Genjer-Genjer

wpid-Genjer-Genjer.jpg

KADANG-KADANG orang menjepit dan menjerat orang lain menggunakan kata.

Sejarah politik Indonesia modern bisa ditulis sebagai sejarah bekerjanya jepit dan jerat kata dari masa ke masa. Seperti yang terjadi pada, salah satunya, kata Genjer.

Pernah dengar lagu Genjer-Genjer? Bagi yang lahir dan besar di era kepenguasaan Soeharto, barangkali punya ingatan samar jika disebutkan lagu ini mengisi film Pemberontakan G/30/S/PKI yang diputar setiap tanggal 30 September malam di TVRI.

Dalam versi film, diorama, ataupun cerita umum yang banyak beredar, disebutkan lagu Genjer-Genjer dinyanyikan oleh Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia – organisasi perempuan di bawah payung PKI), sambil berjoget melingkar dengan busana tipis, kemudian menyileti kulit dan kelamin para jendral yang diculik setiap kali mereka melewatinya di malam tragis tersebut.

Maka, lagu yang semula hanya bercerita tentang tanaman genjer yang banyak tumbuh di ceruk berair, dipanen para wanita, dijual di pasar, dipotong-potong lalu dimasukan ke dalam kuali menjadi sayur ini pun bertransformasi menjadi sebuah bagian dari salah satu kejadian paling kelam di Indonesia.

Tidak diketahui secara pasti siapa yang telah begitu “kreatif” memplesetkan lagu Genjer-Genjer menjadi pernyataan yang sarat dengan kekejian ini, namun ada catatan yang menyebut ketika peristiwa G 30 S tahun 1965 terjadi, Harian KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) mengubah judul dan isi lagu genjer-genjer menjadi jenderal-jenderal.

Dalam catatan pribadinya Hasan Singodimayan, seniman HSBI dan teman akrab M Arief menuliskan bahwa lagu “Genjer-genjer” telah dipelesetkan dengan lirik seperti ini:

Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler
Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral
Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh Jendral Jendral saiki wes dicekeli

Jendral Jendral isuk-isuk pada disiksa
Dijejer ditaleni dan dipelosoro
Emake Gerwani, teko kabeh milu ngersoyo
Jendral Jendral maju terus dipateni

Yang jelas, dikemudian waktu, versi asli atau pun palsu, lagu Genjer-Genjer tetap menyeruakan aroma keresahan yang mencekam bagi sebagian yang mendengar.

Lagu yang diciptakan oleh Muhammad Arief pada tahun 1942 ini, pada awalnya didasari keprihatinan ia terhadap kondisi masyarakat Banyuwangi saat itu yang hidup dalam kemiskinan akibat kolonialisasi Jepang sehingga harus menkonsumsi daun genjer, yang biasanya dijadikan pakan itik, untuk dijadikan makanan sehari-hari. Lirik awalnya berbunyi seperti ini:

Genjer-genjer nong kedokan pating keleler(2x)
Emake thulik teko-teko muputi genjer (2x)
Ulih sak tenong mungkur sedhot sing tulih-tulih
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

Seiring dengan perkembangan waktu dan Indonesia mencapai kemerdekaan, Muhammad Arief sebagai pencipta lagu genjer-genjer kemudian (disebut) bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang memiliki hubungan ideologis erat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Lagu ini pun segera dikenal luas tak hanya dikalangan anggota PKI atau Lekra, tapi juga diseluruh Indonesia, Bing Slamet dan Lilis Suryani yang bukan PKI pun sempat merekam lagu ini dan menambah popularitas keduanya sebagai penyanyi kala itu.

Tapi selepas peristiwa berdarah di tanggal 30 September, Soeharto yang (diceritakan) paling berjasa dalam operasi penumpasan PKI, yang lantas naik tahta dan berkuasa, menjerat segala hal yang berbau PKI – bukan hanya penganut faham, aktivis, atau para simpatisan saja, tapi juga para pengikut awam, termasuk didalamnya kata Gerwani, Lekra, Pemuda Rakyat, Aidit, Gestapu, dan Genjer-Genjer yang dianggap sebagai produk komunis. Dengan kata tersebut orang langsung tak dapat bergerak dan tak mungkin dapat bicara. Siapa pun yang berani menyuarakan atau menuliskannya akan segera masuk daftar orang-orang yang harus ‘dibersihkan’. Maka demikianlah sepatah kata mberubah jadi stigma.

Stigma adalah cap. Kata ini berasal dari bahasa Yunani untuk menyebut semacam tanda yang diterakan dengan luka bakar atau tato ke kulit seorang hukuman, pelaku kriminal, budak, atau pengkhianat. Dengan cap yang melekat di jangat itu, stigma akan menandai orang yang tak diinginkan. Stigmatisasi terjadi bersama penyingkiran.

Pada zaman komunikasi kata-kata ini, stigma hanya jadi metafor. Ia berbentuk bunyi, penanda yang dikumandangkan ke dalam bahasa. Sebagai bagian dari bahasa, ia masuk ke kepala dan hati orang ramai, membentuk persepsi dan bahkan sikap dan laku mereka. Kata sebagai stigma berkembang dalam pusaran kesadaran individu bagaikan racun. Racun ini kemudian bisa disemburkan ke tiap sosok yang jadi sasaran. Sebagai racun, ia bergabung dengan racun jiwa yang lain: purbasangka dan paranoia. Maka dengan mudah ia bisa dipergunakan untuk menyebarkan permusuhan.

Hal serupa terjadi pada Genjer-Genjer, ia senantiasa mengguratkan aura ketakutan masa silam.

Doktrin kekejaman PKI yang menyertai (atau disertai) kumandang lagu ini membuat Genjer-Genjer senantiasa terseret dalam stigma yang ditakuti dan dihindari. (CS/berbagai sumber)

Iklan

9 pemikiran pada “Genjer-Genjer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s