Srengenge

UNTUK DIPERHATIKAN: Ini adalah cerita pendek karya Seno Gumira Ajidarma yang dimuat di harian Kompas, 2 Nopember 1986 dan dimuat kembali dalam kumpulan cerita pendek PENEMBAK MISTERIUS dari penerbit  Galang. Pemuatan di blog ini tidak melalui seijin dari pihak-pihak terkait dan bukan untuk tujuan komersil.

Srengenge

Langit masih gelap. Namun, seperti biasa, pasar itu mulai hidup. Cahaya lentera, obor, maupun petromaks, menerangi kegiatan pasar di perempatan jalan itu, bercampur cahaya lampu neon dari tiang listrik dan toko-toko Tionghoa yang masih tutup. Tanah yang becek dan genangan air sisa hujan kemarin malam memantulkan cahaya. Suatu ketika seorang pemuda melaju dengan sepeda motornya dari balik malam dan genangan air hujan itu menyiprati wajah tukang sayur yang seketika memaki-maki dengan dahsyat, mendoakan agar nenek moyang maupun keturunan penunggang sepeda motor tadi disiksa habis-habisan di neraka. Bunyi-bunyi dan suara-suara pasar mulai bangkit. Derum mesin truk yang menurunkan keranjang-keranjang sayuran membangunkan gelandangan di emper toko yang sehabis kencing di sebuah sudut sambil menguap dan menggaruk-garuk kepalanya dan memandang dunia dengan tatapan mata kosong segera melipat tubuhnya kembali di emper toko itu.

Lagit masih gelap. Tiga ekor kambing di seret-seret. Seekor ayam berkokok. Teriakan wanita-wanita pedagang saling bersahutan. dering bel becak dengan bawaan sayur mayur menggunung dan masih ditunggangi si wanita pedagang di atas sayur mayur itu menyela di celah hentakan musik jaipongan dari warung suupermi. Orang-orang mulai nongkrong di warung itu memesan supermi, kopi, telur setengah matang, atau susu telur madu. Para pedagang menggelar dagangannya di bawah ataup maupun di tepi jalan. Mengggelar harapan dan kemunginan yang tak lagi terlalu pasti hari-hari ini. beberapa orang saling menyapa, beberapa orang mulai bertengkar. Mata seorng pedangan kentang melirik goyang pinggul wanita penjual kayu bakar. Mobil patroli polisi lewat perlahan dengan lampu merahnya yang nguik-nguik dan berpijar-pijar menggetarkan.

Langit masih gelap. Udara masing dingin. Di emper toko yang lain dua centeng pasar masih main kartu dengan seorang hansip. Orang-orang yang tidak jelas kerjanya berkongkok di dekat tukang rokok. Dan tukang rokok itu tanpa diminta segera menawari mereke rokok kretek yang tanpa menunggu lebih lama lagi segera disambar dan diselipkan di telinga mereka masing-masing. Ada taksi lewat menurukan wanita malam yang indekos di ujung pasar. Bunyi karung-karung berdebam dilempar dari atas gerobak. Bau segala jenis sayur mayur dan rempah-rempah mulai menusuk hidung. Seorang wanita pedangan tua memaki-maki dan melempari kucing yang berhasil menggondol ikan asin dengan sebungkah besar bawang merah. Seekor anjing  kudisan menyalah tanpa sebab. Terdengar suara azan dari mesjid. Lokomotif lewat mender tanpa gerbong.

Langit masih gelap. Dari radio transistor di warung itu warta berita mulai mengalir. Sebuah bom mobil meledak di Jerman barat, menewaskan seorang industrialis, tiga gerilyawan Palestian tewas diberondong patroli angkatan laut Israel. Bank sumsum tulang belakang pertama berdiri di New York. Presiden Suriah Hafes Assad menelepon pemimpin Libya Muammar Khadafi, tentang kunjungan PM Israel Shimon Perez ke Maroko. PM Inggris Margaret Thatcher melunakan sikapnya yang menentang sanksi ekonomi kepada Afrika Selatan. Kerajaan Playboy mulai bangkrut. Pemain bola Argentina Diego Maradonna berlibur ke Tahiti. Presiden AS Ronald Reagan memperingatkan baya komunis dari Amerika Tengah. Film Ibunda meraih sembilan Citra. Korban kebocoaran reaktor nuklir Chernobyl terus meningkat. Aktris Liz Taylor menyatakan dirinya masih terbuka untuk cinta. Lantas, warta berita diakhiri dengan pengumuman: Perhatian. Mulai hari ini, matahari tak terbit lagi. Harap maklum.

