Lilith’s Bible

wpid-Liliths-Bible-Ilustrasi.jpg

Horror adalah tema yang selalu menarik bagi saya untuk dibaca dan ditulis. Dari sisi pembaca saya tak selalu berharap isinya harus melulu soal hantu. Kekerasan atau penindasan yang menimpa atau dilakukan oleh pihak-pihak yang sering termajinalkan, dibangun oleh nuansa suram, remang, atau kelam, dan hasrat yang mengendap-endap namun menggelegak dalam bingkai horror yang menterror dan diramu dengan apik bisa saya gila-gilai, bahkan dibaca berulang kali dari waktu ke waktu. Sayang jarang ada penulis Indonesia yang secara khusus mengemasnya dalam satu buku (atau barangkali saya-nya yang terlampau kuper ya hehehe..).

Di tahun 2005 saya menjumpai hal tesebut dalam buku Sihir Perempuan karya Intan Paramidtha. Dari tema, sudut pandang, plot, hingga cara bercerita, Intan begitu piawai hingga membuat saya jatuh cinta dan meyakini tema horror bisa sama menariknya seperti tema cinta. Sejak saat itu tak jarang saya mengangkat sesuatu yang berbau horror untuk membingkai cerita yang ditulis.

Sayang, meski sempat booming ditahun berikutnya, tak ada yang bisa melampaui atau, paling tidak, menyamai kekelaman buku ini. Maraknya tren pelit (personal literature) ala ala Raditya Dika yang juga mengusung tema horror menjadikannya, seperti nasib di ranah sinema, kembali menjadi sesuatu yang tidak berkelas dan hanya menjadi embel-embel bagi tulisan berbau komedi yang agak dipaksakan untuk lucu (bagi saya). Kalaupun benar mengusung horror, isinya tak lebih baik dari sinetron atau sandiwara radio yang kerap diputar tiap malam jumat.

Sayang juga, Intan Paramaditha tak begitu rajin membuat buku – barangkali karena kesibukannya, membuat saya harus menanti lima tahun untuk kembali membaca karya dia, itupun dalam antologi Kumpulan Budak Setan (2010) hasil proyek bersama Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad dimana masing-masing hanya kebagian jatah empat cerpen.

Selama rentang waktu tersebut beberapa penulis cerdas mengangkat kembali horror kepermukaan, seperti Clara Ng dengan buku kumcer Malaikat Jatuh (2008). Disampingnya ada Mona Sylviana dengan buku Wajah Terakhir (2011), yang meski tak bisa secara spesifik dikategorikan cerita horror, namun terror dan cengkraman kisahnya bisa membuat saya senang sekaligus berpikir kala membaca.

Antologi cerpen hasil alihbahasa dari bapaknya cerita horror, Edgar Allan Poe, dalam Kisah-Kisah Tengah Malam (2011), sempat pula hadir, tapi (lagi-lagi bagi saya) versi terjemahan dari beberapa cerita populer karya Opa Poe ini kurang menarik karena feel yang tak bisa saya rasakan seperti ketika membaca versi aslinya yang full gotik (meski harus tertatih-tatih karena keterbatasan berbahasa Inggris heheheheh)

Dan diawal bulan ini, kala saya jalan-jalan ke toko buku, ada satu judul yang menarik mata dan tangan saya untuk menilik-nilik, judulnya Lilith’s Bible karya Hendri Yulius. Setelah diteliti untuk memastikan ini bukan karya terjemahan, karena judulnya berbahasa Inggris dan kapok terjebak rayuan sampul seperti yang terjadi pada KKTM, sayapun langsung membeli, dan membacanya sepuluh hari kemudian karena ada beberapa bacaan yang harus saya tuntaskan terlebih dulu (peace!).

