Malam Minggu Miko – screenplay

Malam Minggu Miko

Setelah minggu kemarin program Mata Najwa yang di posting, kali giliran acara komedi situasi (Komsit, bukan Sitkom jika memang mengambil akronim dari bahasa Indonesia) MALAM MINGGU MIKO yang hadir menyegarkan serbuan serial (lebih tepatnya sinetron) televisi yang kebanyakan (jika tak mau dibilang semua), menayangkan cerita-cerita ajaib, mulai dari konflik rumah tangga hingga cerita kerajaan yang sangat membosankan. Penggagas serial ini adalah Raditya Dika, yang menggunakan konsep Mockumentary untuk serial ini. Apa itu Mockumentary? Secara estimologi,  Mockumentary berasal dari penggabungan dua kata: Mock = pura-pura  dan documentary = dokumenter. Jadi ini adalah tayangan fiksi yang dibuat seakan pemain sedang mendokumentasikan hal-hal yang dialaminya baik itu on camera (O.C) atau pun seolah ada kameramen yang mengikuti kegiatan mereka. Dalam setiap episodenya, Malam Minggu Miko terbagi menjadi dua segmen yang masing-masing berdiri sendiri. Temanya seputar kehidupan sehari-hari dan cerita cinta tiga tokoh utamanya yakni, dua sahabat Miko (Raditya Dika) dan Ryanto Martino (Ryan Adriyandhi), serta asisten rumah tangga mereka, Mas Anca (Hadian Saputra). Jika Miko dan Ryan sering gagal dalam hubungan percintaan sehingga tiap episode selalu berganti kencan, maka nasib lebih baik dialami oleh Mas Anca, hubungannya lebih stabil, terbukti dengan hadirnya tokoh Maemunah dibeberapa episode, entah langsung atau pun tidak.

Malam Minggu Miko tayang di KOMPAS TV setiap senin jam 20:00 WIB, dan diulang hari sabtu jam 18:30 WIB. 21 januari kemarin komsit ini mengetengahkan dua judul yakni ATAP GEDUNG JENNY, dan KELUARGA PEDAS KUMALA. Iseng-iseng saya buat screenplay-nya, siapa tahu ada yang lagi niat buat film pendek dengan tema komedi namun tidak tahu naskah yang dibuat sepanjang apa. Nah, meniru dari Malam Minggu Miko, kira-kira sepanjang ini naskah dan dialog yang bisa dibuat untuk durasi kira-kira sepuluh sampai dua belas menit. Dan seperti biasa, HAK CIPTA dan HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL dari naskah ini sepenuhnya milik Raditya Dika, saya hanya menyalin berdasarkan tayangan televisi saja hehehehhehe…. gitu lah pokoknya.

PS: jika ada kurang, lebih, salah setting, atau salah dialog dalam penggambaran adegan, maap yaaaaaa…

TAMBAHAN : yang tidak baik untuk ditiru dalam cerita ini dan cerita-cerita sebelumnya adalah: menelepon saat menyetir.

A T A  G E D U N G   J E N N Y

EXT. ATAP GEDUNG – SIANG

Ryan berdiri di tepi gedung, menghadap pemandangan, merentangkan kedua tangan. Dari belakang, Miko keluar dari balik pintu, mendekati seperti seorang negosiator.

MIKO

Yan! Yan, Yan, jangan lakuin ini, Yan!

RYAN

Mik, lu jangan ng’alaingin gue ngelakuin apa yang gue pengen!

MIKO

Yan, inget Anca! Inget gue! Inget Morganisa, Yan! Kami semua sayang sama lu, Yan! Yan turun, Yan, turun!

Ryan turun dari tembok.

RYAN

Lu kenapa sih?

MIKO (menjerit)

aaarrgghhh… Yan!

Dari belakang Anca muncul, menenteng payung, mengembangkannya.

MAS ANCA

Mas, saya datang. Pake ini pasti lebih bagus.

BLACK FRAME:

TEXT APPEARS : 7 HARI SEBELUMNYA

CUT TO:

INT. CONFESSION CORNER – UNKNOWN TIME

RYAN (o.C)

Hari ini, gue mau ngejodohin Morganisa dengan kucing lain lewat internet. Karena ini adalah perjodohan yang penting, gue udah ajarin Morganisa gimana cara memikat hati calon istrinya.

CUT TO:

INT. RUANG MAKAN – UNKNOWN TIME

Ryan dan Morganisa duduk menghadap meja makan, dengan peralatan makan masing-masing.

RYAN

Morganisa, denger ya aku hari ini mau ngajarin kamu yang namanya table manner. Cewek itu suka kalau kita terlihat punya tatakrama di atas meja makan.

