Protes

Tak perlu lagi kutanyakan apa salahku selama ini padamu, sebab jika sekali saja, ku ulangi dan tegaskan, sekali saja pertanyaan itu terucap dari mulutku, aku bisa muntah seketika. Ragaku sudah kembung dengan kegombalanmu. Kebohongan manis yang kau ucapkan melalu para suruhanmu, juga yang merasa menjadi suruhanmu. Mereka menjejali pikiranku, juga yang lainnya, dengan janji-janji palsu, bahwa kau adalah penerang, bahwa kau adalah harapan, bahwa kau adalah sandaran, bahwa kau adalah pusat kehidupan, bahwa kau mencintai, bahwa kau menyayangi tanpa kecuali. Juga bahwa kau tak memenuhi apa yang diinginkan, tapi memberikan yang dibutuhkan untuk kebaikan yang bersangkutan. Dan aku percaya semua, ku telan semua mentah-mentah. Ku lakukan segala yang kau haruskan, ku jauhi dan tinggalkan apa yang tidak kau perbolehkan. Ku berikan seluruh hidupku padamu, bahkan kurajamkan simbol kebesaranmu, di pergelangan tangan, di dada, dan di leher, agar dalam setiap detak dan denyut kehidupanku selalu diingatkan untuk selalu menyebutmu, mengingatmu, merasa dekat denganmu.

Ku turuti pula perkataan mereka, ku abdikan hidupku padamu, menjadi pelayanmu, perpanjangan tanganmu. Ku raih orang-orang yang melenceng dari jalur yang kau tetapkan, orang-orang yang bosan dengan peraturan yang kau terapkan kemudian sejenak mencari kesenangan dan tersesat, tak ingat jalan pulang.

Dalam setiap doa yang kupanjatkan, aku tidak pernah minta macam-macam, cukup kehidupan yang layak bagi istri dan dua anakku. Aku tak menginginkan harta berlimpah, tak ingin kedudukan yang tinggi. Cukup mereka dapat makan tiga kali sehari, pakaian yang layak yang dikenakan, dan pendidikan yang baik agar mereka tidak sepertiku sebelum mengenalmu. Menjadi bajingan murahan.

Namun doa tinggal doa, usaha tinggal usaha. Kehidupanku tak juga beranjak dari tempat semula, diam di tempat, bahkan bergerak mundur, berputar ke bawah. Karena rajaman di tubuhku, aku diberhentikan dari tempat bekerja. Atasan bilang bahwa orang-orang di sekitar merasa tak nyaman melihat simbolmu tercap ditubuhku yang mantan brandal. Tak apa. Itu yang ku bilang padanya. Ini adalah ujian, karena kau menyanyangiku dan semua yang ada di dunia ini milikmu. Kau bisa memberi pada siapa saja dan kau bisa mengambil dari siapa saja. Ia hanya tertawa. Tak apa.

Lalu kau memberikanku benda terkutuk itu. Senjata pembunuhmu yang kau serahkan padaku dalam kemasan manis dan rapi. Kau buai diriku dengan mainanmu, agar aku makin memujamu, agar aku semakin mencintaimu. PALSU! Seharusnya aku sudah menduga kau punya rencana atas ini semua.

Inikah yang kau sebut memberikan apa yang di butuhkan? Aku memang bajingan, namun tak pernah sekalipun terlintas dalam pikiranku untuk menghabisi kehidupan orang lain!

Hidup istri dan dua anakku kini terlantar di luar sana. Sementara di sini, di tempat terkutuk ini aku terkurung tanpa tahu apa yang harus kulakukan.

