Pop Porn

PopPorn

“Ariel keluar, boysband kelar.” Kalimat tersebut menggema dari sebagian penggemar band Peterpan yang digawangi Ariel CS (kemudian berganti menjadi NOAH), sebagian penggemar musik Indonesia, dan orang-orang bermulut iseng seperti saya, saat dia dibebaskan dari tahanan tahun 2012 kemarin. Entah memang karena karisma sang vokalis atau pergeseran trend, eksistensi kumpulan lelaki muda ‘paket lengkap’ pun perlahan memudar.
Tahun 2010 lalu Indonesia digemparkan oleh beredarnya dua rekaman seks yang pelakunya mirip Ariel, Cut Tari, dan Luna Maya. Media, alih-alih memberitakan, justru menyebarkan secara masiv dan berkala. Selama beberapa pekan, kisah bercinta Ariel dibahas tiap waktu oleh Infotaiment dan program berita yang ke-infotaiment infotaiment-an, bahkan sampai dibahas di media luar negeri seperti CNN. Dan karena sudah masuk jaman internet, masyarakat pun dengan mudah mendapatkan rekaman tersebut entah itu mengunduh dari warnet, telepon genggam atau bluetooth antar kawan. Tua, muda, lelaki, perempuan, dan orang-orang diantaranya penasaran, benarkah mereka adalah Ariel, Luna, dan Tari, bagaimana gaya pesohor ini bercinta, dan, barangkali, lebih jauh lagi ukuran penis payudara dan vagina, serta sekuat apa mereka diatas ranjang (ckckck).
Pada perjalanannya opini masyarakat terpecah menjadi dua, sebagian besar merasa gerah, bukan pada cara media ‘memberitakan’ sehingga anak SD pun memiliki rekaman tersebut atau pada pelaku penyebaran tapi lebih pada moral ketiga pelakunya. Pendukung kubu ini berpendapat tak sepantasnya tiga selebritas papan atas yang menjadi idola (kebanyakan) anak-anak dan remaja berbuat anonoh seperti itu, sebab akan jadi contoh buruk bagi perkembangan seks mereka. Sementara pihak yang lebih kecil menilai media lah yang punya andil besar dalam kehebohan ini dan tak sepantasnya ketiga artis tersebut dicap sebagai penjahat karena seks adalah urusan privat sehingga tak seharusnya menjadi masalah publik dan yang seharusnya diselidiki adalah siapa yang menyebarkan. Namun di negeri nan ajaib ini, apa yang terlihat lebih berpengaruh daripada yang tidak. Barangkali karena perbuatan orang mirip artis ini dilakukan secara telanjang, yang identik dengan ketidakberadaban ketiganya lebih mudah di sebut sebagai manusia bejat, ketimbang para koruptor, yang saat melakukannya mengenakan dasi atau jas atau safari yang melambangkan keberadaban.
Polisi ikut campur, penyelidikan dilakukan, dan entah karena malas berpikir atau dorongan beberapa pihak, pada akhirnya ketiga artis tersebut dijadikan tersangka. Ariel dan Cut Tari kemudian mengaku, sementara Luna Maya tetap menyangkal. Persidangan pun tak luput dari segala demonstrasi dari kedua kubu. Bagi yang pro moral, Ariel and the girls harus dihukum seberat-beratnya baik dari negara atau pun dari masyarakat sebab merekalah antek-antek setan yang gemar bercinta bukan dengan pasangan macam binatang (lagi-lagi akan aneh bukan jika disandingkan dengan para koruptor yang belum tentu juga selalu bercinta dengan pasangan resmi mereka, seperti politisi YZ dengan pedangdut ME yang juga merekam kegiatan seks) dan tiada kata maaf. Sementara bagi yang kontra, mereka menyebut Ariel and the girls sebagai korban dari si pelaku penyebaran, sehingga ketiganya harus mendapat simpati karena selain menanggung aib, karier mereka di dunia hiburan terancam hilang.
Namun, lagi-lagi, entah malas berpikir atau dorongan beberapa pihak atau karena menganut paham win win solution, putusan pengadilan menjatuhkan vonis hukuman penjara dua setengah tahun untuk Ariel, sementara bagi R, pelaku penyebaran, sedikit lebih ringan yakni dua tahun penjara saja.
Urusan sanksi moral tak perlu ditanya, berkat galangan dari berbagai kalangan yang mendadak kompak: ormas, pemuka agama, anggota dewan, dan banyak orang tua, semua beramai-ramai menolak penampilan ketiganya di layar kaca atau acara-acara off air sebagai bentuk dari ‘pelajaran’ bagi si pendosa, atau untuk menutupi ketidakmampuan mereka mendidik anak-anak dalam memilah dan memilih informasi saya tidak tahu. Yang jelas kilau ketiganya pun langsung padam.
Namun ketidakadilan lagi-lagi terjadi justru diantara ketiganya. Pertengahan tahun 2012 Ariel dibebaskan, kebebasannya disambut bak pahlawan yang teraniaya, bahkan sebuah konser telah dipersiapkan oleh salah satu televisi swasta untuk menandai kebangkitan kembali Ariel. Belakangan ia tampil di dua produk ikan besar; salah satu kartu GSM dan Motor. Disisi lain, Cut Tari yang mengaku dan Luna Maya yang tidak, harus terseok-seok diranah showbiz, keduanya tak lagi tampil di acara-acara unggulan, hanya menjadi pemain di sinetron-sinetron tak jelas (padahal semua sinetron di sini tak ada yang jelas ya?). Well, inilah nasib perempuan di negara yang menganut patriarki dengan teguhnya (salah seorang sahabat baik saya bahkan sampai berprotes di sebuah cerita pendek untuk kasus ini)

