Citra Wedari

cerpen ini pernah saya sertakan dalam lomba cerpen akhir tahun di sebuah jejaring sosial.

Keadaan kamar rumah sakit kelas VVIP temaram, hanya cahaya kekuningan yang menelusup dari luar kaca jendela menerobos, menerangi sebagaian area ruangan. Berbagai alat bantu kehidupan terpasang di sisi kiri dan kanan ranjang, mengeluarkan bunyi-bunyi elektrik.

Seorang pria berperawakan gemuk terbaring di tempat tidur. Banyak jarum menusuk di kedua lengan, dimana masing-masing terhubung dengan berbagai selang dan labu infus. Begitu pula dengan kabel-kabel yang terhubung dengan berbagai alat medis. Sementara alat bantu pernapasan membekap mulutnya. Ia memejam mata, tak bergerak, hanya alat pendeteksi detak jantung saja yang menunjukan bahwa pria ini masih hidup. Djoyo.

Terdengar pintu dibuka, diikuti derap langkah pelan dan tenang. Seorang perempuan masuk. Perawakannya terbilang ramping, berdandan lengkap, mengenakan kebaya merah darah dari bahan brokat dengan bros Chophard bentuk leopard tersemat tepat di tengah, berpadan kain batik warna coklat sebagai bawahan, dia juga membawa clutch produksi Chanel berpotongan sederhana, berukuran sedang, sewarna kebaya. Walau berusia genap setengah abad, namun gurat kecantikannya masih terlihat jelas. Rambutnya yang mulai ditumbuhi uban pada setiap helai pangkal di sasak, tersanggul rapi. Citra Wedari.

Citra Wedari mengambil kursi kecil kemudian duduk anggun di samping suaminya. Meletakan clutch di kabinet mungil samping ranjang. Menatap lekat dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tersenyum lembut tanpa menyentuh Djoyo. Matanya lalu beralih, melirik jam dinding besar di salah satu sisi kamar.

“Dua jam lagi usiamu lima puluh empat tahun.”

Tak ada respon dari Djoyo.

“Bukan usia yang muda, namun belum terlalu tua untuk ukuran seorang pria. Harusnya kau lihat rekan-rekan yang lain, mereka masih produktif, aktif, bekerja, berolahraga, bersenang-senang dengan keluarga. Tapi lihat dirimu,” Citra Wedari memandang iba, “terbaring tak berdaya dengan segala penunjang ini.”

Citra Wedari mengamati grafik dari alat pendeteksi detak jantung. Fluktuasinya masih tetap konstan seperti saat dia datang.

“Baiklah, aku akan mengatakan sesuatu padamu, suamiku, sebab aku tahu walau inderamu yang lain mulai lemah, tapi tidak dengan telingamu. Kau masih bisa mendengar. Aku selalu kagum pada telinga. Bukan pada bentuknya. Bukan. Tapi pada kemampuan indera ini, begitu… luar biasa. Kau tahu, bayi yang baru dilahirkan biasanya langsung di adzani oleh ayahnya, atau dibisikan doa-doa dan harapan. Begitu pula saat orang akan meninggal, seseorang akan menuntunnya, tepat di telinga, untuk mengucapkan syahadat, bersaksi, ber-Tuhan ber-Nabi. Juga sarana satu-satunya bagi sanak keluarga untuk mengucapkan selamat tinggal dan merelakan kepergian. Mungkin tidak semua, barangkali ada juga yang mengungkapkan rasa puas, kebencian, atau meminta pertanggungjawaban yang tidak sempat terlaksanakan, untuk berbagai alasan tentunya, supaya orang itu mati dengan beban. Tapi itu sama sekali bukan urusan kita. Apa yang kusebutkan baru saja tentang telinga juga bukanlah hasil penelitian para ahli, sebab aku belum pernah membacanya. Entahlah, mungkin ada yang melakukan riset untuk hal-hal seperti itu di negara lain, aku hanya menerangkan apa yang selama ini kulihat dan kukira-kira. Bisa benar, bisa juga salah. Namun saat ini anggaplah hal itu benar, sebab hal yang akan kukatakan tak akan pernah aku ulang. Dan karena sepengetahuanku kau tak punya masalah dengan pendengaran, aku harap kau bisa menerima dan mencernanya dengan jelas dan baik.”

Citra Wedari membetulkan posisi duduknya.

