Let The Right One In

wpid-Let-The-Right-One-In-Minimalist.jpg

Untuk membangun nuansa horror tak melulu harus dihadirkan lewat media audio visual seperti tayangan sinema, buku pun bisa menghadirkan ketegangan tersendiri bagi yang membacanya. Kali ini Crimson Strawberry akan mereview buku Let The Right One In yang telah dibuat versi layar lebarnya dua kali. Pertama tahun 2008 dengan judul yang sama, dibintangi oleh Lina Leandersson dan Kare Hedebrant. Sementara yang kedua tahun 2010, dengan sedikit perubahan judul menjadi Let Me In, disutradari Matt Reeves (Cloverfield – 2008), film ini diperankan oleh antara lain Chloe Grace Mortez, Kodi Smith-McPee, dan Richard Jenkins.

wpid-Let-The-Right-One-In-book-cover.jpg

Jika disimak secara linier, Let The Right One In yang berseting di Blackerberg, Stokholm, Swedia, diawal tahun 1980-an, ini menceritakan tentang Oskar, siswa sekolah dasar yang kerap menjadi sasaran bully teman-teman seangkatannya. Bentuknya bervariasi, mulai olok-olok hingga kontak fisik. Hal ini diperparah karena Oskar sering terkena sindrom ngompol atau Inkontinesia, makin lengkaplah penderitannya. Hingga suatu malam, Oskar yang tinggal berdua bersama ibunya kedatangan tetangga baru, seorang pria paruh baya dan seorang anak cantik seumuran dengannya.

Semula Oskar tak terlalu peduli dengan kehadiran keduanya yang berprilaku aneh, sampai suatu waktu si anak tetangga memergokinya tengah melampiaskan kemarahan akan ketidakberaniannya pada sebatang pohon. Meski merasakan berbagai keganjilan Oskar akhirnya berteman dengan anak tersebut yang belakangan diketahui bernama Eli.

Ternyata Eli dan Hakan menyimpan rahasia besar dan gelap yang perlahan-lahan diketahui Oskar, bahwa Eli ternyata seorang vampir berusia tua yang tidak mengalami perubahan fisik semenjak dia berubah menjadi makhluk tersebut dan mempunyai masa kecil lebih kelam dari Oskar, sementara Hakan adalah ‘hamba’nya.

Seiring berjalanannya waktu dan adanya persamaan rasa, hubungan mereka pun makin erat dan menyeret kedua anak-anak ini kedalam beberapa kasus penyerangan dan pembunuhan misterius di daerahnya.

wpid-Let-The-Right-One-In-Movie-Poster.jpg

Saya belum pernah nonton film Let The Right One In, baru Let Me In, yang walaupun cukup seram, namun masih kalah horror dibanding bukunya. Hadirnya berbagai tokoh disekeliling Oskar dan Eli dengan perasaan dan masalah mereka yang kompleks turut memperkaya konten buku karya John Ajvide Lindqvist ini. Belum lagi penggambaran pembunuhan yang dibingkai unsur psikologis yang detail dari sisi pelaku dan korban membuat buku setebal 684 halaman (edisi bahasa Indonesia nya) ini mampu membius dan memuaskan para pembaca kisah-kisah horror.

Pun demikian dengan kebiasaan vampir dalam cerita ini, yang kemudian dijadikan judulnya, yang tak akan bisa menghabisi incarannya jika belum atau tidak dipersilakan masuk oleh si calon korban. Atau cerita siapa dan bagaimana Eli menjadi wujudnya yang sekarang, serta praktek fedofili yang diekspos dari berbagai sisi beberapa karakter pengidapnya makin membuat pembaca merasakan teror dari buku yang aslinya berjudul Låt den rätte komma in.

Bagi yang terbiasa dengan kisah vampir populer semacam hikayat The Twilight, Let The Right One In bukanlah bacaan yang dapat memenuhi harapan dan selera anda. Tak ada romantisme ala Edward Cullen yang keren dengan Bella Swan yang lugu namun matre itu, jangan harap pula anda akan menemukan tokoh yang digambarkan cantik atau tampan, karena Lindqvist menghadirkan orang-orang pinggiran dengan karakter suram dan keras. Namun jauh didalamnya, Let The Right One In, yang bergenre horror, mampu menghadirkan rasa humanisme yang tak mungkin ditemukan dalam cerita semacam The Twilight dan sekutunya.

Iklan

2 pemikiran pada “Let The Right One In

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s