Bunga Merah

UNTUK DIPERHATIKAN: Ini adalah cerpen karya Romi Zarman  yang dimuat di Koran Tempo pada 24 Juli 2011

 

 

Runi ingin jadi bunga. Runi ingin jadi bunga.”

“Kenapa?”

“Karena Runi suka warnanya.”

“Oh ya?”

“Ya.”

“Akan tetapi,” kata kakaknya, “buat apa jadi bunga bila kelopak menggugurkannya?”

Runi terdiam. Tak bisa ia menjawab pertanyaan kakaknya. Runi menekurkan kepala. Langkahnya surut. Ia balikkan badan dan segera berlari ke halaman. Runi ingin sendiri saja. Runi tak ingin bersama kakaknya.

Di halaman, Runi memandangi bunga.

Bunga itu bunga kertas. Runi gemar memandanginya. Dulu, Runi sering masuk ke halaman tetangga untuk memandanginya. Runi sangat gemar akan bunga itu. Hampir setiap hari ia ke sana. Akan tetapi, karena si kakak tak ingin melihat Runi selalu memasuki halaman tetangga, maka ia tanam itu bunga di halaman. Halaman itu—tak tepat disebut halaman karena ukurannya hanya 2 x 1 meter—akhirnya ditanami bunga kertas. Bunga itu tumbuh. Runi senang. Runi tak perlu lagi memasuki halaman tetangga. Akan tetapi, hampir setiap pagi, bila Runi bangun dari tidurnya, hampir setiap itu pula Runi akan bergegas ke halaman. Tanpa mencuci muka, tanpa mandi terlebih dahulu, Runi langsung saja mencangkung memandangi bunga itu.

Bunga itu, ah, bunga itu tak tepat untuk Runi. Apalagi ia lelaki. Baru kelas tiga Sekolah Dasar. Semestinya anak seusia Runi lebih memilih bermain bola, atau bermain perang-perangan dengan anak tetangga. Akan tetapi, tidak. Runi anak yang berbeda. Ia menyukai bunga. Setiap pagi ia akan memandanginya. Berlama-lama di depannya. Sampai sang kakak tiba dan menyuruhnya mandi segera, sebelum akhirnya berangkat ke sekolah. Begitu pulang, ia sudah lelah. Tidur sampai sore. Begitu bangun, ia kembali memandangi bunga. Berlama-lama. Sampai akhirnya perubahan itu tiba.

Perubahan itu, tak lain dan tak bukan, pada mulanya hanya soal jam sekolah. Biasanya Runi sekolah di waktu pagi. Akan tetapi, sejak gempa merubuhkan sebagian gedung sekolah, Runi dan kawan-kawan sekelasnya akhirnya diputuskan masuk siang. Bergiliran dengan anak kelas empat, kelas lima, dan kelas enam. Ruang kelas mereka hanya tersisa tiga. Bulan pertama anak kelas satu sampai kelas tiga masuk siang. Sedangkan anak kelas empat sampai kelas enam masuk pagi. Mereka bergantian. Bulan pertama. Bulan kedua, dan seterusnya.

Maka, kebiasaan Runi pun berubah. Bila biasanya di pagi hari Runi bangun, maka si kakak akan cepat-cepat menyuruhnya mandi. Habis itu giliran si kakak. Si kakak berangkat ke sekolah. Begitupun Runi. Akan tetapi, sejak Runi masuk siang, si kakak tak bisa lagi mengawasinya. Saat Runi bangun di kala pagi, ia tak lagi mandi. Runi akan segera ke halaman. Berlama-lama memandangi bunga. Siangnya, si kakak tak pernah bertemu Runi. Karena memang, sebelum kakaknya pulang, Runi sudah berangkat ke sekolah.

Sorenya, saat Runi sudah pulang, mereka baru berjumpa. Sering Runi mendapati kakaknya sedang memasak di dapur. Tapi tak setiap hari. Kadang kakaknya hanya memasak nasi, lalu menonton televisi. Biasanya pula sebelum menonton televisi, si kakak bakal membeli makanan gorengan di kedai depan. Seperti tadi, Runi pulang dari sekolah. Hanya meletakkan tas tanpa melepas sepatu, Runi langsung menemui kakaknya yang sedang menonton telenovela, dan berkata, “Runi ingin jadi bunga. Runi ingin jadi bunga.”

Jari Runi menyentuh kelopak bunga. Ia lihat warnanya: merah. Ia tak paham kenapa tadi kakaknya berkata buat apa jadi bunga bila kelopak menggugurkannya. Runi hanya ingin jadi bunga. Jadi kelopak. Ah, yang penting bunga. Runi menyukainya. Lihatlah, warnanya yang merah. Runi duduk di depannya, di halaman rumah.

Betapa si kakak tak paham dengan keinginan Runi. Runi merasa sendiri. Bila selama ini Runi tak punya kawan, itu sudah biasa. Runi tak pernah merasa sendiri. Karena memang, Runi lebih memilih berteman dengan bunga. Bukan dengan kawan-kawan sekelas atau anak-anak tetangga. Pun Runi tak suka bermain keluar rumah, seperti anak-anak kebanyakan. Runi merasa sepi. Kakaknya tak pernah memahami. Pun demikian dengan Mami, perempuan yang melahirkannya.

Mami tak pernah mempedulikan Runi.

