Lioness: Hidden Treasures (Review)

Setelah pada pertengahan tahun 2010 Amy Winehouse menjanjikan akan merilis album ke tiganya di awal tahun 2011 yang dirumorkan merupakan persembahan untuk salah satu musisi favoritnya, Quincy Jones, dalam kenyataanya album tersebut justeru keluar di penghujung tahun (2 Desember 2011) beberapa waktu selepas peristiwa kematiannya yang kontroversial. Dengan judul Lioness: Hidden Treasures, album ketiga ini bukan merupakan kumpulan lagu-lagu rekaman studio, melainkan hanya penggabungan dari demo, sketsa, dan lagu yang batal dimasukan ke dalam dua album sebelumnya yakni Frank dan Back To Black.
Di album posthumous ini kita kembali diajak untuk mendengar musikalitas dan teknik vokal Amy di awal-awal kariernya yang dipengaruhi nuansa jazz, retro-soul, funk, do woop, reggae, dan R&B. Single pertama,Body and Soul, yang dinyanyikan bersama penghibur veteran  Tony Bennett dan rilis 14 September 2011, dimana juga merupakan hari ulang tahun Amy ke 28, adalah hits klasik dari beberapa penyanyi terkenal masa lampau semisal Frank Sinatra, Billie Holiday, dan Ella Fitzgerald. Namun dengan aransemen cantik dan interpretasi mumpuni dari keduanya, menjadikan lagu ini tetap earscatchy untuk penikmat jaman sekarang. Sementara single kedua, Our Day Will Come, yang rilis 5 Desember merupakan lagu lama dari Ruby and The Romantic. Sepintas aransemen lagu ini mengingatkan pada lagu Just Friend di album Back To Black, dan single Cupid dari album Back To Black: The B-Side. Selain lagu-lagu tersebut, pendengar dapat pula menikmati Tears Dry dan Wake Up Alone versi original yang terasa sangat berbeda  dengan versi yang terdapat dalam Back To Black. Khusus Tears Dry pendengar akan dibawa dalam kesenduan dan kesedihan khas Amy Winehouse. Berbanding terbalik dengan Best Friends, Rigth? dan Will You Still Love Me Tomorrow yang bocorannya, dalam versi akustik, terasa lebih gundah dan gelisah, di album Lioness ini, mungkin karena aransemennya yang lebih up bit, terasa kurang menggigit.
Lagu sepanjag masa, The Girl From Ipanema, yang direkam pada pembuatan debut Amy, Frank, turut pula dihadirkan. Di sini terlihat jelas kemampuan olah vokal Amy yang akrobatik. Proyek bersama Mark Ronson, Valerie, yang dalam album Mark, Version, terasa begitu modern, di Lioness dikemas dalam nuansa tahun 60 an.
Kualitas akustik bunyi dan suara di beberapa track dalam Lioness memang terdengar kurang mulus dan terasa masih kasar, tapi barangkali itulah pemaknaan dibalik judul yang diberikan untuk album ini oleh para produser dan sahabat Amy Winehouse yaitu Mark Ronson, Salaam Remi, Paul O’Duffy, dan Phill Ramone, bahwa inilah harta terpendam dalam kotak musik si singa betina, berupa karya-karya yang akan didengar dan dinikmati para pendengar sampai kelak nanti. Rest In Peace, Amy.

Kurang: dengan kemampuan, kejeniusan akan musikalitas dan mencipta karya, agak susah dipercaya selama rentang lima tahun selepas album hebat sebelumnya, Back To Black, hanya inilah yang ditinggalkan Amy.
Lebih: karena Lioness: Hidden Treasures ini bukan album studio atau kompilasi dari hits-hits hebatnya, rasanya kurang adil kalau kita kemudian menilai album ini akan sefenomenal Frank atau Back To Black. Dan untungnya album ini di kemas oleh tangan-tangan handal, sebeb jika tidak maka karya-karya Amy Winehouse akan lebih menjadi tak lebih memoar dari keruntuhan seorang Diva yang bermasalah. Dan bagaimana pun album ini tetap sedap untuk dinikmati dan membuat kita menikmati nostalgia tentang The Trouble Talent Amy Winehouse.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s