“Jujur saja, aku merasa kurang senang melihat keadaanmu sekarang. Harusnya kau bisa bertahan lebih lama tanpa bantuan alat-alat ini. Kau tahu kenapa? Sebab aku lebih senang melihatmu meringis kesakitan waktu asam uratmu kambuh, atau ketika tekanan darahmu naik, juga ketika kolesterolmu melambung tak terkendali. Ah… saat-saat yang membahagiakan. Oh, ya, juga waktu serangan jantung. Itu adalah momen terbaik. Napasmu tersenggal, keringat dingin bermunculan, dan kau seperti tercekik dari dalam. Benar-benar pemandangan yang mempesona. Namun tentu saja tak bisa kuperlihatkan bagaimana rasa senangku, sebab aku tak ingin diketahui dan membaginya dengan siapa pun. Cukup untukku saja. Selain itu aku juga lebih suka rasa senangku dicicil, dinikmati sedikit-sedikit, seperti minum anggur merah keluaran lama. Kau tak mungkin menegaknya sekaligus seperti tequila, bukan? Kau harus mengecap setiap detail rasa yang ada di sana.”

“Karenanya pula segera kuhubungi unit gawat darurat rumah sakit ini. Kukira mereka akan cukup lama untuk sampai rumah kita, tapi karena kau pasien langganan nomor satu kau mendapatkan layanan prioritas. Fantastis. Mereka datang dengan cepatnya, sehingga aku harus menyesuaikan antara melakukan panggilan dan menikmati kegembiraan. Tentu saja aku juga kadang merasa tegang, khawatir kau tak selamat, maka saat mendampingimu aku tak henti-hentinya berdoa, semoga paramedis yang bekerja mampu membuatmu kembali stabil, bukan karena kita telah membayar mahal untuk segalanya, tapi aku ingin kau kembali ke rumah, kembali pada kehidupanmu semula. Kita berdua berkumpul… sebagai keluarga. Aku memasakan hidangan terlezat dan kau menikmatinya dengan lahap.”

Citra Wedari mencondongkan tubuhnya, lebih dekat dengan Djoyo.

“Apa kau tidak merindukan daging merah, aneka ikan, tetelan dan jeroan yang kuolah sedemikian rupa? Sup buntut, lidah sapi lada hitam, dendeng ragi sapi, nasi tim kulit ayam, bebek goreng, iga kambing bakar, martabak kari kambing, rendang, empal, sambal goreng hati, opor bertabur potongan usus dan limpa, semur babat, daging lembu muda asam pedas, tongseng anak domba, kerang sambal balado, kepiting saus mentega, gulai kepala kakap dan tentu saja sate. Sate apa yang paling kau banggakan itu? Torpedo? Hihihihih… Apa kau tak memimpikan bisa kembali menyeruput kuah yang berminyak bersantan, kental menggumpal bekilat-kilat? Begitu gurih, beraroma menggoda, sehingga lidahmu tak berhenti berdecap dan liurmu senantiasa meleleh. Juga aneka pai, puding, manisan, dan kembang gula yang kusajikan bersama kopi hitam pahit dari biji pilihan hasil tumbukan tanganku sendiri. Tak ada yang bisa menandingiku dalam membuatnya, bukan?”

Citra Wedari kembali ke posisi duduknya semula.

“Aku tahu, itulah salah satu alasanmu selalu kembali ke rumah. Tentu saja disamping bahwa aku lah satu-satunya perempuan yang layak untuk kau ajak dalam pertemuan dengan rekan dan kolega. Aku lah yang bisa membaur dengan mereka. Aku lah yang bisa menjadikan basa-basi menjadi perbincangan menarik. Aku lah yang lihai mengenai tatacara memuji penampilan, sikap dan sifat teman-temanmu. Aku lah yang tahu kapan harus tertawa, dan bagaimana cara tertawa saat berhadapan dengan para tamu atau tuan rumah ketika mereka melontarkan lelucon tak lucu dan kelakar yang selalu diulang setiap kali bertemu. Aku lah yang diakui oleh keluarga besarmu yang gila bibit bebet bobot itu. Aku lah yang sanggup mengelitkan segala tuduhan adik dan kakakmu mengenai borok yang kau lakukan, sehingga segala cela menjadi tak begitu kentara. Aku lah istri yang mampu bertatakrama dengan sempurna saat bersilaturahmi dengan para tetua. Aku lah istri yang sanggup menelusupkan masalah bisnis ke dalam jamuan makan, menyamarkan lobi-lobi proyek keluarga dalam obrolan akrab saat arisan atau pengajian. Aku lah yang sanggup merekayasa kata-kata, menjawab cecaran media saat kau jadi sorotan karena terendus melakukan kejahatan keuangan. Dan aku pula yang menyelesaikan segala urusan bawah tangan dengan para petinggi, pemegang wewenang di belakang layar yang tak bisa terjangkau siapa pun, termasuk dirimu.”