Runi dibiarkan saja sendiri. Bahkan, mereka jarang bertemu. Mami selalu pulang di kala dinihari. Mami akan terbangun kala hari sudah tinggi. Kalaupun bertemu Runi, Mami hanya punya waktu sebentar. Karena sore harinya Mami kembali berangkat kerja.

Seperti hari ini, Mami berdiri di pintu. Mami akan pergi. Sejenak Mami memandangi Runi. Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Runi sesekali menoleh kepada Mami. Maminya itu tinggi semampai. Lebih mirip dengan si kakak ketimbang Runi. Matanya yang sayu, oh, sangat mirip dengan mata Runi.

Runi pun tak berkata apa-apa. Hanya memandanginya. Tak sekali-dua kali. Begitulah Runi. Begitulah Mami. Mami hanya bicara kepada kakaknya. Itu pun hanya memberikan uang untuk beli beras dan keperluan makanan sehari-hari. Runi masih ingat saat hendak masuk sekolah, Mami pernah menemani Runi. Akan tetapi, saat kakaknya memasuki SMP satu setengah tahun yang lalu, tak pernah Mami menemani kakaknya untuk mendaftar. Mami hanya diam, memberikan sejumlah uang pendaftaran yang diminta kakaknya.

Mami kini berdiri di pintu. Sering Runi membayangkan kupu-kupu bila Mami berdiri di pintu. Seperti di kala pagi. Bila Runi duduk di halaman dan memandangi bunga peliharaannya, saat itulah Runi sedang melihat kupu-kupu beterbangan. Kadang hinggap di bunga. Kadang hanya terbang berputar sebentar, menyentuh merah bunga Runi. Dan di waktu sore hari, bila sudah menunggu tapi kupu-kupu belum juga datang lalu Mami ia lihat berdiri di pintu, saat itulah Runi sering membayangkan Mami sebagai kupu-kupu. Apalagi baju Mami berwarna-warni. Mami amat wangi. Bibirnya yang merah. Oh, lipstik yang dikenakan Mami. Seperti sekarang, Runi melihatnya.

Runi melihatnya. Runi melihatnya. Merah.

Kupu-kupu itu berdiri. Runi tahu, sebentar lagi kupu-kupu itu akan terbang. Terbang ke dalam sebuah taksi. Runi pernah menyaksikan. Akan tetapi, Runi tak pernah tahu bahwa kupu-kupu itu akan kembali di kala dinihari.

.

Runi tak pernah bertanya maminya ke mana dan apa pekerjaannya. Runi lebih banyak membisu. Ya, Runi sangat pendiam. Runi jarang bicara. Pun Runi tak suka bertanya. Di sekolah, bila ia diperintah mengerjakan soal, Runi akan menurut saja. Pun demikian bila Runi diberi pekerjaan rumah oleh Bu Guru. Runi mengerjakannya.

Jari Runi kembali menyentuh kelopak bunga. Kelopak-kelopak itu, oh, betapa Runi suka akan merah warnanya.

Runi menyaksikan Mami. Kupu-kupu itu pergi. Tak ada senyuman. Runi hanya memandangi, sebelum akhirnya dari halaman si Mami akan berteriak kepada si kakak yang sedang menonton televisi, “Mandikan adikmu!”

Si kakak akan datang ke halaman. Akan tetapi, begitulah. Kakaknya akan heran. Runi sudah besar. Bukan waktunya lagi untuk dimandikan. Kadang si kakak berpikir mungkin Mami tak menyadari bahwa Runi sudah besar. Sudah bisa mandi sendiri. Sudah bisa pakai baju sendiri.

Si kakak datang menghampiri Runi. Ia lihat Runi sedang memunggunginya, sedang memandangi bunga yang merah. Akan ia suruh Runi mandi, apalagi hari sudah sore. Akan ia suruh adik lelakinya itu untuk menimba air terlebih dahulu. Akan tetapi, sebelum sempat hal itu ia utarakan, sorot mata si kakak tiba-tiba disentakkan oleh cara Runi duduk. Lihatlah, Runi adiknya itu duduk bersimpuh, dengan tetap memandangi bunga.

.

Besoknya, sehabis pulang sekolah, Runi kembali datang kepada kakaknya, dan berkata, “Runi ingin jadi bunga. Runi ingin jadi bunga.”

Dan seperti kemarin, si kakak akan kembali berkata, “Buat apa?”

“Karena Runi suka warnanya.”

“Oh ya?”

“Iya.”

“Akan tetapi,” kata kakaknya mengulangi, “buat apa jadi bunga bila kelopak menggugurkannya?”

Runi akan berlari ke halaman. Seperti kemarin, Runi akan sendiri saja. Runi tak ingin ditemani siapa-siapa. Runi akan memandangi bunganya yang merah. Ya, merah. Sampai suatu sore, karena Runi teramat suka dengan warnanya, Runi akhirnya menjadi bunga. Waktu itu Runi baru pulang dari sekolah. Si kakak sedang menonton televisi. Runi duduk memandangi bunga di halaman. Saat itulah, saat si kakak hendak menyuruh Runi mandi terlebih dahulu, saat itulah si kakak melihat Runi menjadi bunga.

Bunga itu, oh, duduk bersimpuh. Lihatlah, lipstik yang dikenakannya. Merah. Merah. Serupa darah. (*)

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s