Pramita

Pramita Ilustrasi

03 : 20 : 33

Ruang tengah. Tertata rapi. Kursi, meja, vas, bunga aneka warna; ungu, biru, jingga, nila, putih, merah. Bercak darah.

Iwan ada di salah satu kursi. Duduk terbungkuk. Merokok dalam hisap hembus cepat. Lutut kanannya terus menghentak, tak sabar menunggu orang yang ditelepon lebih dari sekian menit lalu.

21 : 16 : 42

“Aku mencintaimu.”

“Begitu?”

“Aku tegang, bantu aku untuk tenang, sayang.”

Jeda.

“Ayolah, katakan sesuatu!”

Jeda.

Suara dari seberang kembali hadir, “Baiklah. Dengar…”

03 : 44 : 58

Pintu diketuk dari luar. Iwan beringsut. Mematikan bara rokok ke kaki kursi. Melap keringat di wajah dengan ujung kemeja. Berdiri. Berjalan hampir tergesa. Pintu dibuka.

21 : 26 : 33

Ambar mematung di ambang pintu. Tertegun. Tak percaya.

Di depannya, Iwan berdiri membelakangi, menghadap tembok kamar mandi. Celana melorot. Kepala setengah menengadah. Tangan kiri menempelkan telepon selular kekuping. Tangan kanan di depan badan, bergerak maju mundur, kecepatannya tak konstan. Kadang tubuh Iwan meregang, seperti hendak kejang. Tak ada percakapan. Hanya satu kata yang terus diulang. YA. YA yang memburu. YA yang tertahan. YA dalam desahan. YA dalam desisan. YA dalam lenguhan.

Ambar menutup kembali pintu kamar mandi, nyaris tanpa bunyi. Balik badan. Mengatur napas. Tarik – tahan – keluarkan. Pelan-pelan. Bibir bawahnya serasa sakit akibat dia gigit.

Ambar berjalan menuju ranjang. Duduk – meringkuk – menarik selimut. Menangis diam-diam. Menyesal. Menyesal mengapa dia harus melihat Iwan meracap sambil ditemani, barangkali, suara perempuan diseberang sana. Menyesal mengapa tadi dia tidak langsung melabrak, menampari pipi dan meludahi  suaminya, lalu merebut telepon, berteriak histeris, mengumpat, memaki, memarahi si perempuan yang tak tahu diri. Menyesal mengapa dia begitu pengecut karena memilih menghindari konflik sambil menahan sakit hati.

Suara air menyiram ubin. Ambar mengendapkan tangis. Kembali mengatur napas. Berlaku seolah tak tahu. Memejam mata. Terdengar pintu kamar mandi dibuka.

03 : 46 : 13

“Kenapa tertegun?”

Sosok itu berdiri, menjulang ramping tersorot cahaya temaram lampu teras. Tampilannya tak biasa; jaket dan celana panjang berbahan anti air, penutup rambut serupa shower cap, sepatu berbungkus semacam plastik. Semua serba hitam. Berbanding terbalilk dengan wajah putih nyaris pucat. Tanpa riasan. Tanpa alis buatan. Tanpa bulu mata tambahan. Saat ini dia terlihat tak terlalu bergurat perempuan.

Sadar dipindai, dia kembali bertanya. Lebih tegas dari sebelumnya, “Ada yang salah?”

“Tidak. Tentu tidak.” Iwan tertawa, tulang pipinya berkedutan. “Masuklah, Pramita.”

Pramita berjalan masuk. Satu langkah dalam ruangan dia kembali mematung, menunggu pintu ditutup.

“Lewat sini,” kata Iwan, “aku benar-benar tak sabar ingin menunjukannya.”

Keduanya melangkahi ruang tengah. Iwan di depan, Pramita di belakang. Di muka kamar Iwan berhenti. Menoleh. “Apa kamu sudah siap?”

Pramita mengangkat alis.

Tuas pintu diputar. Ruang tidur gulita. Tangan Iwan meraba-raba dinding sebelah dalam, dan…

‘klik!’

21 : 58 : 03

Seperti pepatah populer menyebutkan, hidup adalah pilihan. Dan tiap pilihan berkorelasi dengan satu atau beberapa konsekuensi.