Citra Wedari menatap wajah Djoyo setengah tajam.

“Aku tidak seperti para pelacurmu yang hanya bisa merayu, menuangkan minuman keras, kemudian melebarkan selangkangan, memamerkan vagina ranum dan kencang untuk kau coba. Untuk kau bayar.”

Tatapan Citra Wedari berubah menjadi setengah tak percaya.

“Tapi kau lebih memilih menghabiskan waktu bersama mereka. Dengan segala uang dan kekayaan yang kau punya kau beli tubuh-tubuh muda itu, lengkap dengan segala kosakata yang berkaitan dengan cinta. Namun aku tetap bertahan. Aku bertahan saat kau menjadikanku tak lebih daripada babu, penyedia makanan dan minuman ketika kau pulang demi martabat, menghindari pandangan miring orang-orang. Aku bertahan saat kau menjadikanku sekedar pajangan untuk kau pamerkan pada rekan-rekan, demi menjaga citra sebagai suami setia. Aku bertahan saat kau menjadikanku topeng untuk menyembunyikan pengkhianatanmu yang mulai tercium oleh orang tua dan adik kakak. Aku bertahan saat kau menjadikanku tameng dari bantaian para wartawan sewaktu artis murahan simpananmu berkoar-koar tentang skandal seks yang kalian lakukan. Kau dengar itu? Dan dapatkah kiranya kau menebak kenapa aku melakukannya, suamiku? Takut tidak laku jika kau tinggalkan? Tidak bisa hidup dalam kesendirian? Komitmen? Kewajiban? Pengabdian? Cinta?”

Tawa Citra Wedari meledak seketika, bahkan sampai berairmata, namun dengan segera Citra Wedari bisa menguasai diri, menotolkan jari-jarinya dengan gerakan gemulai ke pelupuk mata, tawanya juga mereda dan kembali terjaga.

“Kau keliru kalau menebak salah satu atau menyangka semuanya. Aku melakukan semua ini untuk hal lain, sayang.”

Citra Wedari mencondongkan wajah, setengah berbisik dekat telinga Djoyo.

“Dendam.”

Grafik pendeteksi detak jantung Djoyo berfluktuasi. Citra Wedari memutar mata.

“Sudahlah, tak perlu bereaksi berlebihan seperti itu. Kita berdua bukan orang bodoh yang begitu buta dalam melihat kenyataan.”

Citra Wedari kembali ke posisi duduknya semula.

“Dulu, sekali waktu, pernah juga terbersit dalam pikiranku untuk melakukan hal-hal spontan seperti istri lain saat mengetahui suaminya menyeleweng, mengumbar dan membenamkan penis di setiap perempuan yang ia temui. Ingin rasanya kutabrakan mobil ke rumah maksiat selingkuhanmu saat kudapatkan informasi kalian tengah bermesraan. Atau kuracuni kau saat berleha-leha tanpa dosa sambil minum teh petang hari di beranda belakang rumah kita. Akan mudah rasanya jika saat itu kularutkan arsenik ke dalamnya.”

Citra Wedari tersenyum geli sendiri.

“Atau kulabrak kalian saat belanja berduaan seperti pasangan muda yang tengah kasmaran, lalu kupermalukan habis-habisan. Jangan tanya masalah pembunuh bayaran dan penembak jitu, godaan untuk menyewa mereka begitu besar.”

Citra Wedari menggeleng halus.

“Tetapi tidak. Tindakan tanpa perhitungan hanya akan jadi bumerang bagi si pelaku. Dalam hal ini diriku. Sementara yang akan diuntungkan dalam hal ini adalah kau. Kau pasti merasa bangga karena mengira aku dan perempuan-perempuan itu berebut kasih darimu.”

Citra Wedari kembali tertawa renyah ingin tak ingin.

“Kemudian, demi nama baik, kau pura-pura kembali padaku, sementara waktu, sambil mengatur ulang jadwal pertemuan dengan para pelacurmu. Setelah reda, segalanya akan kembali seperti semula. Kau kembali, lagi dan lagi, pada mereka.”

Citra Wedari menyeringai manis.

“Sementara, jika aku meminjam tangan orang untuk menghabisimu, seperti menembak kau dalam perjalanan pulang, dimana letak kenikmatannya? Hidupmu akan berakhir dengan mudah, mati begitu saja tanpa sakit tanpa derita. Malah, salah-salah aku yang akan terkena masalah.”

Citra Wedari sedikit merileks-kan tubuhnya.

