La Maison En Petits Cubes

Karena februari sekarang adalah bulan festival film, yang berpuncak pada ajang Academy Awards, sekaligus bulan obral cinta yang berpuncak di tanggal 14, maka postingan kali ini menghadirkan interpretasi salah satu film favorit Crimson Strawberry yang berkisah tentang cinta, La Maison En Petits Cubes.

CATATAN: cerita pendek ini tidak mewakili film secara keseluruhan serta telah mengalami perubahan (penambahan/pengurangan), tanpa mengurangi isi.

La Maison En Petits Cubes

Jika kelak kau berlayar dan menyelam di satu perairan, kemudian di dasarnya menemukan bangunan-bangunan ramping setinggi menara, tanpa tangga, janganlah heran sebab memang ada satu tempat di dunia dimana aliran waktu ditandai oleh arus air dan batas usia digambarkan lewat bangunan. Orang-orang di sini lahir dari satu generasi yang sama, namun meninggal diumur berbeda. Mereka tak mengenal bunuh diri, menjalani hidup dengan damai, bersama-sama, hingga terpisah karena tutup usia. Namun saat ini, peradaban mereka belum sepenuhnya punah, masih menyisakan beberapa orang untuk menjalani sisa hidup.

Seorang pria tua bangun pada pagi hari di kamarnya yang mungil. Sesungguhnya ruang tersebut tak sekedar kamar tidur, tapi merangkap fungsi sebagai dapur dan area santai. Sinar matahari jatuh lembut melewati kaca-kaca susu mungil yang terbagi oleh bingkai jendela, cahayanya menyapu benda-benda diatas tiga bufet undak tiga, menghadirkan bayang-bayang memanjang. Sepasang cincin kawin, seuntai gelang rantai. Satu cangkir kopi, satu gelas anggur, lima piring, tempat lilin, empat sendok, lima garpu, tiga pisau,jejeran botol berbentuk beda, jam meja, beberapa figura, banyak orang didalamnya, termasuk ia. Lebih banyak figura terpampang di dinding, dua puluh jumlah seluruhnya. Aneka ukuran, rupa, dan warna. Generasi berbeda; anak-anak, remaja, orang tua. hitam putih dan sephia.

Ia termangu depan jendela, memandang hamparan perairan yang memantulkan sinar perak mentari pagi. Tak banyak bangunan yang tersisa. Hatinya bertanya, berapa lama lagi ia tinggal dan bertahan, karena kini tak banyak lagi yang bisa dilakukan. Umur telah memakan tenaga dan kekuatan. Dulu ia gemar menangkap ikan menggunakan perahu layar sederhana hingga bermil-mil dari rumah, sekarang jarak tempuhnya hanya sejauh lemparan kail dari tongkat pancing sederhana yang dilempar lewat jendela atau balok penghubung antarlantai dengan bangunan sebelumnya.

Sebuah kapal dagang melintas, asap kelabu dari cerobong yang menjulang, bergulung-gulung menuju awan. Hari ini, tepat tigapuluh hari menjelang ulangtahun ke delapanpuluhtiga, air mulai masuk dan menggenangi lantai, tak terlalu tinggi, baru semata kaki, namun ini adalah pertanda, bahwa ia harus membangun satu ruang lagi.

Kapal lain datang beberapa saat kemudian, membawa barang-barang yang ia pesan. Beberapa puluh batu bata yang akan dikirim ulang setiap hari, beberapa sak semen perekat dan pasir kering.  Pria tua tak membuang waktu, ia segera bekerja. Di dunia ini, para lelaki lahir dengan kemampuan sebagai tukang bangunan dan ahli kayu.

Hari berganti, minggu berlalu. Dua bangunan lain telah terbenam kemarin malam.

Ruang baru bagi pria tua telah jadi, lebih kecil dari sebelumnya tapi ia merasa cukup untuk ditinggali (barangkali) hingga satu tahun kedepan.

Menggunakan perahu kecil untuk mengkail ikan, pria tua mengangkut barang-barang yang  perlukan, satu bufet sepertinya harus ditinggal.

Lalu terjadilah hal itu.

