KEPO

kepo

“Too Much of something is bad enough” Kalimat tersebut muncul, salah satunya, dari lirik lagu girlsband lawas asal Inggris, Spice Girls, yang menyanyikan lagu dengan judul sama, Too Much.

KEPO. Kata ini belakangan cukup populer di masyarakat kita, ditujukan pada orang yang selalu ingin tahu berlebih urusan orang lain. Secara etimologi ataupun definitif belum diketahui darimana kata kepo ini berasal, namun belakangan beredar arti dari istilah tersebut. Yang pertama menyebutkan, kepo adalah serapan dari bahasa Hokkian, kay poh, yang (katanya) berarti suka bertanya. Sementara yang kedua menyebutkan KEPO adalah singkatan dari Knowing Every Particular Object . Yang mana yang lebih bisa dipertanggungjawabkan? Tidak tahu. Tapi yang jelas keduanya mengarah pada hal yang sama, yakni sifat ingin tahu dengan segala yang ada disekitarnya, KHUSUNYA, urusan orang, secara berlebihan.

Para ahli psikologi menyebutkan, sifat dasar manusia memang ingin tahu. Bahkan kemajuan peradaban, berbagai penemuan teknologi, astronomi, filsafat, sastra, dan lainnya bermula dari rasa ingin tahu. Namun keingintahuan ini berbeda dengan sifat kepo, sebab rasa yang ditimbulkannya hanya seputar urusan orang. Psikolog, M. Farouk Radwan. Msc, menyebutkan, rasa ingin tahu terhadap urusan orang lain ini muncul karena kebiasaan suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan biasanya sifat ini dipicu oleh beberapa hal yaitu:

* Ingin diakui,

* Ingin berempati,

* Ingin terlibat,

* Ingin mendadapat informasi,

* Ingin akrab.

Meski jika dilihat dari pemicunya merupakan hal yang wajar, bahkan terkesan positif, namun saat dilakukan secara berlebih apalagi sampai melewati batas seperti yang dilakukan orang-orang kepo tetap saja jatuhnya jadi mengganggu.

Menurut saya, selain oleh hal yang telah disebutkan diatas, KEPO juga dipengaruhi oleh perasaan orang bersangkutan yang tidak merasa puas/bahagia dengan kehidupan yang dijalaninya sehingga ia mencari tahu apa yang urusan atau permasalahan orang lain, entah itu sebagai pembanding atau pemenuhan hasrat pengisi ‘kekosongan’ hidupnya.

Ciri-ciri umum orang kepo selain selalu serba ingin tahu urusan orang hingga mendetail, adalah sok tahu, serta punya ketajaman mata dan telinga ‘diatas rata-rata’. Modus orang kepo pun mulai berkembang, jika sebagian ingin mendapat eksistensi dari pertanyaan yang menjurus pada kepenasaranan berlebih, ada pula yang hanya memasang kuping doang. Dari pengalaman saya, orang kepo dengan type seperti ini biasanya menggunakan modus mengendap-ngendap. Jika ada orang yang dia kenal tengah membahas, memperbincangkan, atau melakukan sesuatu, si kepo akan mengendap-ngendap untuk mengetahui, misalnya dengan pura-pura mencari sesuatu didekat orang-orang tersebut,  meminjam barang, mengambil air minum, lalu mendekat, mengamati, lantas mencuri dengar apa yang dibicarakan.

Efek Samping Kepo

Sifat Kepo mempunyai efek samping yang tidak baik,diantaranya adalah:

* Dengan ke-kepo-an-nya, orang bisa memusuhi mereka. Alih-alih memberi perhatian, orang-orang jadi tidak suka, apalagi jika orang kepo tersebut dirasa sudah melanggar batas privacy.

* Ketika ikut campur masalah orang lain, kita harus siap untuk terlibat penuh dalam masalah tersebut termasuk mencari cara untuk menyelesaikannya. Bagi orang kepo bukan tidak mungkin, mereka malah ikut terjebak dalam masalah yang dicampurinya, meski pun rata-rata orang kepo sebenarnya kurang peduli mencari solusi, karena yang terpenting bagi mereka adalah pemenuhan hasrat keingintahuan semata.

* Rasa keingintahuan orang kepo bisa menambah problem dalam hidupnya. Masalah yang sudah menumpuk jadi bertambah akibat kepo karena ikut-ikutan terlibat dalam masalah orang.

* Mendapat pandangan rendah dari orang sekitar karena dinilai gemar mencampuri urusan orang tanpa diminta.

From KEPO to FoMO

Ada lagi istilah baru yang masih berhubungan dengan rasa keingingtahuan berlebih, sindrom itu bernama FoMO yang merupakan singkatan dari Fear of Missing Out. Hal ini banyak terjadi di dunia maya, terutama dijejaring sosial

Para penderita FoMO biasanya mulai keasyikan dengan notifikasi yang ada pada situs jejaring sosial. Mereka sangat terobsesi dengan pengalaman yang telah dilalui oleh orang lain, hingga lupa dengan kehidupannya sendiri.

Sindrom FoMO ini bisa terjadi ketika anda sedang asik bermain dengan situs jejaring sosial, dan orang-orang atau teman-teman anda sedang asyik membicarakan sesuatu. Dan akhirnya anda merasa sedih atau takut ketika ternyata anda ketinggalan informasi tersebut meski informasi itu tidak penting. Sejak dari situ anda mulai gila informasi, terutama yang berhubungan dengan pengalaman orang lain.

Menurut psikolog, Dr. Andy Przybylski, FoMO sendiri sebenarnya bukanlah hal baru. Menurutnya, Yang baru adalah peningkatan penggunaan media sosial dan hal itu menawarkan semacam jendela baru untuk melongok ke dalam kehidupan orang lain. Tapi bagi orang yang memiliki kadar FoMO tinggi hal ini bisa menimbulkan masalah karena mereka cenderung selalu mengecek akun media sosial untuk melihat apa saja yang dilakukan teman-teman mereka hingga mereka rela mengabaikan aktivitasnya sendiri. (CS/berbagai sumber)

Iklan

2 pemikiran pada “KEPO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s