Indra Azwan: JUSTICE HUNTER

Pepatah lama bilang, Kasih orang tua sepanjang hayat, kasih anak sepanjang galah.

Kalimat di atas kini tak lebih dari sekedar parodi di negeri ini dan bertransformasi dalam arti sesungguhnya menjadi, “Kasih orang tua (masih tetap) sepanjang hayat, kasih pemerintah (hanya) sepanjang lidah.”

Di bulan maret ini, selain isu kenaikan BBM yang terus menimbulkan gelombang ketidaksetujuan dan penolakan dari berbagai pihak, ada satu pemandangan yang dihadirkan media yang membuat saya terenyuh.

Indra Azwan, pria 53 tahun yang juga seorang ayah, memutuskan memburu keadilan dengan caranya sendiri, yakni dengan berjalan kaki dari rumahnya dari kawasan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur, menuju istana presiden di Jakarta. Tujuannya hanya satu, menagih janji presiden Soesilo Bambang Yudhoyono untuk menegakan supremasi hukum menyangkut kasus putranya, Rifki Andika (12), yang tewas pada 8 februari 1993 akibat aksi tabrak lari yang dilakukan seorang oknum polisi bernama Joko Sumantri.

Kasus ini sebenarnya sempat di proses secara hukum, tentunya ala negara Indonesia yang terkenal sangat bertele-tele dan sesak oleh aroma rekayasa, pelaku pun dinyatakan bebas karena alasan administrasi, birokrasi, waktu, dan lainnya.

Seperti yang dilansir berbagai media, pada hari kejadian, saat mengetahui pelakunya seseorang dari pihak militer, Indra segera melaporkan kasus ini ke Polisi Militer Daerah Militer (Dan POM) V Brawijaya, Detasemen Polisi Militer V/3. Dari laporan ini, keluar surat laporan Nomor /V-3/II/1993.

Kemudian pada 13 Februari 1993, Dan POM V Brawijaya melimpahkan berkas perkara kepada Kapolda Jatim, selaku Papera dan Kepada Kaotmil III-12 Surabaya. Dua minggu berselang, tersangka diperintahkan dikeluarkan dari tahanan oleh Dan POM V/3 Malang, Letkol CPM Drs. Hendro Jono. Berbagai upaya hukum telah dilakukan Indra, namun hanya menemui jalan buntu.

Tak kunjung menemukan keadilan, Indra sempat mengirimkan surat kepada Wakil Presiden RI pada tahun 1995, Danpuspom (1996), dan Kapolda Jawa Timur (2004). Hingga pada 25 September 2006, Pengadilan Militer III-12 Surabaya, menetapkan melalui nomor TAP/11/IX/2006, bahwa Pengadilan tidak berwenang lagi untuk mengadili perkara tersebut karena terdakwa telah menjadi perwira menengah.

Selama rentang 1993-2008, Indra berkali-kali bertanya kepada polisi ataupun Detasemen Polisi Militer Malang mengenai kelanjutan kasus Rifki. Namun, ia dianggap angin lewat.

Bahkan pada 6 Februari 2008, majelis hakim pada pengadilan militer tinggi-III Surabaya bernomor PUT/05-K/PMT.III/POL/II/ 2008, membacakan putusan, bahwa hak menuntut pidana atas diri terdakwa tidak dapat diterima dan Joko Sumantri dibebaskan dari segala tuntutan karena kasusnya dianggap kedaluwarsa, yakni melewati waktu 12 tahun sejak kecelakaan tahun 1993 hingga dibukanya sidang tahun 2008. Padahal, pada putusan yang sama, majelis hakim yang dipimpin Kolonel Laut AR Tampubolon membenarkan terdakwa (Joko) secara sah dan meyakinkan terbukti melakukan tindak pidana ‘yang karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain.

Pada 10 Agustus 2010, Indra yang melakukan aksi jalan kaki pertamanya dari Malang ke Jakarta selama 22 hari, mendapat perhatian pemerintah dan ‘disantuni’ uang senilai Rp 25 juta sebagai bentuk simpati dan keprihatinan yang diserahkan pihak Kepala Rumah Tangga Istana terkait kematian putranya. Indra berani menerima uang itu setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang saat itu didampingi Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar, dan Sekretaris Satgas Pemberantasan Mafia Hukum Denny Indrayana, berjanji menginstruksikan aparat penegak hukum untuk menuntaskan kasus tersebut.