Tadi siang salah satu pencinta setiamu mengunjungiku, menceramahiku panjang lebar. Pecintamu bilang kekasihmu tidak diturunkan semata-mata ke bumi untuk membebaskan umatnya dari penderitaan, ia datang untuk mengajari kami, umat biasa, bagaimana cara menanggung penderitaan tersebut. Ku katakan bahwa mungkin ia dan kau mengingkan penderitaan ini di berikan padaku. Ia menghardik bahwa kau tak ada kaitan dengan kejadian yang kualami, semua ini hanya kecelakaan hahahahaha…. Ku katakan pada pecintamu bahwa tak ada yang namanya kecelekaan di dunia ini sebab kecelakaan adalah hal yang tak di sengaja, seperti halnya kebetulan, dan manusia beriman tak boleh mempercayai kebetulan, bukan? Karena kebetulan dan kecelakaan adalah sesuatu yang terjadi diluar kehendak, diluar recana. Kau selalu punya rencana, dan kau memilihku untuk melaksanakan rencana yang satu ini tanpa pernah ku tahu. Pecintamu makin marah, ia memintaku untuk meminta ampun padamu. Ku katakan pada pecintamu, jika ini semua kecelakaan, seperti yang ia katakan, kenapa aku harus minta ampun padamu? Bahwa kau kau hanya akan mengampuni siapa saja yang ingin kau ampun dan kau akan menyanyangi siapa saja yang ingin kau sayangi… ia memotong dengan galak, mengatakan bahwa aku tidak boleh terlalu membanggakan diri, karena itu sebuah dosa. Tak kupedulian. Kulanjutkan, sementara para penakut dan pembangkang, pembunuh dan penghasut, penyihir, penyembah berhala dan para pembual… pecintamu makin keras bersuara bahwa kau mengutus kekasihku untuk menyelamatkan bukan menjerumuskan. Tetap tak kudengar. Kalimat yang hendak di potongonya tetap kuteruskan, semua golongan itu akan diceburkan ke dalam lautan berisi api. Aku telah membunuh dan kau cuci tangan atas semua. Pecintamu makin gusar, hei, pecintamu makin gusar, berkata-kata dengan intonasi meninggi menyebut bahwa kau mencintaiku namun bisa menghukum pendosa angkuh sepertiku. Ku katakan padanya dengan nada sama bahwa kau yang mengkhianatiku! Pecintamu tak mampu menahan amarah ia begitu tersinggung, menyuruhku untuk diam atau aku akan langsung dijebloskan ke neraka. Neraka? sindirku. Ya, kau telah membalas cinta dengan neraka. Neraka yang kau ciptakan dalam kepalaku! Dalam dadaku! Rasa bersalah yang terus menggerogoti sampai ke sumsum tulang. Kau telah menyesatkan jiwamu, bantah si pecinta, ia terus berputar di kalimat yang sama, menyuruhku menutup mulut dan segera memohon ampunan terhadap segala yang ku katakan tentangmu. Apa?! Hardiku, mohon ampun supaya dimaafkan?! Ku katakan pada pecintamu dengan lantang, bahwa aku telah melakukan segalanya untukmu, ku berikan semua hidupku untuk kemudian kau khianati. Kau berikan mobil keparat yang kau bungkus dalam kata kasih sayang, dalam kata berkah, dalam kata hadiah itu untuk membunuh orang-orang itu melalui tanganku. Di waktu yang telah kau tentukan, kau atur agar aku melintas di jalan itu saat hari menjelang petang. Kau alihkan perhatianku dengan memperdengarkan lagu-lagu yang memujamu, meninggikanmu. Kau pejamkan mataku saat itu agar aku tak melihat tiga orang yang melintas, sehingga aku menabrak ketiganya. Seorang pria dewasa dan dua anak perempuannya. Salah satu dari mereka masih bernapas sewaktu ku dekati, menatapku, seolah bertanya kenapa ku lakukan ini padanya, dan kau…. Kau sama sekali tak memberiku kekuatan untuk menyelamatkannya. Keparat! Jangan kau pernah menyeranah, bentak pecintamu, marah. Ia tetap bersikukuh bahwa kau sama sekali tak ada kaitan dengan apa yang telah terjadi. Lalu ku balikan kalimat andalan yang selalu ia gunakan saat merayu dan mengajariku dan orang-orang, bahwa kau bahkan tahu saat sehelai saja rambut bergeser di kepalamu. Pecintamu tak lagi membantah, mungkin pikirannya sama denganku saat itu, tak ada gunanya melanjutkan debat yang tak ada akhirnya. Ia hanya berkata bahwa ia akan mendoakanku kemudian meninggalku seroang diri hahahahahahaha….

Dan sekarang, malam ini, usai protesku ini aku berjanji tak akan lagi membencimu, namun aku juga tak ingin lagi mengenalmu. Hidupku harus dan akan terus berlanjut, dengan atau tanpamu. Selamat tinggal.

================================================

Cerita ini diambil dari karater Jack Jordan yang dimainkan Benicio Del Torro dalam film 21 GRAMS, yang saya tulis selepas menontonnya pada tahun 2003 silam. Ternyata cerita ini menemukannya momentnya sekarang, setelah saya membaca cerpen Matinya Seorang Atheis karya Zaim Rofiqi heheheheheh….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s