Interview with Zaim Rofiqi

Tamu saya kali ini adalah Zaim Rofiqi, seorang penulis muda yang karya-karyanya begitu segar. Bulan Juni kemarin ia merilis sebuah buku kumpulan kisah berjudul Matinya Seorang Atheis. Satu novelet dan dua belas cerita pendek mengajak pembaca menjelajah berbagai kisah dari berbagai sudut pandang: keteguhan seseorang menjelang ajal, cerita cermin dalam sebuah kamar, pertempuran di papan catur, pemandangan di halte saat hujan, kekerasan ala ibu kota, Tempat Kejadian Perkara, keresahan mantan narapidana, dan lain-lain dibawakan dalam tulisan dan pemikiran khas Zaim Rofiqi. Berikut adalah obrolan ringan Crimson Strawberry dengan Zaim Rofiqi yang dilakukan via e-mail.

sampul buku Matinya Seorang Atheis

1. Kita mulai dari pertanyaan paling sederhana, sejak kapan suka menulis sastra dan bagaimana awal mula perkenalannya?

Mungkin masa-masa awal SMA (sekarang SMU) adalah masa ketika saya punya sedikit nyali untuk menulis. Di daerah saya, Jepara, ketika pertama masuk SMA ada sebuah tradisi yang disebut Persami (Perkemahan Sabtu Minggu). Persami ini diwajibkan bagi semua siswa-siswi baru sebuah SMA. Kira-kira seperti Ospek saat kita pertama masuk ke sebuah perguruan tinggi. Bedanya, persami ini adalah semacam camping yang dilakukan di lapangan sekolah. Nah, pada saat ikut Persami inilah saya mengalami suatu suasana subtil yang akhirnya mendorong saya untuk menulis (belakangan baru saya tahu bahwa Nietzsche memiliki istilah untuk suasana seperti ini, yakni stimmung: semacam suasana afektif nada-nada, yang ada dalam diri seseorang ketika suatu karya dicipta, dan yang bila berhasil dihidupkan kembali dalam suatu sajak dan/atau prosa akan memunculkan suatu kualitas estetik yang menyentuh). Suasana itu sendiri seperti ini: saat itu adalah tengah malam di malam purnama, dan seluruh siswa-siswi peserta Persami memiliki waktu bebas untuk melakukan apa saja. Saya memanfaatkan waktu bebas itu untuk leyeh-leyeh di atas sebuah tikar besar di depan tenda bersama siswa-siswi yang lain, sambil secara asal-asalan memainkan gitar dan bernyanyi bersama. Sesekali saya memandang ke sekitar dan saya melihat seluruh peserta Persami tampak begitu gembira menikmati waktu bebas di tengah malam itu. Saya mendongak ke atas dan saya lihat bulan begitu sempurna mencurahkan sinarnya, seolah-olah tahu bahwa di lapangan sekolah itu hampir semua orang sedang bergembira. Tiba-tiba, saya merasa (lebih tepatnya: saya ingin) waktu berhenti, dan kegembiraan itu berlangsung selamanya. Untuk seterusnya hingga subuh tiba saya tak tidur, dan apa yang mati-matian saya lakukan adalah berusaha mengabadikan suasana kegembiraan tadi dalam sebuah tulisan. Pada masa ini saya tak tahu (atau tak peduli) apakah yang saya tulis itu sastra atau bukan. Bagi saya, apa yang penting adalah bahwa saya merasa mendapat kebahagiaan (atau kegembiraan) dengan menulis. Sejak saat itu dan untuk seterusnya, saya selalu membawa buku diari (baca: buku catatan) ke mana pun saya pergi.

