu bidan. Tapi demi kamu Ibu mau, siapa tahu Tuhan berbaik hati menjauhkan Ibu dari penyakit ini karena Ibu setia pada ayahmu, mengabdikan diri untuk ayahmu. Tapi penyakit tidak mengenal siapa korbannya anakku, Ibu juga bernasib sama.

Tangannya membasuh perut dengan air laut.
Kami terkucilkan, tak ada yang mau menjenguk apalagi menolong. Namun entah mengapa cibiran justru lebih banyak ditujukan pada Ibu. Ibulah yang dianggap sebagai biang keladi. Karena tak becus melayani suami, maka ayahmu berpaling dan menyeleweng dengan perempuan lain. Sungguh keterlaluan mereka. Tapi lagi-lagi tak apa anakku, Ibu tidak mendendam pada mereka, dan sebaiknya kamu juga demikian. Orang-orang itu membenci karena mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Kemudian mencuci wajahnya dengan air laut, menyamarkan air mata.
Seminggu lalu ayahmu meninggal dunia. Tak tahan dengan tekanan, dia pun menggantung dirinya di mulut sumur. Tak banyak orang yang mau mengurus dan mengantarnya ke pemakaman, mungkin mereka mengira kami akan menularkan penyakit yang sama pada mereka. Bahkan tak ada yang mendoakan lewat tahlilan, kalau yang ini pasti dikarenakan kami, keluargamu ini, tak punya uang terimakasih untuk mereka. Sungguh, anakku, di jaman sekarang sekalimat doa pun diuangkan.

Air sudah menenggelamkannya sampai dada.
Sayangnya bukan hanya Ayah dan Ibu yang tertular, tapi kedua kakakmu juga. Rupanya ayah terinfeksi dari dulu, namun gejalanya baru terlihat belakangan. Sungguh malang nasib mereka, anak yang tak tahu apa-apa tapi harus ikut menanggung derita yang disebabkan orang tua.

Dia mengambil nafas panjang panjang.
Tadinya Ibu akan mengajaknya ikut bersama kita, jalan-jalan bersama, namun Ibu punya pertimbangan lain. Kakak pertamamu sudah cukup besar untuk berjalan sendiri dan bisa mendampingi kakak keduamu, mereka telah berangkat lebih dulu, menunggu kita di sana. Lain denganmu, buah hatiku, kau masih kecil, bahkan teramat kecil. Kau belum mampu menjaga diri sendiri, jadi Ibu yang akan menemanimu. Bagaimana pemandangan di dalam sana? Apakah kau sudah bisa melihat ikan-ikan berenang atau indahnya deretan terumbu karang?
Wajahnya kembali terlihat tenang dan damai.
Apakah kau juga melihat kakak-kakakmu dalam rupa kerang? Kemarin Ibu memasakkan kerang kesukaan mereka dengan menambahkan bumbu lain. Racun potasium untuk mengangkap ikan.

Wajahnya menyunggingkan senyum diantara ringisan.

Kenapa kau menendang-nendang anakku? Apakah kau sesak dan kesakitan? Atau kau ingin keluar, berenang bersama Ibu ke tengah lautan? Tenanglah, sesakmu hanya akan terasa sebentar. Sakitmu jauh lebih ringan dibandingkan jika kamu harus menjalani hidup di daratan.
Air telah membenamkannya sampai leher.
Sebentar lagi, anakku, sebentar lagi. Kita sekeluarga akan segera berkumpul kembali. Ibu, dirimu, ayahmu, dan kedua kakakmu. Kita akan hidup bahagia menjadi keluarga kerang di tengah lautan terdalam. Sebentar lagi.

Wajahnya mulai terbenam.

Sebentar

Kepalanya sudah tak tampak. Batu besar yang dimasukan ke masing-masing jaket rajut membuat beban badannya bertambah.
lagi.

Pemandangan laut di pagi buta kembali tenang, jejak telapak kaki wanita di bibir pantai hilang, terhapus seluruhnya oleh ombak kecil yang kini melandai ke tepi sesekali.

Iklan

2 pemikiran pada “Pagi di Pantai

  1. cerpen yang menarik, cerita tentang langkah panjang yang juga pendek,
    cuman yg masalah nyeleweng, ternyata di tempat-tempat yang jauhpun ada itu namanya nyeleweng (dasar laki-laki) Eh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s