Dua puluh tiga menit berlalu. Kamar temaram oleh cahaya luar. Iwan dan Ambar sama-sama diam. Berbaring saling membelakangi, sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri. Iwan merubah posisi. Telentang. Gemeresiknya terdengar Ambar yang segera menutup mata rapat-rapat. Hening delapan menit. Kembali seprai bergemeresik, hangat berhembus dibalik tengkuk Ambar, semakin lama semakin dekat. Dengus napas suaminya agak tertahan. Tangan Iwan terjulur, bergesekan dengan kulit lengan Ambar. Tak berhenti di badan, tapi melewati. Tercium aroma tajam keringat ketiak. Lampu tidur sisi ranjang menyala.

03 : 48 : 15

Kamar benderang. Pupil Pramita membesar saat menangkap objek itu. Iwan menoleh, senyumnya berubah seringai. “Pramita, kenalkan, itu istriku, Ambar.”

Pramita berjalan anggun mendekat sosok yang terlentang tengah ranjang. Ekspresi wajahnya menampakan ketertarikan, seperti kurator mengagumi sebuah karya seni. Tiga bola mata bertemu tatap. Datar berjumpa hampa. Mata Ambar sebelah kanan bolong. bercecer air mata darah.

“Untukmu, Pramita.” Iwan berbisik dari belakang.

22 : 10 : 41

Saat Ambar mempertimbangkan untuk coba berkonfrontasi besok pagi, dimana dia akan memulai dengan pertanyaan siapa perempuan yang bertelepon dengan Iwan malam-malam. Hal tersebut langsung terjawab sesaat kemudian.

Iwan kini merengkuh dari belakang. Tangan kanan mengusap ubun-ubun. Tangan kiri memeluk pinggang. Bibir menempel di leher. Mengecup halus. Berbisik.

“Untuk Pramita.”

Tubuh Ambar yang semula beku seketika bergetar. Selemah apa pun dirinya, tetap saja dia perempuan kebanyakan yang tak bisa menerima pameran pengkhianatan seperti ini.

Ambar berontak, membalik badan. Hendak bangkit dan, barangkali, meledak. Sayang kurang cepat. Iwan lebih dulu menguasai keadaan. Dengan satu gerakan ia berhasil menduduki tubuh istrinya. Kedua tangan Iwan mengunci leher Ambar. Mencekik. Mencengkram. Menekan. Erat-erat. Kuat-kuat. Urat-urat ditangan dan pelipisnya bermunculan. Bertonjolan.

Di bawah, Ambar meronta. Matanya melotot. Mendelik. Memerah. Napasnya tersendat, peredaran udara tersumbat. Pandangannya berkunang-kunang, seperti penderita anemia akut.

Dalam kalut, insting bertahan Ambar masih berjalan. Kaki menyepak kesana kemari. Kedua tangan menggapai-gapai, berusaha mencakar wajah Iwan. Sia-sia. Tenaga Iwan terlampau besar untuk dia lawan.

Suplai oksigen makin menipis. Ambar merasakan sesak yang luar biasa. Paru-parunya seperti mau pecah. Sangat menyakitkan. Dia tak lagi tahan. Sekian detik setelahnya Ambar hanya menatap hampa. Mulutnya menganga.

Iwan melepas cekikan beberapa saat kemudian. Napasnya memburu. Ia ingin membuka jendela, tapi tak jadi, takut ada yang curiga. Iwan menghempaskan tubuh di samping Ambar yang kini hanya melotot kosong ke arah langit-langit kamar.

“Untuk Pramita! Untuk Pramita! Untuk Pramita! Untuk Pramita!” Iwan berdesah, mengulang kata-kata yang sama laksana menghafal mantra. “Untukmu, Pramita.”

03 : 49 : 17

“Untukku?” tanya Pramita, berbalik menghadap Iwan yang mengacungkan kantong plastik transparan berisi sebuah bola mata.

“Ya.” Jawab Iwan. “Tak mudah memang melakukannya, tapi demi dirimu apa pun akan kulakukan.”

Pramita tersenyum hambar, “Benarkah?”

Iwan seperti tak mendengar. Ia meneruskan, “Jadi kapan kita pergi dari kota ini? Sekarang? Besok? Bagaimana dengan mayatnya, kubur, buang, atau hanyutkan? Ah tidak, lebih baik kita potong-potong saja. Kemarin ku lihat di televisi…”

Suara Iwan timbul tenggelam ditelinga Pramita yang menyusuri pinggang belakang, tangannya meraba, menggengam benda yang ada disana.

“…Setelah itu kita pergi, bagaimana? Sayang, Pramita, apa itu?”