Awal mula saya mengenal sastra adalah dari buku-buku yang kadang dibawa (atau dikirimkan) paman saya dari Jakarta. Saya ingat kiriman buku pertama yang saya terima adalah 2 buku puisi (Asmaradana karya Goenawan Mohamad; serta Dan Kematian Makin Akrab karya Subagio Sastrowardoyo), 1 buku kumpulan cerpen (Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma karya Idrus), dan sebuah buku novel (Merahnya Merah karya Iwan Simatupang). Saat itu saya masih duduk di bangku SMP, dan umumnya tak begitu memahami apa yang sebenarnya saya baca. Saya hanya membaca dan membaca.

2.Apakah menulis sastra, bagi seorang Zaim Rofiqi, merupakan hobi atau penyaluran ekspresi?

Saya kira semua penulis mulai menulis karena “iseng.” Apa pun definisi iseng itu. Mungkin untuk membunuh waktu, mungkin sekadar coba-coba. Baru kemudian, ketika ia disadarkan oleh keisengannya itu bahwa ia memiliki bakat, ia dihadapkan pada semacam persoalan: menulis sekadar sebagai hobi yang kebetulan bisa menghasilkan uang, atau ada hal lain yang bisa diperjuangkan lewat menulis. Ada penulis-penulis yang menulis sekadar untuk mengisi waktu luang dan hitung-hitung mencari tambahan uang (semacam hobi yang berpenghasilan), dan ada penulis-penulis yang secara sadar menjadikan tulisannya sebagai medium atau alat untuk memperjuangkan sesuatu, misalnya suatu pandangan dunia tertentu. Keduanya sebenarnya sama-sama sah, dan hak masing-masing orang untuk memilih mana yang ia sukai. Namun bagi saya, yang kedua lebih menarik, dan lebih menantang. Lebih menarik dan menantang karena dengan demikian seorang penulis diandaikan harus juga memiliki andil dan peran dalam (memakai istilah yang sedikit hiperbolik) “mengubah dunia” menjadi lebih baik melalui tulisan-tulisannya. Ada sebuah ungkapan menarik, entah dari siapa, yang selalu saya ingat tiap kali menulis: “Kau mungkin tak punya harta dan tahta, tapi kau memiliki pena.” Ya, saya percaya dengan pena setiap orang bisa ikut berusaha melawan ketidakadilan dan kediktatoran, misalnya, dan berjuang menjadikan dunia ini lebih baik, lebih adil.

Persoalan ini sendiri sebenarnya terkait dengan apa yang dalam sejarah sastra di berbagai belahan dunia (termasuk Indonesia) disebut sebagai social commitment (komitmen sosial) bagi mereka yang telah memutuskan menulis sebagai profesinya. Dan di Indonesia sendiri, kita tahu, masalah ini mengakibatkan polarisasi yang begitu tajam dan keras antara kelompok Lekra dan kelompok Manifes Kebudayaan. Di Rusia, masalah ini bahkan mengakibatkan beberapa penulis dibunuh atau dihukum mati, dan banyak karya dilarang.

3. Membaca karya anda bagi saya seperti menikmati musik blues. Padat, rapat, agak berat, kadang kelam, membuat dahi mengernyit dan kadang harus berhenti sejenak untuk bisa mencerna pesan apa yang akan disampaikan, namun entah mengapa tetap terasa enak dan tak bisa berhenti untuk menuntaskannya. Apa benar demikian?

Saya sendiri termasuk orang yang cukup percaya pada pandangan Hans-Robert Jauss dan Wolfgang Iser tentang Resepsi Pembaca (Resepsi Sastra), dan juga pada padangan kaum pascastukturalis (terutama Barthes) tentang Matinya Pengarang. Pembaca, dengan latar belakang sosial, pendidikan, kultural, dan ekonominya masing-masing dapat dipastikan akan sampai pada kesan dan pemaknaan yang berbeda-beda terhadap sebuah teks, termasuk teks buku(-buku) saya. Pengarang, atau lebih tepatnya penulis, langsung “mati” begitu ia/dia menganggap karya(-karya)-nya selesai dan kemudian mempublikasikannya. Posisinya segera berubah menjadi pembaca, yang tafsirannya terhadap karya-karyanya tak lebih “sahih/otoritatif” dibanding pembaca-pembaca yang lain. Karena itu, jika saya ditanya apakah karya-karya saya seperti musik blues, jazz, atau dangdut, jawaban saya selalu adalah bahwa Anda memiliki hak dan otoritas untuk menafsirkan karya saya (dan karya-karya penulis lain) yang sama besarnya seperti pembaca-pembaca lain, termasuk si penulisnya sendiri yang—seperti telah saya katakan di atas—posisinya kini berubah menjadi pembaca. Jangan terlalu percaya jika ada seorang penulis yang merasa paling mengetahui sebuah karya (termasuk karyanya sendiri), dan menjelas-jelaskan apa maknanya.

