Kamar Bunuh Diri

UNTUK DIPERHATIKAN: ini adalah cerpen karya Zaim Rofiqi yang dimuat di Koran Tempo edisi 22 Juni 2088

I. Ruang Kamar
Kau tentu mengira kamar itu kecil. Terlalu sempit sehingga membuat pikiran sumpek, udara mampet, angan-angan mandek?
Salah. Kamar itu cukup luas, sekitar 3 x 4 meter, cukup untuk menampung lebih dari dua orang. Dindingnya terbuat dari batu bata dan kayu, dengan cat putih yang sudah mulai mengelupas dan berbercak. Langit-langitnya juga tidak terlalu rendah, cukup tinggi untuk menggantungkan mimpi dan angan-angan. Lantainya yang bersih terbuat dari marmer, cukup nyaman dan kokoh untuk dipijak. Dua buah jendela, dengan ukuran yang hampir sama, masing-masing dengan horden berwarna biru, menghampar di dinding, satu di sebelah kanan pintu masuk, satu lagi di sebelah kirinya. Di atas salah satu jendela itu, terpajang dua buah ukiran nama yang terbuat dari kayu: ukiran nama Sang Ketua dan Wakilnya.

Kau menduga kamar itu kosong? Terlalu lompong sehingga terasa begitu lengang? Salah. Di situ ada sebuah lampu, cukup terang untuk membunuh kelam, cukup besar untuk menerangi seluruh sudut ruangan. Dua buah kursi kayu dengan sandaran yang kokoh, masing-masing cukup kuat untuk menopang beban satu-dua orang.

Ada juga sebuah lemari kayu di salah satu sudut kamar, dan di dalam lemari kayu itu tiga buah topi, sebuah payung, dan beberapa pakaian yang cocok untuk cuaca dingin dan panas, untuk musim kemarau dan penghujan. Sebuah cermin terpasang di dinding di sebelah kiri lemari itu, sebuah cermin yang setia memantulkan semua hal, semua benda yang ada di situ, termasuk ukiran nama Sang Ketua dan Sang Wakil itu. Sebuah kalender menggantung di samping cermin itu, sebuah kumpulan tanggal yang menandai hari, menandai pergantian siang dan malam. Juga ada sebuah dipan yang tidak begitu besar, sebuah selimut, sebuah kasur, cukup nyaman untuk melentangkan badan, menghilangkan penat di waktu siang, senja, maupun malam.

Kau berpikir tidak ada buku-buku, tidak ada gambar-gambar, tidak ada catatan-catatan? Salah. Di salah satu sudut kamar itu berdiri rak buku yang terbuat dari bambu. Dan di dalam rak buku itu berjajar buku-buku tentang rembulan, matahari, bintang-bintang, cinta, mimpi, harapan, kisah perjalanan. Sebuah meja, dan di atas meja itu sebuah dompet, sebuah telepon seluler, sebuah foto dalam bingkai rotan yang terpelitur mengilat (semua wajah yang ada di dalamnya tersenyum), sebuah patung burung berukuran kecil, sebuah gelas plastik, sebuah tempat pulpen dengan beberapa pulpen di dalamnya, dan beberapa lembar kertas putih kekuningan. Sebuah kunci menggantung di laci meja itu, dan di dalam laci itu sebuah buku agenda. Kau pasti tak menduga alamat-alamat atau nama-nama siapa saja yang ada di dalamnya.

II. Orang-orang
Kau mengira tidak ada orang-orang? Tidak ada percakapan? Kau berpikir ia tidak punya saudara, tidak memiliki kawan atau kenalan sehingga sepi begitu menekan, lengang menjadi beban, kesunyian tak tertahankan? Kau menganggap tempat itu, bangunan itu, ruang itu, kamar itu pasti telah ditinggalkan, telah diabaikan, sehingga diam di situ, tinggal di situ tak tertahankan?

Salah. Di depan kamar itu, di sebuah ruangan, seorang laki-laki dan seorang perempuan–mungkin sepasang suami istri, mungkin sepasang kekasih, mungkin hanya sepasang sahabat karib–tampak bercakap pelan, mungkin mereka menerka-nerka runtutan kejadian. Di sebuah ruangan yang lain, di samping kiri kamar itu, beberapa orang sibuk mempersiapkan berbagai hal yang diperlukan untuk mengurus mayat si korban. Di sebuah ruangan yang lain, di atas kamar itu, tiga atau empat orang terdengar bercakap pelan, aku yakin mereka juga sedang membicarakan kematian si korban. Di ruangan yang lain, di bawah kamar itu, juga terdengar suara beberapa orang dalam percakapan, mungkin mereka menerka-nerka sebab atau alasan kejadian itu. Di luar, mungkin dari sebuah rumah peribadatan, berkali-kali terdengar pengumuman yang memberitahukan kematian itu.

