Bondage Cows

Pernah mendengar istilah Bondage? Ya, kata yang dalam bahasa Inggris diartikan sebagai perbudakan ini dikemudian hari lebih dikenal sebagai variasi kegiatan seksual yang merupakan cabang dari kegiatan BDSM, yang (dalam kegiatan manusia) melibatkan kegiatan pengekangan kebebasan. Saat pelakasanaannya kegiatan ini menggunakan peralatan yang dapat melakukan pengekangan terhadap individu seperti tali, rantai, borgol untuk mengikat. Diberbagai situs yang menjual fantasi semacam ini bahkan metodenya berkembang dalam berbagai variasi, contohnya saja dengan memasukan air baik secara anal atau pun frontal dan hal-hal lain yang tak perlu dan tak ingin saya sampaikan di sini. Namun tentu saja dalam pelaksanaanya mereka diawasi oleh para ahli, menggunakan peralatan aman dan telah melalui kesepakatan kedua belah pihak, baik yang bertindak sebagai objek mau pun subjek, bahwa hal yang mereka lakukan semata-mata untuk tujuan bisnis semata.

Dalam kenyataannya tahukah anda bahwa ada praktik yang kurang lebih sama, dengan objek dan tujuan yang berbeda. Objeknya bukan manusia melainkan sapi dan tujuannya bukan untuk tujuan variasi seksual melainkan entah apa, yang jelas di sana ada motif uang.

Beberapa waktu lalu kita dihebohkan oleh tayangan video tentang penyiksaan sapi di beberapa Rumah Potong Hewan (RPH) Indonesia, seperti ditayangkan di program ABC’s Four Corners, tentang penyiksaan terhadap sapi-sapi yang akan di potong. Jujur saya tidak berani melihatnya, barangkali keburu pingsan bahkan sebelum tayangannya diputar, tapi dari berbagai berita yang saya baca, hampir semua menyebutkan, sapi-sapi yang telah diikat tak berdaya itu dicambuki mulai dari kepala hingga sebadan-badan, di tendang, bahkan sebelumnya, di rumah pemotongan hewan yang, dalam tanyangan itu, memprihatinkan membuat para sapi tergelincir licinnya lantai hingga kakinya patah atau ekor putus karena diseret paksa. Belum lagi saat proses pemotongannya mereka dilakukan secara brutal yakni rata-rata dipotong tenggorokannya 10 kali, padahal seharusnya cukup sekali potong. Ada juga yang dicukil matanya atau cuping hidung dituang air. (barangkali kekejaman semacam ini bakal jadi pesaing film Pemberontakan G/30/S/PKI yang legendaris itu ya?)

Jauh sebelum kabar ini mencuat ditemukan pula kasus penyiksaan terhadap sapi dengan metode yang sama tidak beradabnya yakni kasus sapi glonggongan. Hal-hal semacam ini biasanya muncul seiring dengan permintaan daging yang meningkat semacam akhir bulan puasa menjelang Idul Fitri. Berbagai media ramai-ramai menayangkan bagaimana si sapi di glonggong oleh air air secara paksa ke dalam mulut mereka  sebelum disembelih, dengan menggunakan selang air. Jumlah air yang dimasukkan tidak main-main, bisa mencapai 1 drum (± 100 liter ). Proses ini bisa berlangsung hinga 6 jam dan dilakukan hingga sapi tidak berdaya, bahkan sampai mati, setelah itu sapi langsung dipotong.

Jika pada sapi glonggongan motif utamanya sudah jelas karena uang. Yakni oknum pedagang  menginkan keuntungan lebih besar dengan menambah massa daging sapi yang telah di glonggong tersebut. Yang aneh di sini adalah setiap tahun hal serupa selalu terjadi, seolah pedagang, pembeli dan pihak yang berwenang tidak belajar dari yang sudah-sudah. Entahlah.