Langit memang masih gelap. Beberapa orang di warung itu yang kebetulan memperhatikan tertegun. Mereka saling berpandangan tidak mengerti, makanan yang  ditelan menyangkut di tenggorokan. Tidak masuk akal. Hari-hari selalu berlalu tanpa perubahah yang berarti. Warta berita itu-itu melulu. Sehingga tak pernah mendengar pun tak apa-apa. Jadi, peduli apa pada sebuah pengumuman yang dibacakan dengan nada rutin? Orang-orang di warung dan sekitarnya, tentu mendengarnya, tapi tentu saja tak siap untuk pengumuman seperti itu. Bahkan suara radio bagi mereka hanya salah satu bunyi di antara sekian juta bunyi di pasar itu, yang telah mereka dengar bertahun-tahun tanpa perubahan sedikitpun! Orang-orang yang kebetulan memperhatikan dan tertegun pun segera melanjutkan makannya kembali meskipun wajah mereka agak mengandung tanda tanya. Matahari tak terbit lagi? Masak sih. Tidak masuk akal. Ini pasti potongan sandiwara kesasar. Atau iklan batu baterai.

Tapi memang langit masih gelap. Hidup masih berjalan seperti biasa, sebentar lagi langit akan lebih terang. Dan orang-orang yang belanja berdatangan. Dan sampah berserakan. Seperti biasa. Menyebalkan. Kuli-kuli yang berkeringat mengangkut karung-karung dan peti-peti. Hansip dan Banpol yang semprat-semprit. Satu tegukan es cendol siang hari. Nanti. Itu akan terjadi. Pasti. Dalam hidup ini matahari selalu pasti. Hanya nasib yang lain-lain. Para pedangan itu bersiap menanti pembeli. Mereka mendongak. Langit masih gelap.

Tiba-tiba, seseorang meloncat ke atas truk. Ia mengangkat kedua tangannya. Mengembangkan jari-jarinya. Dan berteriak.

“Wahai saudara-saudaraku! Bertobatlah! Akhir zaman telah tiba! Matahari telah berakhir! Bertobatlah selagi sempat!”

Ia seorang muda yang tampan. Rambutnya ikal dan panjang. Pakaiannya compang-camping. Wajahnya bercahaya. Orang-orang di dekatnya berhenti bekerja. Orang-orang di warung yang sempat mendengar siaran tadi tersengat. Namun wajah mereka masih juga bertanya-tanya.

“Wahai saudara-saudaraku! Aku berseru kepadamu, mintalah pengampunan pada Tuhan sekarang juga! Matahari tak akan lagi terbit! Inilah hari terakhir peradaban manusia! Bertobatlah! Mintalah ampun atas kehidupan kalian yang bergelimang dosa! Supaya kalian terhindar dari siaksa hari kiamat yang mengerikan! Bertobatlah! Sebelum azab Tuhan membuatmua sengsara! Saudara-saudaraku! Bertobatlah! Saudara-saudaraku…”

Sebagian orang menghentikan kegiatannya. Mereka mendekat, memperhatikan orang itu baik-baik. Kuli-kuli di atas truk bingung, tak tahu harus berbuat apa pada orang yang berteriak-teriak ini, beberapa di antara yang berkerumun mulai mengenali orang itu.

“Lho, itu Sukab!”

“Iya, si Sukab!”

“Busyet! Gue sangkain sih beneran!”

Kerumunan itu segera bubuar. Dua centeng pasar yang tadi main kartu segera melompat ke atas truk. Sukab ditempeleng dan diseret ke kantor siskamling. Beberapa orang yang belum paham masih bertanya-tanya.

“Sukab? Sukab siapa?”

“Si Sukab itu lho, orang gila yang suka ketawa-ketawa sendiri di gardu listrik.”

“O, orang gila yang suka nyanyi Walangkekek?”

“Iya!”

“O, dasar orang gila! Tapi omongannya kok seperti orang waras tadi ya? Seperti orang khotbah!”

