SARAS\WATI

 

“Jadi ini tempatnya?”

“Ya.”

Dari dalam mobil, keduanya menatap bangunan tua berpelataran luas yang letaknya mencuat pada tanah tinggi di depan mereka. Sebuah rumah bergaya kolonial Belanda yang menjulang, dicat putih, tampak bersih, tertata rapi, sekaligus berkesan sunyi dan sedikit mengintimidasi. Seolah ramah, tapi tak mempersilakan orang untuk singgah.

“Sungguh cocok untuk dijadikan tempat pelarian.”

“Kamu boleh tinggal selama kamu mau.”

“Apa istrimu tahu kalau salah satu koleksi rumah keluarga kalian dipakai untuk menyembunyikanku?

“Ini bukan rumah keluarga kami. Salah satu kolegaku adalah pemiliknya dan ia mempersilakan untuk digunakan kapan saja sampai batas waktu tak tentu.”

“Pantas.”

 

S A R A S

Pesta. Banyak pria dan wanita. Usia sebaya. Tiga, lima, tujuh, atau mungkin lebih dari itu. Entah berapa jumlahnya, kau tak ingat, yang jelas hitungannya bukanlah genap. Satu pria dengan dua wanita. Dua pria dengan satu wanita. Gelak tawa. Tak ada rasa berdosa saat berganti pasangan dari satu ke yang lainnya. Suara penyanyi yang terdengar samar. Kepulan asap. Cahaya temaram. Botol minuman. Serakan pakaian. Putih dan abu-abu. Kaos kaki dan sepatu. Tas dan buku-buku.

Dalam keremangan kau merasa seseorang menindih, aroma keringatnya menusuk tajam dan terasa lengket di badan. Rasanya kau kenal siapa yang tengah menunggang, ia masih muda dan tampan. Tangannya membelai wajah.

Ada yang salah!

Jari-jarinya membesar. Begitu pula dengan lengan, perut, pinggang, pinggul, paha, semua membesar. Tapi tak semua yang dimilikinya berukuran besar. Ia sosok berbeda dari yang sebelumnya. Lelaki ini, kini, sibuk dengan berbagai cara guna mencapai kepuasan, untuk diri sendiri. Tubuhmu diputar balikan layaknya boneka besar tanpa nyawa, tapi hal itu tak berlangsung lama. Tubuhnya lalu terkulai, bukan sebagai pemenang, melainkan pecundang.

Lagi-lagi ia bertransformasi.

Tubuhnya mengekar, berubah menjadi pria gagah. Berwibawa. Belum terlalu tua. Ia sangat mahir dalam berbagai gaya. Ia tipe lelaki yang tidak memperlakukanmu layaknya remaja bayaran untuk kencan semalam, melainkan sebagai perempuan sejati. Bagaikan istri. Meski untuk beberapa hari.

Kau tertawa, merasa bahagia. Kau lihat mulutnya turut terbuka, membentuk gerak tawa…

Mana?

Kenapa bukan suara pria dewasa yang keluar? Suara itu sangatlah kecil, mungil, halus dan nyaring seperti… tangis bayi.

Kau membuka mata seketika. Tak ada siapa-siapa. Lampu kamar dari bohlam pijar masih menyala kekuningan, menyinari seluruh ruangan. Para lelaki rupanya hanya ilusi.

Tapi tidak dengan tangis bayi.

Kau beringsut. Duduk mengerut ke tepi ranjang. Menutup telinga dengan dua tangan. Memejam mata rapat-rapat. Menggelengkan kepala kuat-kuat. Namun suara itu tak juga menghilang, terus terdengar, seperti sengaja diputar, merambati udara dari kejauhan, entah dari mana, tapi rasanya seperti menari-nari dekat telinga.

Kau benci sekaligus ngeri. Tangis bayi, malam hari, di tempat sesunyi ini. Film horor dengan efek paling dahsyat pun rasanya kalah seram oleh suasana sekarang yang mencekam. Tenang sekaligus menebar tegang.

