Burn

wpid-Burn.jpg

Semenjak mengenal api, manusia ditiap zaman telah menggunakannya untuk berbagai hal, termasuk membakar sesama manusia seperti kisah-kisah berikut:

Di masa Ibrahim, diriwayatkan sang nabi dipanggil oleh pengadilan kerajaan kala penduduk yang masih jahiliyah dan hendak memuja berhala menemukan semua sesembahan mereka telah terpenggal dan hanya menyisakan satu berhala terbesar dengan kapak menggantung dilehernya. Waktu itu, kecuali keluarga Ibrahim, semua penduduk adalah penyembah benda-benda sehingga ketika peristiwa ini terjadi tak ada tersangka lain kecuali Ibrahim sendiri karena beliaulah yang paling lantang menentang segala ritual penduduk. Saat ditanya oleh raja perihal siapa orang yang berani mengobrak abrik tempat ibadah mereka, dengan santai Ibrahim menjawab, kurang lebih kenapa tidak tanya saja pada tuhan kalian, toh benda yang menjadi senjata untuk merusak ada dalam genggamannya. Raja mendebat, kurang lebih, mana mungkin kami bertanya pada sebuah benda mati. Ibrahim berkata, kurang lebih, jika kalian tahu benda itu tak bisa apa-apa, lantas kenapa kalian masih mensujudkan diri kalian padanya bukan pada penciptanya, Tuhanku. Tidak terima dipermalukan ditambah keteguhan prasangka, Ibrahim dijatuhi hukuman terberat, dibakar hidup-hidup di alun-alun kerajaan. Tiang telah dipancang, kayu berbagai ukuran telah disusun, minyak telah disiram, sang nabi telah diikat sebelum akhirnya api besar menjilati tubuhnya dalam jangka waktu yang lama. Namun Ibrahim adalah manusia kesayangan Tuhan, ditengah kobaran api yang membara, ia justru mengigil kedinginan karena Tuhan, dengan kuasanya, telah menjadikan api menyalahi kodratnya sebagai sesuatu yang panas.

Di benua eropa hal serupa banyak terjadi pada manusia biasa. Diambil dari buku tulisan Dan Brown, The Da Vinci Code, disebutkan pada jama dulu, dimasa awal, gereja kristen dalam usahanya memerangi kepercayan pagan, telah menyebarkan kebohongan guna menaikan harkat lelaki dan merendahkan derajat perempuan. Disebutkan para biarawan Sion masih mempercayai bahwa Constantine dan penerus lelakinya telah memutar balik dunia dari paganisme matrialkal menjadi kristen patriarkal dengan menyebar propaganda yang mensetankan perempuan suci, dengan menghapus dewi dari agama modern untuk selamanya. Tak ada yang dapat menyangkal betapa banyak kebaikan yang dilakukan Gereja modern pada dunia yang kacau ini. Walau demikian, Gereja memiliki sejarah yang penuh kebohongan dan kekejaman. Perang suci yang brutal untuk “mengajar kembali” kaum pagan dan penganut agama pemuja dewi memakan waktu tiga abad, dengan menggunakan cara-cara yang inspiratif sekaligus mengerikan. Inkuisisi Katolik menerbitkan buku yang boleh jadi bisa disebut sebagai penerbitan yang paling meminta darah dalam sejarah manusia. Malleus Maleficarum, ‘Godam Para Penyihir’, mengindoktrinasi dunia akan “bahaya kebebasan berpikir perempuan” dan mengajari para biarawan bagaimana menemukan, menyiksa, dan menghancurkan mereka. Anggapan “penyihir” oleh Gereja meliputi semua sarjana perempuan, pendeta, gipsi, ahli mistik, Pencinta alam, pengumpul dedaunan, dan segala perempuan yang secara mencurigakan akrab dengan alam.” Para bidan juga dibunuh karena tindakan mereka yang menggunakan pengetahuan obat-obatan untuk menghilangkan rasa sakit saat melahirkan sebuah penderitaan yang, menurut Gereja, merupakan hukuman Tuhan bagi Hawa karena mengambil buah Apel Pengetahuan, sehingga melahirkan terkait dengan gagasan Dosa Asal. Selama tiga ratus tahun perburuan tukang sihir, Gereja telah membakar sekitar lima juta perempuan. Propaganda dan pertumpahan darah itu berhasil. Kehidupan hari ini merupakan bukti hidup dari itu semua. Kaum perempuan, yang pernah dikenal sebagai sosok yang berpengaruh penting dari pencerahan spiritual, telah dimusnahkan dari semua kuil di dunia ini.

