Kontroversi Hati

wpid-Vicky-Keep-Calm.jpg

MASIH HANGAT PETIKAN wawancara berikut menjadi bahan perbincangan dimana-mana. “Di usiaku saat ini… ee… ya twenty nine my age ya… tapi aku masih merindukan apresiasi karena basically aku seneng.. seneng musik walaupun kontroversi hati aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih.”  Yang disambung dengan, “Nggak… kita… kita belajar apa ya… harmonisisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Kupikir kita nggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta apa yang kita menjadi keinginan ya. Dengan adanya hubungan ini bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga gitu, tapi menjadi confident, tapi kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik. Bla..bla..bla…”

Vicky Prasetyo, yang kemudian diketahui bernama Hendryanto, adalah orang yang mengeluarkan kalimat yang bagi sebagian orang dianggap tak sesuai tatanan berbahasa, jika tak mau disebut ngaco, saat menggelar konferensi pers di acara pertunanganya dengan pedangdut Zaskia Gotix. Di tengah kehidupan sehari-hari yang kini dipenuhi begitu banyak hal-hal tidak menyenangkan, orang menemukan selingan lain dari apa yang diucapkan Vicky.

Apakah Vicky menyebutkan kata-kata “ajaib” semacam harmonisiasi, statusisasi, mempertakut, kontroversi hati, konspirasi kemakmuran dan lainnya secara tidak disengaja dan ingin disebut keren semata agar sesuai dengan status yang sering diakuinya sebagai pengusaha dan pengacara, atau ia gugup, atau ia sengaja mengobral kata-kata untuk memperolok orang-orang yang sok intelek, atau ingin menambah khasanah kosa kata bahasa Indonesia, atau ia memang tak tahu sama sekali  kata-kata apa yang keluar dari mulutnya. Saya tidak tahu. Yang jelas sebagian dari kita geli sendiri dan lantas mentertawakan hal yang pantas ditertawakan ketika melihat pria ini mengoceh supaya kedengaran keren tapi salah tempat dan salah pakai. Juga dengan kalimat yang jelas maksudnya.

Penggunaan kata-kata tertentu dengan arti tertentu yang tidak terdaftar dalam kamus bahasa Indonesia lumrah berlaku di negeri ini. Di tahun 80 hingga 90-an penggunaan kata-kata bersisipan “in(i)” berkembang dikalangan kaum transgender yang umumnya bekerja di salon-salon kecantikan atau dunia hiburan yang didominasi perempuan. Lines dan Binan hanya beberapa kata dari sekian banyak kata yang dipakai saat itu dan bertahan hingga kini. Lines adalah “kode” untuk Lesbian yang kemudian dipersingkat L(in)ESBI(ni), dan Binan adalah “kode” untuk Banci: B(in)AN-CI(ni).

Ada pula sisipan “P + (a, e, i, o, u, eu)”, yang umumnya dipergunakan orang-orang ber-basa sunda yang sering dipakai oleh anak-anak kecil dimasa lalu. Misal untuk penggunaan kalimat berikut:

A : Bade Kamana? (mau kemana?)

B : Bade ka bumi rerencangan. (mau kerumah teman)

Kalimat diatas lantas disisipi “P + (a, e, i, o, u, eu)” sesuai huruf vokal terakhir yang akan disisipi sehingga menjadi:

A : Bapadepe kamapanapa -> BA(pa)DE(pe) KA(pa)MA(pa)Na(pa)

B : Bapadepe kapa bupumipi reperepencapangapan -> BA(pa)DE(pe) KA(pa) BU(pu)MI(pi) RE(pe)RE(pe)NCA(pa)NGA(pa)N

Bagi yang pertama kali mendengar dan belum paham struktur yang dipakai barangkali akan mengira dialog dengan kata/kalimat tersebut lebih mirip bahasa antah berantah yang tak ada artinya sama sekali.

Penulis Seno Gumira Ajidarma juga mengaku menggunaan metode tertentu dalam penggunaan kata yang ia pergunakan dalam menyisipkan berbagai hal sebagai bentuk protes terhadap represi pemerintah orde baru saat itu. Agar tak ketahuan, ia mengembangkan struktur tertentu agar kata yang dimaksud tidak terbaca oleh para “penyensor”. Jujur sampai sekarang saya belum tahu bagaimana Seno menggunakan kode-kode bahasanya.