Om Djarot sialan! Kau merutuki, dalam hati. Menyesali menerima tawaran untuk ‘bersembunyi’ di rumah ini.

Sejak mengantarmu, beberapa minggu lalu, tak pernah sekali pun ia menjenguk seperti yang pernah dijanjikannya. Di sisi lain, si pengganggu sudah menyambut di malam pertama kedatanganmu. Selalu hadir pada setiap akhir mimpi, membuatmu terjaga, menghabiskan malam dalam ketakutan.

Sementara satu-satunya alat penghubungmu dengan dunia luar tidak dibawa, terlupa, tertinggal – atau ditinggal. Benda yang senantiasa membuatmu merasa tak sendiri dalam kesendirian. Benda yang menghadirkan teman-teman dalam bentuk suara atau pun rangkaian kata. Kadang wajah mereka hadir, kecil-kecil, tersekat layar.

Jika saja telepon selularmu ada, mungkin sudah dari awal kau hubungi Om Djarot, berkali-kali, ke semua nomor yang dia punyai, meminta untuk dipindah, kalau perlu kau sertakan ancaman akan memberitahukan hubungan terlarang kalian pada istrinya. Namun rasanya terlalu riskan untuk dilaksanakan.

Tapi, paling tidak, jika ada telepon genggam, kau bisa mengumumkan keberadaanmu melalui media sosial. Facebook dan twitter. Tak perlu menunggu lama, teman-teman di dunia maya akan merespon dalam berbagai ekspresi kata. Dan kau kembali menjadi warga semesta kata-kata yang hiruk pikuk, senantiasa sibuk, tak pernah berhenti dengan arus informasi yang berubah setiap waktu. Berita baru. Kenalan baru. Teman baru. Sejenak melupa dari rasa sepi dan rindu. Terutama padanya.

Ibu.

Jika saja ibumu ada di sini, dia pasti senang sekali. Tapi cukup kalian berdua saja yang menempati. Tak perlu ada kakak lelakimu yang berperangai kasar. Tak perlu ada kakak perempuannmu yang bisanya hanya mengeluh tanpa mau berusaha kecuali memaksa ibumu untuk memberinya uang.

Ibu yang hanya diam sambil mengurut dada saat kakak lelakimu pulang dalam keadaan mabuk miras oplosan selepas berkumpul dengan teman-temannya di mulut gang. Segala nasihat dari yang halus sampai yang paling kasar sudah tak lagi mempan. Bahkan kadang berlaku kebalikan. Ibumu di maki kakak lelakimu sambil membanting barang yang ada disekitar.

Jika sudah begitu, ibu hanya duduk, menunduk, tak mengeluarkan lagi sepatah kata. Kadang kau gemas padanya, kenapa tak dia kutuk saja kakak laki-lakimu menjadi batu seperti legenda Malin Kundang. Tapi ibumu, yang kadang berbicara dengan nada tinggi dan kencang, paling pantang bersumpah serapah, terutama pada anak-anaknya. Pada akhirnya dia menyalahkan dirinya sendiri pada apa yang terjadi saat ini.

Pun begitu jika kakak perempuanmu yang berulah, menjadikan cerita masa lalu sebagai senjata untuk tak melakukan apa-apa kecuali mengumbar keluh kesah. Dan itu selalu diucapkannya berulang-ulang, setiap saat setiap waktu, seperti merapal mantera. Jika saja dulu ibu begini. Jika saja dulu ibu begitu. Jika saja dulu ibu tak begini. Jika saja ibu tak tak begitu. Andai dulu ibu.. pastilah kita sekarang… di ujung omelan dia pasti minta uang. Berapa pun, yang penting ada. Dan harus ada.

Untuk urusan ini biasanya kau suka ikut campur. Kau balas menghardik, lebih panjang lebih lebar. Semua tudingan yang dia keluarkan kau kembalikan lengkap dengan bumbu dan bunganya. Perang mulut tak terelakan. Kalian terus akan terus saling serang sampai salah satu berhenti atau ibu menengahi dengan memberikan uang pada kakak perempuanmu yang segera menerima dan pergi dengan kalimat penutup, “Coba dari tadi, pasti aku tak perlu urusan sama bocah tengik ini.”

