Dunia Nadya

Dunia Nadya

Satu malam di bulan Ramadhan (07/16/13 – kalau tidak salah), Nadya Hutagalung hadir di televisi dalam sebuah talkshow baru di televisi swasta baru yang dipandu Sarah Sechan. Model cantik ini datang membawa pesan penting dari kegiatan yang sepertinya jarang dilakukan oleh pesohor sekelasnya. Walau selama dua segment itu direcoki berbagai gimmick tidak jelas, namun bisa ditangkap beberapa point penting dari penjelasan singkatnya. Nadya menerangkan tujuan utama kedatangannya untuk mengkapanyekan gerakan ‘Berhenti Membeli Gading Gajah’, hal ini terkait dengan makin menggilanya pembantaian terhadap gajah-gajah di benua Afrika yang disebabkan, salah satunya, permintaan akan gading gajah dari kawasan Asia yang tinggi. Nadya melanjutkan Untuk mengambil gading, mereka harus membunuh gajah untuk kemudian dibuat sebagai hiasan dan aksesori saja. Ini sangat menyedihkan dan harus dihentikan, ungkapnya. Dan besarnya keuntungan uang yang didapat melalui jual beli gading ini telah membuat sindikat teroris juga merambah bidang ini demi meraup modal yang lebih besar untuk menambah modal persenjataan.

“Mereka tidak butuh modal karena mereka tidak membeli gajah, mereka hanya cukup memburu dan membunuh gajah  secara ilegal untuk diambil gadingnya. Jadi kita yang di Asia adalah kunci utamanya dengan cara tidak membeli gading atau aksesori dan hiasan apapun yang terbuat dari gading gajah.” Jelas Nadya.

Berikut adalah hal-hal yang sedikit melengkapi keterangan Nadya yang diambil dari berbagai sumber.

AFRIKA

Pembantaian Gajah di Kamerun
Pembantaian Gajah di Kamerun

Gambar ini diambil dari Bouba N’Djidda National Park, yang merupakan salah satu tujuan safari populer di Kamerun Utara. Pada februari 2012, lebih dari tiga puluh bangkai gajah ditemukan dalam kondisi termutilasi yang diduga dilakukan oleh pemburu liar untuk tujuan perdagangan gading global.

Aktivis setempat mengatakan 400 gajah mungkin telah tewas sejak awal tahun 2012, populasi terbesar Afrika gajah savana berada di wilayah negera tersebut, diperkirakan kurang dari 5000 ekor saja yang tersisa di seluruh negeri.

Biasanya, pemburu liar yang sering berkeliaran merupakan penduduk miskin setempat, tapi dalam kasus ini para pemburu tersebut adalah geng yang membawa senapan mesin. Diduga mereka telah melakukan perjalanan 1.000 mil dari Sudan di Afrika Tengah.

Walau pemerintah Kamerun telah mengirimkan polisi taman dan unit pasukan keamanan untuk mengamankan kawasan lindung, namun belum ada pemburu yang ditangkap.

Jim Leape, direktur umum WWF International menyebutkan, “Kecuali langkah-langkah cepat dan tegas diambil, tampaknya akan sangat mungkin para pemburu akan mengambil kesempatan dari kerusuhan dan ketidakstabilan negara itu untuk menembaki gajah-gajah yang tinggal di situs unik ini.”

Selain Kamerun negara-negara yang gencar melakukan pembantaian terhadap gajah antara lain, Kenya, Tanzania, dan Kongo. Di Kenya Utara hal serupa juga terjadi dimana  jumlah gajah telah menurun drastis hingga seperempat dari jumlah semula dalam tiga tahun.

Di sisi lain, Laporan Dana Internasional untuk Perlindungan Binatang menyebutkan, pada tahun 2011 pemburu gelap mengumpulkan lebih dari 5.200 gading gajah, atau 23 ton, yang mengakibatkan lebih dari 2.500 gajah dibantai. Laporan itu juga menyebutkan kebanyakan gading itu dikirim ke Asia, khususnya Tiongkok.

