Apel dan Pisau

Beberapa waktu lampau, salah satu talkshow televisi swasta kedatangan tamu Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad. Saat mengetahui dari iklan sehari sebelumnya saya menunggu dengan antusias. Sayang, Intan dan Ugoran hanya muncul tak lebih dari sepuluh menit menjelang akhir acara, itu pun sekedar sedikit membahas sedikit buku tentang naskah Goyang Penasaran yang terdapat dalam buku cerpen kompilasi Kumpulan Budak Setan. Walau agak kecewa, tapi paling tidak saya akhirnya bisa melihat wujud Intan dan Ugoran yang tulisannya kece banget itu. Tadinya mau review buku KBS, tapi karena ilustrasinya entah kapan bisa selesai, saya posting saja salah satu cerita yang terdapat dalam buku tersebut yang juga pernah dimuat di Koran Tempo, 25 Mei 2008 dan menjadi salah satu pengisi Anugrah Sastra Pena Kencana 2009, judulnya Apel dan Pisau.

wpid-Apel-dan-Pisau.jpg

Kamu mau?

Selama sepuluh detik aku memandanginya, dengan masa lalu yang berkecamuk di kepalaku, dengan kekinian yang tak mau pergi.

Selama sepuluh detik apel itu disodorinya di depan hidungku.

Ada apa dengan mukamu? Ia bertanya dan terkikik. Kamu tak akan kuracuni.

Pada wajahnya terulang kisah ratu pendendam yang menjelma menjadi nenek tua dan menawari anak tirinya yang cantik apel beracun. Apel itu bulat bersinar-sinar, mengundang air liur. Membunuh. Ia lalu bertanya apa ia mirip nenek sihir. Aku melihat jarinya yang lentik lembap, tak ada keriput dan urat biru berjejal di sana.

Kukupas buatmu, katanya.

Ia memutuskan sendiri. Ia tak tahu aku tak pernah bisa melihat buah apel tanpa teringat pada Cik Juli. Apel-apelnya yang ranum. Pisaunya yang berkilat-kilat.

Peristiwa itu merebak sepuluh tahun yang lalu, ketika usiaku baru tujuh belas. Cik Juli perempuan yang menarik. Rambutnya cokelat sebahu dengan poni halus berjatuhan di dahinya. Di acara pengajian bulanan dikenakannya kerudung sutra yang kerap tergelincir pada licin permukaan rambut lurusnya. Ibuku bilang ia mengecat rambut karena warna aslinya kusam kemerahan bercampur helai-helai uban yang mulai bermunculan di kepala. Mungkin juga, tapi tak dapat dipungkiri kalau ia cantik. Ada semacam rona kekanak-kanakan pada wajah bulat telurnya. Bibirnya mungil disapu lipstik merah muda, sama lembutnya dengan pemerah pipi yang ia pulaskan tipis-tipis. Matanya kecil dengan bulu mata bermaskara hitam yang mencuat keluar. Kurasa ia masih pantas menjadi mahasiswi.

Tapi Cik Juli bukan mahasiswi. Saat itu umurnya tiga puluh tujuh. Ia istri Bang Aziz, kakak sepupu tertuaku. Kudengar perempuan itu manajer promosi sebuah perusahaan otomotif multinasional. Kesibukannya membuat ia sering pulang malam dan absen dalam dua acara silaturahmi keluarga besar kami, arisan dan pengajian. Aku tak mengenalnya begitu karib, tapi beberapa kali ia mengajakku berbincang. Ia satu-satunya kerabat yang terlihat bersemangat mendengar rencanaku masuk jurusan desain. Orang tuaku jelas tak setuju. Mereka ingin aku masuk Fakultas Ekonomi dan bekerja di bank. Sebaliknya, Cik Juli membesarkan semangatku, mengungkap berbagai peluang di dunia kerja bagi seorang desainer. Ketika ia bicara, aku menyadari pengetahuannya yang luas dan binar semangat di matanya. Mataku memindai gerak-gerik tubuhnya yang hidup. Aku tertarik pada caranya memulaskan maskara (ia mengangkat alisnya dan membuka mulutnya sedikit–saat itu aku tak tahu apa manfaatnya, tetapi bila ia melakukannya bisa kulihat gigi taringnya yang sedikit tak rapi). Terpikat pada garis-garis di sudut matanya bila ia tersenyum. Pada jari-jarinya yang terawat.

Aku tak tahu mengapa Cik Juli sering bertanya tentang sekolahku. Mungkin ia sengaja menghindari percakapan dengan perempuan-perempuan yang lebih tua. Aku tahu mereka sering menghujaninya dengan beragam pertanyaan yang tidak ia sukai. Pertemuan keluarga baginya kerap menjadi malapetaka.