Kau hanya bisa menarik napas, menahan kesal, tak mengerti mengapa ibu lebih memilih memberi ketimbang mengajarkan kakakmu hidup mandiri. Tapi kau enggan bertanya. Bukan. Bukan salah ibumu kehidupan keluarga kalian berantakan. Semua gara-gara ia. Pria itu. Suami ibumu. Ayah kandungmu. Pria tak berguna yang kerjanya hanya minta-minta, menagih jatah pada para pedangang di pasar untuk uang ‘keamanan’. Sifat yang kemudian diturunkan pada kedua kakakmu dengan takaran sama rata.

Di rumah, ia berlagak layaknya raja, sok kuasa, segala perintah harus segera dikerjakan. Tak boleh ada ucap atau sikap yang dapat menyinggungnya. Jika dilanggar, pukulan, tendangan dan hajaran akan mendarat di pipi, di lengan, di tangan, di perut, di pantat, di betis sebagai konsekuensi utama yang harus diterima siapa saja, tanpa kecuali.

Dari kecil kau sudah tak suka padanya. Bagimu ia tak ubahnya seorang bocah dalam tubuh raksasa dengan sifat barbar yang dominan. Rasanya tak ada yang bisa ia lakukan jika ibumu tak ada. Ia lah yang tergantung sepenuhnya pada ibumu, mulai dari makanan, pakaian, sampai urusan ranjang.

Celakanya, secara tidak langsung itulah yang ia ajarkan pada kalian, anak-anaknya. Setiap hari kekerasan fisik dan verbal menjadi suguhan utama, hal wajar dan normal untuk dilakukan antar sesama anggota keluarga.

Kau benci kehidupan seperti ini. Kau benci ayah dan kakakmu. Kau benci anak-anak di lingkungan sekitarmu. Kau benci pada teman-teman di sekolahmu. Terutama pada mereka yang mampu. Betapa besar kesenjangan antara kalian. Kehidupan mereka begitu berkecukupan dalam segala hal. Sandang, pangan, papan, dan terutama kasih sayang. Sementara kau serba kekurangan.

“Ikutlah denganku,” ajak salah temanmu pada satu waktu, “akan kukenalkan dirimu pada orang yang bisa memberi materi berlimpah, tapi tidak cuma-cuma.”

Kau tahu kemana arah pembicaraannya. Menjaja badan. Menjadi ‘cinta semalam’ para pria ber-uang. Mendampingi remaja-remaja kaya dalam pesta gila.

“Jaman sekarang, untuk bisnis model begini, kita tak perlu seorang Mami. Cukup dengan ini.” Dia mengeluarkan Blackberry seri teranyar. “Mari kuajarkan.”

Kehidupan baru dimulai. Situs jejaring pertemanan kau jadikan etalase untuk menawarkan jasa. Foto-fotomu terpampang dalam berbagai gaya, kebanyakan pose-pose khas remaja usia SMA. Para pelanggan lebih menyukai ketimbang tampang yang dibuat tua dalam balutan bikini.

Entah berapa banyak pria yang telah tidur denganmu. Siklus kesuburan, karet pengaman, pil anti kehamilan, adalah hal yang senantiasa kau perhitungkan.

Separuh penghasilan kau simpan dan digunakan untuk keperluan sendiri. Pakaian. Alat dandan. Seragam. Telepon genggam. Iuran bulanan. Asesoris. Pulsa. Tas. Sepatu.

Kadang, diam-diam kau beri ibu sebagian sambil berwanti-wanti agar digunakan untuk diri sendiri. Bukannya diserahkan pada ayah atau kedua kakakmu.

Dia menatap curiga. Kau membuang muka. Menghindari tanya. Merasa berdosa. Ada jarak tak kentara terbentuk diantara kalian. Kau sadar kau yang membuatnya.