“Ah, sudah, jangan dipikir! Cuma orang gila saja kok!”

“Iya! Orang gila! Masah matahari dibilang nggak terbit!”

Sambil berkata begitu mereka mendongak ke atas. Langit memang masih gelap. Sejenak dada mereka berdesir. Tapi mereka segera lupa. Sebentar lagi hari jadi terang. Seperti biasa. Seperti berpuluh-puluh tahun, beratus-ratus tahun, bahkan berjuta-juta abad yang lampau. Kenapa pula harus pulang oleh ucapan seorang gila? Sebagian orang bahkan telah menghitun g keuntungan yang adkan didapat hari ini. jari-jari mereka dengan lincah bermain atas kalkulator. Warung tambah penuh. Radio transistor menghentakan lagu dangdut.

oh kejamnya dunia ini

tak sekejam hatimu uuuu…

merka sudah lupa kejadian tadi. Obrolah di warung menghangat sekitar desas desus si janda juaragan ayam. Ada kabar ia mulai lirik-lirikan dengan pedangan tempe. Lantar mereka juga mempersoalkan pasara swalayan yang akan segera dibangun. Penggusuruan. Kebakaran. Banjir. Kredit. Sawah. Anak. Kemajuan. Kendaraan Jepang. Wanita desa. Pemilu…

***

Langit masih gelap. Beberapa orang mulai meraka ada sesuatu yang lain dari biasa. Biasanya, meskipun telum terlalu terang, setidkanya ada sinar di ufuk timur. Langit akan keungu-unguan ditingkahi cahaya jingga. Kemudian, perhalan-lahan bumi akan menjadi terang. Orang-orang akan keluar rumah. Jalanan akan penuh. Dan pasar itu akan betul-betul menjadi ramai.

Namun langit masih gelap. Orang-orang yang nongrok di warung mulai merasa telah membuang waktu terlalu lama. Meraka juga melihat arloji. Dan terperanjat. Seharusnya langitu sudah terang. Mereka saling berpandangan tanpa kata. Meraka takut apa yang meraka katakan benar-benar akan menjadi kenyataan. merka menelan ludah. Wajah mereka makin pucat ketika lagu dangdut berakhir dan penyiar membacakan sebuah pengumuman. Pasar mendadak sepi.

Mereka menyimak. Volulmnya sesetel keras supaya orang lain ikut mendengar dan ikut pula merasakan kekahwatirkan yang bagaikan akan terlalu berat kalau ditanggung sendiri, dan suara penyiar wanita yang lembut, empuk, halus dan menawan itu pun mengucapkan sebuah kalimat: Hari ini matahari tak terbit. Besok muncul kembali dari sebelah barat.

Begitu biasa pengumuman itu. Seperti sedang mengumumkan ramalan cuaca. Dan nadanya begitu biasa. Begitu rutin. Apakah penyiarnya main-main? Tapi ini sudah kedua kalinya. Jadi Sukab betul. Pantas wajahnya bercahaya. Mungkin ia dapat wahyu. Siapa tahu. Busyet. Terbit di sebelah barat? Apa artinya? Kiamat? Pasar itu mendadak riuh dengan bunyi kepanikan. Wajah-wajah telah membayang penuh kecemasan. Mereka mendongak ke langit. Memang langit gelap gulita. Bahkan awan bergulung-gulung seperti binatang raksasa. Angkin berhembus keras, dingin dan ganas. Terdengar bunyi ranting patah berderak-derak.

“Tuhan!” seseroang tiba-tiba berteriak. Ia sujud dan menengadahkan kedua tangan, “Ampuni aku, Tuhan!”

Tapi seseorang lain menghardiknya

“Baru gitu aja ngeper! Ini ‘kan cuma omong kosong! Mana mungkin matahari tidak terbit ? kalian percaya si Sukab gila itu? Kalian percaya sama sandiwara radio? Gombal! Ayo kerja seperti biasa! Layani pembeli! Matahri pasti akan terbit! Pasti!”

“Pasti! Pasti! Tapi dari sebelah barat! Sok jago lu! Apa kamu bisa menahan matahari terbit dari barat? Kamu tahu, apa artinya matahari terbit dari sebelah barat?” sergah yang lain lagi.