TIONGKOK

Elizabeth Wamba, Manajer Komunikasi Dana Internasional bagi Perlindungan Binatang untuk wilayah Afrika Timur, mengatakan, “Naiknya permintaan akan produk-produk dari gading di Tiongkok sesungguhnya mendorong perburuan gelap gajah di seluruh Afrika. Tingkat perburuan itu sangat tinggi. Di sebagian tempat, meningkat ratusan persen.”

Laporan ini mengutip sebuah laporan berkala sebuah badan lelang yang menyebutkan pada tahun 2011 penjualan lebih dari 11.000 gading gajah di Tiongkok bernilai 95,4 juta dolar, atau naik 107 persen dari tahun sebelumnya. Lebih jauh lagi, dalam laporan ini juga disebutkan harga gading telah melambung, namun menguatnya mata uang Tiongkok terhadap dolar Amerika menguntungkan para konsumen di negara tersebut yang membeli gading di pasar dunia. Disebutkan pula keterkaitan naiknya permintaan tersebut dengan penjualan resmi cadangan gading di Tiongkok dan Jepang tahun 2008 yang berasal dari Afrika Selatan, Zimbabwe, Namibia, dan Bostwana. Saluran Televisi Pusat Tiongkok melaporkan, para investor memandang produk-produk gajah sebagai “emas putih.”

Laporan tersebut juga menyebutkan tahun 2004 Tiongkok memperkenalkan sistem pengawasan pasar gading dalam negeri agar sejalan dengan Konvensi Perdangangan Internasional atas Spesies yang Terancam, tetapi dalam kenyataannya peraturan itu tidak terealisasi.

Dari 158 tempat perdagangan gading yang disurvei oleh para pakar Tiongkok di lima kota, 101 di antaranya beroperasi secara gelap, tidak punya izin pemerintah. Pakar perdagangan satwa liar yang berkantor di Nairobi, Esmond Martin, melakukan penelitian seksama mengenai perdagangan gading. Ia mengatakan kepada VOA, penelitian yang dilakukannya di dua provinsi Tiongkok tahun lalu mengungkapkan sekitar 62 persen gading yang dijual eceran tidak memiliki surat resmi.

Ia mengatakan, kebanyakan perdagangan gading gelap di Tiongkok berasal dari negara-negara Afrika di mana sejumlah besar warga Tiongkok membeli hasil ukiran, perhiasan, dan benda-benda lain terbuat dari gading, dan menyelundupkannya ke Tiongkok.

“Mereka memperoleh sejumlah besar gading yang diselundupkan keluar dari Afrika dengan kapal, kebanyakan sekarang melalui pelabuhan-pelabuhan Afrika Timur, ke berbagai negara Asia. Mereka mencari berbagai negara yang mereka pikir bisa mudah menyelundupkannya.” terang Martin.

THAILAND

Di Thailand, sebuah kelompok konservasi satwa liar terkemuka telah meminta pemerintah untuk melarang semua perdagangan gading. Mereka mengatakan hal tersebut memicu pembantaian gajah di Afrika seperti yang terjadi selama ini.

World Wildlife Fund (WWF) meluncurkan petisi di seluruh dunia menyerukan kepada Perdana Menteri Thailand, Yingluck Shinawatra, untuk melarang perdagangan gading di negaranya. Menurut organisasi ini sejumlah besar gading diimpor dari Afrika ‘dicuci’ melalui toko-toko di Thailand.

“Saya yakin banyak wisatawan asing akan terkejut mengetahui bahwa pernak-pernik gading yang dipajang di toko-toko Thailand mungkin berasal dari gajah yang dibantai di Afrika,” kata Sybille Klenzendorf, Direktur Konservasi Spesies di WWF.

Para pejabat Thailand mengatakan tidak akan ada larangan untuk pengambilan  gading dalam negeri dalam waktu dekat karena langkah-langkah telah dilaksanakan untuk mengatasi masalah ini.

“Hal ini tidak bisa dilakukan untuk melarang semua perdagangan gading saat ini,” kata pejabat satwa liar Theerapat Prayurasiddhi, “Hal ini karena dalam kasus gajah peliharaan, itu adalah hak pemilik untuk melakukan apa yang dia ingin lakukan dengan sisa-sisa gajah setelah kematiannya.”

