IN AMERICA: Interview With Drestilya Utama

Menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan, bagi kita yang berada di Indonesia secara teknis, barangkali, terasa lebih mudah karena didukung oleh unsur sosial budaya sebagai negara dengan penganut islam terbesar di dunia. Tapi bagaimana jika harus menjalankan ibadah puasa di luar negeri, menjadi minoritas, apalagi di negara biangnya liberalisme macam Amerika Serikat? Berikut adalah wawancara ringan Crimson Strawberry dengan Drestilya Utama, Warga Negara Indonesia yang kini menetap di Austin, Texas, Amerika Serikat, via surel.

wpid-In-America.jpg

(CS) : Sejak kapan anda pindah ke Amerika?
(DU) : Saya pindah ke Amerika  pada  tahun 2006, sementara suami sudah sejak tahun 1994.

(CS) : Dari segi teknis hal umum apa saja yang harus diperhatikan seorang WNI jika hendak pindah ke Amerika?
(DU) : Visa Amerika dan pekerjaan tetap selama tinggal di Amerika. Untuk mendapatkan visa tentu lebih gampang kalau kita mempunyai sesuatu yang mereka inginkan, baik dalam bentuk ketrampilan, ilmu pengetahuan, pengalaman dan bisa juga modal untuk bisnis.

(CS) : Bagaimana dengan sistem birokrasi selama proses kepindahan tersebut? Mengingat, katanya, birokrasi imigrasi Amerika sangat ketat.
(DU) : Betul memang  birokrasi Amerika sangat ketat sekali tapi selama kita memenuhi persyaratannya tidak akan jadi masalah. Pengalaman saya dulu,  untuk mendapatkan Visa Amerika prosesnya lumayan mudah. Cuma memakan waktu dua minggu, yang paling penting yang harus di siapkan untuk mengajukan Visa ke kedutaan Amerika yaitu, mengumpulkan suratsurat keterangan seperti akte kelahiran, akte nikah, dan dokumen-dokumen penting lainnya beserta foto kemudian mengisi formulir online, lalu minta tanggal wawancara. Pada saat mau wawancara ngantrinya lumayan panjang, panjangnya sampai ke luar kantor kedutaannya, lumayan capek tapi masih oke lah capenya bukan karena ‘capek hati’ gara-gara rebutan antri atau di cerewetin sama petugas kedutaannya. Pada waktu wawancara rasanya hanya ada satu atau dua pertanyaan saja yang mereka tanyakan, tapi sudah lupa pertanyaannya apa saja. Setelah proses itu selesai, kita tinggal menunggu panggilan untuk mengambil paspor dan visa. Kebetulan waktu itu proses Visa punya suami lumayan lama di bandingkan saya, memakan sekitar 4 minggu untuk selesainya,  itu dikarenakan untuk laki-laki dengan usia-usia tertentu proses urusan visanya harus ditangani langsung dari Amerika.

(CS) : Saat pertama pindah, apakah mengalami semacam culture shock? Jika iya, hal apa yang paling diingat sampai sekarang?
(DU) : Waktu pertama pindah ke Amerika saya tinggal di kawasan yang tidak terlalu ramai, jadi saya tidak terlalu mengalami culture shock.

(CS) : Secara umum, bisa gambarkan kondisi lingkungan sosial tempat anda menetap? (apakah termasuk lingkungan yang multikultural atau hanya semacam komunitas-komunitas dari etnis tertentu?) Bagaimana pula kehidupan bermasyarakat di sana? (Karena, katanya, cara bertetangga di Amerika bertolak belakang dengan di Indonesia, bahkan untuk berkunjung saja harus melalui ‘janjian’ terlebih dahulu)
(DU) : Secara umum tempat pertama saya tinggal cukup multikultur, karena kota itu kota universitas. Mahasiswa serta staf-nya dari berbagai keturunan dan banyak yang tinggal disekitar kampus. Setelah itu kami pindah ke kota sebelah yang harga rumahnya lebih terjangkau. Di situ kelihatannya jauh lebih banyak orang bule, tapi karena masih daerah pengaruh universitas, jadi cukup nyaman juga tinggal di situ. Sekarang kami tinggal di kota besar, lebih banyak lagi kultur yang kelihatan di sini. Kalau sebelum ini tetangga kami semuanya bule, sekarang ada yang India, ada yang kulit hitam.  Kalau kunjung mengunjung kami tidak pernah ke rumah tetangga. Lebih sering ke rumah teman yang letaknya lumayan jauh. Dan memang tidak pernah datangnya tiba-tiba selalu pasti karena diundang atau sudah janjian sebelumnya. Kalau dengan tetangga kita bicaranya kalau memang sedang sama-sama di halaman. Kalau kebetulan sedang berkebun atau motong rumput sama-sama misalnya.

