Einstein’s Dreams: In The End of Time

UNTUK DIPERHATIKAN: Tulisan ini adalah karya Alan Lightman yang terdapat dalam novel Einsten’s Dream’s  yang rilis pertama kali di Indonesia tahun 1999. Pemuatan di blog ini tanpa seijin dari pihak-pihak terkait dan bukan untuk tujuan komersil.

Einsteins Dreams

8 MEI 1905

DUNIA AKAN BERAKHIR pada 26 September 1907. Semua orang tahu itu.

Di Berne, seperti di kota-kota besar dan kecil, satu tahun sebelum dunia berakhir, sekolah-sekolah ditutup. Mengapa harus belajar demi masa depan yang tak berumur panjang? Anak-anak yang gembira karena masa belajar telah berakhir untuk selamanya bermain petak umpet di lorong-lorong di Kramgasse, berlarian menutu Aastrasse dan melemparkan batu-batu ke sungai, menghabiskan uang jajan untuk permen dan gulali. Orantua membiarkan apa saja yang mereka mau.

Satu bulan sebelum dunia berakhir, kegiatan bisnis berhenti. Bundeshaus menghentikan produksinya. Gedung telegraf fedaral di Speichergasse membisu. Suasana lengang juga ditemui di pabrik jam di Laupenstrasse dan perusahaan penggilingan di seberang Jembatan Nydegg. Apa gunanya perdagangan dan industri bila cuma tersisa sedikit waktu?

Di kafe-kafe tenda di Amthausgasse, orang duduk menyeruput kopi, berbicara tanpa beban tentang hidup mereka. Semangat kebebasan memenuhi udara. Seperti saat ini, seorang perempuan bermata cokelat berbicara pada ibunya tentang betapa sedikitnya waktu yang mereka habisakan bersama pada masa kanak-kanak, ketika si ibu bekerja sebagai tukang jahit. Ibu dan anak itu sekarang berencana bepergian bersama ke Lucernere. Mereka akan bersama-sama selama waktu yang tersisa. Di meja lain, seorang lelaki bercerita tentang atasannya yang ia benci karena berkali-kali bermain cinta dengan istrinya, setelah jam kerja, di ruangan tempat menggantung mantel. Sang atasan mengancam akan memecatnya bila ia dan istrinya coba cari masalah. Tetapi, sekarang, apa lagi yang ia takutkan?  Lelaki itu telah membuat perhitungan dengan atasannya, dan rujuk kembali dengan istrinya. Merasa lega, lelaki itu merentangkan kaki dan membiarkan matanya menjelajahi Pegunungan Alpen.

Di toko roti di Marktgasse, seorang tukang roti yang berjari-jari tebal menaruh adonan di oven dan bernyanyi. Hari-hari ini orang menjadi sopan saat memesan roti. Mereka tersenyum dan membayar dengan cepat, karena uang telah kehilangan nilainya. Mereka berbicara tentang piknik di Fribourg, menghargai waktu dengan mendengarkan cerita anak-anak mereka, berjalan-jalan di sore hari. Mereka seperti tak peduli pada dunia yang segera berakhir, karena semua orang bernasib sama. Dunia dengan satu bulan tersisa adalah dunia dengan persamaan hak.

Satu hari sebelum saat terakhir, jalan-jalan diliputi gelak tawa. Tetangga-tetangga yang tak pernah bertegur sapa saling memberi salam seperti sahabat lama. Orang-orang melepas pakaian dan mandi di air mancur. Yang lain menyelam di Aare. Setelah berenang sampai kelelahan, mereka berbaring di rumput tebal sepanjang sungai dan membaca puisi. Seorang pengacara dan seorang pegawai kantor pos yang tak pernah bertemu sebelumnya saling bergandeng tangan menuju Botanischer Garten, tersenyum pada bunya-bunga cyclamen dan aster, berbincang-bincang tentang seni dan warna. Apalah arti masa lalu mereka? Di dunia yang tinggal sehari, mereka sama.

Di bawah satu bayangan sisi jalan Aargergasse, seorang lelaki dan seornag perempuan menyandarkan diri ke tembok, minum bir dan makan daging asap. Selanjutnya, perempuan itu mengajak si lelaki ke apartemennya. Ia bersuamikan lelaki lain, tetapi selama bertahun-tahun lelaki yang sekarang berada di apartemennya inilah yang ia inginkan, dan di hari terakhir ini ia akan memuaskan hasratnya.

Sejumlah orang buru-buru memenuhi jalanan dan melakukan berbagai perbuatan baik, mencoba mengubah hal-hal buruk yang pernah mereka lakukan di masa silam. Dari semua senyuman yang paling bertebaran, senyum orang-orang inilah yang tidak wajar.

Satu menit sebelum dunia berakhir, semua orang berkumpul di lantai Kunstmuseum. Lelaki, perempuan, anak-anak membentuk lingkaran raksasa dan saling berpegangan. Tak ada yang bicara. Suasana demikian sunyi hingga orang bisa mendengar detak jantung orang di sebelah kanan atau kirinya. Ini adalah menit terakhir dari dunia. Di keheningan yang sesungguhnya, bunga gentian ungu di taman menangkap cahaya lewat sisi bawah kelopaknya, bersinar sebentar dan kemudian menyatu dengan bunga-bunga lainnya. Di belakang museum, runcing daun-daun pinus bergetar pelan saat angin bertiup. Jauh di belakang, melintasi hutan, Sungai Aare memantulkan cahaya matahari, membengkokkan cahaya dengan riaknya. Di sebelah timur, Menara St. Vincent menjulang ke angkasa, merah dan rapuh, seringan daun-daun yang beterbangan. Di atas sana, pegunungan Alpen terbungkus salju, menyatu dalam putih dan ungu, besar, dan diam. Sepotong mega mengambang di angkasa. Burung pipit bekedip-kedip. Tak ada yang bicara.

Di detik terakhir, semua orang merasa terlempar dari puncak Topaz, semua berpegangan tangan. Udara dingin menyambar, tubuh-tubuh seperti tak berbobot. Cakrawala yang senyap terbuka bermil-mil panjangnya. Dan di bawahnya, selimut salju yang sangat besar longsor semakin dekat, membungkus lingkaran merah jambu dan kehidupan.

———————-

versi minimalist versi Crimson Strawberry berdasar sampul buku cetakan 2012
versi minimalist versi Crimson Strawberry berdasar sampul buku cetakan 2012
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s