Monkey Not For Money

Ada satu pemandangan yang sering saya temui beberapa waktu belakangan. Di setiap lampu stop-an, kini tak hanya di isi oleh para pengamen, pengemis, pedagang asongan, atau pun para pe-lap kaca; melainkan ada satu tambahan baru: TOPENG MONYET. Saya tidak tahu apa yang menarik dari atraksi ini, karena monyet yang bisa menirukan manusia kah, atau karena penderitaan yang  harus berdiri dengan dua kaki belakang dan leher di ikat rantai logam menjadi hiburan sekaligus membangkitkan rasa iba bagi yang menyaksikan. Entahlah. Yang jelas, meski saya merasa miris dan tak tega, tapi saya tidak terbersit untuk memberikan uang meski Rp. 100 untuk mereka, sebab saya tidak ingin rasa iba saya justru menambah panjang penderitaan mereka, dan itu pula pesan saya untuk anda yang membaca; rasa kasihan atau (kalau anda berjiwa penindas) terhibur, entah oleh penampilan dari si monyet atau pun manusia yang menggiringnya: JANGAN PERNAH MEMBERI pada mereka. Sampai sekarang saya tak habis pikir, jika atraksi ini merupakan sebuah kesenian, maka tak pantas untuk dilestarikan. Jika atraksi ini sebuah hiburan, mungkin hanya akan terasa lucu bagi kaum barbar yang merasa senang atas kekejaman yang diekspos dalam kelucuan dan gelak tawa. Manusia dan binatang memang beda kasta, tapi (bagi anda yang beragama) mereka juga diciptakan Tuhan dengan hak yang sama untuk bisa hidup bebas di dunia.

================================

semua gambar diambil dari deviantart

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s