Plastik

Barangkali ini adalah salah satu bahasan klise diantara tema-tema klise lainnya. Plastik. Yup, benda yang begitu dekat dengan keseharian kita, terutama kantong plastik atau lebih dikenal dengan nama kantong kresek.

Akhir pekan kemarin saya belanja kebutuhan di salah satu swalayan, dan ada kejadian yang kembali terulang setelah beberapa tahun lewat tanpa masalah. Saat itu pulang kerja, saya lupa membawa kantong plastik yang biasa selalu saya siapkan dalam tas kemana pun saya pergi. Karena tanggung, di pasar swalayan tersebut saya membeli satu pasta gigi, satu sikat gigi, satu detergen ukuran sekilo, sekian butir telur titipan kakak saya, dua ikat bayam, empat wortel, satu botol kecap, dan beberapa camilan ringan dalam kemasan.

Setiba di tempat bayar, begitu kasirnya mengeluarkan kresek kecil yang dalam perkiraan saya pasti akan di gunakan untuk memisah belanjaan berbahan kimia dengan belanjaan organik, saya ingatkan dengan berkata, “Di satukan saja semua, mbak.”  Entah karena salah memahami atau karena pendengarannya kurang, kasir yang menjawab “Iya Pak.” tetap memilah dan dan memasukan belanjaan dalam kantong plastik yang berbeda. Belanjaan saya pun terpisah jadi empat bagian: satu kantong untuk pasta gigi, sikat gigi dan detergen, satu kantong untuk telur (yang sebelumnya pun telah di masukan kantong plastik lain ketika di timbang dan di labeli), satu kantong untuk sayuran, kemudian semua di masukan ke dalam plastik besar bercampur dengan kecap dan camilan ringan. Total jendral 5 kantong plastik untuk belanjaan yang jumlahnya tak lebih dari sepuluh jenis. Sebelumnya, sebagai konsumen yang merasa punya hak, saya mengulang kembali pernyataan saya dengan kalimat yang lebih jelas, “Gak usah di pisah-pisah gitu, mbak, satuin aja, rumah saya dekat kok.” Kasir yang entah merasa terganggu oleh ucapan saya atau takut di sangka tak menjalankan peraturan untuk memisah belanjaan berdasarkan jenis, menjawab dengan air muka kencang, “Tanggung, Pak.” Saya pun akhirnya hanya bisa diam.

Alih-alih dongkol saya memperhatikan kegiatan transaksi di kasir lain. Pemandangan yang selalu sama setiap kali belanja tetap berjalan sebagaimana mestinya. Seperti yang juga terjadi pada saya, belanjaan di kasir lain di pilah dalam kantong-kantong yang berbeda dengan cepat dan cekatan, sementara konsumennya tenang-tenang saja sambil memperhatikan angka-angka yang tertera setiap kali beliannya di scan, melamun, atau memainkan telepon genggam. Tak ada yang menegur, tak ada yang resah.

Saya pun mencoba berkalkulasi kasar, jika dalam satu hari ada 200 konsumen yang belanja di tempat tersebut dengan empat jenis barang yang berbeda, berarti sudah menghabiskan 800 lembar kantong plastik. Kemudian hitungan itu semakin liar, bagaimana jika ditambah konsumen yang membeli dalam jumlah besar dengan barang-barang yang lebih variatif? Bagaimana jika ditambah dengan pengeluaran plastik dari pasar swalayan lain dan mini market yang makin bertebaran? Bagaimana jika ditambah bludakan pembeli saat liburan? Lalu di kali 30 (hari), lalu di kali 12 (bulan)? Jujur otak saya tidak sampai angka pasti untuk jumlahnya, namun tetap saja membuat saya bergidik ngeri. Berapa jumlah sampah yang di produksi untuk sebuah kenyamanan berbelanja ala swalayan semacam ini?

Dalam perjalanan pulang saya kembali meneliti belanjaan dan merasa geli sendiri, seberapa besar bahaya yang ditimbulkan apabila belanjaan ini tercampur? Sikat gigi dan pasta gigi terlindung kemasan, detergen tak mengalami kebocoran, sementara kecap juga tersegel rapat, pun begitu dengan camilan dan telur, sementara sayuran, begitu sampai rumah pasti saya cuci bersih.