“Menurutmu?” Tanya balik Pramita.

“Untuk apa pistol itu?”

Pramita berdehem pelan. Alih-alih menjawab, dia meletakan pistol diatas ranjang, lantas berkata, “Tadi, sewaktu membuka pintu, kukira dengan tampilan seperti ini kau akan mengenali siapa aku.”

“Tentu aku mengenalmu. Kau Pramita. Kekasihku. Perempuan cantik yang…”

“Yang hanya bersedia kau tiduri dengan syarat kau menyingkirkan istrimu terlebih dahulu dan menyerahkan bola matanya sebagai bukti kesungguhan hati.”

Hening.

Pramita meneruskan, “Kau bilang, semua yang kau lakukan ini untukku?”

Mata Iwan bergeletar, jawabannya pelan. “Ya.”

Pramita menatap tajam, tak berkedip sama sekali. Perlahan ia menarik kepala ritsleting jaket hitam yang tertutup hingga leher.

Napas Iwan tertahan.

Kepala ritsleting terus menurun, membelah kerapatan, meninggalkan belahan. Memperlihatkan sebidang dada berpayudara tanpa bra. Membuncah. Indah. Kencang. Ketat. Tak terlalu rapat. Terlampau membulat.

Darah Iwan berdesir.

Kepala ritsleting makin ke bawah, menampakan perut ramping, bulatan pusar. Halus. Mulus.

Iwan menelan ludah. Pramita berkacak pinggang menyingkapkan sebagian bagian depan jaket ke belakang, menikmati tatapan liar Iwan. “Apa kau mau lebih?”

Iwan tak menjawab. Pramita tersenyum. “Baiklah.” Lanjutnya.

Kedua jempol tangan Pramitha menelusup ke balik celana, telapaknya merentang. Lagi-lagi, perlahan celana diturunkan.

Yang tampak pertama adalah tulang pinggul; kecil, padat, berisi. Licin.

Iwan menunggu. Celananya serasa sesak.

Tiba-tiba Pramita menurunkan celana dengan cepat hingga seperempat paha. Pandangan Iwan berubah seketika. Ada yang ganjil di sana.

Di tengah pinggul ala boneka, diantara dua paha yang indah tak bercela, tepat diselangkangan Pramita, tak ada vagina.

Berganti penis.

Menggantung. Besar namun kisut. Tak sesuai untuk ukuran tubuh perempuan.

Pramita tertawa. Derainya renyah. Iwan terdiam, rautnya mencerminkan berbagai pertanyaan. Pramita membacanya dengan jelas, dia bertanya, retrorika, “Kenapa? Terkejut? Ayolah Iwan, aku sudah siap!”

“Kamu…”

“Benar.”

“…Laki-laki.” Iwan menggeram.

“Anjing!”

Pramita kembali tertawa. Lebih lebar, lebih lama. Kembali menaikan celana, menutup jaket yang semula terbuka.

“Anjing! Anjing! Babi! Anjing!” Iwan terus mengumpat, wajahnya memerah.

Tepat disaat ia hendak menyergap, Pramita meraih pistol di atas ranjang. Menodongkan tepat di depan leher.

“Mau mencoba kemampuanku menggunakannya, Iwan?” tantang Pramita.

Iwan membeku, menahan gerakan, rautnya masih menyisakan kemarahan.

“Kau boleh menggunakannya setelah kita berbincang, sedikit mengenang masa lampau.” Desis Pramita, lalu melanjutkan, “Sudah berapa lama kau lulus dari SMP? Sebelas tahun? Dua belas tahun? Masa yang indah bukan? Kau dan tiga temanmu meraja di sekolah. Sok berkuasa. Menganggap murid perempuan seperti mainan, dan murid lelaki lemah sebagai sasaran lelucon tak lucu kalian.”

Iwan menatap lekat Pramita. Pikirnya berputar ke belakang. Mengingat masa yang disebutkan Pramita. Tapi ia tak menemukan sosok yang cocok dengan profil orang yang kini berdiri anggun di depannya.

“Kau tidak ingat, bukan? Tentu, sebab aku belum ada saat itu. Aku, manusia yang kau lihat sekarang baru hadir lima tahun lalu dan Pramita yang kau kenal tercipta tujuh bulan silam.”

Mata Iwan menyalang. Tak ada suara yang keluar, hanya tarikan napas berirama tak jelas.

“Lihat diriku baik-baik.” Perintah Pramita, “Bayangkan tubuhku agak montok, berpipi bulat, rambut pendek, tanpa susu, dan berjakun.”