Ibu, apa kau kini merindukanku? Datanglah kemari Ibu. Aku tak mau sendiri. Aku takut di sini.

Suara bayi menghilang. Kau membuka mata, melihat jam dinding besar. Pukul lima pagi lebih lima belas. Empat jam terlewat begitu saja dalam lamunan tanpa sadar.

 

W A T I

Namaku Wati. Enam belas tahun. Aku telah menikah, dinikahkan tepatnya, setahun lalu, dengan Kang Dodi, sebagai bayaran hutang kedua orang tuaku. Kang Dodi adalah anak yang punya piutang, ia seorang polisi hutan, masuk dari hasil sogokan. Usianya masih terbilang muda, meski terpaut cukup jauh denganku, hampir sembilan tahun. Kami berdua tidak saling cinta, tapi sekarang aku mengandung dari benihnya. Karena sebagai istri aku harus melaksanakan kewajiban sepenuh hati. Lahir dan batin.

“Mau kemana kamu malam-malam?” suara Kang Dodi yang pelan namun menekan terdengar dari belakang.

“Tidak kemana-mana.” Jawabku.

“Masa?” selidiknya.

Jari-jari Kang Dodi meremas pundak. Badanku dibalikan, menjadikan kami saling berhadapan.

“Tatap mataku.” Perintahnya.

Kulakukan apa yang ia minta. Ia tersenyum. Tatapannya sayu dan teduh.

“Perempuan sinting, mau kelayapan malam-malam dengan perut bunting.” Remasannya mengeras. “Dasar kuntilanak!”

Kupandang mukanya, tak paham, bagaimana bisa kata-kata keji keluar dari mulutnya dengan ekspresi wajah tetap ramah.

Ia tertawa, hangat dan renyah, seperti melihat sesuatu yang lucu. “Harusnya kau lihat wajahmu sekarang, kosong, bodoh, tolol, idiot, menyedihkan.” Ia memandang iba. “Aku tak mengerti, kenapa orang tuaku menyandingkanku denganmu.” Ia menggeleng heran. “Kau lebih mirip binatang, Kungkang, lambat, malas, tak berguna.”

Kalimat selanjutnya yang keluar kudengar samar, timbul tenggelam. Pastilah sesuatu yang melecehkan, merendahkan, menghinakan. Aku tak peduli. Pikiranku melayang, teringat padanya.

Ku jumpai dia beberapa minggu lalu. Berdiri sendiri, terpaku, di balik jendela rumah tua. Dia tampak kaget waktu sadar aku tengah memperhatikannya dari seberang halaman. Dia segera menyembunyikan diri, tapi aku tahu dia mengintip saat aku berbalik meninggalkan.

Besoknya kulakukan hal serupa. Aku tahu dia selalu berada di kamar yang sama, termangu, seperti menunggu. Waktu itu dia tak segera pergi. Kami hanya saling tatap sepanjang siang.

“Heh, perempuan edan, kenapa kau senyum-senyum sendiri?” tanya Kang Dodi dengan ekspresi geli. “Kata tetangga kau suka berkeliaran dekat rumah keluarga kaya. Mau apa kamu di sana? “

Kurasa wajahku memucat. Ia tak boleh tahu keberadaan teman baruku di rumah itu. Dia yang memintaku untuk merasahasiakan, bisa bahaya katanya.

“Kau bukan orang pandai berdusta.” Jari-jari Kang Dodi menelusur sepanjang pipi. “Katakan, apa kau menemui seseorang? Kudengar suka ada lelaki kota datang ke sana. Jangan berani macam-macam, ia tak kan tertarik pada perempuan gila sepertimu.”

PLAK!

Panas dan perih menjalari wajah.

“Sekali lagi kudengar kau pergi ke tempat itu, tanggung akibatnya sendiri, mengerti?!” Ancamannya mengalun manis dan merdu.

Tak kujawab. Tenggorokanku rasanya tercekat. Menahan sakit di pipi dan di hati. Pandanganku mengabur, terhalang selaput bening. Segera kuseka sebelum tertumpah. Malam ini aku tak ingin menangis lagi.