Masih di benua yang sama dan masih dari buku yang sama, para ksatria templar mengalami nasib yang sama. Sejarah Templar sendiri bagi para akademisi, merupakan hal yang rumit karena fakta, legenda, dan kesalahan informasi telah menjadi begitu berkelindan sehingga hampir tidak mungkin untuk menarik kebenaran murni. Disebutkan bahwa para ksatria Templar, dalam usahanya mengambil dokumen penting dibawah reruntuhan kuil di negara palestina, adalah dengan pura-pura memberikan perlindungan keamanan pada para peziarah. Tak diketahui secara pasti apakah mereka menemukannya atau tidak, tetapi satu-satunya hal yang disetujui oleh para ilmuwan adalah: para kesatria itu menemukan sesuatu di bawah reruntuhan itu, sesuatu yang membuat mereka makmur dan berkuasa melebihi khayalan tergila yang dapat dibayangkan oleh siapa pun. Dikemudian waktu para kesatria itu ada di Tanah Suci selama Perang Salib Kedua dan mengatakan kepada Raja Baldwin II bahwa mereka ada di sana untuk melindungi para peziarah Kristen di jalan. Walau tidak dibayar dan bersumpah siap hidup miskin, para kesatria itu meminta tempat tinggal kepada Raja dan memohon izinnya untuk mendiami kandang kuda di bawah reruntuhan kuil. Raja Baldwin mengabulkan permintaaan mereka, dan para kesatnia Templar pun menempati tempat tinggal sederhana mereka di dalam kuil yang telah rusak itu. Pilihan aneh pada tempat tinggal itu, tidak dilakukan secara sembarang. Para kesatria Templar percaya bahwa dokumen-dokumen yang dicari oleh Biarawan terkubur dalam-dalam di bawah reruntuhan itu—di bawah the Holy of Holies, sebuah kamar suci yang dipercaya sebagai tempat tinggal Tuhan sendiri.  Artinya, pusat dari keyakinan Yahudi. Hampir satu dekade kesembilan kesatria Templar tinggal di reruntuhan itu, menggali diam-diam bebatuan keras di situ. Setelah sembilan tahun Templar akhirya menemukan apa yang mereka cari. Mereka mengambil harta itu dari kuil dan pergi ke Eropa, tempat pengaruh mereka tampak menguat dalam satu malam saja. Tidak seorang pun tahu pasti apakah Templar telah memeras Vatikan ataukah Gereja hanya mencoba untuk menutup mulut Para kesatria itu, namun Paus Innocent II segera mengeluarkan kebijakan kepausan yang belum ada presedennya, yang memberi Templar kekuasaan tak terbatas serta mengumumkan bahwa mereka berhak “menetapkan hukum bagi mereka sendiri”—sebuah otonomi tentara yang terlepas dari campur tangan para raja dan pendeta tinggi, baik dalam keagamaan maupun politik. Dengan kebebasan baru dari Vatikan, Templar meluas hingga ke angka yang mengejutkan, dalam jumlah maupun kekuatan politik, dengan mengumpulkan tanah-tanah yang luas pada lebih dari selusin negara. Mereka mulai memberikan pinjaman kepada para bangsawan yang pailit dan meminta bunga dalam pengembaliannya. Dengan cara itu, mereka mendirikan bankbank modern serta semakin memperluas kekayaan dan pengaruh mereka. Pada tahun 1300-an, sanksi Vatikan telah menolong Templar untuk mengumpulkan kekuatan yang begitu besar sehingga Paus Clement V memutuskan untuk berbuat sesuatu. Bekerja sama dengan Raja Prancis Philippe IV, Paus memikirkan sebuah operasi serangan yang terencana dengan cerdik untuk membubarkan Templar dan merampas harta mereka, yang dengan begitu akan mengalihkan kendali atas rahasia ini ke Vatikan. Dalam sebuah muslihat militer yang setaraf dengan muslihat CIA, Paus Clement mengeluarkan perintah rahasia bersegel yang baru boleh dibuka secara serempak oleh prajurit-prajuritnya di seluruh Eropa pada hari Jumat, 13 Oktober 1307. Pada waktu fajar tanggal 13, dokumen-dokumen itu dibuka, dan isinya yang menakutkan terungkap. Dalam suratnya Clement mengaku bahwa Tuhan telah mengunjunginya dalam mimpi dan memperingatkan bahwa Templar berdosa besar karena memuja setan, homoseksualitas, mencemarkan salib, sodomi, dan perilaku nista lainnya. Paus Clement telah diminta Tuhan untuk membersihkan bumi dengan mengumpulkan para kesatria itu dan menyiksa mereka sampai mereka mengakui kejahatan mereka terhadap Tuhan. Operasi gaya Machiavelli dari Clement berjalan rapi. Pada hari itu, kesatria-kesatria yang tak terhitung ditangkap, disiksa secara kejam, dan akhirnya dibakar di pembakaran sebagai pelaku bidah. Gema tragedi itu masih menggaung dalam kebudayaan modern; hingga kini, Jumat tanggal 13 dianggap hari sial.