4. Ada kalimat yang menyebutkan “You are what you write”. Dari tulisan anda, sepertinya Zaim Rofiqi seorang yang serius dan pemikir. Jadi, dapatkah dikatakan tulisan anda merupakan cerminan diri anda?

Ya dan tidak.

Ya jika kita memaknai “you are what you write” secara kiasan: Apa pun yang yang ditulis seorang penulis dapat dipastikan bersentuhan dengan dirinya sendiri, entah itu dalam pikiran/angan-angan, melalui bacaan, melalui penyelidikan/penelitian, dalam kecemasan, dalam harapan, dst. Jika seorang penulis menulis tentang pembunuhan, misalnya, ia mau tak mau harus membayangkan, memikirkan, bahkan jika perlu membuat penelitian tentang berbagai hal, berbagai detail, yang terkait dengan pembunuhan itu.

Tidak dalam artian bahwa seorang penulis tidak perlu memiliki pengalaman langsung tentang apa yang ia tulis. Dengan kata lain, segala sesuatu yang ditulis seorang penulis tidak berarti segala sesuatu itu dialami langsung oleh penulis. Pendekatan biografis dalam melihat karya-karya seorang penulis bisa dikatakan telah usang, untuk tidak mengatakan telah ditinggalkan.

Saya percaya dalam diri seorang penulis yang baik ada berbagai jenis orang, ada berbagai jenis dunia. Jika penulis itu mampu menghidupkan kembali apa-apa yang ada dalam dirinya itu secara wajar dan mendalam, maka akan tercipta sebuah karya yang juga baik dan menarik untuk dibaca, seolah-olah berbagai peristiwa dan suasana yang ada dalam karya-karyanya itu dialami langsung oleh si penulis.

Seorang penulis yang baik memang haruslah juga seorang yang serius dan pemikir, bahkan ketika ia adalah seorang penulis cerita-cerita humor dan komedi. Seorang penulis cerita-cerita humor dan komedi mau tak mau harus memikirkan secara serius bagaimana lelucon-lelucon yang ia tulis tetap segar, tidak klise, dan tidak mengulang. Jika ia serampangan, lelucon-leluconnya akan mudah jatuh ke dalam pengulangan, dan akhirnya jadi lelucon yang nyaris lucu, atau garing dalam bahasa ABG.

5. Pada saat proses kreatif, apa yang dipikirkan atau bagaimana prosesnya sehingga karya Zaim saat di baca terasa mengalir dan kemudian menjadikan ruang cerpen yang terbatas menjadi serasa begitu luas? Dan hampir semua karya anda di buku ini (Matinya Seorang Atheis) begitu detail dan terasa visual. Bagaimana Zaim bisa mendapat deskripsi selengkap itu? Terinsiprasi dari film kah?