Iwan masih diam. Sorotnya menajam.

“Aku murid laki-laki, adik kelasmu yang tiap kali istirahat sering kau olok sebagai ‘cowok gemulai’.” Terang Pramita.

Iwan tetap diam. Rahangnya bergerak-gerak. Bergemeretak.

“Wibisana. Dulu namaku Prama Wibisana. Anak kemayu yang suatu hari kalian bawa kehadapan anak-anak berandal untuk bernyanyi dan menarikan lagu tolol itu. ‘If you wanna be my lover, you gotta gets with my friend. Make it last forever, friendship never end’. ” Pramita bersenandung sambil meliukan badan, pistol masih terpegang mantap dalam genggaman. “Dulu aku melakukannya sambil gemetaran hingga celanaku basah. Apa kau ingat sekarang, Iwan sayang?”

“Peduli setan, anjing!” geram Iwan.

Pramita tertawa merendahkan. “Barman, Soni, Erik, dan Iwan. Gerombolan kakak kelas yang ditakuti, termasuk oleh Prama Wibisana. Tak ada yang berani melawan saat mereka beraksi. Tak ada yang akan melaporkan sebab takut turut menjadi korban. Dan di hari keparat itu, giliran Prama Wibisana yang jadi sasaran. Anak kemayu tersebut hanya bisa menatap teman-temannya yang hanya bisa balas menatap. Di gang belakang sekolah, Prama Wibisana dipermalukan habis-habisan. Kalian, berempat, ditambah kelompok sialan itu…” Kalimat Pramita terputus sesaat, “Prama Wibisana pulang dengan celana berbau pesing, menangis seperti anak perempuan, merasa sebagai Drupadi yang dinodai kehormatannya oleh Dusassana. Kau!”

Sejenak benak Iwan menangkap gambaran seorang anak lelaki ringkih yang tersedu di ujung gang buntu.

“Prama Wibisana yang malang,” lanjut Pramita, “Jika saja kau dan teman-temanmu tak mengolok-olok dan mempermalukan Prama Wibisana yang kemayu, barangkali hari ini dia akan menjalani hidupnya seperti orang-orang biasa di luar sana. Karena ulahmu lah Prama Wibisana memotong pergelangan tangannya di bak mandi, dan mati. Saat orang tuanya menemukan dia, aku yang meraga. Aku yang membuatnya tetap bernapas dengan dendam yang meradang. Aku yang membuatnya tetap berjalan dengan benci yang menginfeksi. Aku yang bisa memilih nama apa saja. Menjadi siapa saja. Pramita. Sylvana. Lola. Dewi. Arimbi. Duma. Sandra. Artika.”

“Kau… Sonny?”

“Tiga tahun lalu.”

“Barman?”

“Setahun kemarin.”

“Erik?”

“Kau baru mendatangi pemakamannya tiga minggu silam.”

“Kau….” Suara Iwan bergetar, agak gentar. “Monster!”

“Monster?” Pramita tertawa sekedarnya, “Barangkali iya, tapi mari kita lihat, siapa yang sebenarnya yang lebih monster, aku yang membunuh teman-temanmu, atau kalian yang membunuh Prama Wibisana dan melahirkanku?”

Iwan terus bergumam, “Monster.”

Pramita meletakan senjata di atas ranjang, dekat mayat Ambar. “Dalam pistol ini hanya ada satu peluru, kau boleh menggunakannya untuk membunuhku atau menebus dosamu.”

Tangan Iwan bergetar saat mengambil pistol, “Apa yang terjadi padamu bukan salahku.”

Pramita tersenyum, tatapannya kembali sayu.

Telunjuk Iwan menyentuh pelatuk, siap menekan.

“Silakan.”

“Bangsat!”