(CS) : Meski Amerika menyebut negaranya telah bebas masalah rasisme, namun kadang terdengar kabar masih berlakunya hal tersebut, terutama yang menimpa kalangan minoritas (entah di Amerika bagian mana). Apakah pernah mengalami hal tersebut?
(DU) : Rasanya belum pernah mendengar ada yang mengatakan Amerika bebas rasisme, yang ada adalah undang-undang yang melarang diskriminasi berdasarkan ras, warna kulit, gender dan orientasi seksual. Artinya dari sisi undang-undang kalau ada yang terbukti mendiskriminasi bisa dituntut untuk membayar kompensasi; dan kantong/dompet adalah dorongan atau inspirasi yang cukup kuat agar orang tidak menunjukkan rasisme. Tapi masih saja ada cara-cara rasisme yang sedikit terselubung yang tidak melanggar hukum. Saya belum pernah mengalami diskrimimasi terang-terangan tapi kalau pandangan yang tidak enak sudah cukup seringlah.

(CS) : Selepas peristiwa 9/11, dari yang terlihat, pandangan orang Amerika terhadap muslim mengalami perubahan yang negatif dan cenderung men-generalisir. Bagaimana perkembangannya sekarang, paling tidak dilingkungan anda?
(DU) : Saya sendiri di sini jauh setelah peristiwa 9/11, jadi ini komentar dari suami yang pada saat itu sudah di sini. Sebenarnya ada dua pergerakan yang kelihatan setelah kejadian tersebut. Bagi mereka yang sudah punya kecenderungan untuk takut pada pengaruh Islam atau penganutnya memang mereka berubah secara negatif, tapi bagi mereka yang tidak justru berubah menjadi positif karena ingin lebih mengetahui apa itu Islam sebenarnya. Kalau dari sisi birokrasi terlihat reaksi negatif terhadap muslim terutamanya laki-laki berumur antara belasan tahun dan 40an tahun karena itulah demografi mereka yang melaksanakan serangan tersebut. Saat itu diterapkan  kebijakan wajib lapor bagi kategori tersebut tapi tidak sampai setahun sudah ditarik kembali. Urusan visa bagi kelompok demografi ini juga menjadi lebih rumit seperti yang di #3 di atas. Dan pada saat memasuki Amerika di lapangan terbang suami saya sempat harus melewati proses imigrasi tambahan yang cukup lama.

(CS) : Bagaimana pula perkembangan Islam sendiri di Amerika secara kuantitatif dan kualitatif, karena dari yang saya baca bertambahnya jumlah muslim di Amerika lebih dipengaruhi oleh faktor migrasi, yakni banyaknya orang-orang dari Asia atau Afrika muslim yang bermukim di Amerika. Dan adakah perbedaan masa kepemimpinan era Obama dengan era sebelumnya? Sebab, katanya, di rezim Obama, kerjasama antar umat beragama lebih ditingkatkan, benarkah?
(DU) : Secara kasar memang pertambahan jumlah muslim lebih didasari migrasi muslim dari luar, tapi cukup signifikan juga dari masuknya warga setempat. Perkembangan kualitatif Islam di sini kayaknya lebih didorong oleh generasi kedua dan seterusnya dari imigran muslim.
Tentang perbedaan kepemimpinan kedua presiden itu saya tidak punya cukup informasi untuk bisa memberikan komentar yang berarti.

(CS) : Kedua putri anda lahir dan besar di Amerika. Bagaimana memberikan pengenalan Islam dan Indonesia pada mereka? Ramadhan misalnya, jika di Indonesia barangkali relatif lebih mudah karena didukung oleh lingkungan sementara di Amerika dengan mayoritas non-muslim rasanya akan lebih sulit, bukan?
(DU) : Kita punya patokan contoh yang baik untuk dijadikan contoh dan yang buruk untuk dijadikan batasan. Islam di sini lebih aktif dengan tenaga generasi kedua dan seterusnya. Mereka itu kuat iman Islamnya dan pintar dengan seluk beluk kultur lokal. Mereka ini yang menjadi contoh buat kami, bagaimana mereka bisa menjadi seperti itu, sedangkan di luar banyak pengaruh yang menarik mereka menjauhi agama. Pastinya kami juga bisa, insya Allah, kalau giat berusaha. Salah satu caranya, antara lain, memberikan contoh sebaik-baiknya pada anak-anak dan memberikan pengertian kenapa kita ingin menjadi muslim. Alhamdulillah kami juga berkesempatan menyekolahkan mereka di sekolah Islam yang akan memberikan mereka rekan main dan lingkungan yang lebih mendukung pertumbuhan iman mereka. Moga-moga semakin besar nanti semakin besar iman Islam mereka. Kalau pengenalan Indonesia, kita usahakan berbicara dalam bahasa Indonesia sesama kita, biarlah bahasa lain mereka pelajari di luar, bahasa Indonesia kalau bisa tidak hilang. Dengan adanya internet kita juga bisa ikut nonton acara TV Indonesia, lumayanlah buat mereka melihat kultur/budaya Indonesia, sekurang-kurangnya tidak terlalu awam.

