amorTISASI

UNTUK DIPERHATIKAN: Ini adalah cerpen karya salah satu sahabat baik saya, Dwi Laela Rachmawulan. Pemuatan di blog ini telah mendapat ijin dari pihak yang bersangkutan.

Baju dan rambutmu basah sore itu, hujan sepertinya menemani perjalananmu.

Dilipat  kedua tanganmu di dada selarik senyum terbit di bibirmu, menunggu inisiatif handuk diulurkan dari tanganku.
Kusiapkan teh hangat dan cemilan manis alakadarnya ditengah menunggu.

Keluar dari kamar mandi wajahmu tampak bersih dan segar, kau tampan dalam penglihatan meski kausmu kekecilan, gegas tawa yang meledak kutahan, agar bahaknya tak mengagetkan dan mengurungkan niatmu memakai kaus kekecilan.

“Mengapa tidak menunggu?” tanyaku ragu sambil memasukan baju dan celana basah ke dalam keranjang cucian.

“Hujan reda entah kapan, mungkin besok pagi atau besok malam.” Jawabmu serius sambil meneliti notebook kesayanganmu.

“Jas hujan?” tanyaku menyelidik.

“Jadi mana yang sedang kau kerjakan?” kau balik bertanya di sela seruputan, begitu kebiasaanmu bila aku bertanya perihal jas hujan.

Kudekati wajahmu, memegang keningmu dengan punggung tangan, berlagak mengecek suhu badan, pura-pura tak peduli dengan kerisauan pekerjaan yang belum terselesaikan.

“Tak ada salahnya memakai jas hujan, tidak akan tampak lucu apalagi konyol, jas hujan adalah perlindungan, malah bisa menyelamatkan.”

Dan kau malah tertawa, melakukan hal yang sama, mengerutkan kening dan menempelkan punggung tangan di keningku, berlagak mengecek suhu badan.

“Minumlah teh ini, nikmat dan menghangatkan.” Ujarmu sambil menyorongkan teh hangat yang kusuguhkan, dan kubalas dengan tatapan heran.

Ku janjikan pada diri takkan kuulangi Percakapan mengenai jas hujan, telah bosan memberi saran, nyatanya bagimu perlindungan adalah seberapa besar saldo di tabungan.

¤¤¤¤¤
Tanganmu yang kedinginan kau selipkan dibawah ketiak mencari kehangatan yang sebelumnya kau peroleh dari gelas teh suguhan.

Setelah satu cemilan dan satu seruputan, kubuka beberapa file, menunjukkan tiga file terinfeksi dan setumpuk pekerjaan lanjutan yang harus kuselesaikan serta dipresentasikan esok pagi. Kamu mengedipkan mata kiri, kedua jempolmu diangkat tinggi, gigimu yang rapi melengkapi pemandangan bahwa kau siap berkolaborasi.

Kuambil sebuah bantal, ”Duduklah disini, karpet tak cukup memediasi.” Kataku tegas.

Kamu menghembuskan nafas, mengangkat dudukmu enggan dengan mata tetap berfokus pada layar, jari-jarimu bergerak lincah, menyamarkan ketakserasian ukuran keyboard dan jari tangan.

Aku mulai memilah kertas-kertas data yang harus kukerjakan, dan menganalisisnya satu persatu, membuat diagram dan selalu mengeceknya berulang. Kebisuan yang panjang mengisi ruang-ruang dimensi antara kau dan aku, tembang manis dengan beraneka aliran terdaftar di winamp, mewarnai kebisuan, memediasi percakapan, memperkenalkan selera dan karakter keindahan jiwa engkau dan aku.

Telah ketigakalinya jam berdenting menabuh peringatan sejak kedatanganmu, pandanganku agak nanar hingga akhirnya kusiapkan makan malam, nasi dan lauk pauk sederhana dengan pola dan rasa istimewa.

Kau banyak bertanya sejak suapan pertama, komentar manis kau lontarkan juga, setiap suapnya dinikmati dengan sederhana, menaikan gengsiku sebagai wanita.
¤¤¤¤¤

Malam menjelang di pertengahan, gerimis di luar masih terus berkejaran, tetesannya mengkilapkan bebatuan yang terperangkap cahaya lampu jalan, kukenakan jaket coklat kebesaran, juga mengambil satu untuk kau kenakan.

Wajahmu berseri, sebuah ide terbersit di matamu, aku menunggu.