“O… jadi kalian percaya omongan-omgongan tidak masuk akal itu? Kalian ini sudah gila apa? Sudah seperti Sukab?”

“Tapi, coba lihat! Mana matahari?”

“Ya, mana matahari?”

“Kembalikan matahari padaku!”

Orang itu terdiam sebentar, namun tetap membantah.

“Aku tak tahu kenapa langit masih gelap. Aku tidak bisa menerangkan. Aku cuma tukang sayur. Tapi tetap tidak percya matahari bisa tidak terbit, apalagi muncul di sebelah barat?”

“Lantas, apa yang terjadi?” tanya hansip.

“Pasti ada yang mengacau?”

“Subversif!”

“Mungkin saja. Kenapa tidak?”

Mendadak hansip itu mengeluarkan instruksi, “Tangkap orang-orang yangmencurigakan!”

Tak ada seorang pun yang bergerak. Orang-orang itu malah bergerak ke arah si hansip, yang mundur-mundur ketakutan.

“Bangsat lu! Penjilat! Mati aja lu!”

Dalam sekejap, hansip itu habis dihajar.

Namun pesoalan belum selesai. Langit masih saja gelap. Orang-orang mendongak ke atas dengan wajah cemas.

“Matahari! Matahari! O, kemana kamu pergi?” teriak seseorang denga wajah putus asa.

“Tuhan, apa yang harus kami lakukan?”

“Apa daya kami?”

“Kami cuma orang kecil.”

“Apakah kami harus minta ampun sekarang?”

“Betulkah mathari akan terbit di barat, Tuhan?”

“Inikah saat hari kiamat ya Tuhan?”

Seseorang melompat ke  atas truk. Teriakannya keras, mengatasi yang lain.

“Saudara-saudara sekalian! Inilah hari terakhir bagi kita untuk bertobat! Besok matahari terbit di barat, saat datangya hari kiamat! Langit akan runtuh! Gunung-gunung akan meletus! Sungai meluap! Angin ribut! Kita semua kaan tewas! Inilah kesempatan  terakhir saudara-saudara! Kesempatan terakhir bertobat dan mengurangi dosa kita yang bergelimang! Setiap hari kita hanya berpikir mencari keuntungan untuk diri sendiri! Tak pernah peduli nasib orang lain! Ayo kita mohon ampunan besama-sama selagi masih sempat!”

Orang-orang memandangnya dengan bingung. Sebagian, meskipun ngeri melihat langit gelap, belum begitu yakin kiamat sudah datang besok.

Oang lain lagi melompat ke atas truk.

“Jangan percya dia! Jangan percaya kata-katanya! Jangan pedulikan dia! Ayo kerja! Jangan buang waktu!”

Tapi ornag-orang juga tidak bergerak.

Kini orang ketiga melompat ke atas truk.

“Tenang! Tenang! Sekarang begini saja saja saudara-saudara. Marilah kita berpikir sedikit lebih tenang. Jangan panik! Orang sabar kekasih Tuhan. Begini lho maksud saya. Semua ini ‘kan belum pasti? Belum pasti matahari terbit di timur ‘kan? Jadi, maksud saya, kita tungggu saja. Kalau ada cahaya di barat besok, kita buru-buru minta ampun. Kalau terbitnya di timur, ya kerja lagi seperti biasa. Bagaimana? Setuju? Ini praktis ‘kan? Sebagai pedagang kita harus memikirkan segenap untung ruginya bukan?”

Wajah orang-orang kini menjadi cerah. Mereka seperti telah mendapat jawaban. Mereka serentak menyahut.

“Setuju! Rugi kalau minta ampun sekarang!”

“Betul sekali! Nanti saja, kalau pasti kita akan mati!”

Orang di atas truk yang ketiga tadi berteriak lagi.

“Saudara-saudara, bagaimana kalau kita lihat kepastiannya di barat?”

Maka, seperti degerakan tenaga gaib, orang-orang itu segera bergerak semua ke barat dengan wajah bertanya-tanya. Mereka berjalan di barat dengan sorot pandangan harap-harap cemas. Pasar segera jadi kosong. Hanya gelandanganitu saja satu-satunya yang tinggal. Tidur melingkar di emper toko. Semuanya berjalan ke arah barat. Pedagang kentang, wortel, kubis, kayu bakar, supermi, maupun pemilik toko kelontong, bergegas melangkah menuju ke barat.

