Interview with Bamby Cahyadi

Bagi anda pembaca cerita pendek pasti sudah tidak asing dengan Bamby Cahyadi yang namanya kerap muncul di berbagai media. Pria kelahiran Manado, 5 Maret 1970 ini, pada desember silam merilis buku kumpulan cerpennya yang berjudul KISAH MURAM DI RESTORAN CEPAT SAJI. Berbagai Kisah muram memang disajikan oleh Bamby Cahyadi dalam buku ini dalam berbagai dimensi tokoh mulai dari anak-anak, wartawan, hingga pelayan restoran, semua dikemas secara apik dan mengalir. Berikut adalah obrolah ringan Crimson Strawberry dengan Bamby Cahyadi yang dilakukan via e-mail, monggo:

Bamby Cahyadi Interview cover

Sejak kapan suka menulis, dan bagaimana proses kreatifnya?

Saya menulis sebenarnya sejak menjadi mahasiswa, sekitar tahun 1989, namun pada waktu itu saya lebih suka menulis berbagai artikel tentang dunia kemahasiswaan, sosial politik dan laporan jurnalistik, karena pada saat itu saya aktif di Pers Mahasiswa. Menulis fiksi, khususnya cerpen baru saya lakoni sekitar tahun 2007. Itu pun saya menulis di blog pribadi, situs penulis on-line dan jejaring sosial. Pada waktu awal menulis cerpen, saya menulis persoalan-persoalan sehari-hari yang terjadi di sekitar saya. Lantas karena berkenalan dengan beberapa penulis lainnya, maka saya mulai tertarik untuk menulis di jalur sastra.

 

Apakah anda termasuk penulis yang spontan atau mengendapkan ide terlebih dahulu sebelum menulisnya?

Pada masa produktif saya sekitar tahun 2007-2010 saya menulis secara spontan. Artinya setiap ada ide, saya langsung menuangkannya menjadi sebuah cerpen. Namun dengan berjalannya waktu dan kesibukkan saya sebagai karyawan di perusahaan food & beverage, saya mulai mengendapkan ide tersebut. Apabila saya senggang, saya menuangkan ide-ide yang berkeriapan dalam kepala saya menjadi sebuah tulisan atau cerpen.

 

Biasanya berapa lama menyelesaikan sebuah cerpen?

Tergantung situasi dan kondisinya. Kalau sedang mood, sebuah cerpen bisa saya selesaikan dalam 1 hari. Tetapi ada juga cerpen yang diselesaikan berbulan-bulan, bahkan setahun.

 

Biasanya dalam membuat tulisan fiksi anda membuat plot dulu atau cerita dulu?

Saya ini penulis yang spontan, semua saya tulis apa adanya tanpa terpaku pada plot. Bahkan, terkadang saya mengacaukan sendiri plot yang telah saya susun di kepala, sehingga banyak cerpen saya yang memberikan ending yang tak terduga, atau menjadi cerita yang absurd.

 

Dalam perkembangannya, apakah Bamby Cahyadi pernah mengalami ‘Writer block’?, jika iya apa solusinya?

Jika saya mengalami kebuntuan dalam menulis, saya tidak memaksakan diri untuk keluar dari kebuntuan tersebut. Biasanya yang saya lakukan adalah menjalankan hobi seperti jalan-jalan, nonton film, baca buku dan bertemu dengan orang baru (orang yang sebelumnya saya tidak kenal). Dari menjalankan hobi dan bertemu dengan orang yang baru saya kenal, akan ada saja ide-ide segar untuk melanjutkan tulisan yang tertunda. Saya juga selalu mengingat mimpi saat saya tertidur, karena dari mimpi banyak cerita yang bisa kita tuliskan.

 

Beralih pada buku baru anda, bisa diceritakan awal mula lahirnya buku ini?

Buku Kisah Muram di Restoran Cepat Saji, adalah sebuah judul cerpen yang pernah dimuat di Majalah D’Sari edisi Juli-Agustus 2010, saya memilih judul cerpen itu menjadi judul buku yang lantas diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, karena menurut saya judul tersebut bisa mengusik rasa penasaran pembaca. Waktu itu, naskah buku Kisah Muram tak langsung saya kirimkan ke Gramedia, ada 4 penerbit lain yang saya tawarkan terlebih dulu, karena saya pikir naskah saya pasti ditolak Gramedia, namun justru sebaliknya. Setelah 4 penerbit menolak naskah tersebut, saya kirimkan naskah itu ke Gramedia, dan alhamdulillah setelah 3 bulan dikirim via email naskah itu mendapat jawaban akan diterbitkan GPU.

 

Darimana anda mendapat karakter untuk tokoh2 dalam kumpulan cerpen ini? Apakah dari mengamati atau mereka-reka saja?