Tanganmu sibuk mengaduk isi tasmu yang luar biasa besar, tali berwarna hitam kamu tarik hati-hati dari dalam, sebuah kamera hadir dalam genggaman.

“Kita berfoto ya.” Katamu semangat.

“Untuk apa?”

“Kenang-kenangan!” Kamu berkata masih dengan semangat yang sama.

Tanganmu menarik tubuhku dalam setengah lingkaran tangan, mendekatkan dua tubuh yang sedari tadi berjauhan, menyamakan persepsi kenangan dalam gambar disertai senyuman.

“Sekali lagi.” Ujarmu senang.

Satu jepretan tidak memuaskan, jadilah dua, tiga dan berulang jepretan dengan seragam tawa dan ekspresi yang berbeda-beda tapi tetap dalam koridor keindahan kenangan pertengahan malam di sela deadline pekerjaan.

Matamu menunjukan binar yang berbeda, pipimu bersemu merah dan alismu lebih sering terangkat, kerling nakal kadang muncul di wajahmu. Membuatku penasaran gerangan apa yang kau pikirkan, tidak pernah sebelumnya engkau seperti ini, begitu bersemangat dan begitu hangat, rahangmu yang selalu tampak keras hilang ditelan gurat senyuman, keningmu yang tak pernah absen berkerut, malam ini tak pernah mendapat giliran, sungguh membuatku penasaran.

Selangkah lagi pekerjaanku selesai, kau mulai menguap dan meregangkan otot-ototmu yang besar, rebah tubuhmu di karpet biru.

“Tak terasa, akhirnya selesai juga.” Ucapmu lega.

“Terimakasih sudah membantuku sejauh ini.” Sahutku cepat.

Engkau tersenyum, merapatkan jaketmu, berbaring membelakangi dudukku.

Aku meneliti notebook kesayanganmu, memeriksa pekerjaanmu satu persatu. Nafas kuhembuskan lepas, bagianmu terselesaikan dengan aman tak kurang seperti yang kukhawatirkan.

“Untukmu tidak pernah ada yang tak bisa kulakukan.” Katamu dalam terpejam, seperti bergumam.

Kupandangi punggungmu, kamulah yang bersemayam seperti Tuhan, balasku dalam diam.

¤¤¤¤¤
Pagi mempesona datang bersama gerimis yang tak kunjung reda, aroma basah melekat dimana-mana.

Tanganmu menggeliat, matamu terbuka tiba-tiba, wajahmu dihadapkan padaku, dan senyum terbit di bibirmu pertama kali pagi ini.

“Jam berapa?”

“Tujuh kurang delapan.”

“Hah! Kamu tak lupa siapkan sarapan?” kau bergegas mendudukan badan.

“Mandi, bukannya bertanya sarapan!” sahutku agak gemas.

Kompilasi sarapan pagi kuhidangkan. Dua tangkup roti berisi telur dadar, segelas air putih, segelas kopi dan segelas air jeruk.

“Sudah jadi pagi, tapi gerimis masih juga menemani bumi.” Suaramu pelan seperti sebuah penyesalan.

“Kamu benar, hujan berhenti entah kapan.” Ucapku mengingatkan jawabanmu kemarin sore.

“Hehe… aku disini, bersamamu semalaman.” Ujarmu dengan mimik konyol.

“Jeprat-jepret kenangan gak keruan.” Timpalku asal.

“Weh, bagus daripada menguapkan kantuk dengan tiduran.”

Aku tertawa, semalam rupanya kantuk menyerangmu juga, cangkir kopimu sudah setengah isinya.

Aku berdiri, mematut diri, “Sudah harus berangkat, mudah-mudahan Laporan dan proposalnya diterima juga disetujui.”

Kamu memandangku tanpa berkedip, bibirmu kelu namun pandangan itu mengisyaratkan sesuatu, sesuatu yang lebih dekat pada titik ragu dan entah. Selarik senyum terbit di bibirmu, kerling nakal muncul lagi tersisa dimatamu seperti semalam.

“Aku minta bayaran.”

Aku tersenyum, “Sudah Kusiapkan.” Kataku lekas mengambil sebuah map yang berisi amplop.

“Aku tak ingin dibayar dengan map atau sebuah amplop.”

“Ada sejumah uang di dalamnya.”