CUT TO:

INT. CONFESSION CORNER – UNKNOWN TIME

RYAN (O.C)

Gue juga ngajarin Morganisa trik-trik yang biasa gue pake ke cewek-cewek.

CUT TO:

INT. RUANG TENGAH – UNKNOWN TIME

Ryan memangku Morganisa, mengajari.

RYAN

Coba kedip…kedip… yaa.. aaa gak mau ya? Ya udah. Kamu coba kasih tatapan yang dalam….

Dari balik pintu Miko lewat, memperhatikan sambil tersenyum.

CUT TO:

INT. CONFESSION CORNER – UNKNOWN TIME

MIKO (O.C)

Ryan memang semangat banget ngejodohin Morganisa, soalnya Ryan takut nasibnya Morganisa bakal sama kayak Donna, kucing kami dulu.

Miko mengeluarkan foto Donna kucing.

MIKO (Contd)

Donna ini pernah naksir kucing kompleks rumah kami. Kucing itu alay, kami gak ngijinin, dan akhirnya Donna backstreet. Hilang. Kabur dari rumah.

CUT TO:

INT. CONFESSION CORNER – UNKNOWN TIME

RYAN (O.C)

Donna? Ya memang itu bagian dari masa lalu yang kelam. Tapi gue yakin, kali ini Morganisa bakal ketemu ama jodohnya. Gue udah kebayang banget, begitu si Morganisa ketemu sama kucing cewek ini, trus mereka pedekate, terus mereka kawin, mereka bakal punya anak kucing yang lucu-lucu.

Mata Ryan menerawang, terharu.

RYAN (contd)

Keturunan Morganisa akan menjadi keturunan kucing yang baik.

CUT TO:

INT. RUANG DEPAN – MALAM

Bel pintu berbunyi, Ryan membuka pintu. Seorang perempuan muda, cantik, berdiri, menenteng kucing dalam kandang. Jenny.

JENNY

Halo, Ryan kan?

Ryan berlagak acuh tak acuh.

JENNY

Jenny, yang mau ngejodohin kucing lu.

RYAN

Iya, gue tau.

CUT TO:

INT. CONFESSION CORNER – UNKNOWN TIME

RYAN (O.C)

Jenny, dia pasti jodoh gue.

CUT TO:

INT. MOBIL – SIANG

Miko menyetir sambil menelepon.

MIKO

Serius lu, si Agus pengen bunuh diri? Bukannya di kampus dia itu orangnya ceria ya?

TEMAN (V.O)

Emang. Kata orang, yang depresi terpendam suka gak keliatan, Mik.

MIKO

Depresi terpendam?

TEMAN (V.O)

Iya. Dia udah lama banget pengen jadi artis, trus gak kesampaian, bunuh diri deh.

MIKO

Oh gitu.

TEMAN (V.O)

Biasanya depresi emang datang dari keinginan yang udah lama kita mau, trus ga terpenuhi.

MIKO

Gitu ya?

CUT TO:

INT. RUANG TAMU – MALAM

Ryan dan Jenny duduk di ruang tengah. Kucing Jenny masih dalam kandang, Morganisa mengendap-ngendap di belakang badan Ryan. Kedua kucing tak menunjukan ada saling ketertarikan.

JENNY

Kok kayaknya mereka gak cocok ya? Biasanya kucing itu kalau naksir keliatan dari matanya, ini kok nggak sama sekali.

RYAN

Gitu ya?

JENNY

Iya. Duh, maaf ya ngerepotin.

RYAN

Iya, nggak apa-apa.

Morganisa meloncat pergi

RYAN (contd)

Oh iya, nggak suka dia. Pada pergi. Gak suka beneran kayaknya. Lu habis ini kemana?

JENNY

Mm, gue mau foto lagi. Gue lagi ikutan lomba fotografi.

RYAN

Ooo, suka foto?

JENNY

Iya. Lu?

RYAN

Nggak. Bukan minat gue. Nggak tertarik gue. Lagian males, belajarnya mesti banyak, mesti ngerti lampu, mesti ngerti lensa, gue nggak punya waktu buat belajar kaya gitu…

JENNY

Mau gue ajarin?

RYAN

Mau.

CUT TO:

INT. RUANG TENGAH – UNKNOWN TIME

Miko duduk di sofa, tak lama berselang Ryan keluar dari dapur.

MIKO

Gimana perjodohannya?

RYAN

Iya gitu deh.

Ryan ngeloyor, tak lama kemudian Mas Anca keluar dari dapur.

MAS ANCA

Perjodohannya gagal Mas.

MIKO

Padahal itu kan keinginan terpendam dia ya?

MAS ANCA

Yang tak terpenuhi.