“Jul, kapan mau punya momongan lagi?” tanya Wak Romlah, kakak ibuku. “Ingat umur.”

“Masih repot ngurus Salwa, Wak,” sahutnya sopan.

“Si Salwa udah SD. Apanya yang repot?” tangkis Wak Romlah. “Dikasih adik dong, supaya nggak manja.”

“Tapi kami berdua bekerja.”

“Berhenti aja, Jul. Bisnisnya si Aziz kan maju pesat. Kurang apa, sih? Harta sih nggak usah diikutin.”

Cik Juli tersenyum. Kuperhatikan inilah caranya bila ia tak mau menjawab pertanyaan. Ia menundukkan kepalanya, lalu menyunggingkan senyuman polos seperti gadis remaja baik-baik yang diinterogasi orangtuanya ketika pulang larut malam. Tidak seperti aku kala itu, ia bukan pembangkang.

Cik Juli adalah magnet bagi kerabat-kerabatku. Ia manis dan penuh teka-teki (atau haruskah kukatakan ia manis maka ia penuh teka-teki?), tak pendiam tapi tak suka mengumbar kata, tak menantang tapi juga tak menerima. Kudengar mereka memperbincangkannya di pengajian, ketika ia tak muncul, lalu mereka berdebat apakah ia benar-benar bisa membaca aksara Arab. Ia hanya berkomat-kamit tak jelas bila kami semua membaca Yasin. Di acara arisan, ia selalu pulang lebih awal, tak mau berlama-lama mengobrol. Ia merasa dirinya terlalu pintar di antara kita, Wak Yati menarik kesimpulan. Bibi-bibiku mengomentari keengganannya membantu di dapur. Lihatlah jarinya yang mulus dan kuku-kukunya yang panjang merah muda. Tak ada ibu rumah tangga berjari seperti itu. Mereka bergosip tentangnya di sebuah pesta perkawinan, ketika ia datang mengenakan kebaya krem ketat berbahu terbuka. Aku mengamati rambutnya yang disanggul tinggi, anting-antingnya yang panjang, dan lehernya yang licin tak bernoda. Kulit di balik brokat transparan. Lihat, Eva, Cik Rina, adik kandung Bang Aziz, berbisik di telingaku. Begitulah kalau perempuan bersuami menggoda laki-laki secara halus.

Demikianlah, orang terus membicarakannya, dan ia terus datang ke pertemuan-pertemuan keluarga. Di mata keluargaku ia tetap sebuah masalah yang menolak untuk disederhanakan.

Kemudian terjadilah kehebohan itu. Setelah berbicara selama dua jam di telepon dengan Wak Yati, ibuku menyampaikan berita besar: Cik Juli akan segera bercerai dengan Bang Aziz. Konon perempuan itu ketahuan main gila dengan pemuda yang kos di rumahnya. Namanya Yusuf.

Sebagai anak lelaki tertua, Bang Aziz mewarisi rumah besar peninggalan ayahnya. Sebelumnya rumah itu milik kakekku, seorang tuan tanah Betawi yang disegani. Seperti layaknya rumah besar yang bertahan di ibukota, rumah itu terdiri dari tujuh kamar namun halamannya kecil hingga terlihat kurang seimbang dengan besar rumah. Dua di antara kamar-kamar itu, yang jaraknya paling jauh dengan wilayah privat keluarga, disewakan pada mahasiswa atau karyawan. Yusuf baru datang enam bulan sebelumnya. Usianya dua puluh tiga. Selepas kuliah di sebuah universitas di Padang, pemuda itu merantau demi mencari pekerjaan. Terkadang ia membantu bisnis distribusi sayur-mayur Bang Aziz. Bahkan di rumah ia tak segan membetulkan atap yang bocor.

“Ini pelajaran, Eva,” Ibu menasihatiku. “Sekolah tinggi jangan bikin kurang iman.”

Selama sebulan lebih telepon tak kunjung henti berdering. Hampir setiap hari bibi-bibiku bergantian datang. Mereka tak pernah membuat janji, tapi ibuku selalu menerima. Mereka bergosip di ruang tamu, sambil menonton televisi, atau di meja makan sambil meracik rujak. Kukira mereka tak pernah seakrab ini sebelumnya. Cik Juli membuat mereka merasa senasib. Perbincangan tentangnya berlanjut ke arisan dan pengajian secara lebih leluasa karena perempuan itu tak pernah muncul lagi.

“Bikin malu,” demikian kata Wak Romlah. “Dulu Aziz dan Juli berantem karena Juli nggak mau nyewain kamar. Sekarang lihat. Dinaikin ke ranjang tuh laki-laki.”

Begitulah kalau perempuan terlalu pintar, timpal Wak Yati.

Begitulah kalau perempuan kurang iman, tambah Encing Nur.

Padahal dengan Aziz ia bahkan tak perlu bekerja. Kurang apa lagi.