(CS) : Katanya sekarang sedang musim panas ya, kira-kira selama menetap di Amerika adakah tahuntahun yang sulit selama menjalankan ibadah puasa Ramadhan (jam siang yang terlampau panjang atau cuaca yang terlalu panas/dingin misalnya) 
(DU) : Alhamdulillah sampai sekarang saya belum mengalami kesusahan dalam menjalankan ibadah puasa di musim panas. Kelihatannya berat memang,  karena waktunya lebih panjang, tapi setelah di jalani ternyata tidak seberat yang di bayangkan. Untuk puasa dimusim dingin walaupun cuacanya dingin sekali, tapi masih bisa menjalankan puasa dengan baik tanpa adanya hambatan karena waktunya lebih pendek di bandingkan dengan musim panas. Cuman kata suami kalau puasa musim panas susah sekali soalnya dimana-mana pandangan menggoda hehehe…

(CS) : Saya pernah baca di salah satu blog orang yang pernah tinggal di Amerika, katanya untuk menuju mesjid terdekat dari tempat dia tinggal saja begitu jauh hingga harus naik subway segala, apakah hal serupa juga dialami anda?
(DU) : Waktu masih tinggal di kota kecil dulu, jarak antara mesjid dan tempat  tinggal tidak terlalu jauh cuma tiga puluh menitan dari rumah.  Dan di tempat tinggal yang sekarang, jaraknya lebih dekat lagi, cuma sepuluh menitan dari tempat tinggal. Alhamdulillah sekarang makin banyak masjid terutamanya di kota-kota besar.

(CS) : Adakah hidangan/masakan spesial selama bulan Ramadhan, baik di keluarga anda atau umat muslim Amerika pada umumnya?
(DU) : Hidangan spesial selama bulan ramadhan untuk keluarga sama sekali tidak ada, biasanya saya memasak masakan yang biasa saya hidangkan di hari-hari biasa. Tambahannya mungkin cuma ada untuk tajil, seperti  korma dan karena anak-anak dan suami bukan penyuka kolak biasanya di ganti dengan jus buah-buahan. Kalau hidangan spesial dikomunitas muslim di mana saya tinggal biasanya macam-macam.  Setiap orang selalu membawa masakan khas negaranya masing-masing, seperti orang India atau orang Pakistan mereka biasanya membawa biryani  dan untuk orang-orang dari timur tengah mereka membawa kebab beserta hidangan khas lainnya.

(CS) : Selama masa Ramadhan dan diluar Ramadhan, apa yang membuat anda kangen terhadap Indonesia yang tidak di dapatkan di Amerika? Dan hal baik apa yang, menurut anda, hanya bisa ditemukan di Indonesia.
(DU) : Selain sahur dan berbuka bersama dengan keluarga besar, hal yang paling membuat saya kangen adalah jajanan khas ramadannya yang selalu dijajakan di bazar-bazar ramadan atau pasar-pasar tradisional.
Karena penduduk Indonesia mayoritas memeluk agama Islam, hal baik yang di temukan di Indonesia adalah suasana yang mendukung untuk menjalankan ibadah puasa seperti banyaknya restoran-restoran yang tutup dan orang-orang yang tidak makan minum di tempat umum dan juga banyaknya pengajian yang di selenggarakan oleh majelis taklim atau pun perorangan.

(CS) : Sebaliknya, hal baik apa, menurut anda, yang didapat selama tinggal di Amerika dan tidak/belum ditemui di Indonesia?
(DU) : Hal baik yang didapat selama di Amerika dan sangat jarang di temukan di Indonesia adalah tepat waktu dan menerima perbedaan baik dalam keyakinan, pendapat atau pun pakaian.

(CS) : Terakhir, saat Hari Raya Idul Fitri, selepas shalat Ied, adakah ritual/kegiatan yang khas dilakukan keluarga anda atau umat muslim Amerika pada umumnya?
(DU) : Biasanya habis shalat Ied kami selalu pergi ke restoran favorit untuk makan bersama. Sehabis itu, sorenya baru kumpul dengan teman-teman muslim lainnya di rumah teman.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s