Sebagian besar tokoh dalam cerpen saya adalah hasil dari pengamatan saya terhadap orang-orang di sekeliling saya. Dalam buku pertama saya ”Tangan untuk Utik” tokoh-tokoh dalam cerpen tersebut, banyak terinspirasi dari lingkungan keluarga dan teman-teman saya. Dalam buku kedua ”Kisah Muram di Restoran Cepat Saji” tokoh-tokohnya banyak terinspirasi dari beberapa nama yang kerap kita lihat beritanya di televisi atau koran.

 

Karakter dalam buku ini rata-rata berada di area abu-abu; suram, muram, sinis dan sejenisnya. Apakah Bamby Cahyadi menyamakan mood dulu sebagai penulis untuk karakter yang anda buat supaya karakter yang dibuat lebih punya ruh

Saya membuat karakter pada setiap tokoh dalam kumpulan cerpen Kisah Muram memang bukan tokoh yang diharapkan, karakter dalam setiap cerpen mempunyai sisi kelam, tragis dan tak menjanjikan kebahagiaan. Mungkin sesuai dengan judul buku ini, Kisah Muram. Terus terang, dunia yang kita tempati ini selalu memberikan cerita muram, tapi dari kemuraman tersebut kita bisa merasakan artinya bahagia. Seseorang tidak akan merasa hidupnya bahagia apabila ia tidak pernah merasakan menderita. Derita adalah kemuraman. Orang merasa bahagia karena ia telah melewati masa muram.

 

Sebagian plot dari cerita pendek dalam buku ini terasa begitu biografikal, apakah ada hubungannya dengan pengalaman pribadi?

Sebenarnya hanya 3 cerpen yang berdasarkan dari kisah nyata saya, yaitu yang berjudul: Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang, Tentang Mayat yang Sedang Tersenyum dan Pak Sobirin, Guru Mengaji. Namun sebagai karya fiksi, saya memberikan unsur dramatis dan tentu saja tambahan imajinasi.

 

Cerpen Kisah Muram di Restoran Cepat Saji dan Obsesi begitu menyentil soal korupsi di Indonesia. Bisa dijelaskan secara singkat?

Tema besar dalam buku Kisah Muram adalah fiksi sebagai senjata anti korupsi! Korupsi dapat terjadi akibat dari hal-hal sepele yang kita abaikan, atau bisa karena kita kepepet. Tapi korupsi juga terjadi karena memang sudah menjadi semacam budaya di Indonesia, karena rasa malu sudah tak ada lagi pada diri kita, walaupun kita semua orang yang taat beragama. Maklum bangsa kita memang bangsa paling korup di dunia. Karya fiksi, paling tidak mengajak pembaca untuk merenungkan bahwa ternyata hal yang paling muram dalam hidup ini, adalah ketika korupsi sudah mendarah-daging dalam sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Judul yang menyentil tentang korupsi adalah: Kisah Muram di Restoran Cepat Saji,Obsesi, Lelaki Abu-Abu yang Membatu dan Angka Sepuluh. Itulah sebabnya, cover buku Kisah Muram ini seseorang yang tanpa kepala, ini simbolis dari isi cerita dalam kumcer Kisah Muram.

Siapa saja penulis yang mempengaruhi Bamby Cahyadi, terutama untuk cerita-cerita dalam buku ini, karena saya, sebagai pembaca awam, merasa ada beberapa yang bernuansa Putu Wijaya, Ahmad Tohari, dan Seno Gumira Ajidarma. Benarkah demikian, atau ada yang lain?

Sebagai penulis yang baru mulai berkiprah dalam dunia kepenulisan di tahun 2007, tentu saja saya tidak bisa mengelak terpengaruh oleh penulis yang sudah lama berkecimpung dalam ranah sastra Indonesia. Beberapa cerpen karya saya dipengaruhi oleh nama sastrawan Budi Dharma, Putu Wijaya, Hamsad Rangkuti, Hudan Hidayat dan Danarto.Pun nama-nama sastrawan dunia lainnya seperti Edgar Allan Poe.

 

Cerita-cerita dalam buku ini kebanyakan lebih menonjolkan pendalaman karakter, apakah ini memang ciri khas yang ingin ditampilan seorang Bamby Cahyadi

Karakter sang tokoh, akan sangat melekat dengan alur cerita. Saya berusaha agar semua tokoh dalam cerpen saya bukan hanya sekadar nongol begitu saja, tetapi ia akan terlibat secara emosional dengan pembacanya. Oleh karena itu, saya lebih banyak bercerita dari sudut pandang orang pertama, cerita akan menjadi lebih berjiwa. Pada saat saya memakai sudut pandang orang ketiga, agar cerita saya lebih berisi.

 

Cerpen anda begitu banyak termuat di media cetak, ada saran untuk para penulis baru yang hendak mengirimkan ceritanya ke media?