Kamu menatapku geregetan, tanganmu menggapai map yang kusodorkan dan kamu melangkah mendekatiku perlahan.
Aneka warna tebak-tebakan bergelut dalam logika atas apa yang ingin kau lakukan pagi ini kepadaku yang dianggap pantas sebagai bayaran, tubuhku menegang mencari jalan menghindar, menyembunyikan rona merah yang mungkin muncul di wajah. Aku tahu pelukan memang menyamankan tapi bukan itu yang ku inginkan dan aku tak pernah melakukannya dengan lawan jenis meskipun ia seorang teman atau saudara seketurunan. Pelukan saja tak pernah apalagi berciuman, terawang pikirku semakin sibuk meramal yang akan kau lakukan, membuat nyaliku menciut seperti perasan cucian. Kamu memang manis, sebagai laki-laki kamu tampan dan berpendirian, dan sebagai wanita aku menyukaimu, kadang pula berharap memilikimu bukan sebagai teman, sahabat atau kawan, aku ingin menjadikanmu lawan dalam menyelami perasaan, bergelut dalam selaksa rasa yang orang menyebutnya asmara.

Kamu menghentikan langkah, padahal kamu baru berjalan satu langkah, tapi justru itulah membuatku salah tingkah.

“Aku ingin melihat pertemuan antara langit dan bumi.” Ucapmu pelan, melegakan.

“Lalu?” tanyaku pura-pura tidak mengerti.

“Aku ingin melihatnya denganmu.” Matamu mengisyaratkan sesuatu.

“Kapan?”

“Nanti sore, kalau bisa?” matamu memohon dikabulkan.

Aku tersenyum, perihal mudah menemaninya jalan-jalan, mungkin tidak akan sesulit yang dibayangkan, dan tentang pertemuan langit dan bumi dimanapun itu aku yakin tempat yang nyaman.

Kuanggukan kepala, memberinya jawaban ya.
¤¤¤¤¤
Kamu datang menenteng tas besar, hujan reda siang tadi, seperti telah di lobi untuk kompromi.

“Sudah siap?”

“Siap!” jawabku sambil merapatkan jaket yang kukenakan.

Kamu meneliti gayaku memulainya dari ujung sepatu, memberi nilai untuk koreksi yang sekiranya perlu diganti.

“Jaketmu, gantilah dengan yang lebih tebal dan bawalah scarf.”

“Memangnya kita akan kemana?” tanyaku, agak gusar.

“Ganti saja.” Sahutmu cepat.

Aku mengganti jaket, sejenak meneliti perbekalan memastikan jas hujan telah kuselipkan untuk berjaga-jaga, karena hujan bisa mendera kapan saja meskipun kadang datang dengan pertanda.

Tidak ada percakapan, apalagi alunan musik untuk didengar, karena begitulah kenikmatan berkendara roda dua, desauan angin dan deru mesin yang saling bersahutan adalah musik paling merdu, dan sang maha pemilik desau akan membelai, dengan menyusupkan tangannya diantara helm pelindung dan kerah baju, meremangkan bulu-bulu halus yang tumbuh di kulitnya.

“Kita sudah sampai.” Katamu percaya diri.

Aku mendengar debur ombak di kejauhan, tanah yang kupijak dihiasi pasir disekitarnya. Inikah yang kau sebut pertemuan langit dan bumi, sang laut, pantai yang indah. Semula kukira kita akan ke gunung, tempat yang lebih tinggi tapi juga indah, aku termangu memandangimu meminta penjelasan.

“Kita parkirkan motornya di sini, kemudian berjalan sedikit ke pantai.”

Aku mengangguk, menyelempangkan tas, berbenah sedikit setelah semrawut selama masa perjalanan. Kamu duduk di atas bangku, menarik tanganku agar duduk di dekatmu.

“Kenapa gak langsung bilang kita mau ke pantai?”

“Kamu tidak akan penasaran, dan belum tentu mau.” Jawabmu yang disertai nyengir kuda.

“Dasar, sok misterius!” timpalku agak dongkol.

“Aku ingin menikmati buah dewa dengan memandangi pertemuan langit dan bumi denganmu, disini.”

Aku tergugu, buah dewa? apalagi ini? Kedua alisku bertaut memberikan reaksi atas ucapanmu. Kamu mengeluarkan keresek hitam dari tas besarmu, menciumnya dengan seksama.

“Apa lagi?” kataku dingin.