Di awal tahun 2000-an, masih dikalangan transgender, penggunaan sisipan “in(i)” tergeser oleh bahasa gaul yang diperkenalkan oleh artis Debby Sahertian, yakni menggunakan sebuah kata untuk menggantikan kata yang lain dengan arti sama, semisal lapar menjadi lapangan, tidak menjadi tinta, makan menjadi makasar dll. Tak ada pakem pasti kata apa yang mewakili kata apa, seperti halnya kata lapar yang tidak selalu diwakili kata lapangan, bisa juga oleh kata lalapan, lampiran, landasan atau lalulintas misalnya. Dan tak hanya kata biasa yang dipakai, merk produk atau nama seseorang pun bisa digunakan, semisal kata “ada” yang tak selalu diwakili oleh adinda, tapi bisa juga diganti oleh Adidas atau Adi Bing Slamet. Semua tergantung dari “kesepakatan” dari yang bicara dan yang mendengar.

Contoh : Aduh aku lapangan nih, kita cari makasar yuk, nasi goreng kayaknya endang s taurina.

Maksudnya : aduh aku lapar nih, kita cari makanan yuk. Nasi goreng kayaknya enak.

Metode serupa juga bisa digunakan untuk hal-hal yang menyerempet pada hal-hal bersifat politis, seperti tulisan Ayu Utami dalam buku Seri Bilangan Fu, Manjali Dan Cakrabirawa.

Lalu Marja memperlihatkan foto Porong Jati yang bertelanjang dada.

Sumi menjerit, “Aih! Cakrabirawa! Bikin ike jadi gerwani!”

Maksudnya, aih cakep banget, bikin aku jadi geregetan.

Kemudian ada pula kata-kata yang mendapat penggantian akhiran sehingga terkesan lebih kenes dan hanya pantas diucapkan pihak tertentu saja, misal rempong untuk rumpi, dendong untuk dandan, atau gedong untuk gede.

Apa yang diungkapkan Vicky, yang lantas jadi tren sesaat, menurut sebagian pihak sama sekali bukan kode untuk kata-kata tertentu seperti beberapa pengembangan kata seperti yang disebutkan diatas (walau kemudian ada pula yang ngepas-pasin dari apa yang ia ucapkan), sehingga kata-kata tersebut tidak punya arti sama sekali kecuali sebagai lelucon semata.

JIKA KEMUDIAN timbul pertanyaan, kenapa para peliput infotaiment yang hadir dalam konferensi tersebut yang notabene berpendidikan tidak merasa ganjil dengan keterangan Vicky, Berikut saya copas tulisan Bre Redana di Koran Kompas (19/09/13) yang berjudul VICKY DAN KITA yang barangkali bisa sedikit menjelaskan.

Dalam dunia televisi, siapa pun yang punya pengalaman ambil bagian dalam acara wawancara, bincang-bincang, talk show, dan lain-lain akan paham, yang penting bukanlah isi jawaban, melainkan bagaimana kita tampil membawakannya.

Kadang ada semacam geladi bersih untuk komunikasi itu. Kru televisi memberi tahu terlebih dahulu, nanti mereka akan bertanya apa, selanjutnya pihak yang akan diwawancara diberi tahu kesempatan memberi jawaban sekian menit.

Begitu kamera siap, pembawa acara melenggang. Bertanya, atau tepatnya sebenarnya berceloteh sendiri. Kita ngaco menjawab juga tidak apa. Belum tentu si pembawa acara mengurusi isi jawaban kita. Ia hanya memperhatikan hitungan, kapan jawaban harus berakhir.

Kalau Anda sebagai pihak yang diwawancara berpikir bahwa isi jawaban Anda sebegitu pentingnya dan masih perlu diuraikan lebih lanjut, maka Anda akan dipotong. Silakan Anda terbengong-bengong. Iklan lebih penting daripada Anda.

Kita hidup di lingkungan yang mengondisikan pikiran tak perlu terlalu dianggap sebagai bagian penting dari kata-kata, ucapan, pun tulisan. Banyak orang yang duduk di profesi yang berhubungan dengan produksi kata-kata, bahkan tak paham subyek dan predikat dalam suatu kalimat. Kalau Anda bekerja di media massa sekarang, Anda bakal mudah frustrasi.