Mungkin dia bekerja untuk mencari mangsa di kantornya. Ingat lipstiknya yang berkilat-kilat dan bulu matanya yang mencuat?

Terkadang kupikir tak ada yang baru untuk dibicarakan. Semuanya hanyalah cerita lama yang diulang-ulang, dikait-kaitkan. Tapi Cik Juli memang magnet. Kau tak bisa mengacuhkannya.

Lalu suatu hari, ibuku mendapat berita mengejutkan di telepon. Bukan dari Wak Romlah, Wak Yati, atau kerabat lainnya, tetapi dari Cik Juli. Nada suara ibuku ramah. Kubayangkan Cik Juli juga begitu. Mereka saling bertanya tentang kabar masing-masing, lantas bicara tentang sepupuku yang baru melahirkan seperti tak pernah ada kejadian apa-apa. Usai berbincang di telepon ibuku terlihat linglung. Ia menatapku, lalu berkata tanpa ditanya, “Juli ngundang kita minggu depan.”

“Arisan?”

Ibuku menggeleng.

“Katanya sih silaturahmi.”

Maka berbondong-bondonglah kami ke rumahnya. Ada perasaan aneh mengetahui Cik Juli secara pribadi mengundang perempuan-perempuan dalam keluarga besar kami, padahal siapapun bisa melihat selama ini mereka hanya berpura-pura akur. Tahukah Juli kalau kita membicarakan hubungannya dengan pengangguran itu, tanya Encing Nur. Mungkin. Tapi tak baik bila memutus pertalian. Lagi pula, kata Wak Romlah, tidakkah kalian ingin tahu tentang Yusuf? Apa pemuda itu sedang di rumah? Seperti apa dia?

Lelaki yang empat belas tahun lebih muda.

Kunjungan ke kerajaan musuh memang mendebarkan.

Di luar dugaan, Cik Juli begitu ramah menyambut kami. Ia mengenakan baju kurung lembayung yang dijahit mengikuti lekuk tubuhnya. Aku bisa melihat helai-helai rambut putih di pelipisnya. Ia cantik. Hidangan disajikan secara prasmanan di sebuah meja panjang. Bibi-bibiku cenderung bergerombol di sudut tertentu, baik duduk di kursi atau bersimpuh di tikar, berusaha menghindari percakapan dengan tuan rumah. Biarlah wak dan nenek saja yang meladeninya, kita kan hanya anak bawang, begitu kata sebagian dari kami. Tetapi Cik Juli menghampiri semua orang dan mengajak mereka bicara. Rumah itu menjadi arena pertandingan catur yang memaksa mereka dan Cik Juli berhadapan, mencari bahan percakapan, melangkah dan berkelit dengan tangkas.

Mungkin ini terakhir kali kita bertemu, ujar Cik Juli ketika menghampiri kelompok kami: Ibu, Wak Romlah, Cik Rina, dan aku. Kulirik lauk yang hampir habis di piringnya. Nasi, opor ayam, sambal goreng ati.

Kami saling melirik. Suara berisik dari sudut lain terdengar mereda. Sedari tadi memang tak ada yang bicara tentang perceraian. Akhirnya Wak Romlah angkat bicara, “Jangan sampai pertalian kita putus, Jul. Bagaimana juga kita keluarga.”

Ujung bibir Cik Juli terangkat. Ia tersenyum, dan kerutan-kerutan manis itu muncul di sudut matanya.

Percakapan berlanjut dari sepupu yang melahirkan sampai rencana ibu-ibu dengan sekolah anak mereka. Sama sekali tak ada yang berminat mengungkit perceraian atau perselingkuhan. Lalu dua pembantu Cik Juli keluar membawa hidangan penutup. Semua tamu diberi piring kecil berisi apel merah serta pisau yang terasah tajam. Aku merasa ada sesuatu yang kurang lazim sedang berlangsung, sebab biasanya makanan-makanan manis sudah tersedia di meja sejak awal.

Cik Juli memohon maaf atas hidangan penutupnya yang kurang mewah, lalu ia bicara tentang dietnya. Sebelumnya ia ingin membuat kue krim cokelat, tapi kata dokter kadar kolesterolnya mulai mengkhawatirkan.

“Masa? Kamu kan nggak gemuk,” kata Cik Rina. “Tapi apel boleh juga.”

“Apelnya memang enak,” Cik Juli menimang-nimang apelnya, seolah bicara pada dirinya sendiri. Ia meraih pisau dan mulai mengupas.

Perempuan-perempuan di sekelilingnya bertukar pandang, namun untuk menghormati tuan rumah mereka mulai mengambil pisau untuk apel mereka sendiri. Kulihat Cik Juli membisiki sesuatu pada pembantunya. Gadis belia itu mengangguk dan berjalan keluar ruangan.

