Interview With Rama

Tamu saya kali ini adalah Rama Dira, seorang penulis muda produktif yang karya-karyanya sering kita temui di berbagai media cetak. Bulan  Agustus kemarin ia merilis sebuah buku kumpulan pendek berjudul Kucing Kiyoko. Tiga belas cerita pendek tersaji untuk mengajak pembaca menjelajah dan menyelami berbagai hal. Semua dikemas dengan begitu apik, segar, dan penuh kejutan. Berikut obrolan ringan Crimson Strawberry dengan Rama Dira yang dilakukan via email.

1. Sejak kapan Rama Dira suka menulis, dan, sedikit meriview, apa yang pertama anda tulis? (cerpen? Puisi? Prosa? Atau yang lainnya?) Bercerita tentang apa?

Saya mulai menulis terhitung sejak tahun 2000. Tulisan pertama yang berhasil saya selesaikan adalah prosa dalam bentuk pendek alias cerpen dan seterusnya mungkin bentuk tulisan saya tetaplah prosa. Sampai saat ini saya tidak bisa menulis puisi dan sepertinya tidak akan pernah bisa. Saya sudah sering mencobanya namun selalu gagal.

Cerpen pertama saya ini berjudul Tiga Matahari bercerita tentang nasib naas yang menimpa satu keluarga nelayan yang bertemu bajak laut di tengah lautan. Cerpen ini saya tulis di ruang kuliah tanpa referensi apapun. Pemantik imajinasi saya adalah mimpi saya semalam sebelum menuliskan cerpen ini. Tidak ada niatan untuk mempublikasikan pada mulanya dan saya memang tidak percaya diri untuk mengirimkannya ke media massa. Namun karena dorongan seorang kawan, cerpen itu akhirnya saya kirimkan ke Media Indonesia dengan memakai nama samaran yang mendadak saya temukan : Rama Dira. Mengapa saya memutuskan menggunakan nama samaran? Karena itu tadi, saya tidak percaya diri. Jikapun cerpen itu dimuat tapi pembaca menilainya jelek (terutama teman-teman dekat saya), minimal saya aman karena saya memakai nama samaran.

2. Saya, dan mungkin sebagian orang lainnya, percaya pada yang namanya proses, begitu pula dalam menulis. Bahkan salah satu tokoh nasional, saya lupa siapa, barangkali Ki Hajar Dewantara, menyebutkan tiga langkah untuk menjadi bisa adalah: Lihat, Tiru, Kembangkan. Apa Rama Dira juga memberlakukan langkah-langkah yang kurang lebih seperti itu dalam proses menulis? Artinya anda terinspirasi dari penulis yang lebih dulu establish, kemudian meniru/mengikuti gayanya (dalam arti positif, bukan menjiplak), lalu mengembangkannya sehingga tercipta sebuah gaya baru, gayannya Rama Dira sendiri. Atau bagaimana?

Seperti yang saya ceritakan tadi, mulanya saya menulis cerpen mengalir saja tanpa referensi apapun dalam artian, saya tidak terinspirasi oleh pengarang ataupun tulisan lain (ide atau tekniknya). Bisa membuat cerpen yang kemudian dimuat koran membuat saya percaya diri untuk terus menulis dengan segenap bakat yang saya miliki tanpa belajar dari pengarang lain. Saya terus berusaha menulis dengan keyakinan ini sampai waktu enam bulan kemudian terhitung semenjak karya pertama saya dimuat. Meski saya bisa melahirkan beberapa cerpen baru dalam kurun waktu ini, saya merasa cerpen-cerpen tersebut tidak berbobot dan tak layak dianggap sebagai sebuah karya sastra. Kenyataan ini membuat pikiran saya terbuka bahwa mengarang bukanlah pekerjaan main-main. Ada tahapan yang seharunya saya tekuni. Mulai saat itulah saya banyak membaca kumpulan cerita dan novel karya penulis asing maupun penulis Indonesia. Saya membaca Marques, Pram, Seno, Borges, Steinbeck, Coelho, Kawabata, Pamuk, Mishima, Hemingway, Murakami, Kayam, Kuntowijoyo. Inilah beberapa nama pengarang yang karya-karyanya saya baca dan pelajari secara mendalam.