CUT TO:

INT. CONFESSION CORNER – UNKNOWN TIME

RYAN (O.C)

Semenjak perjodohan Morganisa gagal, Ryan jadi beda. Dia jadi diem, lebih suka ngurung diri di kamar, gelap-gelapan lagi. Aneh banget.

FLASH:

INT. RUANG GELAP – UNKNOWN TIME

Ryan, sedang mencuci film di ruang merah.

BACK TO:

INT. DAPUR – UNKNOWN TIME

Mas Anca sibuk sendiri, Ryan berjalan mondar-mandir sambil membolakbalik notes.

MAS ANCA

Kenapa Mas? Dari tadi mondar-mandir aja.

RYAN

Cara bikin foto yang bagus gimana sih Mas Anca?

MAS ANCA

Biasanya, dulu, kalau di kampung saya, foto yang bagus itu latar belakangnya harus pemandangan, terus ada payungnya.

RYAN

Payung?

MAS ANCA

Iya. Biasanya, orang sejelek apapun, kalau ada payungnya pasti jadi keren.

FLASH:

tampilan profil facebook Mas Anca: foto Mas Anca berpose di taman depan rumah dengan gaya alay sambil memegang payung yang mengembang.

BACK TO:

INT. DAPUR – UNKNOWN TIME

MAS ANCA (contd)

Udah gitu, kalau bisa fotonya di gedung tinggi, pasti bakal lebih keren lagi Mas.

RYAN

Gitu ya?

MAS ANCA

Iya.

RYAN

Oke, thank you.

CUT TO:

INT. CONFESSION CORNER – UNKNOWN TIME

MIKO (O.C)

Gue udah nanya temen gue, ada tiga tanda-tanda orang deperesi. Yang pertama, dia jadi suka menyendiri. Yang kedua, dia jadi susah makan.

CUT TO:

INT. RUANG TENGAH – SIANG

Miko makan roti.

MIKO

Mas Anca.

MAS ANCA

Ya?

MIKO

Si Ryan kok gak makan-makan siang?

MAS ANCA

Gak tau Mas, dari semalam gak keluar-keluar kamar.

FLASH:

INT. KAMAR TIDUR – SIANG

Ryan duduk di atas kasur sambil memakan potongan pizza. Kardus-kardus pizza kosong menumpuk, berserakan, disekitarnya.

BACK TO:

INT. CONFESSION CORNER – UNKNOWN TIME

MIKO (O.C)

Dan tanda depresi yang ketiga, yang paling utama dan yang paling berbahaya adalah: kalau ditanya dia nggak mau ngaku.

CUT TO:

INT. RUANG TENGAH – UNKNOWN TIME

Ryan sedang membersihkan kuku kaki, dari belakang Miko mengendap.

MIKO

Yan, Yan… lu depresi, nggak?

RYAN

Depresi..depresi apaan sih? Ya nggak lah!

CUT TO:

INT. CONFESSION CORNER – UNKNOWN TIME

MIKO (contd)

Tu, kan?!

CUT TO:

INT. DAPUR – UNKNOWN TIME

Mas Anca sibuk, Ryan datang menentang kardus pizza kosong. Bersendawa.

RYAN

Mas Anca…

MAS ANCA

Ya Mas?

RYAN

Tolong buangin ya, di atas masih banyak.

Ryan hampir ngeloyor.

MAS ANCA

Siap! Mas Ryan..Mas Ryan, Mas Miko kayaknya nggak suka deh Mas Ryan sama fotografi.

RYAN

Kenapa?

MAS ANCA

Soalnya, Mas Miko bilang, “Ryan berubah!”, gitu.

CUT TO:

INT. RUANG TENGAH – UNKNOWN TIME

Ryan keluar dapur, Miko duduk di sofa, menatap antara simpati dan prihatin.

MIKO

Yan, gue tau apa yang lagi gue jalanin Yan.

RYAN (ketus)

Terus? Gak suka?

MIKO

Gue cuma pengen lu tau, apapun yang lu butuhin, gue ada di sini.

RYAN (heran)

Apaan sih?!

CUT TO:

INT. CONFESSION CORNER – UNKNOWN TIME

RYAN (O.C)

Tinggal tiga hari lagi batas lomba fotografi. Gue udah janjian ama Jenny hari ini untuk hunting foto bareng. Konsepnya adalah foto matahari dari atas gedung bertingkat. Keren!

CUT TO:

INT. DAPUR – SORE (?)

Ryan membolak-balik notes, Mas Anca melongokan kepala, ikut membaca.

MAS ANCA

Wah, itu gedung yang di belakang pasar ya Mas? Berapa tingkat tuh Mas?

RYAN

Pokonya tinggi banget deh.

MAS ANCA

Oo, fotonya jadi di atapnya?

RYAN

Hmm.