Saran saya adalah banyaklah membaca karya penulis lain yang cerpen atau puisinya dimuat di media tersebut. Terus terang untuk menembus media kita sangat tergantung pada selera redakturnya, selain karya cerpen kita memang layak dimuat karena berkualitas. Selain itu perbanyak jaringan dengan teman-teman penulis di seluruh daerah. Karena dengan membangun jaringan, kita akan lebih mudah mendapatkan informasi. Sebaiknya, sebelum mengirim sebuah karya ke media, mintalah karya itu dibaca oleh orang lain, misalnya suami atau istri, teman, tetangga atau sesama penulis, agar kita mendapat masukkan atas karya kita itu.

 

Kita tahu, dunia penulisan Indonesia juga tak lepas dari budaya latah, dulu sempat booming Chiklit lalu disusul Teenlit, Metro Pop, Pelit (personal literature) bergaya Indonesia. Kini ada trend penulis membukukan fiksi mini dan bahkan hasil Twit-an. Bagaimana pendapat Bamby Cahyadi untuk hal ini (1. Masalah latah, dan 2. Trend fisksi mini, apakah ini merupakan bentuk kreatif baru atau kemalasan penulis mengembangkan ide?)

Menurut saya di setiap masa, pasti selalu ada peristiwa kreativitas yang terbangun secara sporadis. Apakah nantinya akan bertahan lama, itu sangat tergantung kepada masyarakat pembaca. Menurut saya, untuk masalah latah, dunia literasi tak lepas dari dunia industri, dimana kita berada dalam genggaman kapitalis, yang memang bertujuan meraup keuntungan berdasarkan selera pasar. Tapi saran saya, seorang penulis harus punya idealisme. Untuk masalah trend fiksi mini pun merupakan buah dari perkembangan teknologi. Sebenarnya Sapardi Djoko Damono sudah banyak membuat fiksi mini sebelum kemunculan fiksi mini ala twitter. Fiksi mini menurut saya, adalah embrio untuk membuatnya menjadi besar. Artinya fiksi mini adalah ide kecil yang nantinya oleh sang penulis bisa dikembangkan menjadi karya yang besar, apakah menjadi cerpen atau novel. Saya pun sangat gandrung membuat fiksi dengan 100 kata. Saya diajarkan untuk menciptakan kata-kata yang ringkas dan efektif akan tetapi menjadikannya kalimat yang bercerita dan enak dibaca.

Selepas cerpennya di muat dalam kompilasi, lalu kini dimuat secara utuh, adakah rencana untuk membuat karya yang lebih luas, menulis novel misalnya?

Resolusi tahun 2013 saya adalah menulis novel. Hahaha… namun bahan-bahan novel tersebut, selalu menjadi cerpen. Tapi saya bertekad untuk bisa menulis novel, walaupun tak tahu kapan novel tersebut akan selesai.

 

Apa yang membuat Bamby Cahyadi senang sebagai penulis (selain karya anda diterbitkan dalam buku/ dimuat di media?)

Saya senang memiliki banyak teman dan tentu saja memiliki beberapa penggemar. Juga saya sangat senang, ketika mengetahui perjalanan berdarah-darah seorang penulis pemula, lantas ia menjadi penulis yang produktif dan karyanya ada di mana-mana. Dari kegiatan rutin saya melakukan up-date starus koran minggu di Facebook saya, saya dapat mengikuti perkembangan seorang penulis yang semula ia hanya berkomentar tentang mimpinya agar cerpen/puisinya dimuat di media, lantas beberapa minggu kemudian, cerpen/puisinya dimuat disuatu media hingga saat ini. Hanya saja, minggu lalu saya memberi maklumat bahwa kegiatan up-date status koran minggu di Facebook saya mulai akhir Maret 2013 ini saya hentikan karena alasan pribadi.

Pernah punya pengalaman tidak enak selama berada di dunia kepenulisan?

Saat saya berpolemik dengan penyair Saut Situmorang dan ketika mengetahui masalah plagiarisme, baik terhadap karya saya atau orang lain

 

Jika punya kesempatan untuk menulis bersama orang lain, Bamby Cahyadi memilih siapa? Alasannya?

Pramoedya Ananta Toer. Sayang beliau sudah almarhum.

Pertanyaan terakhir rapid question, harus pilih salah satu dan tak perlu pakai alasan: Karya di puji kritikus sastra tapi jeblok dipasaran, atau karya booming dipasaran tapi dicela habis-habisan oleh kritikus sastra?

Karya booming di pasaran dan dicela habis-habisan oleh kritikus sastra.

Terimakasih atas kesediaan berbagi dan meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, Mas Bamby J

Terima kasih kembali, salam sastra dan terus berkarya!

—————-

Anda dapat menyapa dan berinteraksi bersama Bamby Cahyadi melalui twitter.

Iklan

2 pemikiran pada “Interview with Bamby Cahyadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s