Mengenai pengaruh, tentu saja saya mendapat pengaruh dari mereka ini. Hanya saja, saya tidak secara spesifik mengikuti teknik penulisan atau ide garapan dari hanya satu pengarang. Saya menyerap semua pengaruh baik dari mereka untuk kemudian saya alirkan begitu saja dalam tahap mewujudkan ide karangan yang ada di kepala saya sehingga lahirlah karya saya sendiri yang mudah-mudahan memiliki ciri khas Rama Dira.

3. Banyak penulis sastra justru tidak berlatar pendidikan sastra, termasuk Rama Dira. Menurut anda kenapa demikian? Apakah sastra adalah hal yang mudah untuk di pelajari bagi sebagian orang sehingga bisa dipelajari secara otodidak? Ataukah jurusan sastra bukan sesuatu yang menjanjikan bagi masa depan seseorang? (entah itu anggapan dari orang tua atau pun yang bersangkutan sendiri).

Sebagian besar penulis sastra memang tak berlatar pendidikan sastra secara formal. Ini tak hanya terjadi di Indonesia. Pengarang-pengarang dari luar juga demikian. Mengapa ini terjadi? Saya pikir, menulis karya sastra memang sangat memungkinkan untuk dipelajari secara otodidak meski belum tentu mudah bagi semua  orang. Lantas, mengapa orang-orang yang berlatar pendidikan sastra tak banyak yang menjadi penulis karya sastra? Bagi saya, ini terjadi mungkin karena porsi pembelajaran penulisan kreatif di jurusan sastra yang ada di Indonesia sangat minim. Dengan demikian, seseorang yang belajar di jurusan sastra sekalipun, tidak akan bisa menjadi penulis sastra atau pengarang  jika ia sendiri tak belajar secara otodidak bagaimana menulis karya sastra yang baik.

4. Dalam artikel singkat di buku anda saya membaca bahwa kuliah Rama Dira sempat terbengkalai karena begitu fokus pada urusan menulis. Bisakah berbagai pengalaman menghenai hal tersebut?

Sastra begitu menyihir saya. Saya menemukan kepuasan batin yang tiada banding usai membaca cerpen atau novel yang bagus begitupula seusai membaca petualangan kreatif para pengarang besar. Selain itu, dalam kaitannya dengan proses kreatif pribadi, saya merasa seperti dilahirkan kembali setiap usai melahirkan cerpen. Inilah yang kurang lebih bisa saya gambarkan sebagai latar belakang mengapa saya begitu intens dalam dunia karang mengarang sampai-sampai kuliah saya sempat terbengkalai waktu itu.
5. Karya-karya Rama Dira begitu sering kita baca di berbagai media. Sebenarnya seberapa produktifnya kah anda?

 Cerpen pertama saya terbit tahun 2000. Sempat tak muncul sampai tahun 2002. Tahun 2002 sampai 2004 saya sempat membuat beberapa cerpen dan dimuat beberapa koran. Tahun 2004-2006 saya benar-benar vacum. Barulah tahun 2006 sampai 2007 saya kembali menulis dan beberapa cerpen saya dimuat beberapa koran. Tahun 2007 sampai 2008 karya saya hanya beberapa kali saja muncul di Tabloid Nova. Barulah sepanjang tahun 2008 sampai 2009 saya lumayan produktif. Hampir setiap minggu karya saya dimuat di media massa baik di koran, majalah maupun tabloid. Mulai akhir 2009 sampai sekarang, saya belum menulis lagi karena saya fokus untuk penerbitan dan promosi ‘Kucing Kiyoko’.
6. Rama Dira juga pernah berkolaborasi dengan penulis muda lain, Benny Arnas, dalam cerpen Sesungguhnya Dia Sangat Cemas. Bisa diceritakan proses kreatifnya? Karena kalau beberapa penulis berkolaborasi dalam satu buku itu hal biasa, barangkali masing-masing punya spot sendiri sendiri, sementara dua kepala dalam satu cerita, menurut saya, bukan hal mudah.