Di tahun 2011, kasus ini sempat dibuka kembali, namun alih-alih menghadirkan pelaku penabarakan sebagai tersangka, pengadilan justru menghadirkan Pelda Marwan, mantan bintara penyidik Denpom V/3 Malang, yang menangani perkara ini sebagai pesakitan.

Marwan diadili karena diduga secara sengaja tidak memproses perkara ini. Sejak perkara muncul tahun 1993 hingga 2004 dokumen tidak pernah sampai ke Oditur Militer. Oditur militer Mayor CHK Sumantri BR SH dalam dakwaannya menjelaskan, kecelakaan yang menewaskan anak Indra Azwan itu terjadi pada 8 Februari 1993 dan pada 11 februari 1994, terdakwa mendapat perintah untuk memeriksa Joko Sumantri yang saat itu ditahan di Madenpom Malang.

Setelah diperiksa, berkas diserahkan ke PNS Sutarman Mansyur. Namun sejak itu tidak ada kelanjutannya. Ada indikasi kolusi antara terdakwa dan PNS Mansyur tidak diserahkan ke Odmil karena sampai 2004 tidak pernah ada persidangan.

Atas perbuatan tersebut, terdakwa Pelda Marwan dijerat Pasal 417 KUHP tentang Kejahatan Jabatan serta Pasal 103 ayat 1 KUHPM karena tidak menjalankan perintah atasan. Sementara Joko Sumantri, sang pelaku, tetap menghirup udara kebebasan dan tidak tersentuh sama sekali.

Merasa keadilan yang diperjuangkan tak juga kunjung berpihak, pada 18 februari 2012 Indra Azwan memutuskan kembali menemui Presiden dengan berjalan kaki, selain menagih janji, ia juga hendak mengembalikan ‘uang santunan’ yang dianggapnya sebagai uang pembungkam dari pemerintah. Dalam perjalannya, Indra menuju ke Surabaya terlebih dahulu, untuk mengembalikan uang tunai yang diberikan Kapolda Jawa Timur, senilai Rp 2,5 juta.

Berbekal empat kaos, tiga celana pendek, dua bungkus rokok kretek, persediaan minum seadanya, bendera merah putih usang, dua kain bertuliskan, “Yth Presiden SBY, nyawa anakku harus dihargai. Saya tidak butuh amplop Rp 25 juta oleh istana. Saya tidak butuh janji oleh Kapolda Jatim Rp 2.500.000. Hanya satu harga mati. Akan saya kembalikan semuanya. Keadilan. Demi nyawa anakku. 18 tahun berjuang”, ditambah uang sebesar Rp.670.000 yang merupakan simpanan dari keuntungan lapak kelontong milik ia dan istrinya Betty Bernatiani (44), Indra Azwan Menempuh perjalanan selama 30 hari melalui rute Malang, Surabaya, Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Cepu, Purwodadi, Semarang, hingga akhirnya tiba di Jakarta pada 19 Maret 2012.

Perjalanan tersebut tentunya bukan tanpa kendala, jarak ± 887km yang ditempuh dengan berjalan kaki ini menghadapi rintangan baik dari cuaca, kesehatan dan lain-lain. Namun tekad Indra Azwan yang kuat membuatnya tak gentar terhadap hal-hal tersebut.

Perjalanan Indra Azwan yang menarik perhatian dan diliput secara berkala berbagai media ini tentu saja mengusik ketentraman telinga Presidan dan pihak Istana, melalui juru bicara kepresidenan, Julian Aldrin Pasha, pihak istana berkelit bahwa uang yang diberikan itu semata-mata karena bentuk simpati presiden dan bukan untuk membungkam tuntutan yang disampaikan Indra Azwan.