“Mempelam.”

“Mangga?”

“Yeah, orang-orang Hindu menghidangkan buah mangga untuk menyambut kedatangan dewa, hal ini termaktub dalam kitab sucinya loh.” jawabmu seolah kamu lebih tahu segalanya.

“Weda?”

“Yups, dalam kitab suci weda, mangga memiliki nilai kultural yang tinggi, buah ini berasal dari India, nama ilmiahnya Malayalam Maanga yang artinya pohon yang berbuah mangga dari India.” Kamu tambah serius menerangkan. Aku memandangimu, menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan.

“Bayangkan saja kita adalah para dewa, yang sedang bercengkerama, membicarakan rupa-rupa dari tembaga hingga batu mulia.” katamu sambil mengupas mangga.

“Baiklah.” Kataku, menurut.

Harum buah mangga mulai kucium tajam, wanginya menyegarkan, dan membuatku ingin segera menyantapnya, irisan buah mangga kau sodorkan, aku menggigitnya, menikmati rasanya, mencium wanginya, merasakan manisnya. Kamu menunjuk ke depan, pada garis horizon di lautan.

“Itulah batasnya,” kamu menghela nafas diam sejenak, “Pertemuan langit dan bumi.”

Kupandangi wajahmu, mengisyaratkan rasa kagum dengan senyuman dan anggukan tanda paham dengan apa yang kau maksudkan, sungguh di luar dugaan dua tahun mengenalmu, kamu yang seperti sekarang baru ditemukan, kamu yang begitu peka dengan pertanda.

“Kenapa memandangiku begitu?” tanyamu gugup.

“Bagaimana kau menemukannya?”

“Aku hanya memandanginya, meresapi keindahannya, dari sini kamu bisa menemukannya, batas itu jelas, yang diatas garis horizon adalah langit, ada gambaran awan yang akan kau dapatkan gambar bentuknya di lautan, dan yang dibawah garis horizon itu laut ombak-ombak yang mengalun dan kapal-kapal itu memberi jeda diantara keduanya, dari sini kau melihat garisnya, melihat pertemuan keduanya yang tak pernah lelah bersahutan, bercengkerama melewati siang dan malam, dari sini pula kamu akan melihatnya seimbang. Akan berbeda halnya jika kamu berada di atas kapal layar itu, kamu tidak bisa menggapainya, tidak tahu batasnya sehingga tidak bisa menyentuhnya, seperti konsep timur dan barat, seperti kutub utara dan selatan, garisnya hanya akan kau temukan di bola dunia, batasnya tidak akan pernah kau mengerti, tidak akan pernah kau temukan meski kamu berada di pegunungan, di tempat tertinggi yang begitu dekat dengan langit sekalipun.”
Kamu berbicara sambil terus mengupas mangga, dan aku menikmatinya lewat gigitan, kali ini suaramu lebih terdengar syahdu.

“Itu semua karena ….. ” kamu diam, mengalihkan pandangan.

“Karena konsep timur dan barat ada dalam benakmu, dalam hatimu, mengikutimu setiap waktu.” Ucapku tertahan, menunggumu menambahkan.

Kamu tersenyum, lebih manis dari buah dewa yang sedang kunikmati.

“ Ya, dia mengirimu dalam setiap perubahan.”

Aku diam, mengiringi perkataanmu yang sepi tanpa intonasi.
************

“Bagaimana presentasimu?”

“Baik, aku mendapatkanya, juga bonus menggiurkan.”

Good.”

Aku tersenyum, pemahaman tentangmu yang beku menjadi usang seperti koran saat siang, nilainya diamortisasi seiring petang menjelang.
¤¤¤¤¤

Iklan

2 pemikiran pada “amorTISASI

  1. saya tak tahu apa nama persisnya , tetapi di atas ini betul-betul tulisan indah. Saya suka membacanya keras-keras di kamar.(kalau dibaca di luar malu ditonton cucu )Terasa nyaman. baik susunan kalimatnya maupun iramanya . salam jumpa lagi dari oldman Bintang Rina,

    1. terimakasih Pak Bintang, maaf baru balas sekarang, kemarinan blog saya diserang banyak spam, jadi komen bapak agak ‘kesilep’ heheheheh…. ini cerita pendek karya sahabat saya, semoga bisa memberi sedikit inspirasi dan informasi bagi yang membaca 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s