Wajah Terakhir (Review)

cover asli Wajah Terakhir

Jika anda terbiasa dengan bacaan ‘bersih’, maka siapkanlah diri sebelum membaca buku ini. Wajah Terakhir, demikian Mona Sylviana memberi judul kumpulan cerpennya. Di tangan Mona, tigabelas kisah tentang perempuan yang hadir dalam penceritaan kusam, jahat, kering, kotor bahkan terkadang jorok dan mesum  yang menjijikan, justru dibuat mengalir seolah wajar, tanpa keluh kesah, tanpa risih sama sekali.

Kesengsaraan, dendam, pikiran jahat, tindakan psikopat, perilaku incest, harapan hampa, keterasingan, pemberontakan, pertentangan antara orang tua dan anak yang mengedap-ngedap namun membara dipaparkan secara terpatah, menekan, ringkas sekaligus rinci. Kejelian Mona dalam memilih diksi dan menempatkan tanda baca membuat penikmat karyanya terasa di rongrong rasa rawan tentang apa yang akan terjadi pada cerita pendek yang dia kisahkan.

Seperti cerpen Mata Andin, lewat mata seorang anak perempuan, pembaca di tarik untuk melihat penderitaan tokoh ibu tanpa menghadirkan keluh kesah yang melankolis. Oleh Mona, si ibu diberi hak yang sama dalam bersuara dan berpendapat seperti si ayah. Dan dia berperan tunggal dalam usahanya menyelamatkan rumah dan melunasi utang-utang keluarga yang tidak bisa dipertanggungjawabkan si ayah melalui keputusan menjual organ tubuhnya sendiri. Di akhir, kisah si ibu (dalam persepsi saya) meninggal dunia, dan Andin urus oleh bibinya yang kini mendiami rumah tersebut. Kenangan traumatis tentang bagaimana Andin ikut dilibatkan oleh ibunya menjelang transaksi hadir dalam bayangan berbentuk pintu. Pintu yang juga mengantarkan kepergian ayahnya, entah kemana.

Pun demikian dengan cerpen Kereta Api Malam, potret kemiskinan yang buram dan kumuh telah menteror pembaca sejak kalimat awal. Mulanya kita menebak-nebak apa yang telah dilakukan oleh Garwa, tokoh utama dalam cerita, namun seiring bergulirnya cerita, pembaca di bawa menjelajah dalam kehidupan yang – bagi sebagian orang, begitu menyesakan. Demi mengakali kelanjutan hidup yang tak berkecukupan, Garwa mengolah tikus untuk dijadikan santapan suaminya yang brangasan, pengangguran,  penjudi dan gemar main perempuan. Tak ada niat jahat dari Garwa, tapi hanya itulah yang bisa dia berikan dari nafkah suami yang jauh dari mencukupi. Di sini pula kegetaran non-melankolis tokoh Mona kembali terlihat. Bagaimana Garwa menghadapi penyakit di kelaminya tanpa meratap-ratap akibat tertular dari Agus, si suami, yang gemar ‘jajan’.

Sementara dalam cerpen Ningsih, Mona mengisahkan seorang perempuan pekerja yang merasa identitasnya mulai memudar tergerus rutinitas yang menjemukan juga kegiatan orang-orang sekitar termasuk suaminya yang terlampau dominan sehingga dia tak lagi hadir sebagai pribadi yang terlihat dan secara perlahan membuatnya merasa asing dan hampa. Di sini Mona berhasil menghadirkan bacaan yang begitu visual dan sinematik. Bahkan di akhir kisah, sebagian pembaca (barangkali) masih di gelayuti pertanyaan, benarkah Ningsih sosok yang eksis, bukan jiwa gentayangan yang tak menyadari ketidaannya lagi di dunia seperti yang biasa di temui dalam cerita-cerita serupa.