Kita terbang ke Hollywood, salah satu kiblat Industri hiburan dunia (catatan: setelah naiknya Bollywood juga industri film Jepang dan Korea, Hollywood turun status, dari satu-satunya menjadi salah satunya), hal serupa yang menimpa Ariel and the girls juga terjadi pada banyak pesohor. Bedanya disana hal tersebut tidak dikaitkan dengan moral (para polisi moral pasti langsung mengepal tangan, berteriak lantang “pantas saja, sebab mereka tak bermoral!!”) yang dipolitisasi menjadi urusan hukum sebab – seperti disebutkan sebelumnya, seks adalah masalah privat, kalau pun sampai bocor ada dua kemungkinan, pertama si pelaku sedang sial, dan yang kedua si pelaku ingin lebih terkenal. Titik. Yang menjadi masalah adalah apabila rekaman tersebut melibatkan anak dibawah umur atau kegiatan perkosaan, hukumannya tidak tanggung-tanggung, bisa puluhan tahun hingga eksekusi mati.
Beberapa waktu silam, rekan-rekan ditempat kerja saya sering memperagakan sebuah gerakan mirip joget, yang usut punya usut, ternyata berasal dari sebuah film porno yang dibintangi aktor Sylvester Stalone sewaktu muda. Saya penasaran, tapi belum dapet kesempatan hehehehehehe… Dan sambil menunggu moment saya postingkan beberapa pesohor Hollywood yang sempat bermain film biru atau rekaman seks nya beredar ke masyarakat, dan setahu saya tak ada satu pun dari mereka yang kemudian dijebloskan ke penjara atau ditolak tampil di negaranya dengan alasan tak bermoral karena berhubungan badan.

Scandal - Collin Farrel

Scandal - David Duchovny

Edison Chen adalah aktor muda terkenal dari Hongkong
Edison Chen adalah aktor muda terkenal dari Hongkong
Eric Dane salah satu aktor di serial Grey Anatomy
Eric Dane salah satu aktor di serial Grey Anatomy
Fred Durst pernah bermain di film Population 436
Fred Durst pernah bermain di film Population 436

 

Helen Mirren disebut-sebut menjadi salah satu aktris di film Caligula
Helen Mirren disebut-sebut menjadi salah satu aktris di film Caligula

Scandal - Jackie Chan

Kim Kardashian pernah bermain di film yang-entah-lucunya-disebalah-mana, Disaster Movie
Kim Kardashian pernah bermain di film yang-entah-lucunya-disebalah-mana, Disaster Movie
Paris Hilton pernah bermain di film House of Wax
Paris Hilton pernah bermain di film House of Wax

Scandal - Sylvester Stallone

Verne Troyer aktor yang bermain di film Austin Powers in Goldmember
Verne Troyer aktor yang bermain di film Austin Powers in Goldmember

TAMBAHAN:

1. Ariel pernah bermain di film besutan Riri Riza, Sang Pemimpi

2.Maria Eva pernah bermain di film komedi yang mau lucu tapi tak lucu jiplakan dari Scary  Movie, saya lupa judulnya.

Baca juga artikel terkait disini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s