 

W A T I  &  S A R A S

Dua remaja perempuan duduk di bawah pohon jambu air yang tumbuh besar di samping halaman rumah tua bergaya kolonial Belanda.

“Kenapa pipimu?”

“Oh, ini,” Wati mengusap pipi kiri yang lebam. “Kang Dodi menamparku lagi tadi malam.”

“Kurang ajar!” umpat Saras, geram.

“Ia tahu aku sering kemari dan tak mengijinkanku datang ke sini lagi.”

“Apa ia tahu tentangku?”

Wati menggeleng pelan. “Rahasiamu aman bersamaku.”

Saras menatap dalam, “Terimakasih, Wati.”

“Untuk apa?”

“Untuk semua. Kau sahabat terbaik yang pernah ada. Sungguh.”

Wati tersenyum, “Biasa saja.” Jawabnya.

Terdengar cekikian dari kejauhan. Tampak sekelompok bocah, pengendara sepeda, tengah memperhatikan. Beberapa diantaranya saling bisik sambil mencuri pandang, lalu tawa mereka meledak bersama.

“Dasar tidak sopan! Nggak di kampung, nggak di kota, sama saja.” Saras bangkit, namun Wati mencegahnya. “Jangan! Ingat kesepakatan kita? Kalau anak-anak itu sampai kau marahi, mereka akan mengadu pada orang tuanya nanti, yang ada malah berabe, bahkan masing-masing dari kita bisa celaka.”

Saras mengurungkan niat, Wati benar.

Wati segera melambaikan tangan sambil memberi mereka senyuman lebar. Tawa anak-anak kembali meledak, mereka segera menggenjot sepeda meninggalkan Wati dan Saras.

“Lihat kan, tak perlu kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Apalagi yang sepele.”

“Kalau Om Djarot kemari dan mengabulkan permintaanku untuk pindah dari tempat terkutuk ini, kau ikut denganku ya?”

Wati tak menjawab, hanya tersenyum, menunduk, mengusap perut.

 

W A T I

 Aku sedang melayang. Tak tenggelam tak mengambang. Terasa tenang. Terasa nyaman. Mungkin ini rasanya berada dalam ketuban. Aku ingin selamanya berada di sini. Tak mau terlahir jika tahu hidupku akan begini. Di sini tak ada sedih, tak ada gembira, tak ada hampa, tak ada yang dirasa. Hanya riak air sejauh mata memandang.

Apa ini? Sesuatu menyergapku! Satu tangan, sebelah kanan. Pasti milik seseorang yang hendak memaksaku keluar dari cairan ketenangan. Jangan! Aku tak mau! Aku sudah tahu bagaimana jalan hidupku. Aku mohon, tolong lepaskan. Buatlah perkecualian. Bilang bahwa aku belum siap dilahirkan.

Dasar tangan jahanam! Kenapa terus memaksa, seakan kau tahu bagaimana nanti kehidupanku. Ku beritahu padamu, aku tidak bahagia! Sengsara! Penuh air mata! Kau dengar? Kau dengar!

Tangan itu menariku dengan kasar.

Pemandangan berubah. Aku kembali berada di kamar mandi. Kerongkonganku terasa nyeri.

Aku baru sadar, Kang Dodi tadi mencekik dan menyeretku ke kamar mandi setelah mendapat informasi aku bermain ke tempat Saras siang-siang. Ia lalu menenggelamkan seluruh kepalaku ke dalam bak.

“Sudah kubilang, wanita gila, jangan kau injakan kakimu di rumah itu.” Kang Dodi berkata dengan intonasi tenang, penuh kesabaran yang senantiasa terjaga. “Mulai besok, kedua kakimu akan ku belenggu. Jika masih nekat, aku pasung kamu di gudang belakang.”

 

S A R A S

Sudah beberapa hari Wati tidak datang mengunjungi. Kau mulai khawatir, jangan-jangan sesuatu terjadi padanya. Kau menerka, mereka-reka, mungkin dia dianiaya suaminya sampai terluka parah. Kau membulatkan tekad, nanti petang kau akan datang, menjenguk, ke rumahnya.