Mata Iwan menangkap sosok Ambar yang terlentang, matanya bergeletar, mendadak ada satu rasa yang menjalar. Bayangan masa lalu terpampang, tumpang tindih, merunut cerita hidup: Sekolah. Bangku-bangku. putih biru. Rokok. VCD porno. Cincin bermata logam tajam. Anak-anak perempuan dalam toilet. Anak-anak lelaki yang babak belur. Yang mengkerut. Yang tersedu. Celana basah. Gelak tawa. Sepasang mata. Prama Wibisana. Seragam SMA. Tawuran. Empat pemuda tanpa busana. PSK muda telanjang, mengangkang. Merintih. Air mata. Vagina dan anus yang basah. Gangbang dwi arah. Penetrasi ganda, depan belakang dua dua. Gelak tawa. Pacar-pacar yang bergilir. Tubuh yang digilir. Menjadi hadiah arisan kelompok ibu-ibu muda. CFNM. MILF. Gelak tawa. Lapang. Kepala-kepala plontos. Rambut-rambut dikepang. Pita berwarna-warna. Kelas-kelas Fakultas. Teman baru. Lampu disko. Keremangan malam. Pesta. Vila. Bercinta depan kamera. Ganja. Ujian. Libur semesteran. Transkrip nilai. B-C-D-E. Mengulang pelajaran. Adik-adik angkatan yang kenes; menyalinkan catatan, membuatkan contekan. Kuliah Kerja Nyata. Menggoda gadis desa – tak sempat bercinta. Skripsi. Wisuda. Kerja. Karyawan kerah putih. Senin – Jumat. Lemburan. Mengunjungi pameran. Tidur bersama dara-dara ranum penjaga stand. menyewa ABG perawan. Sex for the first time. Rintihan. Air mata. Vagina berdarah. Tatap pasrah. Fee. Meeting. Menjatuhkan rekan kerja dari belakang. Korupsi kecil-kecilan. Menggelembungkan dana anggaran. Berebut karyawati baru, Ambar. Kencan. Lamaran. Sonny mati, tabrakan, mayatnya terbakar di dalam mobil. Pernikahan. Bulan madu. Menggebu. Status baru. Ulang tahun pernikahan, berubah ritual. Bosan. Main mata dengan bawahan. Asmara satu malam. Kematian Barman (kepalanya luluh lantak, tulangnya rontok. Di duga bunuh diri dari lantai 15). Kembali pesta. Tugas luar kota. Meninggalnya Erik (tewas overdosis obat kuat di kamar hotel, perempuan yang di duga menjadi kencannya hilang.) Berjumpa Pramita. Pikiran Iwan melayang, bercecabang.’Perempuan bondage.’ Bisik satu setan.’Jalang yang yang susah ditaklukan.’ Tambah yang lainnya. Pendekatan. Perselingkuhan.

“Jadikan aku budakmu.” Rayu Iwan suatu malam.

Pramita tertawa, tak mengiyakan, balas berbisik, mengajukan syarat dan ketentuan, “Aku tidak berhubungan badan dengan lelaki beristri. Singkirkan dulu istrimu, serahkan bola matanya. Tapi kuingatkan, itu hanya pilihan, bukan kewajiban.”

Setan menjelma Pramita dibenak Iwan. Berbisik. Meniupkan nafsu. Membutakan akal sehat. “Puaskan hasratmu, enyahkan perempuan lembek itu, dan aku akan menjadi milikmu, menjadi tuan sekaligus budakmu!”

Mata Iwan memerah, tiba-tiba ia merasa lelah. Pramita masih berdiri, menunggu.

“Ayo, lakukan.” Pintanya.

Iwan menatap mata Pramita, mencari adakah manusia yang tersisa dalam dirinya. Tak ada. Sepasang mata indah itu tak menunjukan emosi apa pun. Tak ada rasa di sana. Bukan tak ada yang sama dengan kosong atau hampa. Iwan tak bisa menjelaskannya.

Si lelaki tertunduk. Lesu. Layu. Kuyu. Berlutut sisi ranjang.

Pramita bergeming. Tak bergerak. Tak tergerak. Bahkan lehernya tak menunjukan dia pernah menelan ludah.

04: 58 : 10

Jalanan masih lenggang, sebuah mobil melintas santai. Di dalamnya Pramita menyetir. Menatap lurus, mendengarkan Ella Fitzgerald yang bernyanyi merdu, sebuah lagu, Sophisticated lady.

“….sophisticated lady,
I know, you miss the love you lost long ago
And when nobody is nigh you cry”

Pramita tersenyum, tak ada air menggenang di pelupuk matanya.

—————–

Pramita merupakan bagian ketiga dari tetralogi DENDAM setalah Marini dan Citra Wedari

*******************

1. Wannabe merupakan lagu yang pernah hits di tahun 1996, di bawakan oleh girlsband asal Inggri, Spice Girls

2. MILF merupakan singkatan dari Mother/Mom I’d Like to Fuck

3. CFNM merupakan singkatan dari Clothed female, naked (atau nude) male

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s