WWF menyebut sementara ini hal yang paling memungkinkan adalah melawan hukum Thailand yang menjual gading dari Afrika dan negara-negara lain seperti disebutkan diatas. Sebab di negara itu menjual gading yang diambil dari gajah yang dibunuh di dalam negeri merupakan hal yang legal. Namun, banyak kelompok penyelundup memanfaatkan celah ini dan telah membanjiri pasar Thailand dengan gading Afrika, karena sulit untuk mengatakan dari mana gading itu berasal tanpa tes DNA.

Kelompok ini menemukan bahwa pasar gading Thailand adalah perdagangan terbesar  yang tidak diatur  jenisnya di dunia, dan mendorong banyak pembunuhan gajah di Afrika.

“Hukum yang ada tidak efektif dalam menjaga gading Afrika ilegal keluar dari pasar Thailand. Satu-satunya cara untuk mencegah kontribusi Thailand terhadap perburuan gajah adalah dengan melarang semua penjualan gading,” ujar Janpai Ongsiriwittaya, pemimpin kampanye WWF-Thailand. “Hari ini korban terbesar adalah gajah Afrika, tapi gajah Thailand bisa menjadi korban berikutnya … saya yakin warga Thailand akan mendukung perlindungan yang lebih besar untuk hewan-hewan ikonik ini.” Lanjutnya .

Dalam beberapa tahun terakhir perburuan gajah di Afrika telah melonjak karena permintaan gading telah meningkat di Asia. Awal bulan ini, sebuah keluarga dari 12 gajah ditembak dan dibunuh di Kenya, jumlah terbesar dari gajah tewas dalam sebuahinsiden di negara itu sejak awal 1980-an.

Setiap tahun, puluhan ribu gajah dibunuh karena gading mereka, menurut WWF. Pembunuhan tahun lalu adalah rekor tertinggi.Gading digunakan untuk membuat sejumlah barang mewah, termasuk perhiasan dan patung-patung. Satu pon gading bisa seharga 900 dolar di Tiongkok.

INDONESIA

Bangkai Papa Genk, korban pembantaian di Aceh, Indonesia.
Bangkai Papa Genk, korban pembantaian di Aceh, Indonesia.

Di Indonesia yang populasi gajahnya sudah tak sebanyak di Afrika juga terjadi hal serupa. Kematian seekor gajah bernama Genk pada Sabtu, 13 Juli 2013, di Desa Ranto Sabon, Kecamatan Sampoinet, Aceh Jaya, menggegerkan banyak masyarakat, terutama di dunia maya. Bagaimana tidak, dalam foto yang beredar, tergambar jelas Papa Genk tewas dengan cara mengenaskan, gajah tersebut tewas akibat jebakan yang menggunakan ranjau tombak besi sehingga menyebabkan kepalanya hancur sampai terlihat tengkoraknya, dagingnya terburai, belalainya terlepas, dan gadingya, SUDAH PASTI, hilang!

Nadya termasuk salah seorang yang mengunggah foto tersebut, melalui akun instagram ia menyatakan keprihatinan dan penyesalan. Kutipan dari akun @nadyahutagalung, “Very sad to hear news of this elephant being killed in Aceh, Indonesia. It’s face hacked off so someone can have ivory. Ivory belongs to elephants”.

Setelah peristiwa pembantaian terhadap Genk terjadi, polisi sempat menangkap empat orang yang diduga menjadi pelaku pembantaian. Namun, keempat warga itu lantas dilepas kembali karena polisi mendapat “ tekanan” dari warga.

Sebelumnya, empat ekor gajah diberitakan tewas di Aceh, dua diantaranya adalah Raja dan Raju yang masih balita (bawah lima tahun). Sementara dua lainnya tewas mengenaskan dan ditemukan dengan gading yang hilang.

