Bodoh

Postingan yang tak seharusnya ada di bulan horror sekarang, tapi tangan rasanya gatal jika tak ikut berkomentar bodoh menyikapi kejadian luar biasa ini hehehehe…

wpid-Bodoh.jpg

Kata-kata, terkadang punya potensi tafsir lebih luas saat diungkapkan melalui tulisan ketimbang lisan karena semua dibangun lewat persepsi. Kala komunikasi dua arah dengan teks sudah semakin cepat dan layanan pesan singkat (SMS) ditelepon genggam masih merajai hal tersebut sudah kerap terjadi.

Di era cyberspace, dimana aneka media sosial muncul dengan berbagai nama, komunikasi teks tidak lagi melibatkan dua pihak, namun sudah multi-arah yang berkonsekuensi logis makin banyak pula orang yang menafsirkan apa yang kita tulis. Baru-baru saja hal serupa terjadi pada salah satu orang nomor satu di negeri ini, Ani Yudhoyono, sang ibu negara.

Di akun instagramnya Ani memposting foto dimana beliau sekeluarga (bersama Soesilo Bambang Yudhoyono, Agus Harimurti, Edhie Baskoro, Anisa Pohan, Siti Rubi Alya Rajasa dan Almira Tunggadewi) berpose bersama di pinggir pantai Klayar, Kabupaten Pacitan, berlatar belakang bebatuan dengan mengenakan batik.

Sebagai pemilik akun berpengikut banyak tentu saja posting ini mengundang berbagai komentar, salah satunya datang dari Erie Prasetyo (@erie_nya), yang menulis, “Baju batik sudah dikenakan di mana-mana, bukan hanya untuk acara resmi saja, namun juga acara setengah resmi, bahkan santai.”

Entah mengapa sepertinya Ani merasa terganggu dengan komentar itu, dia lantas membalas @erie_nya dengan, “Subhanallah, komentar anda yang sangat bodoh. Kok anda tidak berpikir bahwa kami sedang melakukan kunjungan dan mampir sebentar ke pantai itu sekalian lewat? Come on, apa tak ada komentar lain yang lebih bisa diterima siapa saja?”

Benarkah komentar dari Erie Prasetyo ini adalah sesuatu yang bodoh sehingga memancing Ani Yudhoyono bereaksi cukup keras? Semua tergantung dari bagaimana kapan, cara, dan persepsi apa yang dibangun setelah membacanya. Mari kita buat perbandingan komentar @erie_nya dengan komentar senada dengan objek berbeda berikut:

1. Jika ada seorang pria tua bertampang kumal naik bus kota, lantas ia duduk santai sambil memainkan telepon genggam, lalu penumpang lain berkomentar, “Ponsel rupanya sudah terkenal kemana-mana, bukan hanya pekerja kantoran, mahasiswa, atau orang-orang melek teknologi saja yang menggunakan. Ibu-ibu rumah tangga, anak SD, bahkan sampai kakek-kakek kini turut memakainya.”

2. Jika seorang pengamat  politik mengomentari fenomena para caleg yang datang dari berbagai kalangan dengan kalimat, “Politik praktis dijaman sekarang tak hanya monopoli pada negarawan atau mereka yang telah mempelajarinya secara akedemis, namun juga telah menarik  pengusaha, artis, bahkan sosialita yang, notabene, masih belum teruji kemampuannya.”

Ilustrasi kalimat 1 dan 2 dibangun oleh struktur yang sama dengan komentar Erie Prasetyo. Sama-sama mengomentari tren atau masalah sosial yang tengah terjadi dimasyarakat yakni penggunaan gadget dan hasrat menjadi anggota legislatif. Pun demikian dengan batik yang memang sekarang tidak lagi digunakan untuk acara resmi seperti ke undangan namun bisa juga dikenakan untuk sesuatu yang lebih kasual seperti cocktail party, minum-minum di café, jalan-jalan ke mall, menjadi penonton alay, atau bahkan ke pantai, dengan model yang lebih disesuaikan tentunya (dalam kasus Bu Ani, dia menyebut foto ini diambil saat mampir). Lantas salahkah komentar si penumpang, si pengamat, atau si Erie Prasetyo (terlepas dari niat awal ia menulis kalimat tersebut) hingga dikategorikan sebagai komentar bodoh? Bisa iya bisa tidak. Iya, jika si pembaca merasa apa yang diucapkan oleh komentator bukan hal penting yang dipenting-pentingkan, sarkastik, atau nyinyir tok. Tidak, jika si pembaca setuju dengan pendapat komentator dan melihat hal tersebut tidak secara parsial.