Ketika pikiran terbiasa tak terkondisikan dengan kata-kata atau ucapan, akan muncul kesenjangan antara pikiran dan ucapan. Kita pecah-pecah lagi bagian dari diri kita bahwa selain pikiran, juga ada tubuh alias badan, ada spirit atau roh, maka aktivitas tiap-tiap bagian itu tak lagi terhubung satu sama lain. Dengan kata lain, tidak ada keselarasan dalam diri.

Apakah hanya Vicky seorang yang melakukan kesalahan serupa ini? Tidak. Jika dilihat di televisi banyak politisi kita yang sering keliru menempatkan konsekuen dan konsisten atau etika dengan estetika. Tapi diantara semua, ocehan Vicky lah yang tak termaafkan.

SALAH SEORANG YANG JUGA IKUT tergelitik oleh kicauan Vicky adalah Goenawan Mohammad. Ia menulis:

Ada orang yang menganggap sebuah isi pikiran yang “dalam” dicerminkan oleh kalimat-kalimat yang sulit dipahami.

Memang, soal-soal yang kompleks dan dalam (misalnya filsafat, matematika, dan lain-lain) tidak mudah segera dipahami. Tiap kalimat harus diurai, dan tenaga untuk itu tak sedikit. Diperlukan pembaca yang punya daya analitis yang kuat dan siap bersusah-payah.

Tapi rupanya ada yang ingin agar tulisannya terkesan dalam dan orisinal dengan menggunakan kalimat dan istilah yang seperti hutan belukar yang sulit ditembus. Vickiisme jenis ini sejak lama ada. Bukan di kalangan pejabat, tapi di kalangan seniman yang menulis. Coba telaah kembali majalah-majalah kebudayaan Zenith, Seni, dan lain-lain dari tahun 1950-an. Saya pernah tak paham sampai bertahun-tahun sebuah esei Sitor Situmorang di majalah Seni dan beberapa esei Wiratmo Sukito dalam majalah Indonesia.

Di tahun yang lebih belakangan — seingat saya tahun 1980-an — ada tulisan-tulisan (misalnya di Kompas) oleh satu dua orang penulis yang ya-oloh ruwetnya. Tapi tidak ada yang berani mengritik atau mencela; takut disangka bodoh.

Hanya sekali tampil sikap yang terus terang. Seorang pastur diminta menulis pengantar sebuah buku dari seorang penulis yang terkenal “ruwet” karyanya. Sang pastur dengan terus terang menulis, ia tak paham apa yang mau diutarakan sang penulis.

Tapi Vickiisme ini menjalar ke kalangan lain. Saya ingat padfa suatu hari di akhir 1970-an atau awal 1980-an Jenderal Ali Moertopo mengumpulkan para seniman dan “budayawan” (kata ini juga tidak jelas maksudnya).

Kami didatangkan ke salah satu dari Pulau Seribu. Di sana, dengan panjang lebar dan dengan kalimat yang tidak jelas arahnya, tanpa teks, Ali Moertopo berbicara tentang “aquakultur”.

Kami mencoba menebak-nebak. Tampaknya ia ingin mengaitkan kebudayaan dengan kelautan (maklum, tempat ceramah itu kami dikelilingi laut). Seorang yang hadir berbisik kepada saya, tapi tidak ada yang berani memberi tahu sang jenderal, bahwa “aquakultur” itu tak ada hubungannya dengan kebudayaan, tapi dengan “seafarming”. “Kultur” di situ adalah kata yang juga dipakai dalam “hortikultur”….

Jadi: kami tak paham apa yang hendak dikatakan sang jenderal, karena ia sendiri juga tidak paham.

Vickiisme adalah gejala dari tidak bekerjanya daya analitik dalam berbahasa, tetapi lebih dari itu, juga gejala dari sebuah kecemasan: cemas untuk ketahuan bahwa si penulis atau si pembicara mirip tong kosing dengan bunyi yang rumit.

PERNYATAAN YANG LEBIH SINGKAT dan sangat saya setujui datang dari komentar Zaim Rofiqi di akun jejaring sosialnya: “Bahasa selalu didasarkan pada konvensi (kesepakatan bersama). Menyimpang dari hal ini hanya akan menjadikan bahasa seseorang membingungkan, bahkan tak bermakna. Jika seseorang menyimpang terlalu ekstrem dari konvensi ini dalam percakapan sehari-hari, maka kemungkinan penyebabnya ada dua: gila atau bodoh tiada tara” (CS/berbagai sumber).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s