V/H/S 2

wpid-VHS-2.jpg

Setelah kurang lebih tujuh bulan selepas film V/H/S pertama dirilis (6 september 2012, versi IMDB), bulan juni kemarin (28 Juni 2013, versi IMDB) sekuelnya sudah hadir dengan judul V/H/S 2. Lima film pendek hadir memeriahkan antologi horror ini. Dari sekian sineas yang unjuk gigi di prekuelnya, hanya sutradara Adam Wingard yang kembali berpartisipasi di film yang semula berjudul S-V/H/S ini. Nama-nama lain yang berpartisipasi antara lain: Eduardo Sanchez & Gregg Hale (The Blair Witch Project), Jason Eisener (Hobo With a Shotgun), Simon Barrett dan sutradara Indonesia Timo Tjahjanto (Rumah Dara) yang kali ini berduet dengan Gareth Huw Evans (The RAID).

Berikut posting review film V/H/S 2 untuk masing-masing segmen:

“TAPE 49”
Disutradarai Simon Barrett, TAPE 49 berkisah tentang dua penyelidik swasta yang tengah menginvestigasi hilangnya seorang mahasiswa. Keduanya lantas masuk secara diam-diam kerumah remaja tersebut guna mencari petunjuk lanjutan. Disalah satu kamar mereka menemukan berbagai kaset VHS dan banyak televisi yang masih menyala. Terdorong penasaran salah seorang dari mereka menonton sementara lainnya menggeledah isi rumah. Tak ada yang terlalu istimewa dari segmen ini karena fungsinya tak lebih sebagai penghubung dari satu film ke film lain dari awal sampai akhir. Endingnya pun tak terlampau mengejutkan.

“PHASE I CLINICAL TRIALS”
Film yang disutradari sekaligus dibintangi oleh Adam Wingard ini menceritakan tentang seorang pasien pria yang menanamkan mata bionik berkamera selepas mendapatkan kecelakaan. Alih-alih merasa nyaman si pria justru mendapat teror karena dengan mata itu ia justru bisa melihat makhluk halus yang mendiami tempat tinggalnya. Yup, seperti dibahas oleh reviewer lain, Phase I Clinical Trial mengingatkan pada film horror Thailand, The Eye, bedanya ada pada pendekatan cerita dan sudut pandang. Jika dalam The Eye lebih mengangkat pada hal-hal mistis dan supranatural karena bola mata yang dipasang berasal dari orang mati, maka dalam Phase I Clinical Trials, hal tersebut dikarenakan, barangkali, mata robotik tersebut mempunyai daya tangkap terlampau tajam heheheh…. Pun begitu dengan sudut pandang yang diambil, di PICT semua gambar diambil dari angle sang tokoh, dan ini menjadi nilai lebih karena memberi perspektif baru bagi penonton. Ending brutal dan lumayan mengerikan memberi satu lagi nilai bagi PICT.

 A RIDE IN THE PARK
Segmen ini ditangani oleh duo Eduardo Sanchez dan Gregg Hall. Serupa dengan PICT, A Ride In The Park (ARITP) juga memberi sebuah sudut pandang baru bagi penonton. Plotnya cukup sederhana, tentang seorang pria yang berencana bersepeda menembus semacam hutan pinggiran kota. Ditengah perjalanan ia dikejutkan oleh kehadiran seorang perempuan yang terluka parah dibagian wajah. Berniat menolong, si pria malah digigit dan, seperti dalam banyak kisah zombie, sebelum terinfeksi si pengendara mengalami masa-masa transformasi sebelum akhirnya mati dan berubah menjadi zombie. Selama rentang waktu tersebut, kamera yang diletakan dihelmnya terus merekam kejadian, bagaimana kemudian si pria bangkit, mengigit, mengejar dan menyerang orang-orang yang tengah berpesta di dalam hutan. Sayang konsep unik ini justru menjadi bumerang bagi segmen tersebut, karena alih-alih menyeramkan, yang ada penonton disuguhi adegan kejar-kerjaran yang tak terlampau menengangkan. Untungnya ending yang humanis membuat segmen ini menjadi tayangan yang relatif menarik.