Disisi lain, apakah balasan dari Ani Yudhoyono juga merupakan sesuatu yang tidak baik? Belum tentu. Barangkali, sekali lagi BARANGKALI, saat dan setelah membaca, Bu Ani berpersepsi tulisan Erie Prasetyo termasuk sebagai sindirian picisan seperti yang kerap dilontarkan para pelaku cyber bully terhadap twitter atau facebook suaminya, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, lalu mengasosiakannya dengan kalimat serupa, “Kemana-mana pake batik, resmi lagi, memang tak ada baju model lain.”  atau “Ke pantai saja, yang acaranya santai, pakai baju batik resmi.” – tak ada larangan beliau untuk berpikir seperti itu kan?

Yang kurang pantas, menurut saya, adalah penggunaan kata ‘bodoh’ dalam komentarnya, mengingat beliau adalah pejabat tertinggi yang akan selalu disorot, apalagi hal tersebut terjadi di media sosial yang bebas nyaris tanpa kontrol, satu kata saja bisa berimbas besar baik pada penulis sendiri atau pun pembaca. Hal tersebut terbukti pada Erie Prasetyo, si komentator, yang mengaku selepas menerima balasan dan disebutkan bodoh oleh sang ibu negara, ia jadi sering kena bully. Komentar miring dari pendukung Ani Yudhoyono silih berganti menyerangnya baik di Instagram, maupun jejaring sosial lainnya seperti Twitter. Erie pun mengaku kapok mengomentari foto-foto di Instagram Ani Yudhoyono.

Sudah jadi pengetahuan bersama bahwa kesantaian, main-main, ceplas-ceplos, bersifat sementara, adalah khas dunia cyber, tak ada yang terlampau serius di situ. Sinta & Jojo, Norman Kamaru, Arya Wiguna, Vicky Prasetyo menjadi, atau sempat, terkenal karenanya. Wimar Witoelar dan Abu Rizal Bakrie pernah terlibat perdebatan sengit di dalamnya perihal kasus Bank Century. Lovers dan Haters Agnes Monica, Coboy Junior, SM*SH, atau JKT 48, kerap berseteru karena hal sepele. Semua menjadi cepat panas dan cepat pula menguap, perpindahan minat dan fokus yang amat cepat menjadi sifat manusia di jaman cyberspace sekarang.

Barangkali Ani Yudhoyono atau Erie Prasetyo termasuk pengguna yang belum siap menghadapi karakter dunia cyber, sehingga, walau tidak terlibat pertengkaran panjang, keduanya sama-sama merasa menjadi korban dan dirugikan oleh, tidak hanya, akibat persepsi masing-masing tapi juga berasal dari orang-orang yang menyaksikan, berpihak, dan turut berkomentar dengan sudut pandang dan niatnya sendiri-sendiri.

Saat saya men-cek akun tersebut hari ini (21/10/13), komentar dari @erie_nya dan balasan dari Ani Yudhoyono memang sudah tidak ada, yang kemudian berseliweran adalah komentar dukungan terhadap si pemilik.

Ani Yudhoyono sebenarnya bukan yang pertama mengalami hal semacam ini. First lady Amerika Serikat, Michelle Obama, juga pernah terlibat hal serupa. Karena komentarnya di televisi yang menyebutkan ia dan suami, Barrack Obama, yang kurang menyetujui kedua putrinya menyaksikan reality show tentang Kardashian bersaudari, Keeping Up with the Kardashians, langsung mendapat kecaman dari si empunya. Mereka lantas balas menyerang dengan mengomentari gaya berpakaian ibu negara, yang kerap menghiasi majalah mode ternama dan mendapat pujian dari editornya, dari sudut negatif. Meski sempat menjadi pemberitaan hangat dimana-mana, toh seperti kodratnya semula, hal ini pun segera terlupakan.

Well, jika sebuah komentar biasa saja sudah membuat heboh, tak terbayang betapa akan gonjang-ganjingnya negeri ini jika seorang ibu negara terlibat konflik dengan pesohor yang berpendukung sama banyak seperti yang terjadi di Amerika hehehehehe…..

=====================
FOLLOW-UP (22/10/13 – setelah koneksi internet lancar kembali) : Jika anda merasa antara komentar dan balasan kalimatnya kurang singkron satu sama lain, berikut adalah komentar dari salah seorang, entah pengikut atau bukan, di akun @erie_nya:

wpid-SC20131021-150252.png

Iklan

2 pemikiran pada “Bodoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s