Langit masih gelap. Mereka terus melangkah ke barat tanpa berhenti, angin yang dingin bertiup keras menerbangkan daun-daun kering ke angkasa. Sepanjang jalan orang-orang yang baru saja terbangun melongokan kepalanya dari balik pintu dan jendela.

“Ada apa?” tanya seseorang.

“Kami mau melihat matahari terbit di barat.” Jawab seseorang. Dan orang-orang dari rumah ke rumah pun sepanjang jalan bergabung dengan rombongan dari pasar, berbondong-bondong dengan langkah tergesa menuju ke barat. Wajah mereka cemas dan penuh tanda tanya. Makin lama barisan itu makin panjang. Setiap orang yang bersua di jalan bergabung. Semua orang menuju ke barat. Langkah merka menderap di atas tanah yang becek dan gengan air sisa hujan semalam. Mereka telah meninggalkan belantara pencakar langit yang tandus dan gersang, melaju ke luar kota.

Di luar kota, orang-orang dari berbagai jurusan berbondong-bondong menuju ke barat. Beratus-ratus, beribu-ribu, bahkan berjuta-juta orang orang dari segala penjuru menuju ke barat. Manusia, binatang, dan kendaraan berdesak-desak menuju ke satu arah. Truk-truk, bis-bis, gerobak, gajah, dan unta, menyatu bersama lautan manusia yang mengalir ke arah matahari biasa terbenam. Semua orang mengalami persoalan yang sama. Tapi, o, di manakah barat itu? Bahkan mereka yang tinggal di barat pun melangkah ke barat. Di angkasa, berjuta-juta burung dan kelelawar mengepak-ngepak ke arah barat. Ratusan juta ikan di laut dan sungai berenang-renang ke barat. Segenap makhluk di muka bumi, di dalam air, dan di udara menuju ke satu arah. Manusia sudah tidak lagi berikir tentang pekerjaan merka sehari-hari. Semua orang memikirkan matahari, dibayangi ketakutan, kecemasan, dan pertanyaan yang tak kunjung terjawab.

Langit masih gelap. Semua ini berakhir pada pantai di sebuah teluk. Ketika rombongan dari pasar itu tiba, tak terhitung lagi lagi berapa puluh juta kepala yang telah lama menunggu di sana. Mereka duduk sepanjang pantai yang berbukit-bukit menatap ke arah laut. Lidah-lidah ombak sesekali menyapu ke pantai dengan suara berdesah-desah. Pantai itu terletak antara dua tebing yang telah penuh oleh manusia, burung-burung menghitam di segenap nyiur dan belantara bakau, kelelawar-kelelawar bergantungan di pohon dan gua-gua. Ratusan juta ikan dan binatang air mengambang di laut dan muara sungai. Awan bergulung-gulung seperti ingin menghancurkan kehidupan. Semua makhluk itu memandang ke barat. Menanti. Menanti.

Tiba-tiba saja, entah dari mana, muncul Sukab. Ia berdiri di tepi pantai, menghadap ke arah orang-orang. Wajahnya masih tampan dan bercahaya. Rambutnya panjang dan ikal. Ia memakai pakiaan combapng-camping. Dan seperti tadi, ia mulai lagi bekhotbah.

“Saudara-saudaraku! Bertobatlah! Matahari…”

Mereka yang mengenalinya terperanjat.

“Lho, itu Sukab?”

“Iya, si Sukab!”

“Sukab? Sukab siapa?”

“Itu lho, orang gila yang suka ketawa-ketawa sendiri di gardu listrik.”

“O, orang gila yang suka nyanyi Walangkekek itu?”

Orang-orang banyak itu sudah siap memaki-maki. Namun seperti diingatkan oleh sesuatu, hampir bersaaman mereka mendongak ke langit. Langit masih saja gelap gulita.

Seorang wartawan yang meliput peristiwa ini nyeletuk:

“Katakan, katakan pada beta, apakah beda waras dan gila…”

Dan orang banyak itu tetap saja di sana. Menanti. Menanti.

Jakarta, Minggu Wage 10 Agustus 1986

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s