Prosesnya bermula dari obrolan santai antara dua pengarang yang tak pernah bertemu muka tapi serasa sudah berkawan lama. Awalnya saya menceritakan sebuah ide cerita yang belum berhasil saya wujudkan dalam bentuk tulisan yang memuaskan. Saya sempat menuliskannya beberapa kali namun tetap saja gagal menurut saya. Versi terakhir dari upaya itu saya kirimkan via e-mail ke Benny untuk meminta masukan. Benny memberikan usulan yang ekstrim diantaranya mengubah jalan cerita, karakter dan ending. Dari sinilah diskusi intens antara kami kembali terjadi dan tercetus ide bagaimana kalau gagasan cerita saya ini kami kembangkan menjadi sebuah karya kolaborasi. Saya meminta Benny menuliskan versi tulisan dari ide dasar saya dan sekaligus memasukkan tawaran-tawaran gagasan yang ia sampaikan. Hasil garapan Benny saya baca dan saya sepakat dengan beberapa tawaran ide yang sekaligus sudah dia masukkan dalam cerita dengan gaya garapan dia.

Sejak awal kami menyadari bahwa Rama Dira dan Benny Arnas memiliki ciri khas yang berbeda dalam menggarap cerita. Tentu adalah hal yang sulit untuk menyatukannya dalam satu karya. Namun, kami tetap maju dan meyakini kami akan bisa mewujudkannya. Beberapa perombakan dan penulisan ulang terjadi sampai kami sepakat untuk melahirkan cerpen yang benar-benar bisa meleburkan ciri khas Rama Dira dan Benny Arnas atau dalam bentuk ekstremnya justru membuatnya menjadi karya baru yang benar-benar tak terasa sentuhan Rama Dira atau Benny Arnasnya. Detail juga sangat kami perhatikan. Penggunaan kata yang sudah menjadi ciri khas masing-masing, kami hindari. Sebagai misal : Benny sempat menuliskan ba’da isya dalam salah satu penggalan kalimat dan langsung saya protes keras dengan argumentasi bahwa kata ba’da itu sudah begitu lekat dengan Benny. Jika ia tetap dipertahankan maka cerpen tersebut akan sangat terasa Benny Arnasnya sehingga ia tak akan terasa sebagai cerpen kolaborasi lagi.
7. Cerpen Kucing Kiyoko lahir dari pengalaman anda dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana dengan beberapa cerpen lainnya dalam buku ini?

Ada satu cerpen lagi yang berdasarkan pengalaman pribadi. Tapi pengalaman pribadi di sini perannya hanyalah sebagai pemantik saja. Cerpen ‘Bertemu Kembali di Kafe Les Blues’ itu saya buat segera setelah sesosok gadis yang cantiknya bukan main, melintas dihadapan saya, sementara saya berjalan sambil menggendong anak saya. Peristiwa berpapasan dengan gadis cantik ini serta merta menyalakan semacam mesin cerita di otak saya yang kemudian melahirkan produk cerita utuh saat itu juga. Serta merta saya tergerak untuk kembali ke rumah dan memberikan anak saya kepada istri dan saya langsung memburu komputer untuk menuliskan cerita yang sudah jadi dalam otak saya itu. Dalam hitungan waktu kurang lebih dua jam, lahirlah cerpen itu.