Empat belas cerita pendek plus prolog dan epilog memintal dongeng, legenda, mitos dan beberapa kejadian faktual dengan tokoh utama perempuan dimana Lilith menjadi benang merah yang menghubungkan cerita satu sama lain yang ketika dibaca berurut atau secara acak pun tidak terasa mengganggu. Berikut adalah sedikit review dari beberapa cerpen yang terdapat dalam Lilith’s Bible atau Kitab Lilith ini:

1. NAMA : PEREMPUAN
Saat pertama membaca judulnya saya langsung teringat pada cerpen buatan saya, NAMA : BIDADARI, dan saat membaca isinya saya langsung teringat pada cerpen saya yang lain, DRAMA KAMBOJA hehehehehe, namun tentu saja muatan yang diangkat beda. Cerpen Nama : Perempuan mengisahkan testimoni tiga perempuan, dimana ketiganya mengalami doktrin yang sama, bahwa perempuan harus selalu baik-baik baik secara sifat maupun sikap sesuai patokan laki-laki, dan hal-hal berbau seksual adalah tabu bagi mereka. Alih-alih menurut, ketiganya justru menceritakan pengalaman seksual masing-masing baik dilakukan secara sendiri atau pun bersama orang lain.

2. BULAN MERAH DARAH
Cerpen ini mengingatkan saya pada idiomatik orang-orang barat yang gemar menyamakan gadis pirang = bodoh. Dalam hal ini Hendri mengolahnya menjadi citarasa lokal. Dengan kepintaran yang terbilang biasa saja, tokoh utama dalam cerpen ini lebih menonjolkan sisi fisiknya yang cantik dan yang paling dia banggakan adalah rambutnya yang indah dan legam. Kisah perempuan yang hanya dijadikan komoditas bagi laki-laki digarap apik disini. Kala divonis mengidap kanker dan harus menjalani serangkaian pengobatan, kondisi fisiknya mulai menurun, tak menarik lagi, dia pun terpaksa harus merelakan mahkota dan pasangannya. Sudah jatuh tertimpa tangga, dia menjalani hari-hari yang sepi dengan penuh kesumat yang berpuncak dimalam tahun baru. Kala membaca bagian barbie dan aksi perusakan plus mimpi buruk yang dialami tokoh utama, saya, lagi-lagi ingat ilustrasi BARBIE MURDER MYSTERY yang sempat saya buat untuk tribute terhadap cerpen Clara Ng, Barbi, dalam buku Malaikat Jatuh Dan Cerita-Cerita Lainnya.

3. DIBAWAH HUJAN SALJU, ADA DENDAM
Berkisah tentang perasahabatan anak jalanan bernama Nala dengan waria bernama Titian, Hendri mengepang dongeng (awalnya saya kira) si krudung merah, gadis penjual korek dan kejadian ditahun 1998 kala kerusuhan melanda ibukota yang disertai perilaku nista oknum-oknum tak dikenal terhadap etnis tionghoa yang tak terungkap sampai sekarang dengan lumayan apik. Sayang, latar yang dibuat agak kabur dengan set luar negeri yang bermusim salju, sedikit banyak menyulitkan pembaca yang lahir ditahun 90-an untuk menangkap momen apa dan dimana kerusuhan ini melanda.

4. ULAR DALAM VAGINA
Ini adalah salah satu cerpen yang saya sukai dari buku ini. Berkisah tentang keluarga yang kerap diwarnai berbagai KDRT dari sudut pandang si anak, yang diwejangi oleh ibunya yang senantiasa menjadi korban fisik dan psikis dari ayahnya, bahwa putrinya akan selalu aman dari ancaman lelaki karena dilindungi oleh dewi Durga. Selang berapa lama, kala ia hendak dinikahkan muda dan nyaris tak mempercayai apa yang selalu dikatakan ibunya, hal tersebut terbukti ada.

5. IBU KAMI TERNYATA SEEKOR MONYET
Mengusung isu pesugihan yang masih kerap dilakukan oleh sebagian orang-orang dinegeri ini, Hendri mengambil sudut anak-anak yang telah ditinggal pergi, dan cerita dari si ibu sebelum ia pergi. Faktor ekonomi menjadi hal utama kala si ibu memutuskan mendapatkan kecukupan harta dengan cara mengabdi pada setan. Karena ia tak mau menumbalkan salah satu anaknya, perempuan ini memilih mengorbankan diri sendiri, menjadi monyet sepanjang umur dunia.