Saat pria tua mengangkut kotak perkakas, cangklong yang senantiasa menemani terlepas dari gigitan. Tercebur dalam genangan, bergoyang sesaat, lalu tenggelam menuju dasar. Pria tua tertegun sesaat, ada rasa tak rela. Ia bisa saja melepas ranjang atau meja makan untuk tak dibawa, tapi cangklong itu, tidak. Namun apa daya, ia tak lagi kuat berenang untuk mengambilnya.

********

Hari berikut berjalan hambar, pria tua telah mencoba barang serupa dari berbagai penjual yang datang, tapi tak ada satu pun yang memberi ia rasa nyaman. Kenapa? Ia sendiri tak tahu.

“Kalau kau benar-benar menginginkannya ambil saja ke bawah.” Ujar si penjual, setengah seloroh.

Pria tua menatap. si penjual terkesiap, tak mengira ucapannya ditanggapi calon pembeli ini.

“Hei, aku tidak serius dengan apa yang baru aku katakan.” Ia mengkoreksi

Namun mata pria tua terus menatap lurus, melewati tubuh tambun pria penjual, pada sebuah pakaian yang menggantung.

“Kau tidak sedang bercanda, bukan?”

***********

Cuaca sedang bersahabat, bening mengkacakan perairan.

Satu sosok kelabu melayang-layang dikedalaman. Pria tua belum terbiasa dengan pakaian selam yang ia kenakan, tapi tak berapa lama ia menguasai keadaan. Cangklong itu tergeletak disana. Pria tua bergegas, tangannya menggapai dan…

Aliran air bergerak, mengantarkan kenangan samar pada manusia.

Hadir satu tangan perempuan, mengambilkan. Berkeriput halus, sedikit gemetar. Dia tersenyum. Manis dan ramah. Tubuhnya bungkuk agak gemuk dengan tatapan setia tanpa kata. Pria tua mengenalnya. Sesaat terasa nyata. Ia hendak meraih, namun figur itu menghilang bersama gelembung udara.

Pria tua membuka tembok kubus menuju lantai dibawahnya, menyelami relung ruangnya.

Gelap. Kusam. Pria mendapati sebuah dipan kayu di sudut dekat jendela yang kini tanpa kaca. Dua bayang manusia ada disana. Awalnya siluet saja, makin lama makin benderang. Bayangan kini tak lagi pipih, tapi berisi, menjadi tiga dimensi. Perempuan tadi ada disana, terbaring, berselimut. Dia menatap pada pria yang duduk disebelahnya. Wujud lain pria tua. Keduanya saling tersenyum. Satu mengucap salam perpisahan, satu lagi berusaha merelakan. Ia merasa ada hangat di pelupuk matanya.

Pria tua membuka lagi satu kubus menuju lantai lebih bawah.

Satu ruangan, lebih besar, lebih luas, menampung banyak barang. Tiga buah sofa, dua lampu tiang berdiri ramping di sisi kiri dan kanan, bufet-bufet mungil memuat banyak hiasan. Vas bunga dan banyak figura.

Semburat cahaya kuning lembut. Bingkai-bingkai jendela kembali berkaca. Udara hangat masih dapat dirasa. Perempuan tadi, sang istri, kini duduk di kursi kayu berukiran sederhana, menggendong satu manusia. Kecil mungil rapuh wangi. Seroang bayi. Lahir tiga bulan kebelakang. Anak kedua dari putrinya. Putri pertama dari putrinya juga hadir disana, duduk lugu, begitu lucu. Ayahnya di kiri, ibunya di kanan. Semua tersenyum bahagia. Pria tua juga melihat dirinya, berdiri dibelakang kamera, mengarahkan. Jarinya berdiri satu demi satu. Satu. Dua. Tiga.

Pria tua terus membuka kubus menuju lantai sebelumnya.

Ia berada di ruang tamu, menghadap pintu. Terdengar ketukan. Pintu terbuka. Di ambang berdiri putrinya bersama seorang pria. Cukup tampan dan gagah. Tangan keduanya saling menggenggam. Pria tua juga merasakan sebuah genggaman. Hangat. Ia tahu apa yang dirasa dua anak muda di depannya.

Obrolan. Tentang cuaca. Tentang perang. Tentang perdamaian. Tentang politik. Tentang olah raga. Tentang kesehatan. Tentang pegunungan. Tentang kota yang tak pernah mereka lihat. Percakapan serius. Dua lelaki kini bertransaksi. Yang satu mengajukan, yang lain meminta persetujuan. Dua pasang mata di tatap bergantian. Mata muda memancarkan semangat dan harapan. Mata tua memberi restu dan kepercayaan. Dua tangan kembali bergenggam. Mengukuhkan satu ikatan baru.