Hewan bernama latin Elephant Maximus Sumatranus ini diperkirakan berjumlah tinggal 2400-2800 ekor yang tersisa di Indonesia akibat dari, selain pembunuhan untuk diambil gadinya, antara lain karena aktivitas pembalakan liar, penyusutaan dan fragmentasi habitat akibat konversi hutan menjadi lahan perkebunan dan tanaman komersial untuk untuk pengembangan industri pulp dan kertas serta industri kelapa sawit.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa deforestasi hutan di Indonesia adalah salah satu yang terparah di dunia, hal ini menyebabkan habitat hewan yang ada didalamnya, termasuk gajah, lebih cepat menyusut lebih cepat di banding jumlah hutannya.

Ini pula yang kemudian mendorong perlunya pembentukan komisi independen yang melindungi keberadaan mereka, rencananya komisi tersebut nantinya dinamai Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Binatang Indonesia. Ide ini didasari oleh sekelompok pegiat dan pecinta binatang yang menggagas petisi perlindungan binatang, Aulia Ferizal (Aceh) dan Dian Paramita (Surabaya), melalui change.org.

Namun rencana ini tak seindah angan-angan para aktivis. Sejak menggagas petisi usut tuntas kasus pembantaian Papa Genk di linimasa Change.org, Aulia mengaku kerap diteror oleh sekelompok orang di Banda Aceh.

“Saya merasa tidak aman. Saya dicari karena menyebar petisi itu. Sehingga saya tidak bisa pulang ke Aceh untuk saat ini,” jelas Aulia usai bertemu Wakapolri Komjen Pol Nanan Sukarna, di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (26/7/2013).

Aulia menambahkan, tindakan intimidasi rupanya juga dirasakan oleh para pawang gajah (mahot) di Conservation Rensponce Unit (CRU), Aceh. Akibatnya, para pawang gajah dan gajah-gajah di lokasi tersebut harus dievakuasi ke PLG Sare, Aceh Besar.

Akibat blow up yang masuk dengan deras ke akun media sosial petinggi negeri, Presiden SBY dan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, turut berbicara dan mengutuk aksi tersebut (saya tak ingin lebih lanjut membahas statement dua orang ini. Maaf Pak Menteri dan Pak Presiden).

GADING

Sedikit tambahan, Gading gajah memiliki harga yang bervariasi. Seberapa mahalnya ditentukan oleh kualitas gading tersebut. Gading gajah dengan kualitas biasa harganya mencapai Rp. 3-10 juta perkilogram. Sedangkan gading gajah brkualitas (super) harganya mencapai Rp. 10-30 juta perkilogram. Padahal satu gading gajah yang berkualitas mampu mencapai bobot 25-30 kg. Hal tersebut belum termasuk baiaya pengolahan gading menjadi ukiran untuk pajangan atau keperluan lain semacam pelengkap furniture, perhiasan, pipa rokok dan lain sebagainya.

Gading gajah yang bagus adalah gading yang dicabut dari akarnya. Sedangkan gading gajah yang diambil dengan cara dipotong, memiliki kualitas yang lebih rendah. Karena itu, kebanyakan gading  diambil dengan membunuh  gajah terlebih dahulu sebab gading adalah bagian dari gigi seri gajah yang tertanam di kepalanya.

Di Indonesia, selain sebagai pajangan, untuk beberapa daerah semacam Maumere, pada jaman dulu gading gajah biasanya digunakan sebagai mas kawin oleh orang kaya atau keturunan para raja.

GAJAH

Gajah adalah salah satu hewan yang memiliki tingkat emosi yang sangat kuat. Hewan ini merupakan salah satu makhluk hidup darat terbesar di Bumi dan berpola makan vegetarian. Sebagaimana umumnya hewan yang bervegetarian lainnya, gajah mempunyai sifat bawaan yang penuh kedamaian. Selain itu, meskipun berat mereka hampir mencapai tiga ton, akan tetapi gajah cukup gesit untuk berlari pada kecepatan yang mendekati 50 mil/jam (80 km/jam). Di samping ciri-ciri jasmani ini, baru-baru ini ditemukan bahwa gajah menunjukkan emosi yang kuat saat kehilangan salah satu anggotanya. Sebagai contoh, sebuah penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Sussex dan Perserikatan untuk Gajah Amboseli  menemukan bahwa saat menemukan jenazah dari jenis mereka sendiri, gajah menunjukkan reaksi yang sangat kuat dibandingkan dengan binatang lainnya. “Mereka tidak peduli akan hewan mamalia (lain) yang mati, akan tetapi peduli akan gajah-gajah lain yang mati,” kata peneliti Dr. Karen McComb.