Beberapa supermarket, mini market, dan toko besar tertentu memang telah menggunakan kantong plastik yang masa urainya lebih singkat, ± 2 tahun untuk bisa hancur. Ada pula yang menjual green bag berbahan polyethylene dengan harga satuannya antara 10.000 sampai 15.000 rupiah. Saya pernah membeli dan menggunakannya, namun sayang tidak tahan lama. Ukuran kecil, jahitan rapuh dan tali yang mudah putus saat menampung belanjaan yang sebenarnya tidak terlalu berat, membuat saya beralih menggunakan kantong plastik biasa saja yang lebih ringkas ketika diselipkan ke dalam tas. Karena sewaktu diberi kantong plastik ramah lingkungan atau pun membeli green bag dan saya tilik-tilik, sepertinya produsesn masih tetap menggunakan bahan baku baru dan bukan hasil daur ulang, jadinya sama saja, sebuah komoditas jualan. Sehingga pikiran praktis saya memutuskan, daripada menggunakan barang baru (walau pun ramah lingkungan) lebih baik menggunakan yang lama saja, toh fungsinya hanya untuk menampung barang sesaat, toko – kendaraan – rumah, yang jarak tempuhnya tak lebih dari setengah jam.

Perlu di ingat, kita tidak hidup di dunia sulap, begitu kita membuang sesuatu (dalam hal ini plastik), maka secara ajaib sampahnya akan lenyap. Ya, memang akan lenyap dari pandangan mata sebab diangkut oleh petugas kebersihan menuju tempat pembuangan akhir, namun benarkah semuanya berakhir? Plastik biasa tak akan terurai sampai ratusan tahun, jika kita membuang hari ini maka si plastik yang bersangkutan baru akan luruh setelah kita, pembuangnya, menjadi fosil. Opsi lain yang biasa digunakan untuk mengurangi volume plastik adalah dengan cara dibakar. Ini pun sama bahayanya sebab proses ini akan melepaskan zat dioksin dari plastik yang mempunyai pengaruh buruk bagi kesehatan.

Lalu opsi apa yang sebaiknya kita pilih. Ada beberapa: pertama, yang merupakan masih khayalan tingkat tinggi, adalah bahwa pemerintah mengeluarkan regulasi kepada pengusaha supermarket, mall, atau toko untuk menerapkan penetapan harga satu kantong plastik, seperti yang diterapkan negara Belanda. Di sana konsumen yang ingin menggunakan kantong plastik untuk menampung belanjaannya harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli kantong plastik. Barangkali untuk negara ini jika harga yang ditetapkan antara 3.000 sampai 5.000 rupiah rasanya sudah cukup supaya orang berpikir berulang kali untuk membuangnya setelah satu kali pakai.

Kedua adalah cara mudah yang lumayan susah pelaksaannya bagi sebagian orang, yakni mengedukasi diri sendiri. Saya tidak ingin menjadikan diri saya contoh, sebab saya pun meniru hal ini dari orang lain, yakni berhenti menggunakan produk baru dan tetap menggunakan produk lama. Ya, saya tahu masalahnya ada pada gengsi. Gengsi karena enggan dikira aneh, gengsi karena takut dikira kurang kota dan merasa tiba-tiba menjadi seperti kabayan dari desa yang membawa nasi timbel dari rumah saat makan di resorant mewah.  Tak usah mempermasalahkan apa yang dianggap orang sekitar, karena dengan melakukannya kita selangkah lebih maju. Menyelamatkan bumi tak cukup dengan penanaman pohon yang sifatnya seremonial, tak cukup dengan mengeruk sungai satu tahun sekali pada hari lingkungan hidup sedunia saja, tak cukup dengan berdemo, berteriak, menuding pemerintah tak peka terhadap issue kerusakan, sementara saat istirahat atau waktu bubaran kita membeli air dalam botol kemasan dan beberapa gorengan yang di kantongi kresek kemudian kita buang sembarang. Kenapa tidak kita mulai justru dari benda yang sering dituduh sebagai salah satu biang kerok kerusakan bumi. Benda yang dapat dikepal menjadi satu genggaman tangan, benda yang jika dilipat dengan benar tak akan memakan tempat ketika dimasukan ke dalam tas kerja, wadah pensil, atau tas tas pinggang. Ia lah kantong plastik.

Plastik, dalam hal ini kantong kresek, pada mulanya, seperti juga benda lain dibuat untuk mempermudah kehidupan manusia jaman sekarang, namun bisa menjadi bencana jika kita, manusia berakal, tak menggunakannya secara bijaksana. Jadi kenapa kita tidak kembalikan pada fungsinya semula, cukup dengan meninggalkan satu kata dalam benak dan pikiran kita. GENGSI.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s