wpid-VHS-2-poster-resmi.jpg

 SAFE HAVEN
Bercerita tentang beberapa awak peliput yang menginvestigasi markas sebuah sekte kepercayaan yang dipimpin seorang pria yang biasa dipanggil Bapak, duet Timo Tjahjanto dan Gareth Huw Evans menebar terror sepanjang segmen ini. Ibarat cerita pendek yang kaya akan konten, Timo dan Garret tak hanya mengangkat issue kesektean sebagai tempelan, namun ada juga perihal mitos, brainwashing, ritual pemujaan, zombie, monster, thriller psikologis, praktik paganisme, hingga, secara tersirat, child molesting, bercampur dalam kemasan yang terkadang absurd untuk memanjakan penonton. Ledakan tubuh dan banjir darah berpadu masalah psikologis masing-masing crew menghiasi hampir tiga puluh menit, sekaligus segmen paling panjang dalam antologi ini, benar-benar bisa membuat penonton terpuaskan (atau ketakutan). Belum lagi akting dari Sang Bapak yang diperankan oleh Epy Kusnidar, begitu terasa sakit jiwanya. Peran Fachri Albar pun cukup memuaskan, terutama diakhir film. Meski saya agak terganggu dengan wujud monster yang lebih mirip penjahat diserial Ultraman, secara keseluruhan, bagi saya, SAFE HAVEN, adalah yang paling menegangkan, paling mengerikan dan paling terbaik diantara empat segmen yang lain.
Selain dibintangi oleh dua aktor diatas, Oka Antara dan Hanna Al Rasyid juga turut berakting di segmen ini.

SLUMBER PARTY ALIEN ABDUCTION
Segmen arahan Jason Eisener boleh dibilang sebagai segment paling tidak beruntung. Ditempatkan selepas Safe Haven yang berdarah-darah, SPAA tak bisa memberikan penutupan yang grande untuk V/H/S 2. Berkisah tentang anak-anak remaja yang ditinggal pergi orang tua dengan kegiatan ‘hura-hura’ ala barat, sex bebas, masturbasi, bullying, para ABG ini tidak sadar bahwa kawasan tempat tinggal mereka menjadi tempat mendaratnya pesawat luar angkasa. Kehebohan terjadi kala alien-alien mulai menginvasi kawasan tersebut termasuk rumah tempat para remaja tinggal. Selintas segmen ini mengingatkan saya pada film arahan sutradara Matt Reeves, Cloverfield (2008). Sayang, untuk urusan ketegangan, jangankan melebihi, setara dengan Cloverfield pun tidak. Saking kelihatan bohongannya, jika tidak tahu judulnya memuat kata “alien”, saya menyangka para makhluk luar angkasa yang mengejar mereka adalah orang-orang kurang waras yang mengenakan kostum alien untuk menangkap dan menyiksa para remaja nanggung ini. Penempatan pandangan yang sebagian, ceritanya, dari sudut pandang anjing yang kepalanya dipasangi kamera pun tak terlampau banyak menolong, sebab untuk urusan tersebut, PICT dan ARITP terasa lebih meyakinkan. Selain keteganan yang terasa sangat setengah hati, ending segmen ini pun sangat predictable sehingga anda tidak akan kehilangan banyak jika melewatkannya.

Sama seperti pendahulunya, V/H/S 2 juga turut diperkenalkan di Sundance Film Festival dan mendapat respon lebih positif ketimbang film V/H/S. Namun sayang, menurut kabar yang beredar sepertinya film ini tidak akan tayang di bioskop-bioskop tanah air (barangkali karena ‘Rated – R’ nya atau dari produser lokal yang takut produksinya kalah bersaing atau film ini tak dapat sponsor atau film ini diprediksi tidak akan mendatangkan keuntungan, saya tidak tahu).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s