Meloncat kemasa kini, kala manusia telah mengenal agama secara mapan, kejadian serupa kerap dilakukan:

Di Cile, 23 November 2012, sebuah peristiwa mengerikan terjadi. Di sebuah peternakan di luar kota Quilpe, sekitar 110 kilometer di sebelah barat Santiago polisi melakukan penyidikan terkait penemuan tulang belulang bayi yang diperkirakan baru berusia tiga hari, dibakar hidup-hidup dengan cara dilempar ke api gulungan api unggun. Aparat penegak hukum setempat akhirnya meringkus empat orang yang diduga anggota sebuah sekte bernama Sekte Anti Kristus yang dipimpin oleh Castillo Gaete. Gaete  sendiri masih dinyatakan buron. Dalam keterangannya ibu si bayi, Natalia Guerra (25), rela menyerahkan bayinya karena doktrin dalam sekte ini yang menyebutkan bahwa kiamat telah dekat dan bayi yang dilahirkan oleh Guerra adalah seorang anti kristus. Ayah si bayi yang juga anggota sekte yang berjumlah dua belas orang dari kalangan menengah ini, Ramon Gustavo Castillo Gaete (36), mengamini untuk hal yang sama.

Di Madagaskar warga membakar hidup-hidup dua warga negara eropa terkait tuduahan penjualan organ dalam manusia setelah sebelumnya mayat seorang anak ditemukan di sekitar pantai. Selain membakar dua warga Eropa, massa juga memancung seorang pria lokal karena persoalan yang sama. Warga Eropa tersebut dikejar kemudian dibunuh oleh penduduk pulau Nosy Be, salah satu pulau wisata terkenal di perairan Samudera Hindia. Masih belum ada bukti bahwa dua pria eropa ini adalah pelaku perdagangan organ dalam manusia, sejauh ini dugaan polisi masih menyebutkan bahwa ada kemungkinan bahwa salah satu pria ini mengatakan atau mengaku perihal hal tersebut kepada warga setempat.

Hal lebih mengerikan terjadi di Myanmar. Diperkirakan berawal dari keributan antara pemilik toko emas Muslim dan pelanggannya di kota Meikhtila, kerusuhan antar agama menumpahkan banyak darah di negara ini. Umat muslim dan ekstrimis budha saling ganyang untuk melampiaskan api dalam sekam yang telah terjadi sekian lama. Dalam berbagai video yang beredar di dunia maya, diperlihatkan bagaimana, yang diperkirakan, umat muslim dari etnis rohingnya dihabisi dengan cara-cara biadab. Mulai dari dipukuli beramai-ramai hingga dibakar hidup-hidup sambil disaksikan oleh banyak orang. Banyak orang dari etnis Rohingya kemudian terusir dari tanah airnya.

Di Indonesia hal serupa juga terjadi. Galau Wahyu Utama, mahasiswa Universitas Jember (UJ), Selasa (26/2) lalu ditemukan tewas mengenaskan di sebuah lahan kosong di Jember. Selain tangan dan mulutnya diplester, bagian depan tubuhnya pun dibakar. Kendaraan dan barang-barang berharga didalamnya raib. Dugaan sementara menyebutkan pembunuhan terhadap Galau adalah perampokan, yang diperkirakan dilakukan oleh, calon pembeli yang hendak ‘melihat-lihat’ rumah yang akan dijual oleh salah seorang kerabatnya.