Ketika menggambarkan sesuatu (tempat, suasana, orang/karakter, benda, peristiwa, dll.) seorang penulis yang baik pertama-tama dituntut untuk menjadikan apa yang ia tuliskan itu terbayang secara jelas bagi dirinya sendiri, dalam pikirannya sendiri, hingga seolah-olah sesuatu yang ia gambarkan itu bisa dirasa, bisa diraba, dst (teknik seperti ini menurut saya terlihat begitu kuat dalam karya-karya Hemingway). Ia pertama-tama harus membuat dirinya sendiri seolah-olah mengalami secara langsung apa yang digambarkannya itu—jika ia menggambarkan sebuah pembunuhan, misalnya, ia harus memberi kesan seolah-olah dirinya sendiri secara langsung menyaksikan pembunuhan itu, atau bahkan yang melakukan pembunuhan itu, atau yang menjadi korban pembunuhan itu (kalau tidak salah, Hemingway juga pernah menjabarkan teknik menulis dengan kalimat berikut: jika kau menggambarkan rasa buah pir, buatlah seolah-olah pembaca juga sedang memakan dan merasakan buah itu). Jika si penulis sendiri masih merasa kabur dengan apa yang ia gambarkan, bagaimana ia bisa menuntut pembaca merasakan, membayangkan, dan bahkan mengalami apa yang ia gambarkan?

Pengaruh dari film? Bisa ya, bisa tidak. Jikapun ya, saya kira pengaruh itu secara tak langsung, atau tak sadar. Salah satu kelebihan film (dan lukisan dan foto) dibanding karya tulis (cerpen, novel, puisi, dll.) adalah bahwa ia bisa menggambarkan sesuatu (tempat, suasana, orang/karakter, benda, peristiwa, dll.) secara serentak, sementara karya tulis harus menggambarkannya secara sekuensial, secara berurutan, dan karena itu kadang terasa bertele-tele dan melelahkan. Seorang penulis yang baik harus bisa meminimalisir kesan bertele-tele dalam menggambarkan sesuatu itu.

7. Jika main hitung-hitungan, berapa lama kira-kira waktu yang Zaim butuhkan untuk membuat sebuah puisi /cerita pendek?

Tergantung. Bisa dalam sehari dua hari, bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Namun, sebenarnya, bagi saya, sebuah karya yang baik (terutama menyangkut puisi) adalah karya yang tidak pernah selesai. Ia akan terus menghantui penulisnya, hingga si penulis itu merasa “puas,” atau merasa sudah “tak sanggup” lagi meneruskannya. Ia juga terus menghantui pembacanya, dalam artian karya itu menjadikan pembaca ikut aktif dalam proses pemaknaan, dalam proses penulisan kembali, hingga si pembaca merasa bahwa karya itu telah utuh, telah selesai.

Sebuah karya yang ditulis oleh seorang penulis yang baik selalu setengah jadi. Pada pembacalah karya itu menemukan pemenuhannya, hingga bisa dianggap jadi, dianggap selesai.

8. Ada anggapan yang masih beredar bahwa karya yang ekslusif tidak bisa komersil begitu pula sebaliknya, pun begitu dengan nasib kesusastraan. Mungkinkah hal tersebut bisa dikurangi atau di hilangkan sehingga sastra Indonesia bisa lebih maju lagi seperti di negara-negara maju?

Sebenarnya, menurut saya, persoalannya tidak semata-mata apakah karya itu “eksklusif” atau tidak, sastra “tinggi” atau sastra “pop” (istilah-istilah ini sebenarnya kabur, namun terpaksa saya gunakan karena tampaknya pertanyaan di atas mengarah pada dikotomi tersebut). Persoalannya jauh lebih kompleks dari itu, dan juga menyangkut pasar berbahasa Indonesia, tingkat pendidikan, daya beli, dst. Para penulis yang berbahasa Inggris lebih beruntung karena pasar mereka jauh lebih luas, segmen pembeli karya mereka lebih beragam, bisa menjangkau pembaca di luar batas-batas negara mereka sendiri, dan bahkan bisa menjangkau pasar di negara-negara yang tidak berbahasa Inggris. Tidak demikian halnya dengan penulis berbahasa Indonesia: dari kurang lebih 200 juta warganya (baca: pembaca atau calon pembaca), yang memiliki “kemewahan” untuk membeli buku mungkin sekitar 10% (ini hanya hipotesis); dari sekitar 10% itu, yang mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi dan karena itu memiliki selera terhadap karya-karya sastra “tinggi” mungkin hanya sekitar 1% atau  bahkan kurang; dan seterusnya, dan seterusnya, hingga angkanya semakin mengecil.