6. KUTUKAN BULAN PURNAMA
Secara gamblang, bagi saya yang tinggal ditatar sunda, cerpen ini adalah pengembangan dari legenda Sangkuriang yang mengambil perspektif Dayang Sumbi, namun Hendri melakukan beberapa perombakan, seperti awalmula lahirnya Barata, siapa ayahnya (walau sama-sama anjing, namun versinya dibuat lain), juga hal yang terjadi selepas insiden sabotase kala Barata membuatkan danau dan perahu sebagai pemenuh syarat demi mendapatkan Suria.

7. DENDAM MATI SURI
Meski cerpen ini mengingatkan saya pada Goyang Penasaran-nya Intan Paramaditha yang super super keren, saya tetap menyukai karya Hendri Yulius yang satu ini. Berkisah tentang Karsimah (namanya terdengar mirip dengan nama Salimah di Goyang Penasaran), putri seorang nenek yang mati mengenaskan akibat tuduhan praktek santet, lalu berubah tabiat kala dia menjadi penyanyi dangdut yang kerap membangkitkan fantasi syahwat para lelaki yang menontonnya, sampai konspirasi yang rancang guna menjatuhkan dirinya sehingga memutuskan bunuh diri dan membalaskan dendam setelah mati, lumayan mampu menyeret pembaca pada suasana greget dan menegangkan (bila belum baca Goyang Penasaran).

Masih ada tujuh cerita pendek lainnya dalam buku ini yang juga mengusung berbagai dongeng barat dan cerita-cerita seram yang sudah berkembang dinegeri ini, seperti: Menjelang Subuh, Berahi Perempuan Berambut Ular, Perempuan Yang Melahirkan Seekor Ikan, dan Dongeng Timun Mas Yang Tak Pernah Diceritakan, yang masing-masing hasil olahan dari cerita Kelongwewek, Medusa, Putri Duyung dan Timun Mas. Ada pula kisah familiar bagi saya seperti Sonata Tengah Malam yang mengambil sudut pandang manekin. Dan dua lainnya, Dongeng Sebelum Tidur (Untuk Perempuan Yang Baru Datang Bulan) dan Hadiah Untuk Adikku, turut mewarnai kisah-kisah mencekam berbau pemberontakan perempuan dalam buku ini.

wpid-Liliths-Bible-cover-asli.jpgTerlepas dari banyaknya konten seksual yang terkadang terasa telalu dikedepankan serta olahan dari dongeng-dongeng lama dengan pengaburan seting dan nama yang agak jauh dari versi aslinya plus adanya campur aduk antara satu dongeng dengan dongeng lain dalam satu cerita yang, BARANGKALI, akan sedikit membingungkan pembaca pemula, bagi saya tak mengurangi daya tarik buku ini sebagai bacaan yang membuat kita tak hanya terhibur oleh keremangan suasana dan pekatnya darah yang diumbar dalam setiap kisah, tapi juga mengajak pembaca untuk bisa lebih menghargai hak-hak perempuan sebagai manusia seutuhnya dan bukan lagi menjadi pihak yang harus dimarjinalkan.

============
Ilustrasi Lilith versi Crimson Strawberry diambil dari deviantart

Iklan

4 pemikiran pada “Lilith’s Bible

  1. Bulan lalu, baru beli buku Dengarlah Nyanyian Angin (Haruki Murakami), sebelumnya mungkin sudah dua tahun tidak beli buku lagi. Dan dua hari yang lalu beli buku ini, LILITH’S BIBLE. Padahal minggu kemarin nonton CARRIE di bioskop, uh matching banget!

    Dan yah sangat disayangkan Intan P. belum menelurkan karya terbarunya, saya sangat suka bukunya yang SIHIR PEREMPUAN. Btw, salam kenal…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s