Nyepi

Di bulan maret ini setidaknya ada tiga agenda acara besar yang secara langsung atau pun tidak berkaitan dengan lingkungan dan kesehatan bumi kita. Pertama ada World Silent Day (21/03), kemudian Hari Raya Nyepi, Tahun Baru Saka 1934 (23/03) dan terakhir Earth Hour (31/03). World Silent Day dan Earth Hour adalah program yang relatif baru dilakukan. Earth Hour dimulai sekitar tahun 2008 sementara World Silent Day setahun lebih awal, yakni 2007 berdasarkan Convetion Climate Change (konvensi PBB mengenai Perubahan Iklim) di tahun yang sama.  Jauh sebelum dua hal tersebut digembar-gemborkan, disebar dan menjadi sebuah trend bentuk kesadaran warga dunia terhadap planet yang dihuninya, masyarakat Indonesia, tepatnya di Bali telah melakukan hal tersebut selama ribuan tahun. Nyepi.

Hari raya Nyepi sebenarnya adalah perayaan tahun baru Hindu berdasarkan penanggalan Saka yang dimulai sejak sekitar tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru pada umumnya yang gegap gempita, Tahun Baru Saka di Bali justru dilakukan dengan menyepi, seluruh pulau tenggelam dalam kesunyian, kontemplasi, dan intropeksi. Tidak ada aktifitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, kecuali untuk Rumah Sakit.

Saat perayaan Hari Raya Nyepi, seluruh umat Hindu di Bali melakukan Catur Bratha Penyepian yang terdiri dari empat macam pantangan yaitu: amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bekerja) dan amati lelanguan (tidak melakukan kegiatan hiburan).  Brata ini mulai dilakukan pada saat matahari “Prabrata” fajar menyingsing sampai fajar menyingsing kembali keesokan harinya (± 24 jam).

Jika alasan ritual keagamaan dan tradisi ini ditanggalkan, maka menghentikan kesibukan satu pulau untuk satu hari saja adalah tindakan yang sangat-sangat berani. Terutama dalam kehidupan modern kita yang begitu tergantung pada kebisingan dan gebyar cahaya.

Ritual tahunan yang hanya dilakukan satu hari, di satu pulau ini saja, pada tahun 2008 silam mencatat pengurangan emisi ±20.000 ton C02, hanya berdasarkan perhitungan kendaraan bermotor dan pesawat terbang yang tidak beroperasi. Sementara pada tahun 2010 PLN distribusi Bali menyebutkan bisa menghemat biaya operasional sebanyak Rp. 5.5 Milyar, yang mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, dengan ritual yang sama, yakni sekitar Rp. 3 Milyar. Bayangkan jika satu negara, atau bahkan satu dunia melakukannya, berapa banyak energi yang dihemat, berapa besar kontribusi kita untuk kelangsungan hidup planet yang sudah renta dan sakit-sakitan ini dengan mengorbankan satu hari kesenangan dan kenyamanan dalam satu tahun hidup kita. Dengan poin yang perlu diingat bahwa gulita dan hening itu bukan dilakukan karena terpaksa, karena bencana, melainkan dengan sadar dalam rangka mencegah sebuah bencana.

Namun, seperti diketahui, masalah utama yang menjadi kendala kesadaran semacam ini datangnya dari satu hal yang paling susah di bawa kompromi. Faktor ekonomi.

Realistisnya, jangankan satu hari, beberapa jam saja listrik mati atau buruh berdemo kalangan industri langsung mengeluh dan merilis harga yang harus dibayar untuk semua ini. Kisarannya mulai dari ratusan juta hingga milyaran rupiah. Satu hari tanpa menggulirkan roda ekonomi berarti terganggunya momentum pertumbuhan ekonoi, kaburnya para pemodal ke negara yang senantiasa menyala, sekaligus padamnya argo profit, sesuatu yang begitu ditakutkan oleh kebanyakan umat manusia.

Seperti yang kita rasakan beberapa tahun belakangan, cuaca makin tak bisa diprediksi dan mengalami kekacauan siklus, rentetan bencana alam dahsyat yang makin sering terjadi, lapisan ozon yang kian menipis, runtuhnya gunung-gunung es di kutub utara, juga naiknya suhu bumi telah dijelaskan oleh berbagai bahasan ilmiah lengkap dengan prediksi akhir yang akan terjadi jika hal-hal penyebabnya terus dibiarkan dan bagaimana solusi untuk memperlambat hal tersebut terjadi. Sementara bagi yang  lebih percaya agama hal-hal tersebut juga banyak disebutkan dalam kitab suci.

Dari sekian banyak alternatif yang ditawarkan ada satu hal sederhana yang bisa dilakukan setiap orang, yaitu DIAM. Diam dalam arti sebenarnya, diam seperti yang diisyaratkan dalam Nyepi yang memaknai bahwa kita, manusia, harus mulai menekan, jika belum bisa melepaskan sifat-sifat serakah yang ada dalam diri. Sebagaimana diketahui, manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya, dan perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi.

Yup, seperti halnya benda ciptaan lainnya, bumi juga punya sifat fana; baru-tumbuh-menua-tiada, namun sebagai organisme berakal yang hidup dan memanfaatkan segala yang ada di dalamnya, bukankah kita, manusia, sudah semestinya tak hanya mengambil tapi juga memberi cadangan napas satu-dua pada Bumi sebelum di estafetkan pada anak cucu kita kelak. Bukankah akan lebih baik jika kita mewariskan sesuatu yang berarti bagi kelangsungan hidup mereka yakni dengan menjaga tempat tinggal kita yang hanya satu ini cukup dengan satu tindakan, DIAM. Tak ada yang tak mungkin bukan? (CS/berbagai sumber)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s