Salah satu cara agar sastra Indonesia lebih menjanjikan dari sisi komersil tentu saja dengan meningkatkan kemakmuran ekonomi warga berbahasa Indonesia (para pembaca atau calon pembaca), dan dengan demikian meningkatkan daya beli warga negara Indonesia. Hal lain yang tidak kalah pentingnya dibanding peningkatan ekonomi tersebut adalah penyebarluasan kesadaran tentang pentingnya pendidikan, terutama pendidikan di tingkat perguruan tinggi.

9. Anda pernah diundang dan menghadiri lokakarya dan perjemahan karya sastra Hungaria di Hungaria. Bisa diceritakan pengalaman selama di sana? Adakah yang bisa diperbandingkan dengan karya-karya penulis Indonesia, baik dari tema, sudut pandang, atau gaya penulisan? Dan dari pengamatan Zaim, bagaimana apresiasi masyarakat di sana terhadap karya sastra di negara mereka?

Jika diceritakan, bisa sangat panjang lebar, dan membutuhkan ruang yang jauh lebih luas ketimbang dalam wawancara. Pengalaman seperti ini sebenarnya sangat cocok dijadikan semacam travel writing (sebuah genre sastra yang sangat menarik dan kurang mendapat perhatian di kalangan penulis Indonesia).  Di sini, jawaban saya mungkin singkat saja: pengalaman di Hungaria amat sangat menarik. Budaya dan tradisi mereka begitu unik dan memikat untuk dipelajari dan diteliti. Mayoritas penduduknya menyukai dan sangat menghargai seni dan sastra. Bahkan, dalam kesan saya, mayoritas penduduknya kurang menyukai politik, sehingga mereka menjadikan seni dan sastra sebagai saluran (untuk tidak menyebut pelarian) kegelisahan mereka. Kita tahu, Hungaria sangat lama ada di bawah pengaruh Komunis Soviet, dan mungkin karena itu mereka agak acuh-tak acuk terhadap politik.

Dalam hal sastra, dari karya-karya yang sejauh ini telah saya baca, mereka juga tidak jauh berbeda dari Indonesia, dalam artian bahwa tema, sudut pandang, atau gaya penulisan dalam kesusastraan mereka begitu beragam, dan menarik untuk dijadikan bahan pelajaran bagi semua penulis. Yang juga menarik, sastra Hungaria juga memiliki semacam Chairil Anwar dalam diri penyair Attila József:  simbol kebohemianan dan kecemerlangan dalam sastra, khususnya puisi. Attila József meninggal karena tertabrak kereta api—sebagian kalangan menganggap ia bunuh diri, sebagian yang lain berpandangan bahwa peristiwa itu murni kecelakaan.

10. Selain menerbitkan karya sendiri, anda juga menerjemahkan buku dari beberapa penulis luar. Tantangan apa yang anda dapat selama prosesnya dari masing-masing buku? (Di samping kejelian mengalihkan bahasa supaya pembaca bisa menangkap dengan jelas pesan dari penulis bersangkutan)

Salah satu hal yang paling menarik dari menerjemahkan tentu saja adalah bahwa si penerjemah bisa secara mendetail membaca sebuah karya, dan belajar banyak hal dari si penulis karya itu. Dalam menerjemahkan seseorang bisa belajar sekaligus mendapatkan penghasilan.

