Een Sukaesih

Een Sukaesih

Perempuan tangguh berikutnya adalah Een Sukaesih. Nama Een barangkali belum seterkenal Butet Manurung, namun dalam urusan mendidik ia punya dedikasi yang besar terhadap para ‘murid-muridnya’. Berbanding terbalik dengan Butet Manurung yang menjelajah hingga kedalam hutan untuk memberikan pengajaran, Een Sukaesih tidak melakukannya sama sekali sebab ia memang tak bisa bergerak dalam arti sebenarnya. Dan jika ‘kelas’ Butet Manurung adalah alam terbuka yang luas membentang, maka ‘kelas’ Een adalah kamar tidurnya yang berukuran 2X3 meter.

Tubuh Een boleh dikata lumpuh total, hanya mata dan mulutnya yang bisa bergerak. Een mengaku sekujur tubuhnya sakit luar biasa jika posisinya bergeser sedikit saja dari tempat semula. Hal ini disebabkan oleh penyakit Rheumatoid Arthritis, semacam rheumatik atau radang sendi yang bersifat ganas dan, konon, hingga kini belum ditemukan obat dan cara penyembuhannya, hal ini menyebabkan  tubuh penderita lumpuh total. Inilah yang dialami oleh Een terhitung sejak tahun 1986. Namun selama 27 tahun hidup dengan penyakit, segala keterbatasan fisik serta finansial, tak menyurutkan niat Een untuk menyebarkan ilmu dan membaktikan diri untuk mendidik anak-anak.

Een tidak memungut bayaran, meski dirinya terbilang kurang berkecukupan, tapi justru Een sering membantu anak didiknya untuk keperluan memberi buku. Een mengungkapkan, ia ikhlas melakukannya, karena ia ingin berempati dan ingin berbagi dengan murid-muridnya meski kemampuannya terbatas.

28 tahun lalu, Een lulus sekolah pendidikan guru dan D3 IKIP Bandung jurusan Bimbingan dan Konseling. Tapi kelumpuhan yang tiba-tiba menyerang membuatnya gagal menjadi guru dan pegawai negeri. Sejak itu Een memutuskan mengisi hidupnya sesuai dengan cita-cita semula, yaitu menjadi guru untuk anak-anak disekitar tempat tinggalnya. Diantara 30-an anak yang rutin mengikuti ‘kelas’, enam diantaranya menduduki peringkat pertama di kelas masing-masing, sementara yang lain ada di 10 besar.

0904sanggar_belajar

Salah satu murid Een, Sintha Rohaeni, menerangkan Een membuatnya termotivasi untuk tidak selalu mengeluh dan optimis dalam menjalani hidup (SCTV 27/04/2013). Sementara Putri Maulida, siswi SDN 3 Cibeureum, Sumedang, mengaku menjadi salah satu murid didik Een Sukaesih sejak duduk di bangku TK, dan selama di SD dia setidaknya selalu menduduki peringkat 5 teratas dikelasnya (inilah.com 1/10/2012). Hal serupa diungkapkan oleh Eni, murid Een yang lain, ia mengaku apa yang diterangkan oleh Een lebih meresap dan dicerna, Eni menambahkan ia lebih suka belajar di tempat Een daripada di sekolah.

1910858

Perjuangan Een untuk menghadapi derita sepertinya belum akan berhenti dikelumpuhan, salah satu matanya kini terancam buta, tapi, lagi-lagi hal ini pun tidak menghalangi baktinya. Ia berpesan supaya anak-anak didiknya tumbuh menjadi generasi penerus harapan bangsa yang berakhlak mulia dan berbudi luhur. (CS/berbagai sumber)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s