Cover Asli Kucing Kiyoko

8. Dengan begitu banyak penulis-penulis muda di Indonesia, termasuk anda, menurut Rama Dira apakah itu telah cukup memberikan insentif terhadap sastrakita? Atau kita perlu insentif lain lagi agar semakin marak lagi?

Saya optimis, penulis-penulis yang ada saat ini beserta karyanya cukup menjanjikan bagi perkembangan sastra Indonesia di masa datang. Yang harus dipikirkan untuk membuat sastra semakin semarak adalah bagaimana memasyarakatkan sastra. Tantangannya cukup berat. Karya sastra harus dibaca, sementara aktifitas ini kurang populer di masyarakat kita maka dengan sendirinya karya sastra menjadi kurang populer.    

 
9. Ada penulis yang berkarya berdasarkan data-data, ada penulis yang menulis berdasarkan ingatan, kenangan, pengalaman, pengamatan, dll. Ada pula penulis yang menggabungkan keduanya. Anda termasuk yang mana?

Saya termasuk penulis yang menggabungkan kesemuanya karena bagaimanapun ingatan, kenangan, pengalaman, pengamatan dan data-data, semuanya bisa melahirkan cerita.
10. (masih berkaitan dengan pertanyaan di atas) Sebagian penulis fiksi memasukan data empiris baik dari penelitian sendiri atau pun dari karya orang lain. Menurut Rama Dira bisakah di kemudian hari tulisan fiksi semacam ini dijadikan sebagai referensi/acuan karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan?

Seilmiah apapun tulisan fiksi, ia akan tetap sebagai tulisan fiksi. Data empiris dalam karya yang berlebel fiksi tidak akan kuat bila dijadikan sebagai sumber referensi ilmiah. 


11. Menurut seorang Rama Dira, dalam sastra apakah tema besar itu menentukan nilai sebuah karya? Dalam artian sebuah karya tulisan tidak akan pernah besar kalau temanya tidak besar.

Ada karya sastra yang menjadi besar karena pengarangnya menggarap tema besar. Meski begitu, tidak selalu tema besar menjadikan sebuah karya sastra menjadi besar. Tema-tema sederhana juga bisa menjadikan karya sastra menjadi besar. Besar tidaknya karya sastra tidak semata bergantung pada tema.
12. Kalau saya tidak salah ingat, menurut Arswendo, ‘Mengarang itu gampang’, hal serupa juga di katakan oleh dosen penulisan UI, Ismail Marahimin, bahwa ‘Mengarang itu fun’. Sementara menurut Putu Wijaya mengarang adalah sebuah peristiwa yang khusuk, sunyi, pedih, melelahkan, menyakitkan, membosankan. Sebagaimana seorang ibu yang melahirkan, menulis menjadi sebuah peristiwa yang “menegangkan” tetapi indah dan sakral. Bagaimana dengan pendapat seorang Rama Dira?

Saya lebih sependapat dengan Putu Wijaya. Mengarang ‘karya sastra’ itu susah! Proses yang dilalui cukup menguras energi. Akan tetapi setelah karangan lahir, semua terbayarkan. Tak ada kepuasan bathin yang bisa menandingi kepuasan sehabis melahirkan sebuah karya. 
13. Ada anggapan yang makin sering terdengar “world is getting flat”, semua informasi dapat di telusuri cukup dengan ujung jari. Dalam cerpen Kucing Kiyoko, seting waktu dan tempatnya, anda dapat cukup dengan berburu informasi dari internet. Bagaimana dengan cerpen lain semisal Cerutu Terakhir Milik Tjoe Boen Tjiang atau Verkoper Kompas yang berlatar masa silam?

Kedua cerpen tersebut bisa dikategorikan sebagai cerpen sejarah. Cerpen sejarah tak akan pernah bisa lahir jika penulisnya tak belajar sejarah. Bisa saja seorang pengarang memaksakan diri menulis cerpen sejarah tanpa bekal bacaan sejarah. Meski begitu, cerpen yang lahir tak akan memuaskan pembaca.