Tantangannya, dan hal ini tak kalah menarik, adalah bagaimana menjadikan karya terjemahan itu lebih bagus dan lebih cemerlang dibanding karya aslinya. Saya ingat sebuah ungkapan dari Jorge Luis Borges (selain penulis, Borges sendiri juga adalah seorang penerjemah yang andal), yang menurut saya layak dijadikan pegangan bagi setiap penerjemah: “The original is unfaithful to the translation.” Ya, sekali lagi, tantangan terbesar bagi seorang penerjemah adalah bagaimana membuat karya terjemahan lebih bernas, lebih cemerlang, lebih hidup dibanding karya aslinya, sehingga seolah-olah karya asli tampak inferor dibanding karya terjemahan. Karya asli telah melakukan penyimpangan terhadap karya terjemahan.

Bagi saya pribadi, menerjemahkan sama asyiknya seperti menulis: dalam kedua aktivitas ini, kita sama-sama dituntut untuk kreatif dan orisinil dalam berbahasa.

11. Setahu saya Zaim adalah salah satu penulis yang lahir dari perjuangan menembus media sebelum merilis buku sendiri. Menurut anda adakah alternatif lain selain itu?

Salah satu faktor yang membuat media (baca: surat-surat kabar) masih menarik untuk dijadikan sarana mempublikasikan karya adalah karena mereka memberikan honor, suatu hal yang masih sangat dibutuhkan oleh para penulis Indonesia dewasa ini. Selain itu, dengan dimuat di media, penyebaran dan sosialisasi karya kita jadi lebih mudah dan lebih murah. Hal ini tidak berarti bahwa seluruh karya yang dimuat di surat-surat kabar selalu adalah karya-karya yang bagus. Perlu diingat: pemuatan di sebuah surat kabar (lokal maupun nasional) tidak lantas serta-merta menjadikan/menjamin kualitas karya itu bagus. Pemuatan bukan standar untuk menentukan kualitas sebuah karya.

Namun, dengan adanya Internet sekarang, sebenarnya peran surat kabar sudah tidak terlalu dominan. Internet adalah alternatif yang sangat menjanjikan untuk publikasi dan sosialisasi karya dibanding surat-surat kabar. Masalahnya, sangat sedikit—untuk tidak menyebut tak ada—situs di dunia maya yang memberikan honor, sehingga para penulis agak malas untuk memuat karya-karyanya di dunia maya.

12. Saya pernah membaca beberapa testimoni tentang bagaimana seorang pembaca bisa tiba-tiba begitu tertarik dan terobsesi pada filsafat setelah membaca Supernova dan Dunia Sophie, ada pula yang tertarik pada politik-sejarah-politik setelah membaca karya Pram dan Ayu Utami, juga sesorang tertarik pada antropologi setelah melahap buku Remy Silado (saya tidak tahu mereka terus mencari atau berhenti dibuku dan penulis itu saja). Yang ingin saya tanyakan, menurut Zaim sejauh mana sastra bisa mempengaruhi pandangan seorang individu, sekelompok komunitas, atau sebuah masyarakat?

Menurut saya, pengaruh yang didedahkan oleh sastra sebetulnya lebih mendalam, lebih subtil, lebih langsung dibanding pengaruh yang dilesakkan oleh risalah pemikiran atau traktat filsafat. Berbeda dengan traktat pemikiran atau risalah filsafat yang lebih banyak berkenaan dengan abstraksi dan konseptualisasi, sastra bersentuhan langsung dengan hal-hal yang riil, individu-individu yang khas, apa-apa yang inderawi, hal-hal yang unik, segala sesuatu yang tak bisa terangkum dalam abstraksi dan konseptualisasi. Abstraksi atau konseptualisasi selalu bersifat totaliter dan menyeragamkan: ia mengabaikan kekhasan dan keunikan yang ada dalam suatu hal, suatu benda, seseorang, suatu peristiwa, dst. Sastra merayakan itu semua.