 

S A R A S  &  W A T I

Saras menganga tak percaya, bahkan hampir menangis saat melihat keadaan sahabatnya. Kedua kaki Wati terikat rantai yang panjangnya tak lebih dari setengah meter. Seperti tahanan. Tampilannya lebih berantakan. Rambutnya yang panjang, berminyak, diikat sembarang. Daster yang dia kenakan juga tampaknya belum diganti selama beberapa hari. Tubuh kurusnya kian menyusut, berbanding terbalik dengan perut yang makin membusung.

“Masuklah Saras, tidak baik gadis remaja berdiri di ambang pintu. Pamali.”

“Kau juga masih remaja, Wati, bahkan kau lebih muda dariku, tapi lihat dirimu…” kalimat Saras tak berlanjut, air matanya tak dapat bendung.

“Duduklah dulu, biar kuambilkan air untukmu, supaya kau lebih tenang dan kita bisa berbincang.” Wati berjalan dapur dengan langkah berat tertatih, tak lama berselang ia kembali, membawa dua gelas air teh di tangan, meletakannya di atas meja, lalu duduk berhadapan.

“Ayo kita pergi, Wati. Kau bisa menjadi zombie jika terus-terusan hidup seperti ini.” isak Saras.

“Aku tidak bisa, Saras.”

“Kenapa? Apa karena kamu menjadi seorang istri? Jangan menjadi seperti ibuku, jiwanya telah dirusak oleh ayahku. Dia tak lagi bisa menentukan apa yang terbaik untuk dirinya. Setiap perkataan ayahku yang tidak benar telah terserap olehnya. Dia merasa dirinyalah yang tak berguna, dirinyalah yang bersalah. Jangan menjadi seperti itu, sahabatku. Jalanmu masih panjang.”

Wati tersenyum, “Kau begitu baik, Saras, tapi..”

“Aku bukan orang baik, Wati. Kau yang baik. Dan karena kau baik kau menjadi korban. Pikirkan masa depanmu juga masa depan bayimu.”

“Bayiku?” Wati mengusap perut.

“Ya. Bayimu, Wati. Hidupnya pasti akan merana seperti…”

Belum sempat Saras menyelesaikan kalimat, terdengar suara sepeda motor dari luar. Air muka Wati menegang. “Kang Dodi pulang, cepat ke kamar belakang, jangan keluar.”

“Tidak Wati, aku akan berada disini.”

“Cepat!”

 

W A T I  &  D O D I

Mata Dodi langsung tertuju pada dua gelas di atas meja.

“Siapa yang datang kemari? Lelaki?” tanyanya mesra.

Wati menelan ludah, tahu suaminya tak akan membuat situasi menjadi mudah. “Ti…tidak ada siapa-siapa?”

Dodi mengambil gelas yang tidak disentuh Saras, menilik dan membaui. Matanya beralih ke Wati, tersenyum hangat, dan dengan segera melemparkan gelas ke arah kaki sang istri.

Wati bergeming, menunduk, menutup kuping.

“Perempuan keparat, di mana dia?”

“Sudah kubilang, Kang, tak ada siapa-siapa.”

Dodi beranjak, menuju kamar depan, mengambil senapan laras panjang yang biasa ia gunakan untuk berburu hewan di hutan.

“Akan kubunuh kalian!” ucap Dodi, tetap dengan nada terjaga.

 

S A R A S

Kau menahan napas. Posisi persembunyianmu, di balik lemari, tidaklah menguntungkan, akan mudah sekali ditemukan. Tapi bukan itu yang kau takutkan, keselamatan Wati harus diutamakan.

Gorden kamar disibakan. Kau merapatkan badan. Terdengar langkah kaki memasuki. Kau menutup mata, berharap suami Wati kurang teliti, tak memeriksa sampai ke tempatmu sembunyi.

Tak lama berselang derap itu menuju luar. Belum sempat kau bernapas lega terdengar bunyi senapan di kokang.