Meski tidak begitu intens, saya juga membaca sejarah. Saya lebih menyukai tulisan-tulisan sejarah bergaya populer, seperti tulisan-tulisan Rosihan Anwar dan  Alwi Sahab. Kedua cerpen ini lahir berkat kekuatan imajinasi yang saya kawinkan dengan buah dari pembacaan atas tulisan-tulisan sejarah.
14. Dalam perkembangannya pernah dalam sastra Indonesia keindahan bahasa menjadi tujuan utama seperti dalam masa Pujangga Baru. Namun kemudian bergeser di Angkatan 45, sastra menjadi lebih bebas, lebih dinamis, lebih menggigit. Bagaimana dengan perkembangan sekarang, atau paling tidak dua dekade ini, adakah yang baru atau hanya mengulang yang telah tren sebelumnya?

Sastra Indonesia tak lagi dimonopoli aliran tertentu. Ia kini lebih variatif dalam gaya penulisan maupun tema garapan. Saya tidak melihat perkembangan yang ada saat ini sebagai sebuah pengulangan. Meskipun mungkin ada yang sepintas terlihat sebagai pengulangan sebagai misal pilihan pada lokalitas dalam karangan, saya kira ia bukanlah pengulangan secara utuh. Ia pasti sudah mendapatkan pengaruh dan sentuhan baru.   


15. Menurut Rama Dira, perlukah seorang penulis melibatkan emosi pribadinya terhadap karya/tokoh yang di buatnya, semacam keberpihakan begitu?

Perlu. Jika tidak demikian, penokohan akan menjadi datar dan cerita akan kehilangan rohnya.

Ilustrasi Kucing Kiyoko ala Crimson Strawberry

16. Beberapa waktu lalu Pramoedya berulang kali di majukan untuk menerima penghargaan Nobel kategori sastra. Setelah beliau tiada, menurut Rama Dira adakah penulis Indonesia yang pantas untuk di majukan? Kalau ada, siapa? Kalau belum, kenapa?

Bagi saya, sampai saat ini pencapaian Pramoedya belum tertandingi. Meski begitu saya tetap optimis akan ada pengarang Indonesia yang bisa mencapai level yang pernah dicapai Pram bahkan bisa pula melampauinya. Untuk saat ini, kalau boleh menyebut nama, saya pribadi menjagokan Seno Gumira untuk menjadi salah satu kandidat peraih Nobel Sastra terutama untuk capaian estetisnya dalam cerpen.
17. Para penulis pemula sering menemui dua kendala utama, pertama merasa tak punya gagasan, dan yang kedua sering menunda-nunda apa yang telah terkonsep dalam kepala. Dapatkah Rama Dira memberikan tips untuk mengatasi dua hal di atas?

Orang yang merasa tak punya gagasan, tidak bisa disebut sebagai penulis. Ia lebih pantas disebut sebagai pemalas. Sesungguhnya gagasan atau ilham itu tak perlu ditunggu jatuh dari langit! Tapi, ia mesti dicari. Cara mencarinya bagaimana? Ya, jadilah pembaca yang rakus. Jadilah pendengar yang tak biasa. Jadilah pemerhati yang fokus sampai ke detail-detail. Inilah modal yang harus dimiliki penulis.
18. Salah satu hal penting adalah menumbuhkan kecintaan pada buku yang sangat erat kaitannya dengan minat baca. Menurut Rama Dira hal apa yang harus dilakukan supaya masyarakat Indonesia lebih senang membaca selain memurahkan harga buku dan meningkatkan kesejahteraan dari segi ekonomi dan pendidikan?