Pernikahan. Putih dan sederhana. Empat orang berdiri tegak. Pasangan muda dikanan, pasangan tua di kiri. Berfoto dengan latar langit musim semi.

Pria tua terus membuka kubus menuju lantai sebelumnya.

Ruang makan. Pagi hari beraroma kopi dan roti. Pria tua memuda, duduk santai membaca surat kabar. Istrinya juga sama, dia kembali gesit, menyiapkan sarapan. Putrinya mengecil, bergerak lincah kesana kemari, menyambar apa saja yang ada di atas meja sebelum berlari menuju kapal jemputan menuju sekolah. Pria dan istrinya tertawa.

Pria terus membuka kubus menuju lantai sebelumnya.

Ruang keluarga. Bersih dan tertata rapi. Pria tua ingat itu tak akan bertahan lama, seorang anak balita akan berlari-lari sembarang, meraih berbagai benda yang tertangkap mata dan terjangkau tangan mungilnya. Dan sang istri yang masih bugar dengan sabar mendampingi, tak membentak tak teriak. Keduanya asyik bermain, sesekali terdengar gelak tawa.

Tibalah pria tua dilantai dasar, pondasi pertama dalam hidupnya.

Ia membuka pintu, menatap pemandangan luar. Hamparan padang yang luas. Memorinya perlahan menangkap semilir angin, bau rumput, hembusan debu, gemersik daun, wangi bunga, dan segala aroma daratan. Pria tua berenang ke halaman, menatap julangan bangunan yang menjadi saksi bisu jalan kehidupan. Begitu tinggi. Ia lihat sekeliling, ada beberapa bangunan yang selesai ditingkat empat atau tujuh. Matanya lamurnya terus memindai, dan berhenti di satu bangunan mungil.

Riak air menghilang. Pohon-pohon bermunculan.

Sepasang anak berlarian saling mengejar. Anak lelaki tampak kaku berlaku. Anak perempuan tampak luwes dan riang. Keduanya berputar-putar berlawanan jarum jam. Ajaibnya, selepas beberapa putaran keduanya tumbuh dan membesar. Remaja lelaki tetap tampak kaku sementara remaja perempuan berubah menjadi lebih gesit. Mereka terus berlari, berputaran. Melewati berbagai musim dengan cepat. Terus bertumbuh menjadi tubuh-tubuh manusia dewasa.

Pria tua melihat ada asmara dalam tatapan keduanya. Sesuatu yang hangat menyeruak saat mata mereka beradu tatap. Senyum yang malu. Senyum yang biasa meragu dan kaku. Mulut keduanya bergerak-gerak, seperti berbicara tanpa suara. Senyum bahagia mengembang. Dari balik ribun daun-daun banyak burung terbang, menaburkan kelopak bunga disekitarnya. Menyamarkan dua manusia yang berpelukan dibawahnya.

Mata pria tua terasa perih. Begitu cepat waktu meringkas laju hidupnya.

Dua manusia tampak tak jauh dari sana. Mereka menyusun batu dan bata. Simbol baru rumah tangga. Pria tua meraba dada, ada satu rasa yang tak terkata. Ia ingat hari-hari yang dialaui bersama perempuan yang dicintainya. Berdua mereka menghabiskan malam dalam canda. Perempuan itu akan tertawa renyah dan lepas walau si pria melontarkan lelucon aneh yang tak lucu. Lalu keduanya mengangkat gelas berisi anggur merah yang harum. Bersulang dalam rona bahagia seolah waktu berhenti di moment tersebut. Kini gelas itu masih ada, tergeletak, agak kusam namun tak retak. Pria tua mengambilnya.

Malam.

Pria tua telah kembali ke kamar, berteman televisi dan nuansa sunyi. Ia letakan dua gelas bersebrangan, mengisi penuh dengan anggur merah keluaran lama. Ia tak ingat lelucon apa yang dulu diucapkannya. Ia hanya menatap gelas tersebut, lalu mengangkat punyanya. Tersenyum entah pada siapa.

=======================

Salah satu versi asli film LA MAISON EN PETITS CUBES
Salah satu versi asli film LA MAISON EN PETITS CUBES
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s