Saat gajah menemukan bangkai gajah lainnya, mereka akan menyentuh dan menciumnya dengan belalai mereka, kadang kala mereka dengan lembut menggoyangkan gadingnya dengan menggunakan kaki mereka yang peka.

Selain terkenal akan daya ingat dan otak mereka yang besar, gajah juga dapat meneteskan air mata. Makhluk yang penuh kasih dan damai ini juga dapat mengingat hubungan mereka dengan seratus ekor gajah lainnya. Maka, tidaklah mengherankan jika mereka dengan hati-hati memeriksa bangkai temannya saat mereka menemukannya. Bahkan mungkin lebih daripada sebagian manusia, gajah menyadari pentingnya setiap anggota dari jenis mereka.

Hal serupa diungkapkan Para ilmuwan menemukan empat kecenderungan sifat pada kawanan gajah di Taman Nasional Amboseli di Kenya, Afrika.

Dalam sebuah studi baru tentang gajah Afrika, para peneliti telah mengidentifikasi empat karakter berbeda yang lazim dalam kawanan. Yakni, karakter pemimpin, gajah yang lembut, para penyamun yang lucu, dan si lamban yang diandalkan. Masing-masing karakter telah dikembangkan untuk membantu mamalia raksasa ini bertahan dalam lingkungan yang keras  kerajaan hewan.

“Setiap individu dalam kelompok memiliki tipe kepribadian yang sangat berbeda,” kata Profesor Phyllis Lee, psikolog perilaku di University of Stirling dan Ketua Komite Penasihat Ilmiah untuk Amboseli Trust for Elephants . “Kami menemukan bahwa kepribadian memiliki peran kunci dalam keberhasilan keluarga dan bagaimana mereka mengatasi ancaman dan kesulitan, seperti kelaparan atau kekeringan. Ini adalah kemampuan untuk mempengaruhi yang lain dan mempertahankan persahabatan yang penting bagi kelompok gajah, sementara pada hewan lain sering berarti agresi atau dominasi.”

Profesor Lee dan koleganya Cynthia Moss mempelajari kawanan gajah di Taman Nasional Amboseli di Kenya atau keluarga EB—yang terkenal dengan Echo Matriarki sebelum Echo meninggal pada 2009.

Menggunakan data yang dikumpulkan selama 38 tahun mengamati kawanan gajah di sana, para peneliti menganalisisnya dalam 26 jenis perilaku dan menemukan empat ciri kepribadian yang cenderung menonjol.

Kepribadian paling kuat muncul dalam gajah pemimpin. Para peneliti, yang karyanya diterbitkan dalam Journal of Comparative Psychology , mengamati gajah-gajah ini cenderung mempengaruhi pergerakan dan arah kelompok. Mereka juga mengamatinya pada gajah yang mengeluarkan panggilan “mari kita pergi” yang dikenal paling dalam dan bergemuruh. Panggilan ini digunakan ketika binatang ini mulai bergerak sebagai kawanan.Pada beberapa binatang, pemimpin cenderung dimenangkan oleh individu yang paling dominan dan agresif. Sebaliknya, gajah menghormati kecerdasan dan pemecahan masalah dalam diri pemimpinnya.

Profesor Lee mengatakan: “Ini adalah sesuatu yang sangat tidak biasa pada hewan. Biasanya dominasi merupakan unsur utama dalam kepemimpinan pada anjing, kera, simpanse, dan banyak lagi. Yang kita temukan dalam gajah itu lebih dari kemampuan mereka untuk mendapatkan kesepakatan.” Dia menambahkan, “Kepemimpinan tidak sama dengan kekuasaan atau pernyataan tegas dalam gajah. Namun, menggambarkan penghormatan yang diberikan kepada individu-individu yang berfungsi karena kemampuan mereka memecahkan masalah dan permisif dalam kelompok.”