Aku menekuni apel Cik Juli yang berada di hadapanku. Merah, bulat, dan ranum. Dan permukaan pisau tajam itu berkilat-kilat memantulkan bayangan. Wajahkukah itu? Aku seperti melihat Cik Juli di sana. Sesuatu merayap di sudut kerling matanya, membayang pada kerut-kerut di pelipis yang muncul bila ia tersenyum menampakkan gigi-gigi yang tak terlalu rata. Gigi anak-anak dengan taring yang agak terlalu panjang. Garis-garis usia yang manis.

Ketika para perempuan sibuk mengiris apelnya, kudengar Cik Juli berucap, “Kukenalkan kalian pada Yusuf.”

Suaranya terdengar begitu tenang.

Tak lama kemudian semua kepala tertoleh pada sosok yang memasuki ruang makan dengan langkah hati-hati. Akhirnya aku melihat sumber peristiwa itu. Kemudaannya terlihat begitu gamblang di ruangan berisi perempuan-perempuan paruh baya. Tubuhnya tinggi, bahunya tegap, lengannya kokoh. Ia mengenakan kaus tangan pendek yang memperlihatkan kulit cokelatnya yang berkilap-kilap. Alisnya hitam legam, sewarna dengan bola matanya yang menatap tajam. Saat itu bagiku ia tak jauh berbeda dengan kawan-kawan seusiaku yang diidolakan para perempuan. Terlalu sederhana, tapi memang ada daya tarik anak-anak yang terpancar dari dirinya. Entah rambutnya yang ikal tak beraturan, atau tulang pipinya yang kuat, atau bibirnya yang penuh, ada sesuatu yang mengundang jari-jari halus untuk menyusurinya.

Yusuf.

Hening sesaat. Waktu berhenti bersama para perempuan yang menahan nafas memandangi lelaki muda itu. Mata mereka tak mengerjap. Tangan mereka tak melepas pisau. Tiba-tiba kudengar suara lirih dari bibir mereka. Lenguhan yang pedih. Jari-jari yang masih mengupas. Kulit apel merah tua yang terlalu matang. Apelkah itu? Aku mencium wangi yang lain. Aroma purba yang memabukkan. Darah mengalir dari telapak tangan saudara-saudaraku, membasahi pisau, membasahi apel, menodai taplak meja. Butir-butir apel terlontar ke lantai. Butir-butir darah segar seketika meresap, menjadi gelap. Pisau Cik Juli tersedia bukan untuk menembus daging apel.

Yusuf tertunduk pucat. Pandangan para perempuan yang terpusat pada dirinya membuatnya gelisah. Lelaki itu seperti malaikat yang gemetaran. Sayapnya robek ditusuki tatapan perempuan-perempuan yang terbawa pusaran. Sebentar lagi ia jatuh. Burung-burung pemakan bangkai berkerumun menghadirkan seorang ratu. Cik Juli, perempuan di balik lakon apel dan pisau, mengamati korban-korbannya yang masih tersihir oleh gairah mereka sendiri, oleh nafsu yang menyusup dalam darah dan sakit. Lambat laun semuanya mengabur; kau tak tahu lagi siapa korban siapa penyiksa, siapa penikmat, siapa pesakitan. Kau sadari bahwa mereka dengan sengaja menggores lebih dalam, mencungkil birahi. Perempuan-perempuan bersilaturahmi dalam jaring laba-laba Cik Juli, dalam balutan aroma daging dan buah yang begitu segar. Ia tersenyum kekanakan. Ia mengerling pada si malaikat berkulit cokelat, lalu pandangannya beralih padaku. Aku merasa rapuh, sebentar lagi terjatuh.

Sayapmu robek, mari kurekatkan. Seperti caraku merekatkan pertalian.

Perlahan sekali, Juli menjilati bibirnya.

AH!

Perempuan itu terluka. Ia ceroboh memotong apel. Ini sebuah pembunuhan yang sembrono, atau terencana? Apelku. Aku mendekatinya.

Sakit?

Ia memejamkan matanya. Tak menjawab.

Mari kulihat.

Diulurkannya tangannya yang berdarah. Kuraih jari-jarinya yang lentik panjang. Jemari yang membawa kembali Cik Juli. Lembap, halus, berkuku merah muda. Kami berdiri begitu dekat: aku dan si pemotong apel. Anak rambutnya jatuh di dahi, helai demi helai yang menyesatkan jari.

Nafasku tersengal ketika kulihat merah. Wangi yang begitu akrab, yang mengingatkanku pada mula, tiba-tiba menggelitik hidungku. Liurku terbit, bukan karena apel.

Perlahan sekali, kujilati luka di jarinya.

La Jolla–NYC (2006-2008)

Iklan

3 pemikiran pada “Apel dan Pisau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s