Kita tentu jarang sekali—untuk tak menyebut tidak pernah—mendengar atau melihat seseorang yang menangis, terharu, marah, gusar, sedih, murung, karena membaca traktat pemikiran atau risalah filsafat. Namun sangat sering kita melihat atau mendengar seseorang (mungkin kawan kita, atau kita sendiri) yang menangis atau terharu membaca sebuah puisi, cerpen, atau novel. Salah satu contoh yang sering dikemukakan tentang bagaimana kuatnya pengaruh karya sastra pada individu dan masyarakat adalah peristiwa pembunuhan John Lennon oleh Mark David Chapman. Pada malam pembunuhan itu, di jaket Mark David Chapman ditemukan buku The Catcher in the Rye karya JD Salinger, yang di dalamnya ia bubuhkan kalimat: “Inilah pernyataan saya.” Ketika diadili,  Mark David bahkan membaca salah satu bagian dari novel itu sebagai semacam pembelaannya.

13. Ada penulis yang berniat menginformasikan, menerangkan dan/atau menjelaskan suatu hal tertentu agar pembaca bisa mengetahui hal tersebut secara lebih jelas. Namun ada juga penulis yang justru memancing pembaca supaya mereka tertarik untuk mencari lebih jauh dan dalam lagi tentang hal yang penulis tersebut sampaikan. Anda termasuk yang mana?

Ketika menulis, seorang penulis secara sadar atau tak sadar selalu membayangkan siapa saja yang akan membaca tulisannya, atau siapa saja yang “seharusnya” membaca tulisannya. Inilah yang disebut oleh Hans-Robert Jauss and Wolfgang Iser sebagai Ideal Reader. Dan saya selalu membayangkan pembaca adalah orang-orang yang cerdas, dan karena itu tidak perlu diberi penjelasan atau diterang-terangkan mengenai apa pun—apalagi menyangkut amanat dan pesan moral.

Bagi saya, seorang penulis yang baik hanya memancing imajinasi pembacanya, hanya membeberkan suatu cerita yang memantik imajinasi pembaca, dan kemudian membiarkan pembaca meneruskan dan memaknai sendiri apa yang telah ia dapatkan dari apa yang ia baca itu. Seorang pencerita yang baik hanya bercerita, dan tidak memasukkan pandangan pribadinya ke dalam cerita itu, apalagi berkhotbah tentang apa yang baik dan apa yang buruk, atau apa yang seharusnya dilakukan oleh para tokoh ceritanya. Hal ini karena setiap pembaca dapat dipastikan akan memiliki respons, memiliki imajinasi, memiliki tanggapan, yang berbeda-beda ketika menghadapi sebuah cerita yang sama. Selain itu, sebuah cerita yang hanya bercerita—dan tidak berkhotbah—justru sangat menghargai pembaca karena dengan demikian pembaca ikut aktif dalam membayangkan dan memaknai cerita itu, dan ikut terlibat dalam proses penulisan (kembali).

14. Saya jadi teringat salah satu tulisan anda di Majalah Tempo yang membahas dan mengusulkan penggunaan DIA dan IA sebagai sebagai kata ganti orang ketiga seperti SHE dan HE dalam bahasa Inggris. Tahun 2001, dalam cerpen Hujan, Senja, dan Cinta, Seno Gumira Ajidarma juga memberi tahu pembaca mengenai penggunaan kata ganti ini untuk memudahkan pembaca memahami cerita yang beliau buat. Iseng-iseng saya cari penggunaan kata dia dan ia sebagai kata pengganti tersebut di buku anda, namun tak satu pun saya menemukan kata ‘DIA’ sebagai kata pengganti ketiga perempuan, padahal dalam cerpen, sebut saja, BIDADARIKU jelas-jelas membahas tentang seorang perempuan. Adakah penjelasan untuk hal itu? Tidakah menurut Zaim penggunaan ‘Ia’ dan ‘Dia’ dalam buku anda seperti yang diterapkan Seno dalam cerpennya lebih efektif untuk menyadarkan pembaca tentang hal ini?