MAS ANCA

Bagus tu Mas! Tinggal payungnya aja deh.

RYAN

Payung ntar aja lah, gampang, pokonya sore ini kita kesana, lu temenin gue survey angle biar ntar malem tinggal jepret.

MAS ANCA

Oke, oke.

CUT TO:

INT. DEPAN KAMAR RYAN – UNKNOWN TIME

Miko lewat, sejenak memperhatikan kondisi kamar Ryan, mengambil notes.

CUT TO:

EXT. ATAP GEDUNG – MENJELANG SORE

Ryan bersemangat, mengepaskan angle dengan jari-jari. Dari belakang Mas Anca menguntit.

RYAN

Nah! Ini cakep banget nih, mataharinya sambil turun nih! Bisa tenggelam diantara gedung-gedung itu, tuh!

MAS ANCA

Oh, bagus tu Mas.

RYAN

Iya. Mas Anca, beliin cemilan ama minum, kita kayaknya mau mulai lebih awal nih, ya.

Ryan mengotak-atik kamera di atas tripod.

RYAN (contd)

Ama lem!

MAS ANCA (V.O – SAYUP)

Ama lem.

Telepon seluler berdering, Ryan menjawab.

RYAN

Jen, gue udah sampe ya.

Jeda

RYAN (contd)

Oke.

CUT TO:

INT. KAMAR RYAN – MENJELANG SORE

Miko menemukan notes punya Ryan, meneliti.

MIKO (bergumam)

Gedung ACP empat, kependekan. Gedung Dwisarno, gak ada atepnya. Ini kenapa gedung semua nih? Gedungnya pas?

CUT TO:

EXT. JALAN – SORE

Mas Anca berjalan menenteng kantong kresek. Langkahnya terhenti, melongo, mupeng, saat melihat gerobak jajanan dengan payung berdiri tertutup.

CUT TO:

EXT. PELATARAN PARKIR – SORE

Miko keluar dari mobil, menelepon.

MIKO

Halo Mas Anca, gue depan gedungnya, lu dimana nih? Ya masa Ryan lu tinggalin sendirian! Ya udah lu buruan ke sini!

Miko menatap gedung di depannya yang menjulang tinggi.

CUT TO:

INT. MOBIL – SORE

Jenny memotret pemandangan luar dari jok belakang mobil.

CUT TO:

INT. CONFESSION CORNER – UNKNOWN TIME

RYAN (O.C)

Berikutnya…

CUT TO:

EXT. ATAP GEDUNG – SORE

Miko menerobos pintu.

CUT TO:

INT. CONFESSION CORNER – UNKNOWN TIME

RYAN (O.C)

Ancur!

CUT TO:

EXT. ATAP GEDUNG – SORE

Kejadian di awal adegan berlanjut, kali ini Mas Anca sudah terlibat.

MIKO

Ca bantuin, Ca!

RYAN

Apaan sih??!

MIKO

Pulang! Pulang!

RYAN

Apaan?!

MIKO

Ca, Ca tolong Ca!

RYAN

Apaan?!

MIKO

Kita maafin, kita maafin, Yan.

RYAN

Apaan sih?!

MIKO

Yan, kita maafin!

RYAN

Nggak!

MIKO

Kita maafin!

RYAN

Ya udah, apaan sih?

MIKO

Yan, Yan, Morganisa juga udah maafin.

Saat Miko, Ryan, dan Mas Anca saling tarik menarik dengan payung terbuka, Jenny memperhatikan dari belakang, tampak tertarik, kemudian memotret adegan pergumulan.

RYAN

MIKO

Sshhhh!

RYAN

Gak! Gak! Gak!

MIKO

Sshhh!

RYAN

Apa sih?

CUT TO:

INT. GALERI – UNKNOWN TIME

Lima orang berdiri memperhatikan foto karya Jenny dengan serius.

KURATOR

Nah ini, para tamu-tamu, patut jadi pemenang. Saya belum pernah liat simbolisme seindah ini tertangkap oleh kamera lomo. Tiga pria, yang melambangkan Indonesia, menanti fajar harapan dengan cara yang berbeda-beda. Begitu manis, begitu nasionalis, dan…. begitu bodoh.

Pengunjung bertepuk tangan, pandangan beralih pada foto Jenny, tampak foto Miko yang panik menarik tangan Ryan yang menolak. Dibelakang Miko, Mas Anca membuka payung.

Iklan

2 pemikiran pada “Malam Minggu Miko – screenplay

  1. hai….
    mau tanya ni, masih berhubungan dengan serial komedi malam minggu miko…
    mau tanya, rumah yg di pake syuting untuk serial komedi malam minggu miko itu terletak di daerah mana ya..??
    dan apa nama perumahannya..??

    thank’s..
    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s