Kehormatan

Soekarno

 

 

Apa arti kehormatan bagi seorang pemimpin (dalam hal ini, bangsa)?

Beberapa waktu silam, seorang teman saya menyodorkan sebuah artikel, isinya tentang Soekarno yang (dalam artikel tersebut) berperan besar dalam penemuan dan pemugaran makam salah seorang perawi hadist paling terkenal selain Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah, yakni Imam Bukhari.

Alkisah, sekitar tahun 1961 pemimpin Uni Soviet, Nikita  Khrushchev, mengundang Soekarno datang ke Moskow. Tujuannya barangkali politis semata, yakni untuk menunjukan pada blok barat (Amerika dan sekutu) bahwa Indonesia berada dipihak mereka (blok timur).

Soekarno yang tak ingin menunjukan Indonesia tunduk begitu saja pada Uni Soviet lantas mengajukan satu syarat, isinya kurang lebih, ia bersedia datang ke Moscow jika pemerintah Khrushchev berhasil menemukan makam Imam Bukhari  yang berada di wilayah Samarkhan, Uzbekistan.

Tentu saja syarat yang lebih menyerupai permintaan Roro Jongrang dan Dayang Sumbi saat masing-masing dilamar oleh Badung Bondowoso dan Sangkuriang (meski tentu saja tak sedramatis dua legenda tersebut) membuat Khruschev yang komunis tulen kalang kabut, jangankan menemukan makamnya, nama Imam Bukhari saja barangkali baru ia dengar pertama kali dari Soekarno.

Sedikit informasi, Imam Bukhari lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah, pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M), nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al Bukhari. Beliau wafat pada tahun 256 H atau 870 M. Jadi bagi pemerintahan yang sama sekali tak mengenal islam, menemukan makam berusia  1091 tahun tentu bukan perkara gampang.

Namun Khruschev tentu tak ingin kehilangan muka di depan pemimpin negara yang baru merdeka ini, maka pemerintah Uni Soviet mati-matian mencari makam sang ulama besar Islam meski bukan perkara mudah. Khrushchev yang hampir menyerah lantas mengajukan syarat lain pada Soekarno, tapi presiden pertama RI ini bersikeras Soviet harus menemukan makam Imam Bukhari.

Singkat kata singkat cerita, mereka akhirnya berhasil menemukan lokasi makam Imam Bukhari. Saat itu  kondisinya sangat memprihatinkan dan tidak terawat untuk ukuran seorang ulama besar. Khrushchev pun dengan gembira menyampaikan hal itu pada Soekarno. Tak lupa, pihak Soviet merenovasi makam tersebut, sang presiden pun bersedia datang dan berziarah ke tempat Imam yang sangat dikaguminya ini di Samarkand.

Soekarno, dalam hal ini, juga berhasil membuat semacam ‘win win solution’, karena blok kanan melihat kunjungannya ke Moscow tak  hanya kunjugan politik, tapi juga ziarah. (terlalu mudah untuk sebuah manuver dan pandangan poltik ya? Entahlah.)

KERAGUAN

Ihwal tentang peran Soekarno dalam penemuan Imam Bukhari tidak serta merta diterima oleh semua pihak, Asvi Warman Adam, seorang sejarahwan, mengungkapkan keraguannya didasarkan pada tidak adanya literasi resmi mengenai hal ini. Soekarno pun tak menceritakan hal ini dalam biografi dirinya yang ditulis Cindy Adams.

“Kadang memang ada cerita Soekarno yang dibesar-besarkan. Untuk cerita itu tidak jelas kenapa Soekarno mengemukakan alasan tersebut pada Uni Soviet,” beber Asvi.

Knight Grand Cross in the Order of the Bath, World Statesman Award, dan SBY.

Lebih dari setengah abad setelahnya, presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, dimasa pemerintahannya, tanggal 29-10-2012 kemarin, diundang oleh pemerintah Ingris untuk mendapat gelar kehormatan Knight Grand Cross in the Order of the Bath. Konon penghargaan ini hanya diberikan kepada mantan Presiden AS Ronald Reagan, mantan Presiden Perancis Jacques Chirac, serta Presiden Turki Abdullah Gul. Hingga saat ini saya belum tahu alasan pemberian gelar tersebut –maklum kudet –, namun yang jelas saat menerima gelar tersebut presiden SBY menawarkan kemudahan investasi bagi Inggris di Indonesia.

Di akhir mei ini (30/05/13), presiden SBY kembali diundang ke luar negeri, Amerika Serikat tepatnya, untuk mendapat menghargaan World Statesman Award dari the Appeal of Conscience Foundation yang bermarkas di New York. Katanya, SBY dinilai telah berperan besar dalam peningkatan bertoleransi di Indonesia.

Pemberian World Statesman Award, menuai polemik di masyarakat karena SBY dinilai tidak pantas menerima penghargaan tersebut sebab konflik dalam masalah intoleransi justru meningkat di masa pemerintahannya, sementara pemberian Knight Grand Cross in The Order of the Bath dinilai sebagai ajang ‘jual beli’ dari pemerintah Inggris dan SBY.

Apa yang dilakukan Soekarno (jika memang cerita itu benar), tentu membuat rakyat Indonesia, baik pada masanya dan masa sesudahnya, merasa bangga, bagaimana seorang pemimpin tak mau citra bangsanya, yang meski baru merdeka, takluk begitu saja dihadapan sebuah negara adikuasa yang punya ideologi hampir sepaham, hingga untuk datang saja ia mengajukan syarat yang sepintas sulit dilakukan pada jaman itu. Sehingga tak hanya Soekarno seorang yang merasa terhormat namun juga seluruh rakyat.

Sementara apa yang dilakukan SBY dengan melenggang begitu saja pada pihak pemberi penghargaan, bahkan memberikan semacam ‘transaksi’ pada mereka, dan tak mendengarkan kecurigaan masyarakat sungguh sesuatu yang aneh. Sementara untuk yang terbaru dimana sebagian pihak menilai presiden tak layak sama sekali menerima penghargaan tersebut, karena yang bersangkutan tak punya peranan dan hal ini lebih condong pada pencitraan dirinya seorang saja.

Lalu, dimana dan apa arti kehormatan bagi seorang pemimpin bangsa? Seperti yang Soekarno lakukan atau SBY laksanakan?

 

=========================================

Artikel tentang Soekarno dan perannya untuk makam Imam Bukhari didapat dari merdeka.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s