Gajah-gajah yang menyenangkan cenderung lebih muda, tetapi lebih penasaran dan aktif. Sementara, gajah yang andal cenderung paling konsisten dalam membuat keputusan yang baik, membantu merawat bayi dalam kawanan, dan tenang menghadapi ancaman.

Profesor Lee mengatakan bahwa gajah-gajah dengan kepribadian ini cenderung terintegrasi secara sosial dalam kelompok. Sementara, mereka yang cenderung kurang dapat diandalkan dan memaksa, lebih memisahkan diri dari kawanan. Gajah yang kurang menyatu dalam kelompok ini, lanjut Prof Lee, juga cenderung menghasilkan anak yang lebih sedikit. Hal tersebut menunjukkan kepribadian dapat menentukan keberhasilan reproduksi.

Para peneliti berharap dapat mempelajari kelompok gajah lain dan gajah jantan untuk melihat apakah ada karakteristik kepribadian lain yang muncul.

“Kami hanya memantau satu kelompok gajah sehingga berniat untuk melihat kelompok gajah lain yang kurang berhasil untuk melihat apakah ada kepribadian lain yang menyebabkan ini. Kami benar-benar tidak tahu banyak tentang tipe kepribadian pada jantan,” ujar Profesor Lee.  “Para jantan mengembangkan persahabatan yang kuat dan jantan yang lebih tua cenderung menjai mentor yang lebih muda, yang mengikuti mereka dan belajar dari mereka.

Selain punya emosi yang kuat, gajah juga termasuk salah satu hewan pintar dan mempunyai ingatan baik. Jadi, bayangkan saja jika kita, sebagai manusia yang juga punya ingatan baik, menyaksikan pembantaian terhadap keluarga atau siapa pun dihadapan kita, tanpa bisa melawan, trauma separah apa yang membayangi hidup kita selanjutnya. Hal serupa juga terjadi pada gajah.

Nadya menekankan sekali lagi, untuk menghentikan ‘lingkaran setan’ ini, dan kuncinya ada ditangan orang Asia sebagai konsumen. “Kita harus menghentikan demand. Caranya, stop pembelian gading gajah! Karena ketika demand berhenti, maka supply juga akan berhenti.” Ungkapnya.

NADYA

Seperti diketahui bersama, Nadya Hutagalung merupakan salah seorang public figure yang menerapkan gaya hidup sehat dan ramah lingkungan, ia menyebutkan hal tersebut telah tertanam sejak kecil berkat didikan orang tuanya, terutama dari sang ibu. Hal-hal kecil semacam membuang sampah pada tempatnya atau bercocok tanam di halaman terbawa hingga ia dewasa dan ternyata hal tersebut berefek besar terhadap kelangsungan lingkungan disekitarnya.

Nadya Hutagalung sebagai host & juri Asia's Next Top Model
Nadya Hutagalung sebagai host & juri Asia’s Next Top Model

Meski saat menjadi VJ MTV ia tak bisa terlalu fokus pada hal tersebut, tapi Nadya selalu menekankan pada dirinya dan orang-orang disekitar untuk tetap memperhatikan lingkungan seperti melakukan Rejuice-Reuse-Recycle dan lain-lain. Dikediamannya, di Singapura, Nadya mengaku melakukan perombakan agar AC yang disediakan pengembang tidak dipakai sama sekali, namun sirkulasi udara alam tetap bisa berputar.

Kini, saat ia makin menapaki puncak karier di glamornya dunia showbiz dengan menjadi bintang iklan beberapa produk ternama dan berperan sebagai host sekaligus juri ajang bergengsi Asia’s Next Top Model , Nadya tetap humble, menjejakan kakinya di tanah dengan tetap melakukan perannya sebagai ibu, tetap bersepeda dan berjalan kaki, menjadi co-founder Green Kampong di Bali, memperhatikan dan ikut bertindak dalam usaha penyelamatan lingkungan dan hewan yang terancam punah akibat agresi manusia yang tidak bertanggungjawab. (CS/berbagai sumber)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s