Pertanyaan ini sifatnya masih umum. Saya akan mengkhususkan pada minat baca masyarakat akan buku sastra. Pada kenyataannya, sebagaimana pernah dinyatakan Budi Darma bahwa orang-orang yang mencintai sastra pada umumnya adalah para intelektual yang memiliki jiwa estetis khusus. Jumlah mereka ini tidak mungkin banyak. Mereka yang tidak banyak inilah yang menjadi pembaca setia buku sastra. Akan tetapi, jika kesadaran masyarakat akan sastra meningkat maka  jumlah yang sedikit ini tak lagi sedikit.

Sekali lagi, tantangan terbesar yang kita hadapi adalah bagaimana meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya sastra. Sehingga bukan tidak mungkin kedepannya nanti tiras penjualan buku sastra di Indonesia menyamai tiras penjualan buku sastra seperti di Jepang atau Amerika.
19. Menurut Rama Dira, apakah karya sastra itu lahir dari masyarakat atau karya sastra itu merubah masyarakat?

Kelahiran karya sastra tak bisa lepas dari keberadaan masyarakat. Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang dilahirkan oleh pengarang yang mengalami konflik yang keras dengan masyarakat dan jamannya. Penokohan atau perwatakan yang baik hanya dapat terjadi jika pengarang karya sastra merasakan sendiri adanya konflik antara dirinya dengan lingkungan dan masyarakatnya.

Masyarakat terdiri dari individu-individu manusia yang kompleks secara ideologis. Adalah tidak mungkin karya sastra sebagai sebuah produk seni bisa mengubah masyarakat dalam cakupan luas. ‘Mempengaruhi’ individu dalam takaran tertentu mungkin saja bisa. Tapi kalau mengubah masyarakat, rasa-rasanya mustahil.
20. Selepas merilis Kucing Kiyoko adakah proyek selanjutanya?

Belum ada rencana khusus. Tapi saya berandai-andai bisa menerbitkan novel setelah kumcer ini.


21. Jika boleh menyebutkan satu judul buku. Buku apa yang menurut anda ‘Rama Dira banget’? (artinya anda begitu suka dan paling berkesan, menempel dari pertama kali membaca hingga sekarang).

Dataran Tortilla karya John Steinbeck (terjemahan Djoko Lelono). Mulanya buku yang dibeli dari pasar loak ini sempat tak saya hiraukan karena ia begitu lusuh dan kemasan covernya begitu memprihatinkan. Buku milik teman saya ini sudah lama tergeletak di atas meja kost-kostan tempat saya sering bertemu dengan sesama teman pengarang. Suatu kali, karena kehabisan bacaan saya coba-coba membuka buku ini dan mulai membacanya.

Ternyata, buku ini langsung menyihir saya sejak paragraf pertama. Saya membacanya habis, sekali duduk dan sempat pula saya baca ulang beberapa kali di lain waktu. Novel ini adalah novel terbaik yang pernah saya baca. Saya menyukai gagasannya, saya menyukai lokalitasnya, cerita sehari-harinya yang lucu kadang konyol, sekaligus tragis. Penokohannya begitu kuat. Teknik penceritaan Steinbeck yang begitu filmis betul-betul membuat saya ingin belajar banyak darinya. Tentu juga saya harus berterima kasih pada penerjemahnya (Djoko Lelono) yang telah menghadirkan Dataran Tortilla dengan begitu luwesnya dalam Bahasa Indonesia.

22. Pertanyaan terakhir, jika anda berkesempatan membuat kolaborasi lagi dalam menulis, anda ingin berkolaborasi dengan siapa dan apa alasannya?

Saya ingin sekali berkolaborasi dengan Kawabata, membuat sebuah cerpen yang begitu ringkas. Jika bisa berkolaborasi dengannya, saya akan menjadi orang yang paling berbahagia di dunia. Namun sayang Kawabata sudah tak ada dan kalaupun masih hidup, sepertinya ia tak  akan mau diajak berkolaborasi.

======================================================

anda dapat menyapa Rama Dira di akun facebooknya.

Iklan

4 pemikiran pada “Interview With Rama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s