Di samping mayat si mati, seorang perempuan, dengan mata bengkak karena air mata, terus-menerus memeluk mayat itu, memekik-mekik seperti tak mau ditinggalkan. Di atas dipan, dua remaja berusia belasan menangis berpelukan. Beberapa orang dalam baju seragam juga ada di sudut ruangan, wajah mereka tampak kusam, murung, muram, seperti merasa kehilangan. Beberapa orang, laki-laki dan perempuan, juga terus berdatangan, mungkin memastikan bahwa mereka telah ditinggalkan. Kau tentu tahu mengapa perempuan itu terus-menerus memeluk si korban, dua remaja itu menangis berpelukan, saudara, atau kawan, atau kenalan terus berdatangan dan seperti tak rela ditinggalkan. Kau tentu tahu mengapa mereka semua ada di sisi si korban.

III. Wajah Si Mati
Kau beranggapan bahwa ia pasti begitu tertekan? Bahwa ia begitu sarat beban? Kau berpikir ia pasti memikul masalah besar? Kau mengira ia pasti tersuruk dalam kesedihan yang begitu mendalam sehingga memutuskan untuk menyudahi kehidupan? Tapi bagaimana dengan wajah itu? Mata itu? Bibir itu? Bibirnya menyungging senyuman, segaris senyuman tipis dan samar–kau tentu tahu apa artinya sepasang bibir yang menggariskan senyuman.

Dan matanya tak membelalak lebar. Katup matanya juga tak mengatup rapat seperti orang yang tertekan, ketakutan, atau menahan beban. Mata itu sedikit terbuka, segaris celah yang pernah menghubungkannya dengan dunia. Kau pasti menduga-duga apa saja, wajah-wajah siapa saja, yang terbayang di sana.

IV. Pintu
Ia mengalami kebuntuan? Tidak ada jalan ke luar? Tapi bagaimana dengan pintu itu? Pintu itu tak terkunci, selalu terbuka lebar, dan di daun pintunya tidak terdapat grendel kunci atau palang kayu. Dan di situ juga tak ada yang menghalanginya ke luar. Pintu itu cukup lebar, cukup untuk dilewati satu dua orang. Dari pintu itu ia bisa leluasa ke luar masuk kamar, berpindah dari satu ruangan ke ruangan yang lain.

Tak ada tujuan? Pintu itu tak membawanya ke mana-mana? Salah. Dari pintu itu, berbelok ke kanan, terdapat sebuah tangga kayu yang menurun. Sebuah tangga yang akan membawanya ke sebuah halaman di depan bangunan itu. Dan halaman itu tak berpagar. Tak ada pagar yang mencegahnya dari jalan-jalan di sekitar. Ia dapat dengan leluasa memilih jalan kecil atau jalan besar yang akan membawanya ke utara atau ke barat, ke selatan atau ke timur.

Dari pintu itu, ke sebelah kiri, juga ada sebuah tangga menurun yang terbuat dari kayu dan bambu. Dan dengan melewati tangga itu ia akan sampai di sebuah ruangan yang cukup besar, dan dari ruangan itu ia bisa berjalan ke luar, melewati koridor demi koridor, gang demi gang, kecil dan besar, yang akan membawanya ke sebuah lapangan besar di belakang bangunan itu. Dari lapangan itu ia bisa memilih berbagai jalan, berbagai cabang jalan, kecil atau besar, untuk sekadar mendapatkan udara segar, atau sekadar mendapatkan pemandangan lain.

V. Jendela
Tidak ada yang bisa dilakukan? Tidak ada harapan? Tapi bagaimana dengan dua jendela berhorden biru itu? Dua buah jendela itu–dua-duanya terbuka lebar, dan masing-masing hordennya tersibakkan–menghamparkan panorama-panorama yang lain, hamparan-hamparan yang lain, pemandangan-pemandangan yang lain di luar bangunan, di luar ruangan, di luar kamar itu:

Dari jendela sebelah kiri, terlihat beberapa orang, beberapa tukang, sedang mendirikan bangunan. Sebuah kebun, dengan pohon mangga, rambutan, jambu, dan pisang yang sedang ber-kembang–dan mungkin tak sampai dua bulan pohon-pohon itu akan menghasilkan buah-buah segar. Sebuah persawahan dengan padi yang siap panen. Sebuah lahan penggembalaan, dan di sana tampak beberapa pasang kambing yang sedang bersetubuh–dan mungkin dalam waktu beberapa bulan mereka akan menghasilkan keturunan.
Dari jendela sebelah kanan, menghampar cakrawala luas, mungkin tanpa batas. Sebuah jalan besar membelah cakrawala itu. Sebuah jalan besar yang tentu menawarkan banyak cecabang jalan yang akan membawanya ke kota, atau ke mana pun yang ia suka. Di sebelah jalan itu, menghampar sebuah sungai tidak begitu besar dan arusnya tidak begitu deras. Sebuah sungai yang bisa membawanya ke samudra.