“Selama lebih dari seperempat abad kita berumah tangga, kau tentu sudah tahu aku perempuan yang memperhitungkan setiap langkah, merencanakan segala sesuatu dengan matang. Jadi jangan harap aku akan terjerumus dalam skenario drama kacangan semacam itu.”

Citra Wedari menghela napas halus.

“Lagipula, tindakan konyol, seperti yang kusebutkan, hanya dilakukan perempuan putus asa yang menginginkan kepuasan instan. Lalu setelahnya mereka menyesal, bahkan jadi bulan-bulanan orang sekitar. Yang tidak bisa aku mengerti adalah para penggunjing hanya sibuk mencari kesalahan si istri. Seperti beberapa orang yang pernah kutemui, pihak istri lah yang biasa dijadikan kambing hitam. Ada-ada saja alasannya, istri yang terlalu dingin, terlalu genit, terlalu sibuk, terlalu gemuk. Terlalu ini, terlalu itu. Kurang ini, kurang itu. Padahal jika para pria itu mau bercermin niscaya segala yang mereka tuduhkan sesungguhnya ada pada diri mereka sendiri.”

Bahasa tubuh Citra Wedari kembali menjad formal.

“Kau cukup pintar, menjadikan ketidakhadiran anak di antara kita sebagai alasan terkuat. Kau anggap aku bukan perempuan sempurna setelah apa yang bisa kulakukan? Benar-benar tidak tahu diri. Apa yang kau harapkan dari anak yang lahir dari perut gundik-gundikmu? Agar kau merasa lengkap sebagai seorang pria? Agar garis keturunanmu tetap ada? Atau investasi jangka panjang dari dosa yang kau lakukan, supaya saat kau mati ada yang mendoakan? Kau sendiri tak pernah mendoakan mendiang ibumu. Kalau pun kita dikaruniai anak, tetap saja kau akan menyeleweng. Sebab kau, pengkhianat, akan selalu menjadi pengkhianat.”

Mata Citra Wedari menatap nyalang.

“Ada satu hal yang tak kau tahu. Dua tahun setelah pernikahan kita, aku mengandung, sempat mengandung. Enam puluh enam hari dia bersemayam dalam rahimku, sebelum akhirnya terlahirkan dalam bentuk yang tidak sempurna diiringi pendarahan hebat saat kuketahui kau berzina dengan sekretarismu. Itulah untuk pertama dan terakhir kali aku terkejut akan perilaku bejatmu.”

“Kurahasiakan kematiannya. Kumakamkan jasadnya di kamar utama dalam sebuah kotak mungil bersama separuh jiwaku yang telah kau hancurkan. Kujadikan ketiadaannya sebagai pengingat agar aku senantiasa menghidupkan dendam atas perbuatanmu padaku, juga padanya.“

Mata Citra Wedari berkaca-kaca, tatapannya menyorotkan kebencian teramat dalam. Nada suaranya berubah serupa desisan.

“Kau lah yang membuatnya terbunuh. Kau, adalah pembunuh.”

Tapi dengan segera pula air muka Citra Wedari kembali mendatar.

“Di atas pusaranya aku telah bersumpah, akan kubuat kau menderita dan membayar mahal atas apa yang telah menimpa kami.”

Citra Wedari menyeringai, tak dapat dibedakan antara manis atau seram, tatapannya makin sayu dan datar.

“Namun diperlukan cara-cara halus agar pembalasan ini tampak wajar, tidak menimbulkan kecurigaan dari berbagai pihak, dan tentu saja dalam prosesnya aku bisa menikmati kepuasan. Memang, pelaksanaan metode ini memerlukan tingkat kesabaran tinggi dan kestabilan emosi. Istri mana yang tidak merasa jijik bersentuhan dengan suami penjamah tubuh perempuan lain.”

Duduk Citra Wedari menegak.

“Maka kusajikan amarahku dalam hidangan terlezat. Kuhadirkan dendamku dalam berbagai makanan ternikmat. Kujerat kau dengan suguhan pemanja lidah, pemuas nafsu perutmu, tanpa kau tahu santapan yang kau telan adalah racun yang menggerogotimu perlahan-lahan. Bisa paling sempurna yang pernah kubuat.”

Seringai Citra Wedari berubah menjadi senyum terkulum dengan tawa tenggorokan.

“Racunku bukanlah bahan-bahan sintetis atau zat kimia berbahaya. Racunku hanya terbuat dari bumbu dapur sederhana. Campuran gula, garam, berbagai rempah-rempah, ditambah minyak, santan, dan tentu saja, yang paling utama, potongan hewan-hewan terjagal. Meski begitu, semua tak akan berjalan lancar sampai sejauh ini jika tak ada peran kunci dari dirimu. Kau mau tahu apa? Ketamakan. Benar, keserakahan lah yang membuatmu lengah dan bodoh, terjebak dalam lingkaran setan yang kau masuki tanpa sadar selama lebih dari belasan tahun.”