Sementara untuk kasus penyiksaan di RPH, hal tersebut masih menjadi perdebatan beberapa pihak; perang opini dan tuduhan dari masing-masing pihak berkepentingan baik langsung atau pun tidak, entah itu yang pro atau kontra pun tak terlekan. Mulai dari masalah politik, kepentingan bisnis dan ekonomi, hingga rekayasa kasus demi mendapat dana dari beberapa LSM, tak lupa bumbu sentimen agama juga sempat mencuat di sana.

Sebenarnya seberapa pentingkah daging untuk manusia sehingga beberapa oknum penjual rela melakukan hal-hal tak berperikemanusiaan dalam menghilangkan nyawa hewan demi keuntungan, sementara di pihak lain, para konsumen yang mengkonsumsi daging seolah kurang peduli (atau enggan peduli) seberapa sehat atau apa yang terjadi sebelum sekerat daging tersaji di piring masing-masing selama itu sedap dan mengenyangkan? Berikut artikel lama yang menurut saya masih sangat informatif, dan sepenuhnya disaling dari blog Chindy Tan.

Daging Makanan Kelas Satu, Benarkah?

”Bukankah daging tetap dibutuhkan tubuh untuk kesehatan?” Demikianlah kepercayaan yang sangat mengakar hingga detik ini, yakni daging sebagai sumber protein kelas satu, sumber kalsium, sumber lemak, sumber vitamin B12 dan sumber zat besi.
Salah satu akar kepercayaan ini bersumber dari sebuah studi antara tahun 1929-1950 dengan menggunakan asam amino yang dimurnikan (padahal makanan yang kita makan bukanlah asam amino yang dimurnikan). Kemudian, penelitian lanjutnya dilakukan pada tikus, yang ternyata tingkat kebutuhan proteinnya paling tinggi dari semua mamalia. Sebagai patokan, jumlah kalori protein yang terkandung dalam air susu tikus adalah 49%, sedangkan pada manusia jumlah kalori protein yang terdapat pada ASI hanyalah 5%.

Mengapa Jadi Berlebih?
Patut dicermati bahwa kebutuhan tertinggi tubuh manusia akan protein seumur hidupnya adalah masa usia 0-5 tahun. Pada masa paling krusial 0-6 bln di mana ASI secara eksklusif diberikan, ASI sendiri ‘hanya’ mengandung 5% kalori protein, Terkecuali masa menyusui, American Journal of Clinical Nutrition mematok rata-rata asupan 2,5% kalori protein per hari, dan banyak populasi yang hidup dengan baik-baik saja pada angka ini. Logis saja, karena pada masa kebutuhan tertingginya pun tubuh kita hanya dipasok 5% kalori protein dari ASI. Tentunya setelah lewat masa pertumbuhan, tubuh kita tidak membutuhkan sebanyak itu lagi, atau cukup di bawah 5% kalori protein.
Bukankah hal yang janggal bila National Egg Board, National Dairy Council, National Livestock, dan Meat Board Amerika menambah 30% dari angka yang harusnya kurang dari 6% (“Diet For A New America”)? Batas aman atau RDA 30% inilah yang disoroti sebagai dasar propaganda industri ternak. Kebijakan tersebut lantas dituangkan ke dalam kurikulum pendidikan. Bermula di Amerika, propaganda daging, telur, susu sebagai sumber protein utama ini pun mendunia, termasuk di Indonesia. Bangku sekolah kita tak luput dari jangkauan propaganda ini. Konsep yang sudah sangat akrab sampai ke sumsum kita, bahwa daging adalah sumber terbaik untuk protein.
Kejanggalan ini terjawab pada uraian Dr. David Reuben yang mempertanyakan: siapakah yang sesungguhnya memperoleh manfaat ekstra 30% batas aman tersebut? Beliau menjawab, “Mereka yang menjual daging, ikan, keju, telur, ayam dan semua sumber-sumber protein yang bergengsi dan mahal lainnya. Jika Anda adalah keluarga Amerika umumnya, Anda harus mengeluarkan uang 40 USD per bulan untuk memompa asupan protein yang sebenarnya tidak Anda perlukan. Pengeluaran ini, memberikan 36 miliar USD per tahun ke kantong penjual.” (Diet For A New America – John Robbins)