Kedua jendela itu juga cukup lebar untuk masuk dan ke luarnya udara segar, juga cahaya. Kau bahkan bisa mengatakan bahwa tanpa lampu, di waktu pagi, siang, atau senja, kedua jendela itu cukup memberi terang pada seluruh sudut ruangan kamar.

VI. Meja, Pulpen, Kertas
Kau berpikir seharusnya ada catatan yang memberi tahu kita sesuatu? Catatan-catatan yang mungkin memberi tahu kita tentang runtutan peristiwa, catatan-catatan yang mungkin membantu kita menyusun urut-urutan kejadian, catatan-catatan yang memudahkan kita menarik kesimpulan? Tapi bagaimana jika aku katakan tidak ada catatan sama sekali? Buku agenda yang ada dalam laci itu hanya memuat nama-nama, alamat-alamat, nomor-nomor telepon, jadwal kerja. Dan beberapa lembar kertas putih kekuningan itu menghampar tenang di atas meja, kosong, bersih, tanpa coretan. Di pakaiannya juga tak ditemukan apa-apa. Hanya beberapa lembar uang kertas di saku bajunya, beberapa kartu nama di kantong belakang celananya, dan sebuah kunci di kantong depan celananya.

VII. Kalender
Aku yakin kau menganggap peristiwa itu sudah ditentukan. Aku yakin kau mengira kejadian itu sudah dipastikan. Tapi bagaimana jika ternyata tak ada penentuan? Tak ada tanda-tanda yang memastikan suatu kejadian? Kalender yang menggantung di samping cermin itu bersih, semua angka tanggal yang ada di situ menghampar begitu saja di atas kertas bergambar awan dan matahari. Tak ada tanda, tak ada bulatan atau stabilo pada salah satu atau beberapa angka tanggal, dan di bawah tanda bulatan atau stabilo itu beberapa baris kata yang menunjukkan suatu rencana, petunjuk akan terjadinya suatu peristiwa.

VIII. Selamat Tinggal
Kau berpikir seharusnya ada alasan-alasan yang memberi tahu kita sesuatu? Kau berpikir seharusnya ada sebab, ada dalih, ada pemicu, ada alasan yang mungkin dia pendam dan diam-diam ia tuliskan pada secarik kertas atau ia selipkan pada sebuah amplop, sebuah alasan yang mungkin suatu ketika pernah ia katakan kepada seorang kawan atau kenalan, alasan-alasan seperti: “Hidup sekadar singgah minum di perjalanan”, atau “Hidup hanya menunda kekalahan, tambah terasing dari cinta sekolah rendah. Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan, sebelum pada akhirnya kita menyerah”? Kau mengira seharusnya ada alasan agar semua pertanyaan mendapatkan jawaban?
Tapi bagaimana jika aku katakan tidak ditemukan alasan sama sekali? Bagaimana jika ternyata tidak ada alasan sama sekali? Di seluruh ruangan kamar, tak ditemukan amplop yang berisi secarik dalih atau alasan yang mungkin bisa menjawab berbagai pertanyaan. Dan dia juga tidak pernah berpesan kepada saudara, kawan atau kenalan. Di tengah isak dan tangisan, dua remaja belasan itu hanya bergumam, “Ia tak mengatakan apa-apa. Ia tak pernah berpesan apa-apa.” Orang-orang dalam baju seragam itu saling berkemam pelan, hampir tak terdengar, “Ia tak pernah berkata bahwa ia punya suatu rencana.” Di sela tangisnya, perempuan itu hanya berkata, mungkin untuk dirinya sendiri, “Dia selalu terbuka. Dia tak pernah menyimpan rahasia.”

Memang, kau–dan aku juga–tentu merasa semuanya mungkin akan lebih mudah jika ada suatu dalih, suatu sebab, suatu alasan yang dapat ditemukan, sebuah alasan untuk menjawab pertanyaan mengapa dan kenapa, sebelum dia diam-diam pergi meninggalkan kehidupan, tanpa mengucapkan “selamat tinggal.”

Jakarta, 2008

Catatan: Cerita pendek di atas adalah variasi atas puisi Wislawa Szymborska, “The Suicide’s Room”, dalam Wislawa Szymborska, View with a Grain of Sand: Selected Poems, Faber and Faber: 1996, hlm. 122-123.

Cerpen ini juga terdapat dalam 20 Cerpen Pena Kencana dan buku Zaim Rofiqi terbaru, Matinya Seorang Atheis dari penerbit Koekoesan, 2011.

Baca juga Bidadariku dan Sang Tahanan di blog ini.

Iklan

2 pemikiran pada “Kamar Bunuh Diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s