Di Desa Wadu Kopa, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima, Provinsi NTB, pada Jumat (2/8/2013), yang bertepatan dengan bulan ramadhan, seorang kakek bernama H.Pasa Rinto tewas dibakar hidup-hidup dengan tuduhan melakukan praktek santet. Kejadian bermula dari tewasnya salah seorang tetangga H. Pasa, Nurita (25), yang disebutkan menderita penyakit aneh karena sebelumnya dia lupa memberikan salah satu penganan jualannya kepada La Amu (55) yang merupakan istri H. Pasa. Sebelum meninggal, Rita menyebut bahwa sakit yang dideritanya adalah karena santet yang dilakukan H.Pasa dan Istrinya, kata salah satu warga. Menjelang penguburan Rita, tiba-tiba keluarga Rita berkumpul bersama masyarakat dan mendatangi Rumah H.Pasa. Meski sempat melarikan diri melalui pintu dapur rumahnya, namun H.Pasa berhasil diringkus masa yang langsung menganiaya dan menyeretnya menuju lapangan. Ironisnya, tidak ada yang berusaha melarang peristiwa main hakim sendiri itu, lantaran keluarga dari H.Pasa pun tidak ada yang berani mendekat kerumunan massa. Bahkan sumber lain menyebutkan, sebelum membakar tubuh H.Pasa hidup-hidup, masa terlebih dahulu menyiramnya dengan bensin. Begitu juga ketika masa melihat H.Pasa masih bernafas meski sudah dibakar menggunakan sekitar delapan liter Bensin, maka H.Pasa pun dibakar menggunakan kayu yang dikumpulkan disekitar lokasi kejadian.

Hal serupa terjadi di Desa Pulau Panjang Hilir, Kecamatan Inuman, Kabupaten Kuansing, Riau. Paiman (80) tewas dengan cara dibakar hidup-hidup oleh warga menggunakan bensin dan kayu dengan tuduhan praktek santet dan pencabulan terhadap anak dibawah umur. Berawal dari banyaknya siswi yang kesurupan sambil menyembut-nyebut “mbah”, yang merupakan sebutan Paiman ditempat itu, yang juga dikenal sebagai dukun membuat warga akhirnya meminta Paiman untuk mengusir makhluk halus yang meragai para siswi. Salah satu sumber menyebutkan Paiman bersedia membantu dengan teknik penyembuhan melalui metode menghisap payudara atau dengan mencium bibir siswi tersebut. Kontan saja hal tersebut menyulut amarah warga. Versi lain menyebutkan bahwa hal tersebut dipicu saat Kepala Sekolah SMPN Negeri 3 Inuman, Anasri SPd membawa dua belas orang siswi yang kesurupan untuk diobati Paiman. Sepulang dari kediaman si dukun, Anasri tiba-tiba tak sadarkan diri sambil menyebut-nyebut “mbah”. Meski sempat dibawa ke Puskesmas  terdekat namun nyawa Anasri tak tertolong. Warga yang curiga kemudian menangkap, menggiring, menganiya dan akhirnya membakar hidup-hidup kakek ini hingga tewas. Selepas kejadian tersebut, kala polisi menyelidiki kasus ini, tak satu pun warga yang bersedia memberi keterangan secara lengkap.

Di tahun 2004, sebelum kasus Ryan Jombang merebak, sebuah peristiwa pembunuhan berantai dilakukan oleh oknum anggota kepolisian bernama Iptu Gribaldi. Pria yang sedikitnya telah membunuh tujuh orang untuk berbagai motif ini menggunakan, salah satunya, cara bakar mayat guna menghilangkan jejaknya. Adalah Listi Kartika Baiduri yang menjadi korban pembakaran tersebut, tubuhnya hangus dan hanya menyisakan sepasang kaki dan sepatunya. Ditahun berikutnya polisi juga dihadapkan pada kasus serupa, kali ini korbannya seorang pria bernama Ngadimin. Berangkat dari dua kejadian tersebut polisi akhirnya mengungkap kasus pembunuhan lain yang dilakukan oleh Gribaldi. Penyidikan panjang dan berbelit akhirnya menyeret Gribaldi, yang diperkirakan seorang psikopat, kepengadilan. Berita tentang Gribaldi berhenti di penantian pembacaan vonis, hingga kini tak ada berita lagi mengenai apa yang terjadi padanya.

Ada yang menyebutkan bahwa kemampuan manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain adalah kemampuannya untuk beradaptasi dengan lingkungan baik secara fisik atau pun psikologis. Saat mengetahui atau mengalami suatu hal yang melenceng dari sistem hidupnya sehari-hari, baik secara positif atau negatif, manusia akan terlebih dulu merasa kaget, terpuruk, untuk kemudian perlahan-lahan mulai menerima dan akhirnya menjadikannya sebagai sesuatu yang biasa. Sebagai pembaca, kala membaca hal-hal semacam ini saya senantiasa merasa ngeri dan semoga rasa ngeri itu tetap ada karena jika sudah membaal saya takut tak jadi manusia lagi.

Iklan

2 pemikiran pada “Burn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s