Semua cerpen (dan satu novelet) yang ada dalam Matinya Seorang Atheis itu saya tulis sebelum saya menulis esai Dia dan Ia (Majalah Tempo, 08 Maret 2010). Awalnya saya berniat mengubah kata “ia” dan “dia” yang ada dalam buku saya ini agar sesuai dengan apa yang saya usulkan dalam kolom Dia dan Ia itu. Namun setelah mempertimbangkan berbagai hal, terutama faktor jejak sejarah, saya akhirnya membiarkan semua cerpen yang ada dalam kumpulan itu apa adanya, sebagaimana saya pertama kali menulisnya.

Saya sendiri masih beranggapan bahwa perubahan konvensi berbahasa menyangkut kata “ia” dan “dia”  (kata “ia” mewakili orang ketiga laki-laki; kata “dia” mewakili orang ketiga perempuan) akan menjadikan bahasa Indonesia semakin efektif dan efisien, baik dalam penulisan maupun dalam percakapan. Saya sendiri telah dan akan terus menggunakannya untuk tulisan-tulisan saya yang saya tulis setelah saya menulis kolom Dia dan Ia itu, apa pun jenis tulisannya.

Ya, saya sangat setuju bahwa sastra adalah medium yang sangat baik untuk menyebarluaskan dan membiasakan perubahan konvensi itu bagi para pemakai bahasa Indonesia. Selain melalui karya sastra, medium lain yang juga sangat efektif adalah keluarga dan sekolah-sekolah, terutama TK dan SD.

15. Menurut Zaim, perlukah diadakan semacam ajang penghargaan untuk sastra yang cukup bergengsi selain Khatulistiwa Literary Awards?

Perlu. Semakin banyak penghargaan, semakin baik. Apa pun motif penghargaan itu, atasnama lembaga ataupun atasnama individu. Jika penghargaan sastra di Indonesia lebih banyak, maka akan ada persaingan, dan persaingan selalu meningkatkan kualitas, baik kualitas penghargaannya maupun kualitas yang diberi penghargaan. Selalin itu, insentif untuk menulis pun menjadi semakin besar. Saya selalu membayangkan dan memimpikan di Indonesia menulis bisa menjadi profesi yang layak untuk dijadikan sebagai sandaran hidup, sebagaimana yang terjadi di negara-negara lain, terutama negara-negara berbahasa Inggris.

16. Setelah menulis puisi, cerpen, dan esai, adakah rencana membuat novel?

Untuk saat-saat ini belum ada. Entah suatu saat nanti.

17. Siapa tokoh yang ingin anda temui? Dan pertanyaan apa yang akan anda ajukan padanya? (hanya satu pertanyaan)

Mahmoud Darwish, Marguerite Yourcenar, Jorge Luis Borges, TS Eliot, dan Wislawa Szymborska. Mengapa mereka bisa begitu cemerlang?

18. Pertanyaan terakhir, jika anda diberi kesempatan untuk bertemu pejabat tinggi negeri ini dan memintanya membaca satu judul buku. Siapa tokoh yang anda pilih dan akan menyuruhnya membaca buku apa?

Saya sebenarnya agak malas bertemu pejabat. Lebih asyik bertemu para seniman, dalam dan luar negeri.

=================================================

Anda dapat menyapa Zaim Rofiqi di akun facebook-nya

Iklan

6 pemikiran pada “Interview with Zaim Rofiqi

  1. Wah, gagasan yg menarik dari Zaim Rofiqi… saya share ya… 🙂
    kalau beli n punya bukunya, sya harus plus beli dengan buku puisinya “Lagu cinta para pendosa” (tp udah baca pinjem dari temen,hehe)

  2. Saya setuju pendapat Zaim ini: Jangan terlalu percaya jika ada seorang penulis yang merasa paling mengetahui sebuah karya (termasuk karyanya sendiri), dan menjelas-jelaskan apa maknanya.

  3. menurutku mas Zaim ini Cemerlang. samalah dgn Darwish, TS Elliot dn yg lainnya (tkoh yg dikagumi).
    Filsuf yang nyeniman. Dengan gayanya yg nyentrik patut ditelisik. namun dia tetap seorang pemikir yang ketat dan terlebih Humanis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s