Tapi Mona juga tak melulu mengekspos kemiskinan dan derita sebagai bingkai dan benang cerita. Perempuan kelas menengah pun tak lepas dari bidikannya. Seperti dalam cerpen Tak Ada Bulan, Bobi pun Jadi, atau Tangan Yang Melambai, yang mengingatkan saya pada cerita-cerita pendek dari Edgar Allan Poe.  Sifat-sifat yang mengarah pada gejala psikopat dipaparkan, sekaligus jadi kejutan di akhir kisah. Tak Ada Bulan, Bobi pun Jadi misalnya, menceritakan tokoh Aku, seorang dosen yang sedang dalam perjalanan pulang. Sepanjang jalan, alih-aling mengusir penat, pikiran yang biasanya oleh banyak orang disingkirakan jauh-jauh, dalam cerita ini justru digelontorkan tanpa tedeng aling-aling. Dan di akhir, pikiran yang tak dapat terelisasi oleh Aku, justru di eksekusi oleh putri kecilnya. Di sini pembaca tertohok oleh tindakan si anak yang dalam kepolosannya ternyata mampu bertidak keji dan tak ada reaksi ekspresif yang terlampau berlebih dari si ibu kecuali bertanya dalam benaknya, antara percaya tak percaya. Hal serupa juga didapati dalam Tangan Yang Melambai, sepanjang cerita sebagian pembaca pastilah ikut berpihak pada tokoh Mon (barangkali kependekan dari Mona J ), penulis mandeg yang direcoki oleh tetangga dengan karakter yang tidak bisa dibilang terlampau simpatik bahkan cenderung menyebalkan. Namun Mon yang tak kunjung mendapat inspirasi dalam menulis bersikap datar-datar saja menghadapinya, bahkan ketika terus di kritik karena sikapnya ini. tapi keberpihakan tersebut segera berbalik di akhir kisah, saat tetangganya terjebak dalam kobaran api dalam rumahnya dan memberi isyarat meminta pertolongan, tak ada yang dilakukan Mon kecuali melambaikan tangan, tetap dengan dengan ekspresi datar.

Konflik vertikal antara orang tua dan anak turut pula dihadirkan. Tak hanya dominasi patriarki yang tersaji di sini, namun juga pertentangan pandangan sesama perempuan. Dalam Aroma Mesiu, kebencian yang terendap dalam diri anak perempuan terhadap ayahnya hadir dalam aroma kediktatoran khas militerisme. Dendam anak terhadap si ayah yang menghancurkan keluarga sendiri dengan keegoisannya dibalas dengan tindakan ketidakpatuhan yang dicicil untuk menyulut konfrontasi lebih besar dengan perbuatan asusila yang dilakukan si anak bersama orang tak dikenal. Antiklimaks yang dibiarkan menggantung terasa mengganjal benak pembaca tentang bagaimana akhir dari masing-masing tokoh dalam cerita ini.

Beauty is pain, itulah pendapat saya saat membaca Mata Yang Menyala. Pengalaman traumatis tokoh ibu saat saat dipaksa melayani nafsu bejat kerabatnya membuat dia meradang terhadap kecantikan fisik. Dimatanya, cantik fisik adalah bencana dan hal itu dilampiaskan pada putrinya sehingga dia tumbuh menjadi perempuan yang tidak bisa disebut cantik secara umum. Namun jaman dan lingkungan mempengaruhi pandangan Titi, si anak, yang justru merasa menderita dengan perbedaan penampilan dibanding rekan-rekannya. Namun dalam cerita ini Mona mengungkapkan bahwa lelaki tetaplah lelaki, selama perempuan itu bervagina dan berpayudara, tak peduli bagaimana penampilannya dia tetap rentan menjadi sasaran kejahatan (di cerita ini adalah kejahatan syahwat) lelaki. Hal ini membuat ungkapan bahwa cantik – menurut kesepakatan bersama banyak pihak – adalah luka belum tentu berlaku sepenuhnya dalam dunia nyata perempuan.

Kepandaian Mona dalam mencapurkan emosi tokoh dengan keadaan sekitarnya membawa pembaca ke dalam dimensi realistis yang tidak terlampau dramatis namun tetap menghadirkan ganjalan yang membuat pembaca kembali memikirkan tidak hanya para perempuan dalam ceritanya namun juga mereka yang hidup di dunia nyata. Kejutan-kejutan di setiap akhir kisah Mona bukan lah tipikal ending ala sineas M Night Syamalan yang membuat penikmatnya hanya selesai pada tahap mengecutkan bibir sambil berkomentar ‘oh begitu ternyata.’, cerita-cerita Mona adalah teror terus menghantui benak para pembaca untuk melihat derita perempuan dari kacamata perempuan itu sendiri.

Ilustrasi cover diambil dari sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s