Julian menambahkan, saat Presiden Yudhoyono memberikan uang tersebut di Wisma Negara, Jakarta, Agustus 2010, itu karena Presiden benar-benar bersimpati dan ingin meringankan bebannya, tidak bermaksud menjadikan undangan kepada Indra dan memberikan tali kasih sebagai pencitraan, sehingga tidak perlu diberitakan oleh wartawan Istana. Namun, dengan adanya berita yang menyebutkan Indra Azwan akan mengembalikan uang, jelas mengejutkan dan tidak pernah Presiden berpikir untuk tidak menyelesaikan kasus hukumnya. Pasalnya, kasus hukum adalah koridor hukum yang tidak boleh diintervensi Presiden.

Pada 20 maret 2012 Indra Azwan tiba di istana dan diterima oleh Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana selama kurang lebih 30 menit, karena Presiden tengah ada acara di Istana Bogor dan tak bisa menjumpai rakyat biasa seperti dirinya.

Di Istana, lagi-lagi Indra Azwan harus menelan kekecewaan, Denny Indrayana yang ketika menjadi Satgas Anti Mafia Hukum begitu tegas, kini, pada jabatan barunya, hanya mengeluarkan tak lebih pernyataan normatif yang cenderung basa-basi. Dengan nada pelan, hati-hati, dan bergaya seolah orang yang datang menghadapnya tak lebih dari seorang anak yang merajuk, Denny menyebutkan, dengan berat hati pihaknya menerima uang tersebut dan menganggap hal ini sebagai simbol perjuangan Indra Azwan dan hal ini tidak ada kaitannya dengan kasus tersebut karena kasusnya tetap berjalan. Denny pun mengakui proses penegakkan hukum di Indonesia, terutama terhadap kasus kematian putra Indra Azwan, begitu lambat sehingga wajar jika ia kecewa. Saat Indra Azwan menginterupsi kalimatnya, Denny Indrayana menenangkan, lagi-lagi, dengan gaya seorang dewasa yang menahan gemas karna di recoki seorang bocah untuk hal-hal remehtemeh.

Sementara, dalam pernyatan kekecewaannya Indra Azwan mengungkapkan bahwa keadilan yang dicarinya ternyata tidak bisa didapatkan dari manusia yang tak punya rasa untuk mendengar dan hanya bisa mengeluarkan bualan yang memuakan, sehingga ia akan lebih memilih curhat pada monyet yang jelas-jelas tak berakal ketimbang pada manusia yang mempunyai rasa, akal dan pikiran namun tidak dipergunakan. Di belakangnya, Denny Indrayana hanya tersenyum masam sambil menegadah, sesekali ia memutar mata seolah ingin berkata, ‘aih capek deh… jangan lebay dong, masalah gini doang kok dibuat repot.’

Sabtu 24 Maret 2012, Indra benar-benar membuktikan ucapannya, ia mengunjungi kebun binatang Ragunan, Jakarta, untuk berkeluh kesah pada seekor gorila karena pihak-pihak  yang, notabene manusia dan juga seorang ayah, dan ia harapkan bisa turut merasakah apa yang ia rasakan dan memberikan bantuan dengan kewenangan yang mereka miliki, pada dasarnya tak menganggap ketidakadilan yang  ia rasakan selama lebih dari 18 tahun ini sebagai sesuatu yang patut untuk diapresiasi melalui langkah nyata.

Setelah jelas-jelas tak mendapat keadilan dari penguasa negeri, Indra Azwan bertekad memburu keadilan ke Rumah Tuhan, dan Mekkah adalah tujuan terakhirnya untuk mengadukan apa yang selama ini menjadi deritanya. Rencananya Indra Azwan akan mengambil rute Sumatera – Malaysia – Thailand – India – Iran – Mekkah.

Sebuah perjalan panjang yang akan menghadirkan berbagai hadangan, selain faktor usia, cuaca, dan asupan nutrisi untuk tubuh, urusan administrasi dan birokrasi dari berbagai negara yang akan disinggahinya akan merintangi jalan Indra Azwan menuju Rumah Tuhan.

Semoga tekad Indra Azwan ini mendapat kemudahan dalam berbagai hal dan ia bisa mendapatkan keadilan seperti yang selama ini ia perjuangkan.

Selamat berjuang, PEMBURU KEADILAN!

(CS/berbagai sumber)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s