Business As Usual
Era globalisasi memberi jalan lapang bagi negara-negara industri yang kuat modal dan kuat teknologi untuk menguasai harkat hidup di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Mari lebih jeli menganalisa benang merah tiap fakta berikut: Makanan merupakan 11% dari keseluruhan komoditi perdagangan global, proporsi yang berada di atas perdagangan minyak bumi (Globalization and Human Nutrition, 2001). Produk makanan yang dihasilkan dari produksi pangan yang berlebihan di negara-negara industri mau tak mau harus dipasarkan. Namun karena ‘demand’-nya yang sudah statis (baca: jenuh) atau inelastik di negara industri, maka pilihan pasarnya adalah negara-negara berkembang yang produk pangannya masih ‘tradisional’ dan ‘terbatas’. Untuk ini industri makanan di Amerika Serikat mengeluarkan dana 30 miliar dolar setiap tahunnya untuk promosi (Bulletin of the World Health Organization, 2002). Strategi promosi yang digunakan memberi citra daging sebagai makanan bergengsi, modern dan gaul. Rumus ”Tiga P” digunakan: placing, pricing dan promotion. Hasilnya, menjamur dan mengguritanya bisnis makanan cepat saji hampir di seluruh dunia.

Dampak Terhadap Kesehatan

Prof.dr.Siti Fatimah Muis, M.Sc, SpGK dalam kajiannya,”Globalisasi Pangan: Dampaknya Terhadap Gizi dan Kesehatan” menuliskan bahwa setelah Perang Dunia II, negara berkembang mengalami transisi epidemiologi yakni, menurunnya penyakit infeksi seperti TBC, tifus, diare, lepra dan mulai munculnya penyakit degeneratif seperti penyempitan pembuluh darah jantung atau otak, penyakit gangguan metabolisme dan keganasan. Dan sekarang telah memasuki masa transisi berikutnya adalah transisi gizi atau munculnya masalah gizi ganda. Artinya, masalah gizi berlebih pada saat yang bersamaan muncul dengan masalah gizi kurang. Kelebihan asupan energi pada anak-anak dan remaja, utamanya dari makanan berlemak jenuh tinggi (daging, telur, dan susu) di atas 30% dari keseluruhan asupan energi sehari-hari ternyata juga dapat mengakibatkan kenaikan kolesterol, penebalan/pengerasan dinding pembuluh darah (atherosklerosis) dan diabetes tipe-2 seperti yang dialami usia paruh baya (Rapid Westernization of children’s blood cholesterol in 3 countries, 2000). Pada abad ke-20 diabetes tipe 2 (non-insuline dependent) hanya terjadi pada usia paruh baya dan tua. Namun, tren sekarang menunjukkan penyakit tersebut mulai banyak diderita oleh anak maupun remaja. Terjadi peningkatan empat kali lipat kejadian diabetes tipe 2 pada anak usia anak 6-15 tahun yang terbukti berkorelasi dengan kelebihan berat badan (Type 2 diabetes in young, 2004)
Sesekali saat membesuk rekan yang sakit di RS, cobalah adakan survei kecil. Berapa banyak pasien penderita stroke, serangan jantung, hipertensi, diabetes dan kanker dan yakinlah, sepuluh dari sepuluh penderita tersebut dianjurkan oleh dokter untuk mengurangi atau berpantang daging. Begitu sederhana pesan yang bisa diamati dari sekeliling kita tanpa perlu studi atau riset untuk sampai pada pemahaman bahwa: sederet penyakit inilah yang sebenar-benarnya ’diberikan’ oleh daging kepada tubuh manusia.

***

Jadi, setelah membaca catatan di atas masih perlukah kita melakukan tindakan keji demi hal yang sebenarnya bisa kita dapatkan dari hal lain dengan manfaat yang justru lebih banyak bagi tubuh tanpa perlu menyakiti dan cenderung ramah lingkungan? Kenapa tidak kita mulai lakukan dari hal sederhana dan paling sering kita lakukan, memperhatikan isi piring.

Sumber youtube: http://www.youtube.com/watch?v=cOccCKOavx8

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s