X-Y

wpid-X-Y.jpg

“Hai!”
“Halo.”
“Apa kabar?”
“Baik.”
(jeda)
“Sepertinya cuaca kurang bersahabat belakangan ini.”
“…………………..”
“Iya kan?”
“O…ya begitulah, kira-kira.”
“Mau minum kopi?”
“…………………..”
“Sebentar saja. Sepuluh menit?”
(jeda)
“Oke.”

*#*#*#*

(suara Nina Simone menyanyi)
“Aku suka kopi disini, wangi dan sedap.”
“Entahlah. Aku bukan pecinta kopi, tapi suasananya menyenangkan, klasik. Ini Don’t Smoke in Bed ya?”
No idea. Dengar saja sepertinya baru pertama kali hehehehe…”
“Kenapa? Ada yang salah? Hei, ayolah, jangan senyum-senyum seperti itu. Digigiku ada bekas kopi ya?”
“Aman, tak ada apa-apa digigimu, hanya saja…. Suara perempuan ini sepertinya memang tidak asing. Mungkin aku pernah mendengar juga lagu ini sebelumnya, tapi gak ngeh, entahlah.”
“Tanya sama ia dong, kalau soal jazz, rajanya tu orang!”
“…………………..”
“…………………..”
(lagu berganti)
“Terimakasih.”
“Hm?”
“Aku…. Kami telah resmi berpisah.”
“Apa? Apa ia meninggalkanmu?”
Well, secara teknis aku yang memutuskan pergi, tapi kalau urusan hati ia melakukannya lebih dulu.”
“A… ak… aku… aku…. Tapi kau masih mencintainya.”
“Bhahahahahahahahaha….”
“Kenapa?”
“Haaaahhh… seminggu lagi usiaku genap tigapuluhtiga. Rasanya sudah terlalu tua bagiku untuk terlibat hal-hal seperti ini.”
“Mak….sudnya…?”
“Aku lelah. Kau tahu, dari dulu aku selalu berencana kala sampai diangka tigapuluh kehidupanku, dalam berkomitmen, sudah ada di level mapan. Tak lagi direcoki konflik percintaan ala ABG, CLBK, selingkuh, dan lain sebagainya dan lain sebagainya dan lain sebagainya…..”
…………………..
“Benar jika ada orang bilang cinta harus diperjuangkan, aku pun mengalami hal itu. Selalu. Entah mengapa ada saja orang ketiga dalam setiap hubungan yang kujalani. Rekan kerja. Mantan kekasih. Sahabat baikku…. Ahahahahaha… Dan aku selalu ngotot mempertahankannya.”
“Bagaimana dengan ia?”
“Kurang beruntung. Seperti yang kubilang sebelumnya, aku sudah lelah. Terlampau lelah.”
“Tapi… ia…”
“Untuk alasan yang berbeda ia juga merasakan hal yang sama. Terhadapku.”
“A…..”
“…………………..”
“…………………..”
“…………………..”
“Setiap kali berhadapan dengan hal seperti ini, dulu, aku senantiasa menilik dan menganalisa siapa ‘pesaing’ yang dihadapi dan selalu bisa menemukan ‘tapi’ pada diri mereka. Menarik sih, tapi sepertinya kurang pandai. Ya orangnya memang cerdas, tapi terlalu tertutup, kurang asyik. Tampangnya sih oke, tapi sayang terlalu kurus atau terlalu pendek atau terlalu cengengesan atau agak jorok dan seterusnya, dan seterusnya. Sedikit banyak, hal tersebut yang menguatkanku. Meski pada kenyataannya kami, aku dan para mantanku, tak bersatu. Dan sekarang….”
“…………………..”
“Kecuali kamu.”
“…………………..”
“Tak perlu seperti itu, jika aku jadi ia, aku pun pasti memilihmu.”
“Hei! Jangan katakan itu! Aku… ia…..“
“Sudah lebih dari sepuluh menit, aku harus pergi, sekali lagi terimakasih. Terimakasih karena selama proses perpisahan kami kamu tidak berada dalam satu lingkaran. Aku tidak ingin mengatakannya, tapi… ya…. Well… Selamat! Selamat berbahagia untuk kalian berdua.”
“…………………..”
“Bye.”

Iklan

4 pemikiran pada “X-Y

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s