Senyum Citra Wedari melebar, menatap tubuh Djoyo penuh kepuasan dari tatapan datar.

“Dan inilah hasilnya. Darahmu mengental. Tekanan darahmu meninggi. Gula darahmu meningkat. Aliran darahmu terhambat karena pembuluhnya menyempit dan tersumbat. Organ-organmu melemah dan rusak pelan-pelan. Penis yang tak bisa kau jaga itu juga layu, tak lagi bereaksi, mengalami disfungi. Kau pikir aku tidak tahu kegagahanmu beberapa tahun belakangan berasal dari viagra?”

Citra Wedari tertawa anggun, menghela napas nyaris lega, lalu meraih tas, mengeluarkan saputangan indah dan mahal, kemudian dengan telaten dan hati-hati melap keringat yang bermunculan di sekitar dahi Djoyo.

“Semua ini belum akan berakhir, sayang.”

Citra Wedari kembali memasukan saputangan ke dalam tas.

“Telah aku siapkan sesuatu untukmu, sebuah kabar gembira, anggap saja hadiah ulang tahun.”

Citra Wedari menatap Djoyo, seperti seseorang yang tengah menunggu reaksi lawan bicaranya untuk menebak.

“Semua benda dalam tubuhmu yang telah rusak itu harus diganti dengan yang baru. Dokumen persetujuan operasi telah kutanda tangani. Tak perlu risau mengenai donor, semua akan tersedia tepat pada waktunya.”

Air muka Citra Wedari merona gembira.

“Lalu dokter-dokter mulai menggunakan peralatan steril dan tangan bersih mereka untuk menyayat, membuka, memotong, mengeluarkan, serta menjahit beberapa bagian tubuhmu. Dan sebagai istri yang baik aku akan hadir di sana, di kamar bedah. Adegan berdarah ini terlalu istimewa untuk dilewatkan.”

Citra Wedari terlihat seperti mengingat sesuatu.

“Oh, satu lagi, dapat kupastikan pula operasi ini dilakukan berulang sampai beberapa kali. Tak akan kubiarkan kau melarikan diri melalui kematian, kau akan kutahan di dunia ini sampai titik darah penghabisan.”

Citra Wedari berbenah, membetulkan penampilan yang sedari awal sudah rapi.

“Itu saja yang hendak kukatakan, suamiku. Siapkanlah dirimu untuk hari besar yang akan segera datang. Jangan harap mendapatkan pertolongan dari siapa pun, karena setiap orang yang terhubung denganmu, semua, sudah berada di bawah kendaliku.”

Citra Wedari bangkit dari tempat duduknya, mengembalikan kursi ke posisi sebelum dia datang. Kemudian dia mendekatkan wajahnya pada Djoyo, berbisik. “Kali ini, rayakanlah ulang tahunmu seorang diri.”

Citra Wedari berjalan anggun menuju pintu keluar. Sementara Djoyo tetap terpejam, namum pelupuk matanya berkedut-kedut, beberapa jarinya bergerak, sedikit gemetar.

Citra Wedari yang telah sampai di ambang pintu dan memegang tuasnya berhenti, mematung sejenak, menggerakan kepala hampir menengadah tanpa menoleh.

Caddie jalangmu, yang kau sembunyikan di luar kota itu. Dia dan dua bocah setan kalian juga telah kubereskan.”

Mata Citra Wedari seperti melirik ke belakang melalui sudut kanan.

“Dengan caraku tentunya.”

Kepala Citra Wedari menoleh sepenuhnya ke arah Djoyo, tersenyum anggun.

“Selamat malam, Djoyo, suamiku.”

Citra Wedari melangkah anggun keluar kamar, menutup pintu dari luar.

Djoyo tetap diam tak bergerak. Namun kini ada lelehan air mata turun dari sudutnya, melewati pelipis, masuk ke dalam rambut yang berkeringat banyak.

Iklan

8 pemikiran pada “Citra Wedari

  1. cara bertutur yang bagus. tepat, telak dan kena sasaran baik mengenai tuan Joyo maupun nyonya citra wedari.
    Hanya penulis yang “sudah jadi ” yang bisa menulis semacam itu. saya kagum.
    Salam kenal dari saya oldman Bintang Rina

      1. Tentu saja saya akan rajin berkunjung , karena kebetulan saya suka membaca dan menggerutu bila bacaannya kurang nyaman.
        Salam dari oldman Bintang Rina.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s