“Aku tanya sekali lagi, siapa yang datang kemari?”

 

W A T I  &  D O D I

Dodi tertawa lepas.  “Aku tidak main-main. Kuberi kau kesempatan tiga hitungan untuk menjawab pertanyaanku. Satu…”

“Aku bersumpah Kang, tidak ada siapa-siapa, kau sudah lihat sendiri bukan?” Jawab Wati gemetaran.

“Dua…”

Senapan Dodi telah dalam posisi siaga untuk menembak.

“Demi Tuhan, Kang.”

“Jangan bawa-bawa nama Tuhan, perempuan laknat.” Telunjuk Dodi menyentuh pelatuk.

“Tiga”

Sedesir angin berhembus dari dalam kamar. Wati menoleh dan menjerit, “Jangan keluar Sar..”

DOR!

 

S A R A S

Kau berdiri, menghadap Dodi membelakangi Wati. Kau datang di waktu yang tepat saat satu peluru termuntah. Dari posisi terakhir senapan pastilah perutmu yang kena jadi sasaran. Kau lihat Dodi gemetaran, tatapannya hampa. Tak apa. Yang penting Wati selamat. Tapi kenapa kau tak merasa sakit sama sekali? Kau meraba perut, tak ada darah disana. Bagaimana bisa?

Dodi yang masih memegang senapan berjalan menujumu. Kau berteriak. Jangan mendekat, bangsat! Namun ia terus berjalan dengan pandangan kosong. Melewatimu. Menembusmu. Kau…

transparan.

Dodi berdiri menatap Wati yang terlentang, perutnya basah oleh lumuran darah. Dodi berbalik, segera berlari meninggalkan rumah. Tak berapa lama berselang, dari kejauhan terdengar sebuah letusan. Lalu semua kembali sunyi.

 

S A R A S  &  W A T I

Saras bersimpuh di sisi Wati. Menjadi saksi bagaimana tatapan sahabatnya memudar perlahan. Napasnya kian melamban. Lalu Wati tak bergerak lagi. Sama sekali.

 

S A R A S  &  D J A R O T

“Sejak awal mengantarku ke rumah itu kau tahu aku adalah hantu, bukan?”

“Kau selalu mengganggu dan menerorku.” Suara Djarot memecah kesunyian di keremangan ruangan seolah ia bicara sendiri. Dan memang ia hanya sendiri. “Kau bahkan tidak sadar kita telah berbeda dunia.”

“Bagaimana bisa aku…”

“Seminggu sebelum kejadian kau mendatangiku. Kau kabur dari rumah. Hamil, empat bulan. Kau panik, memintaku bertanggung jawab, namun tak bisa kukabulkan. Kita lalu pergi ke tempat bidan yang membuka praktik aborsi ilegal. Saat proses pengguguran kau mengalami pendarahan hebat. Tak selamat.”

“Jenasahku?”

Djarot mengangkat bahu, “Suruhanku yang mengurusnya.”

“Apa ibuku tahu?”

“Tidak. Setiap bulan aku kirimi dia sejumlah uang dengan menyertakan surat palsu, seolah darimu, yang menyebutkan kau telah bekerja, di luar kota, sebagai pelayan di salah satu toko swalayan. Hanya itu yang bisa kulakukan sebagai bentuk tanggungjawabku.”

Ruangan kembali sepi. Djarot mengepulkan asap rokok, berharap Saras kini benar-benar pergi.

* * *

Perempuan paruh baya itu belum benar-benar terlelap saat merasa sesuatu membelai halus wajahnya. Matanya yang senantiasa sembab terbuka.

“Saras?”

Tak ada siapa-siapa di sana.

* * *

Pada malam-malam tertentu, di desa itu, beberapa orang mengaku pernah mendengar suara tawa dua perempuan muda saling bersahutan, kadang bercampur dengan tangis bayi yang memilukan. Dari sana. Dari bawah pohon jambu air yang tumbuh besar di samping halaman rumah tua bergaya kolonial Belanda.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s